Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Menantang Vania


__ADS_3

Kezia terbangun dengan kepala yang terasa masih berat. Mungkin effeck dari obat perangsang yang mertuanya berikan tadi malam. Di lihatnya di sekeliling ruangan, Kezia baru sadar berada di kamar Rama. Yang artinya semalam mereka tidur sekamar berdua. Bisa jadi seranjang berdua,karena Kezia tidak mengingat sama sekali kejadian tadi malam. Melihat jam menunjukan pukul delapan pagi, membuat kezia segera menyibak selimut. Pakaianya masih utuh, tetapi kenapa badanya terasa sakit semua.


Kezia mencari keberada'an suaminya yang sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Yang di cari tidak ada, Kezia memutuskan mandi kemudian turun ke bawah. Menahan rasa malu sekaligus sungkan terhadap ibu mertuanya. Karena sebagai menantu, dia malah bangun kesiangan.


"Selamat pagi bu, maaf Kezia kesiangan bangun."


Bukanya marah, Rani malah senyam senyum sendiri. Membuat Kezia semakin bingung dengan sikap ibu mertuanya. Tentu saja Rani faham, menantunya kelelahan karena ulahnya semalam.


"Tidak masalah, kamu kok sudah rapi mau kemana, zi?" tanya ibu mertuanya menghampiri Kezia.


"Maaf bu, Kezia hari ini ada jadwal pemotretan sekaligus mampir dulu ke kantornya mas Rama. Kezia dari pagi tadi belum sempat bertemu mas Rama."


"Tapi kamu belum sarapan loh nak, biar ibu ambilkan sarapan dulu, ya," Ucap ibu mertuanya penuh sayang. Tentu saja sikap ibu mertuanya membuat Kezia bersyukur. Namun sayangnya Kezia sangat terburu-buru. Akhirnya dengan sopan, dia menolak tawaran ibu mertuanya.Rani pun memahami menantunya yang sedang di kejar waktu.


"Kamu naik apa nak? biar di antar pak mamat."


Keziapun menuruti tawaran mertuanya,karena dia juga bingung mau naik apa. Sedangkan kemarin malam, dia datang bersama Rama.


Sebelum menuju ke lokasi pemotretan,Kezia menyempatkan diri, mampir ke kantor suaminya. Setelah beberapa sa'at, menempuh perjalanan yang tidak begitu lama. Kini Kezia sudah tiba di lobby kantor milik suaminya. Para karyawan yang melihat Kezia, menunduk hormat. Menyapa dan tersenyum kepada Kezia, begitupun Kezia juga membalas sapa'an dan senyuman tak kalah manis.


Setelah tiba di lantai paling atas, Kezia langsung menghampiri sekretaris suaminya. Melihat ekspresi Ranti, Kezia sudah bisa menebak. Pasti ada kakaknya di dalam bersama suaminya. Tanpa mengetuk pintu, Kezia langsung membuka pintu ruangan Rama. Pandangan pertama yang di lihatnya di ruangan Rama, tak separah tempo hari. Kali ini Vania hanya duduk di sofa sambil membaca majalah. Sedangkan Rama berkutat dengan laptopnya.

__ADS_1


Tanpa menghiraukan kakaknya, Kezia langsung mencium suaminya. Kali ini dia tidak mau kalah dengan kakaknya. Vania tidak bisa di hadapi dengan cara baik-baik. Oleh karena itu, Kezia lebih memilih menantangnya. Seperti posisinya saat ini,berada di pangkuan suaminya. Rama melirik Kezia, kemudian melirik ekspresi kemarahan Vania. Rama berusaha meminta Kezia untuk turun dari pangkuanya. Tetapi ia urungkan ketika Kezia membisikan sesuatu yang membuatnya bungkam.


"Jangan menolaku, bahkan tadi malam kau menikmati tubuhku di saat aku tidak sadar. Apa kau ingin kekasihmu tahu, sayang."


Tentu saja Rama langsung bungkam, dia tidak ingin Vania tahu tentang percintaanya dengan Kezia tadi malam. Bisa-bisa Vania akan marah padanya dan meninggalkanya lagi. Kezia tersenyum penuh kemenangan, sambil menikmati ekspresi kesal dua manusia di hadapanya.


"Dasar j@l@ng mur@han, turun kau dari pangkuan kekasihku," Teriak Vania.


"Oh, kekasihmu adalah suamiku, kakaku sayang. Jadi seorang istri lebih berhak atas suaminya daripada selingkuhanya," Timpal Kezia semakin menempel pada tubuh Rama. Rama hanya diam saja, tentu saja karena ancaman Kezia. Vania melangkah maju, hendak menampar Kezia. Dengan sigap, Kezia langsung mencekal pergelangan tangan kakaknya.


"Kakaku sayang, tanganmu terlalu halus jika untuk menamparku. Jadi gunakan tanganmu untuk hal yang lebih penting. Misalnya, buka pintu dan keluar, tinggalkan kami berdua."


Vania semakin emosi melihat adiknya semakin berani kepadanya. Sedangkan Kezia ingin tertawa melihat wajah kakaknya yang merah padam.


"Vania, pulanglah dulu, aku akan ke apartemenmu nanti."


Mendengar ucapan Rama, Vaniapun menyeringai memandang adiknya. Ia segera melangkah pergi meninggalkan ruangan Rama.


"Aku tunggu kedatanganmu di apartemenku,sayang," Ucap Vania, membuat Kezia langsung turun dari pangkuan Rama. Namun terlambat, kedua tangan Rama sudah mengunci tubuhnya.


"Apa kau sedang menggodaku Kezia? apa kau ingin tahu, apa yang kita lakukan semalam?"

__ADS_1


Kezia memberontak minta di lepaskan, hancur sudah niatnya ingin menggoda suaminya. Itu karena ucapan Rama barusan, menemui Vania di apartemenya. Bahkan dia langsung membuang muka, saat Rama akan menciumnya.


"Jangan jual mahal! Bahkan tadi malam kamu yang memulai duluan."


Telinga Kezia semakin geli mendengar ucapan Rama. Bahkan kedua tanganya, ia gunakan untuk menutup kedua telinganya. Kata-kata rama semakin membuatnya ingin berlari. Kalau perlu, Kezia ingin bersembunyi di tempat yang tidak di ketahui suaminya. Rama semakin menggoda Kezia, ketika melihat tingkah Kezia yang terlihat lucu di matanya.


"Sayang, please sentuh aku, aku tidak kuat, sayang," Ucap Rama menirukan suara Kezia tadi malam.


"Stop mas, stop," Teriak Kezia membuat Rama semakin tertawa terbahak-bahak.


"Aku akan berhenti ketika kamu menuruti keinginanku," ucap Rama, dari ekspresinya terlihat mencurigakan. Kezia hanya mengangguk, saat tubuhnya sudah terlepas. Kezia segera berlari keluar dari ruangan suaminya sambil tertawa. Dia sudah bisa menebak, suaminya akan memakanya kembali seperti tadi malam.


"Awas kau! Akan ku buat kau tidak bisa berjalan besok pagi."


Malam harinya, Rama tiba di apartemen pukul sebelas malam. Sudah jelas, dia mampir dulu ke apartemen Vania, sepulang kerja. Saat baru saja membuka pintu apartemen. Rama melihat Kezia tertidur di atas sofa. Pasti Kezia sedang menungguk kepulangan suaminya. Sedangkan yang ia tunggu malah asik bersama wanita lain.


Di taruhnya tas kerjanya di sofa, kemudian Rama memindahkan Kezia ke dalam kamarnya. Dia sengaja membawanya ke kamarnya. Padahal, seharusnya Rama membawanya ke kamar Kezia sendiri. Entah kenapa, bagi Rama sekarang, memeluk Kezia saat tidur membuatnya merasa nyaman.


Setelah membaringkan Kezia di atas ranjang, Rama langsung mandi. Tak lama setelah selesai mandi, Rama keluar dan mendapati Kezia yang sudah bangun. Kezia menoleh memperhatikan suaminya yang hanya memakai handuk sebatas pinggang. Kezia sudah terbiasa mendapati suaminya hanya bertelanjang dada. Bahkan tanpa sehelai benangpun, Kezia juga sudah tahu. Oleh karena itu, sekarang dia biasa saja memandang suaminya. Namun Kezia memfokuskan penglihatanya pada punggung suaminya yang merah-merah.


"Astaga mas, kenapa punggungmu merah-merah begini? apa kamu alergi atau di gigit serangga?"

__ADS_1


"Iya, kamu itu serangganya, dengan sangat sadis mencakar-cakar punggungku. Apa kau tidak mengingatnya? apa perlu kita ulangi agar kau ingat."


"Ogah, aku capek, mau balik ke kamarku sendiri. Di sini terlalu berbahaya untuku," ucap Kezia langsung buru-buru keluar dari kamar Rama. Lalu segera membuka kamarnya dan menutupnya. Di tambah lagi karena ia begitu malu membayangkan ke agresifanya tadi malam. Sampai-sampai jejak merah hasil karyanya memenuhi punggung suaminya.


__ADS_2