
Tuan Afsen benar-benar tidak main-main dengan ucapanya kepada Rama kemarin. Bahkan tuan Afsen menyita handphone milik Kezia agar putrinya tidak bisa berhubungan lagi dengan Rama. Kezia sangat tidak betah jika harus berdiam diri tanpa tahu kabar tentang Rama.
Berharap kakaknya Vania segera menemuinya supaya Kezia bisa menanyakan kabar tentang Rama melalui kakaknya.
Sedangkan saat ini orang yang sedang di tunggu-tunggu kedatanganya oleh Kezia, sedang mengendarai mobilnya menuju apartemen Dewi. Tanpa Vania sadari, Erik berada di belakangnya sedang mengikutinya.
Erik mengikuti kemanapun Vania pergi, filingnya mengatakan bahwa perempuan itu tahu tempat tinggal Dewi saat ini. Erik tidak akan pernah melepaskan wanita yang mengacaukan semua rencananya. Ke ujung dunia pun dia akan mencari keberadaan Dewi.
Erik yakin Vania tahu keberadaan wanita yang sedang di carinya. Ketika mobil Vania sudah memasuki basement apartemen Dewi dan Vania keluar dari mobilnya menuju lift khusus. Tiba-tiba Erik membekap mulutnya menggunakan sapu tanganya yang telah di tetesi obat bius. Sehingga Vania pun pingsan dan Erik bisa leluasa masuk ke apartemen Dewi dengan kartu akses milik Vania.
Laki-laki itu menyeringai licik seolah telah berhasil menangkap buruanya. Pintu terbuka bertepatan dengan Dewi yang sedang duduk di sofa dan langsung menoleh ke arah pintu. Seketika gelas yang berisi susu ibu hamil yang hendak Dewi minum pun terjatuh ke lantai setelah melihat Erik yang menatapnya seolah ingin membunuhnya.
"B_bagaimana bisa tuan Erik kesini? bagaimana bisa anda masuk?
Dewi benar-benar ketakutan, takut jika laki-laki yang sedang melangkah mendekatinya akan melukainya maupun bayi di dalam kandunganya.
Sedangkan Erik saat menikmati ekspresi ketakutan di wajah Dewi. Bahkan mata wanita itu sudah mulai berkaca-kaca dengan kondisi tubuhnya yang telah bergetar karena menahan rasa ketakutanya.
''Ikut aku," Erik menarik paksa pergelangan tangan Dewi.
"Lepaskan! aku tidak ingin ikut denganmu tuan Erik," berontak Dewi minta agar di lepaskan.
Percuma saja Dewi meronta-ronta, Erik tidak akan melepaskanya. Erik akan menjadikan Dewi sebagai mainanya. Menjadikanya tawanan sebagai imbas dari ulahnya kemarin.
Dewi masih memberontak minta di lepaskan hingga mereka berdua berada di lantai bawah. Bahkan seorang satpam yang melihatnya pun hendak menolongnya.
"Mau apa kamu? jangan mencampuri urusanku," ucap Erik.
__ADS_1
"Tapi sayamelihat anda memaksa nona ini."
"Dia adalah istriku dan saat ini dia sedang marah hingga menolak ku ajak keluar," alasan Erik agar bisa lolos dari hadangan satpam.
Satpam itu pun percaya begitu saja dengan Ucapan Erik.
Kewalahan karena Dewi terus memberontak, membuat Erik segera menggendong Dewi dan segera membawanya masuk ke dalam mobil dan mengancamnya.
"Diam j*l*ng! jika kamu terus memberontak, maka anak buahku akan membunuh keluargamu.
Mendengar ancaman dati Erik membuat bibir Dewi bungkam seketika. Apa lagi ancamanya sudah mengarah ke keluarganya. Entahnlah dari mana Erik tahu tentang keluarganya dan tempat tinggalnya.
Erik berencana membawa Dewi pergi menjauh dari jangkauan orang-orang yang saat ini sedang menolongnya. Ini sudah menjadi konsekwensinya karena Dewi sudah berani mengganggunya.
"Tolong tuan, jangan sakiti keluargaku, aku mohon. Apapun akan aku lakukan asal tuan Erik tidak menyakiti keluargaku."
Erik menyeringai melihat wanita yang telah duduk di samping kemudinya. Ternyata wanita di sampingnya sangatlah bodoh. Bisa percaya begitu saja dengan ucapa Erik. Padahal Erik tidak tahu di mana keluarga Dewi saat ini berada.
"Ya tuan, asal jangan sakiti keluargaku, aku mohon."
"Tapi sayangnya keinginanku hanya Kezia dan karena ulahmu aku jadi kehilanganya. Dasar wanita sialan, dan lebih sialnya kau mengatas namakan bayi yang kau kandeng sebagai darah dagingku."
"Tapi dia memang darah daging anda, tuan! apa anda lupa dengan malam yang telah anda perbuat terhadapku?"
"Cih! wanita sepertimu bisa saja melakukanya dengan banyak pria."
Dewi menggeleng, ibarat terjatuh tertimpa tangga pula. Ketika laki-laki yang menghancurkan masa depanya bisa-bisanya berkata seperti itu.
__ADS_1
"Apa hasil tes DNA tempo hari kurang meyakinkan bagi anda. Jika anda tidak mengakuinya tidak apa, saya bisa merawatnya sendiri. Tapi lepaskan aku tuan, anda mau membawaku kemana?"
Sebagai seorang dokter Erik tahu bahwa hasil tes DNA yang ia baca tempo hari benar-benar akurat. Tapi kebencianya pada wanita yang sedang mengandung anaknya, membuat Erik menyangkalnya.
Dewi terisak bukan karena menangisi nasip keluarganya saja. Wanita itu juga menangisi ucapan Erik yang mengatainya tidur dengan banyak pria di luaran sana.
Dewi merasa dirinya begitu rendah, kehormatanya sudah di renggut paksa oleh Erik. Belum juga dia harus menanggung malu karena hamil di luar nikah. Kini malah Erik secara tidak sengaja menganggapnya seorang pelacur yang dengan mudahnya bergonta ganti pasangan. Padahal hanya Erik pria satu-satunya yang telah memasukinya.
Dewi merasa lelah karena terus menerus menangisi nasipnya. Tanpa sadar Dewi tertidur saking rasa lelah dan juga faktor kehamilanya.
Hingga Dewi tidak tahu saat ini Erik telah membawanya pergi jauh. Tentunya hanya untuk sementara, karena rencananya Erik akan membawa Dewi ke singapura.
Bagaimanapun wanita di sampingnya saat ini telah mengandung anaknya. Erik akan mengurung Dewi di sisinya hingga bayi itu terlahir. Setelahnya Erik akan membawa bayinya dan membuang Dewi begitu saja.
"Hei, dasar wanita tidak tahu diri! bangun, siapa yang menyuruhmu tidur, hah?" bentak Erik.
Dewi membuka matanya seketika, padahal Dewi baru saja terlelap. Bahkan Dewi tertidur belum genap satu jam. Namun suara melengking mengganggu telinganya. Ternyta suara itu adalah suara Erik yang baru saja membentaknya. Mata Dewi mengerjap dan menyipitkan matanya saat sinar matahari menyoroti wajahnya.
"Kamu fikir mobilku ini hotel dan kamu bisa tidur kapanpun kamu mau? turun sekarang."
Tanpa membantah Dewi pun langsung turun berjalan mengikuti Erik melangkahkan kakinya. Pandanganya berhenti pada rumah sederhana yang akan di sewanya hanya untu semalam saja.
Sedangkan masih di area apartemen Dewi, Vania baru saja tersadarkan diri setelah mendapat tepukan di pipinya dari Bagas.
Wanita itu merogoh sakunya mencari kartu akses miliknya. Bahkan Vania membongkar semua isi tasnya. Matanya membelalak, segera Vania bngkit menuju lift dan melihar keada'an Dewi di apartemenya.
Hingga sampailah di depan pintu apartemen Dewi. Vania lupa bahwa kartu aksesnya telah hilang, untung saja ada Bagas. Vania pun meminta bagas segera membukakan pintu untuknya. Setelah pintu terbuka, di dalam sangat terlihat sepi tanpa ada Dewi di dalamnya.
__ADS_1
Vania membelalakan matanya, saat matanya tidak menemukan keberada'an Dewi. Bahkan Vania sudah mencarinya di setiap sudut ruangan hasilnya tetap Zonk.
"Gas! jangan-jangan Dewi di culik saat aku pingsan. Aku yakin pelakunya sengaja membiusku agas bisa mendapatkan kartu akses miliku."