
Kezia tersentak ketika tubuh Rama tersungkur ke lantai karena serangan dadakan dari Erik. Rama bangkit, tidak terima karena Erik berani memukulnya. Jika tadi dia hanya diam saja ketika Adrian memukulnya. Itu karena Rama menyadari kesalahanya dan sepantasnya mendapatkan pukulan dari Adrian. Berbeda dengan saat Erik yang memukulnya. Rama tidak terima dan melayangkan pukulan balasan tepat di hidung Erik. Membuat hidung pria yang bergelar dokter itu pun berdarah.
Adrian bngkit dari tempat duduknya untuk melerai perkelahian antara Rama dan Erik. Sedangkan Kezia, lagi-lagi wanita itu menangis karena perkelahian dua pria di depanya tak lain karena dirinya.
"Cukup! hentikan perkelahian kalian," bentak Adrian, melerai keduanya.
Kini wajah keduanya tengah babak belur, terutama Rama. Yang tadinya sudah babak belur di tambah pukulan dari Erik, menjadi bertambah Parah.
Kezia menangis menghampiri Rama, membuat Erik bertambah murka. Jelas saja Erik kecewa, dia yang tunanganya, malah mantan suaminya yang di khawatirkan oleh Kezia. Rama menyeringai penuh kemenangan, melihat tatapan penuh kemarahan di wajah Erik.
Rama semakin membuat hati Erik terbakar cemburu, ketika kepala Rama di sandarkan di bahu Kezia.
"Sial! Pria sialan kau, Rama," umpat Erik, mampu di dengar Adrian.
"Oh, jadi dia yang bernama Erik?" tanya Vania.
"Siapa kamu?" tanya Erik, balik.
"Perkenalkan, aku Vania! Bukankah wajahku hampir mirip dengan Kezia? Apa kamu tidak bisa menebak dengan hanya melihat wajahku," ucap Vania.
Erik mengulurkan tanganya, mencoba berkenalan dengan Vania. Kini Vania sudah tahu, siapa Erik yang sering ia dengar namanya di rumah papanya. Setidaknya Vania sudah melihatnya, sebelum melancarkan aksinya untuk mencegah pernikahan Kezia dan Erik.
"Ayo kita obati lukamu, Ram! Luka di wajahmu sangat parah," ucap Kezia, terdengar di telinga Erik.
Erik menggepalkan tanganya, karena hanya Rama saja yang Kezia khawatirkan. Vania yang melihat secara langsung kekesalan di wajah Erik, tersenyum.
"Papa," teriak Ethan, yang baru saja kembali bersama Digo.
Anak itu langsung berlari menghampiri papa yang sangat ia rindukan. Ethan langsung menubruk tubuh Rama, membenamkan wajahnya di pelukan papanya.
Ethan mendongakan wajahnya, melihat wajah papanya yang di penuhi luka lebam. Sesekali Ethan meraba luka di sudut bibir Rama. Membuat Rama mati-matian menahan rasa perih. Ia tidak mungkin memperlihatkan rasa sakitnya di depan putranya. Karena Rama ingin memperlihatkan kepada Ethan, bahwa dia adalah papa yang kuat.
__ADS_1
"Jagoan papa! Apakah kamu sangat merindukan papa, nak?"
Ethan mengangguk antusias, karena hampir satu bulan lamanya, Rama meninggalkanya. Ethan langsung duduk di antara mama dan papanya. Rama meminta Ethan untuk lebih pelan-pelan karena mamanya sedang mengandung adiknya.
"Pelan-pelan sayang! Di dalam perut mama, ada adik kamu," ucap Rama.
"Adik?" tanya Ethan yang belum faham.
Rama pun menjelaskan secara pelan, bahwa mamanya sedang mengandung. Di dalam perut mamanya telah tumbuh calon adiknya.
Ethan mengerjapkan matanya dengan sangat polos, mencerna dan memahami ucapan papanya. Setelah ia mengerti, Ethan langsung tersenyum senang, karena sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang kakak.
Jika Rama, Kezia dan Ethan sedang berbahagia karena kehamilan Kezia. Berbeda dengan Erik yang tersentak setelah mendengar kehamilan Kezia. Lelaki itu langsung berdiri melayangkan pertanya'an kepada Kezia dan Rama.
"Apa maksud kalian? Siapa yang hamil?" tanya Erik.
Kezia menundukan wajahnya, ia sampai lupa jika ada Erik di antara mereka. Rama bangkit berdiri dan menjelaskan pada Erik, bahwa Kezia sedang mengandung calon bayinya. Mendengar ucapan Rama, Erik mulai akan memukul kembali wajah Rama. Namun langsung di halangi oleh Digo dan Adrian.
Rama tersenyum, dalam hatinya menertawakan ucapan Erik untuknya barusan. Jika Rama keparat, lalu julukan apa yang pantas untuk pria yang telah tidur bersama pengasuk tunanganya.
"Kita sama-sama keparat, tuan Erik! dan coba kau ingat, kau lebih brengsek daripada diriku," ucap Rama, menimbulkan tanya pada semua yang mendengar kecuali Digo yang sudah mengetahui maksud Rama.
Erik langsung terdiam, fikiranya langsung tertuju pada pengasuh anak Kezia. Matanya membola, takut-takut jika Rama mengetahui rahasianya. Lagi-lagi, Rama menyeringai penuh kepuasan. Ketika melihat wajah tegang Erik, setelah mendengar ucapanya barusan.
"Apa maksudmu Rama?" tanya Adrian.
"Suatu saat kalian akan tahu maksudku! Atau kalian bisa bertanya langsung padanya," jari telunjuk Rama, menunjuk ke arah Erik.
Erik tertawa hambar dan pura-pura tidak mengerti ucapan Rama. Ia tidak ingin semua orang tahu, apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Dewi.
"Omong kosong apa yang kamu ucapkan! Kau kira dengan Keada'an Kezia yang sedang hamil, aku akan melepaskanya? tidak tuan Rama. Aku akan tetap menikahi tunanganku," ucap Erik, menatap tajam mata Rama.
__ADS_1
"Sialahkan coba saja, jika anda mampu! tuan Erik," jawab Rama enteng.
Adrian masih penasaran maksud dari ucapan Rama tadi. Bahkan Adrian memaksa Rama untuk mengatakanya terus terang. Namun Rama tetap bungkam, dia tidak akan membongkarnya sebelum menemukan keberadaan Dewi. Atau tidak, ucapanya akan di anggap fitnah karena tanpa bukti.
Saat Adrian ingin protes kembali, tiba-tiba pintu UGD terbuka. Dokter yang menangani tuan Afsen pun keluar ruangan. Kezia, Adrian dan Vania segera melangkah menghampiri dokter itu dan menanyakan kondisi papanya.
"Bagaimana kondisi papa kami, Dok?" tanya Adrian.
"Syukurlah! Berkat doa kalian, papa kalian selamat dan sebentar lagi akan kami pindahkan di ruang inap," jawab Dokter yang menangani tuan Afsen.
Adrian, Vania dan Kezia, kini bisa bernafas lega, karena papa mereka telah melewati masa kritis. Erik mendekati Kezia, tanganya menggenggam jemari tangan Kezia. Kezia kaget saat menoleh, bukan tangan Rama yang menggenggam tanganya, melainkan tangan Erik.
Kezia menoleh melihat ekspresi Rama, pria itu sebenarnya melihat, namun pura-pura tidak melihat. Bahkan Rama ingin melihat, bagaimana cara Kezia menolah Erik.
Kezia mencoba melepaskan tangan Erik, yang menggenggam erat tanganya. Namun pria itu malah makin mempererat sehingga Kezia kesulitan untuk melepaskanya.
"Diamlah Kezia! Kau itu adalah tunanganku, bukan tunangan Rama. Sudah sepantasnya kamu di sisiku, bukan di sisi Rama," ucap Erik berbisik.
"Kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini, Erik! Aku sedang mengandung anak Rama," ucap Kezia.
Meskipun Erik kecewa dan marah, ketika tunanganya berselingkuh di belakangnya. Namun Erik tetap kukuh, tidak akan melepaskan Kezia. Erik sudah terlanjur mencintai Kezia dan akan menganggap bayi yang di kandung Kezia adalah bayinya.
Kezia tetap melirik ke arah Rama, kali ini Rama melihatnya. Rama memberi kode, agar Kezia tenang dan dirinya tidak apa-apa. Walau aslinya Rama sangat ingin mematahkan tangan Erik yang berani menggenggam tangan wanita yang ia cintai.
Karena saat ini, putranya Ethan sedang berada dalam gendonganya. Oleh karena itu, Rama mencoba sekuat tenaga untuk meredam amarahnya. Dia tidak ingin putranya ketakutan ketika melihatnya marah. Karena selama ini, Rama tidak pernah menunjukan kemarahanya di depan Ethan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Hadeh, Erik! Apa kabar bayimu sendiri? Malah mengakui bayi Rama sebagai bayinya🙄
Jengkel deh! Siapa yang jengkel juga?
__ADS_1