Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Kritis


__ADS_3

Rama Asher


Ku lihat ibu dari putraku menuruni anak tangga. Entah kenapa aku melihat kerapuhan dan kesedihan di wajahnya. Mata hazelnya yang biasanya bersinar indah, seolah redup. Meskipun Kezia mampu bersandiwara seolah dirinya baik-baik saja. Namun aku lebih mengenalnya, masalalu mengajariku memahami karakter sosok Kezia Afsen.


Ya, dia adalah wanita sok kuat padahal dirinya sedang rapuh. Tersenyum, tertawa padahal hatinya sedang terluka. Aku memahamimu sayang, aku sangat mengenalmu. Maafkan aku di masalalu yang sering menyakitimu. Aku berjanji, akan ku bawa dirimu menuju kebahagiaan yang tak pernah kau rasakan. Aku berjanji akan menjadikanmu ratu dalam hidupku. Bolehkan pria yang penuh dosa padamu, ini berharap? semoga Tuhan mengizinkan kita untuk kembali, membangun mahligai rumah tangga yang sebenarnya.


Aku dan putra kita sangat membutuhkanmu, akupun tahu kaupun juga membutuhkan kami. Kita sama-sama saling membutuhkan. Semoga keluarga kecil kita, bisa di persatukan kembali.


Dia mulai mendekat, meskipun berwajah pucat, Kezia tetap cantik. Dia tersenyum kepadaku, akupun membalas senyumnya.


"Selamat siang! Apa kabar, Ram," sapanya.


"Aku baik, Kezia! Hanya saja, putra kita yang tidak baik-baik saja," jawabku, mendadak sedih teringat putraku yang terbaring di ranjang rumah sakit.


"Kenapa? Ada apa dengan Ethan, Ram?" tanyanya panik.


"Tenanglah! Ikutlah denganku," ajaku.


Kezia mengangguk, di saat tanganku ingin menggapai tanganya, tiba-tiba ada tangan lain yang mengambil alih tangan Kezia. Siapa lagi kalau bukan si pria sialan, Erik.


"Aku akan menemanimu," ucap Erik, kepada Kezia.


"Kami juga akan kesana," sahut mantan mertuaku.


"Baiklah," jawabku singkat.


Jujur emosiku sedang berapi-api, ketika melihat tangan wanita yang ku cintai dalam genggaman tangan pria lain. Namun setok kesabaranku ternyata masih ada. Yang terpenting sekarang, putraku bisa bertemu dengan mamanya.


"Sabar, nak! Papa dan mama, segera datang," gumamku dalam hati.


Kami memasuki mobil masing-masing, karena anak buahku baru saja tiba, membawa mobilku yang terjebak kemacetan lalulintas. Harapanku untuk satu mobil dengan Kezia, gagal. Karena Kezia saat ini satu mobil dengan Erik, Adrian dan juga mantan mertuaku.


Ku hembuskan nafas kasarku, ketika ku dudukan tubuhku di dalam kursi mobilku. Aku sengaja meminta salah satu anak buahku untuk mengemudikan mobil. Karena di situasi yang seperti saat ini, sangat berbahaya jika aku mengemudikan mobilku sendiri.


Mobilku melaju paling depan di banding mobil Kezia. Sesekali aku menoleh, bodohnya aku yang masih belum terima, Kezia satu mobil dengan Erik. Apakah aku cemburu? Tentu saja, lelaki mana yang tidak cemburu melihat wanita yang ia cintai, bersama pria lain.


Memikirkan Kezia dan Erik, membuatku kepalaku bertambah pusing. Belum juga di tambah memikirkan kondisi putraku saat ini.

__ADS_1


"Lebih cepat, bagas," perintahku pada anak buahku yang bernama Bagas.


Tanpa menjawab, Bagas langsung mempercepat laju mobilku. Aku sengaja memintanya lewat jalur alternatif untuk menghindari kemancatan lalulintas. Aku tidak ingin membuang-buang waktu terlalu lama. Aku harus secepatnya sampai di rumah sakit tepat waktu.


Syukurlah, hanya membutuhkan waktu beberapa menit, sampailah kami di rumah sakit, tempat putraku di rawat.


"Turunkan aku di depan lobby, Bagas," pintaku.


Setelah aku turun tepat di depan lobby, di situ juga Kezia dan rombonganya juga berhenti di depan lobby. Kecuali Adrian yang harus menuju valet parking untuk memarkirkan mobilnya.


Aku menoleh pada Kezia, dia masih menangis sesegukan. Lagi-lagi emosiku naik, bukan karena melihat tangisan Kezia. Namun karena melihat tubuh Kezia di dalam pelukan Erik.


"Sial! Berani sekali, kau menyentuh wanitaku," gummku, mengumpat dalam hati.


Lelak mengurusi soal Erik dan Kezia, membuat emosiku semakin naik. Ku tinggalkan saja mereka, lebih baik aku segera menuju ke ruangan putraku di rawat. Tanpa ku suruh, Kezia, Erik, dan mantan mertuaku, mengikuti langkah kakiku. Di susul Adrian dan bagas, yang telah selesai memarkirkan mobil di valet parking.


"Ram! tunggu," panggil Kezia.


Aku tersenyum dan langsung berhenti dari langkahku. Aku menoleh ke belakang, Kezia sedang berlari menghampiriku.


"Kenapa harus lari," ucapku.


"Tentu! Ayo," ajaku dan menggenggam tangan Kezia.


Belum juga beberapa detik, tangan kami terlepas karena Erik. Sial, si brengsek Erik seperti parasit di antara kami. Kekanakan, seolah takut mainanya akan aku rebut.


"Akan aku temani," ucap Erik.


"Cih! Siapa kau? Kau bukan siapa-siapa? Anaku hanya membutuhkanku dan Kezia, maaka lebih baik anda menunggu di luar," perintahku.


"Anda lupa, jika aku adalah seorang dokter?" tanya Erik.


"Tidak! Aku tidak lupa tuan Erik, namun sayangnya, anda bukan dokter di rumah sakit ini," ucapku menggenggam tangan Kezia kembali.


"Dasar kau_


"Erik cukup! Bisakah kau biarkan kami menemui putra kami sebentar," pinta Kezia terlihat kecewa dengan sikap Erik.

__ADS_1


"Kau dengar tuan Erik! Lebih baik kau menunggu di luar. Aku tidak membutuhkanmu, dan yang jelas aku tidak ingin berhutang budi denganmu," ucapku seolah menyindirnya.


Setelahnya Aku dan Kezia meninggalkan mereka bertiga di luar ruangan. Aku juga meminta kepada anak buahku untuk melarang mereka masuk. Namun, ketika kami hendak masuk, tiba-tiba ku dengar panggilan dari ibuku.


"Rama! Ethan saat ini kritis, nak," ucap Ibuku.


"Apa? Di mana putraku sekarang, bu?"


"Sedang di tangani Dokter, di ruang ICU," jawab ibuku, menangis sesegukan.


Bukan hanya ibuku, Kezia juga tak kalah menangis pilu. Ku peluk dua wanita yang paling aku sayangi, seolah aku sedang menguatkan mereka. Padahal hatiku sendiri sedang rapuh, berharap putra kami segera membaik.


"Kalian berdua, duduklah! Biarkan aku yang melihat kondisi Ethan saat ini,"perintahku.


"Aku ikut, Ram," pinta Kezia.


Akhirnya, akupun mengajak Kezia untuk melihat kondisi putra kami saat ini. Kami tiba di depan ruang ICU, bersama'an dengan dokter yang menangani putraku, baru saja keluar.


"Dok, bagaimana kondisi putraku?"tanyaku panik.


"Maaf tuan Rama! Kami sudah melakukan semua cara, agar putra anda segera pulih. Jika putra anda, bangun kurang dari dua puluh empat jam, kemungkinan untuk sembuh sangat besar. Namun sebaliknya, jika dalam waktu dua puluh empat jam, putra anda tidak bangun, saya mohon maaf sebesar-besarnya," ucap Doketer, membuat pertahananku mendadak runtuh.


"Apa maksud anda, Dokter? Lakukan yang terbaik, panggil semua dokter yang bisa menangani putraku. Aku berjanji akan memberikan kalian imbalan yang setimpal, jika kalian bisa membuat putraku pulih," pintaku, memohon.


"Kami para dokter sudah berusaha, selebihnya hanya Tuhan yang tahu, pak Rama."


Tubuh Kezia mendadak lemas, aku segera memeluknya, dan kami saling menguatkan meskipun kami berdua sama-sama rapuh.


"Tenanglah, Kezia! Jangan menangis, putra kita pasti segera siuman," ucapku menguatkan Kezia.


Kami terus berpelukan, saling menguatkan satu sama lain. Berharap putra kami segera bangun, dan kembali ceria seperti sebelumnya. Tak lupa kami panjatkan Do'a kami kepada Tuhan. Semoga Tuhan, mengabulkan doa kami berdua.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


...Sedih, deh!...


...Kira-kira Ethan bangun sebelum dua puluh empat jam, gak sih?...

__ADS_1


Jangan Lupa, mampir di karya temanku 👇



__ADS_2