
Hari ini adalah hari keberangkatan Erik kembali ke singapura. Banyak pasienya yang sangat membutuhkan pertolonganya. Sebenarnya ia takut meninggalkan Kezia sendiri di bali. Bahkan Kezia menolak, ketika Erik mengajaknya ikut bersamanya. Dengan alasan tidak ingin meninggalkan putranya lagi.
Erik tidak bisa memaksa Kezia, ia takut Kezia akan menilainya buruk. Sungguh Erik sangat takut, jika Rama merebut kembali Kezia darinya. Erik sangat mencintai Kezia dan tidak ingin kehilanganya.
Saat ini Kezia dan Adrian mengantar Erik ke bandara gusti ngurah rai. Lelaki itu masih saja menatap tunanganya secara intens. Ingin rasanya mencium Kezia, namun wanitanya tidak pernah mengizinkan. Erik memaklumi, mungkin setelah menikah, Kezia akan bersedia di sentuhnya. Tanpa Erik tahu, alasan Kezia sebenarnya adalah hatinya masih milik Rama Asher.
"Jaga diri kamu baik-baik! Jangan dekat-dekat dengan lelaki lain terutama mantan suamimu. Kamu adalah tunanganku dan sebentar lagi kita akan menikah, ingat janjimu, Kezia," pesan Erik sebelum masuk ke pintu keberangkatan.
Kezia semakin dilema mengingat janjinya kepada Erik, untuk menikah denganya. Adrian memandang adik bungsunya penuh tanya.
"Lupakan Rama, jangan sia-siakan lelaki yang tulus mencintaimu," ucap Adrian, Kezia hanya diam tidak menanggapi.
Sedangkan di tempat lain, Ethan berlari menghampiri sang papa yang telah menjemputnya. Rama terlihat tampan dengan setelan kaos dengan celana pendeknya. Bahkan ia terlihat lebih muda dan tampan.
Rama akan mengajak Ethan untuk bertemu dengan nenek kakeknya di jakarta. Rama juga telah meminta izin pada guru Ethan. Untuk tiga hari ke depan, Ethan izin tidak masuk sekolah. Rama juga akan membicarakanya bersama Kezia.
Sepulang sekolah, Rama mengajak putranya untuk menemui mamanya. Rama akan membicarakan tentang dirinya dan putranya yang akan pergi ke jakarta. Syukur-syukur jika Kezia mau ikut pergi bersama mereka, kalau tidak ingin, juga tidak masalah.
Bertepatan dengan mobil Adrian yang baru saja tiba. Mobil milik Ramapun juga baru tiba di depan rumah mereka. Ethan berteriak memanggil sang mama dan berlari memeluknya. Kezia langsung menyambut hangat pelukan putranya. Ethan berceloteh menceritakan sang papa akan mengajaknya ke jakarta bertemu dengan nenek dan kakeknya. Kezia yang mendengarnya, langsung menatap Rama penuh tanya.
Kezia menatap Rama dengan tatapan yang sungguh-sungguh. Merasa di tatap, Ramapun menoleh dan memandang Kezia.
"Aku akan memperkenalkan putra kita kepada ibu dan ayah. Oleh karena itu, kami datang untuk memberitahumu," ucap Rama
"Mama ikut denganku dan papa, ya? kita akan ke rumah nenek dan kakek, bersama-sama," pinta Ethan antusias.
"Ma'af sayang! Ethan pergi bersama papa ke rumah nenek dan kakek, ya?" jawab Kezia, membuat putranya kecewa.
"Tapi aku maunya sama papa dan mama! Aku juga ingin seperti teman-temanku, ma," ucap Ethan, matanya sudah mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
Rama segera menghibur putranya yang sedih karena di buat kecewa dengan penolakan Kezia. Bahkan Rama berjongkok mengelus rambut putranya.
"Hey son! Siapa bilang mama tidak ikut kita, mama hanya belum mandi. Mama akan ikut kita, kamu tidak perlu bersedih," bujuk Rama, tentu saja membuat Kezia langsung memandangnya penuh protes.
Rama berdiri, mendekat pada Kezia dan memberitahukan sesuatu kepada mantan istri yang masih ia cintai. Tentu saja Kezia merasa gugup dengan jarak sedekat ini.
"Jangan sekali-kali mengecewakan putra kita! Apa salahnya jika kau menuruti perminta'anya. Maaf jika aku memaksamu, tetapi ini pilihan untukmu. Kau ingin ikut dengan kami atau tetap tinggal di sini? Namun jangan salahkan aku, jika putra kita marah dan kecewa dengan sikapmu," ucap Rama tepat di dekat telinga Kezia.
Ada desiran rasa yang tak bisa mereka definisikan. Rasa rindu yang mereka berdua anggap terlarang. Kezia yang masih saja menganggap Ramalah yang akan menikahi kakaknya. Sedangkan Rama yang mencoba menjaga jarak, dikarenakan Kezia sudah menjadi tunangan orang.
Ingin Rasanya mereka saling memeluk, menumpahkan kerinduan di antara keduanya. Seolah tembok pembatas melarang mereka berdua untuk melakukanya. Kesalah fahaman di antara merekalah, yang membuat mereka menjaga jarak.
Kezia bingung, di sisi lain ia teringat amanah dari Erik, agar menjaga jarak dengan pria lain. Di sisi lain kakaknya Adrian sedang mengawasinya. Di sisi lain Kezia tidak ingin membuat putranya kecewa.
"Ayo mama, kita kerumah nenek dan kakek," ucap Ethan menarik tangan Kezia, sedangkan Kezia nampak bingung.
Untung saja bujukanya berhasil, Ethanpun kini berada pada gendongan Rama. Rama berpamitan dan melangkahkan kakinya hendak keluar dari rumah Kezia. Bahkan Rama belum sempat duduk, karena Kezia lupa mempersilahkanya untuk duduk.
Ketika Rama hendak membuka pintu mobilnya, tiba-tiba Kezia memanggilnya. Kezia berjalan menghampiri Rama dan putranya. Itupun Kezia harus melewati Adrian yang melarangnya. Ia sudah tidak memikirkan resiko ke depanya. Yang ia fikir saat ini, Kezia tidak ingin membuat putranya kecewa lagi padanya.
"Ethan, mama ikut dengan kalian," ucap Kezia, membuat Ethan tersenyum dan berpindah dari gendongan Rama ke gendongan Kezia.
Kezia ikut senang melihat putranya sesenang ini. Rama diam-diam juga tersenyum melihat keceria'an putranya dan mantan istrinya. Rama membukakan pintu untuk Kezia dan putranya.
"Terimakasih," ucap Kezia terlihat canggung, Rama hanya tersenyum tanpa menjawabnya.
Adrian masih memperhatikan interaksi mereka bertiga. Adrian terlalu posesif kepada adiknya, karena ia tidak ingin adiknya tersakiti lagi oleh Rama. Rama melirik Adrian, sebelum ia menyalakan dan menjalankan mobilnya. Di dalam fikiranya, ia bersorak-sorak penuh kemenangan. Ini adalah awal yang baik, karena Kezia mau pergi bersamanya dan putranya.
"Ehmm, maaf jika kedatangan kami membuatmu melawan Adrian," ucap Rama.
__ADS_1
Kezia menoleh, sembari tanganya mengelus lembut rambut putranya yang berada di pangkuanya.
"Tidak masalah! Memang seharusnya aku menemani putraku," jawab Kezia.
"Putra kita," ucap Rama membenarkan.
Kezia menoleh kembali melihat Rama, sedangkan Rama pura-pura fokus pada kemudinya. Ia sebenarnya tahu, mantan istrinya sedang memandangnya. Tanpa Kezia tahu, di sudut bibirnya, Rama tersenyum.
"Papa! Apakah rumah nenek dan kakek sangat jauh?"tanyanya.
"Ya, sayang! Kita akan naik jet pribadi milik papa," ucap Rama, membuat Ethan takjub.
"Wah, papa keren! Papa memiliki jet pribadi," ucap Ethan, penuh rasa bangga.
"Apa kau ingin memiliki jet pribadi juga, son?" tanya Rama melirik putranya.
"Tentu, papa," jawabnya antusias.
Rama tersenyum, tangan kirinya mengusap lembut rambut sang putra. Ethan merasa bahagia, karena merasakan kasih sayang mama dan papanya. Kezia juga ikut senang, melihat sang putra seceria sekarang ini.
Kezia merasakan kenyamanan berada di antara mereka berdua. Andai dia bisa memilih, ia ingin selalu berada di antara mereka.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Bagaimana menurut kalian Readers?
Apa keputusan Kezia sudah tepat?
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1