
Di temat lain,Vania sedang menertawakan adiknya. Wanita itu belum juga merasa puas menyakiti adiknya. Entah setan apa yang merasuki dirinya. Sehingga begitu teganya,dia menyakiti Kezia sampai di detik ini. Bahkan dia sudah menyusun rencana baru, untuk menyakiti Kezia.
"Rama yang bodoh, kau tetap di pihaku meski istrimu secantik adiku."
Vania memandangi foto Kezia di dinding kamarnya. Bahkan Vania mencoret foto adiknya menggunakan pisau buah di genggaman tanganya.
"Satu persatu, orang yang kau cintai akan meninggalkanmu. Seperti yang aku rasakan selama ini karena kau Kezia. Kau membuat satu-satunya orang yang menyayangiku mati. Kau mencuri perhatian kakak dan juga papa. Kehadiranmu membawa kesialan pada diriku, Kezia. Kau terlahir lebih sempurna dariku, kau memiliki segalanya yang aku tak punya. Aku tidak terima semua ini, akan aku buat kau merasakan sakit yang ku rasakan."
"Sudah cukup kegila'anmu, Vania," ucap Digo yang baru saja masuk ke dalam kamar Vania.
"Sayang, kau akhirnya datang! Aku sangat merindukanmu."
"Lepaskan tangan sialanmu dari tubuhku, Vania. Aku jijik di sentuh wanita penggoda suami orang."
"Sayang, kau kan tahu, aku hanya pura-pura mencintai Rama. Aku hanya mencintaimu, aku berkata sungguh-sungguh."
"Kau telan saja kembali perkata'anmu itu. Kau bilang mencintaiku, kau fikir aku pria macam apa. Membiarkanmu bergelayut manja kepada Rama, yang tak lain adalah sahabatku sendiri."
"Sabarlah sayang, aku berjanji akan meninggalkanya setelah keinginanku terpenuhi semua."
__ADS_1
"Belum puas kamu menyakiti Kezia? ingat Vania, dia adik kandungmu. Kakak macam apa dirimu?bahkan aku tak sudi lagi berhubungan sembunyi-sembunyi lagi denganmu. Jika kau masih ingin balas dendam, maka aku akan pergi dari hidupmu."
"Sayang jangan pergi, jangan tinggalkan aku."
Vania berteriak seperti orang kesetanan. Namun Digo tetap saja pergi tanpa menghiraukanya. Digo sudah muak dengan Vania yang terus saja menyakiti Kezia. Bahkan dia merasa bersalah kepada Kezia dan juga Rama sahabatnya. Dia sudah yakin dengan keputusanya. Meskipun dia mencintai Vania, dia akan meninggalkan Vania. Karena Vania tidak ingin berubah sampai di detik ini.
Selama ini, semenjak SMA hingga saat ini. Digo menjalin hubungan diam-diam dengan Vania di belakang Rama. Awalnya dia hanya membiarkan saja, saking cintanya kepada Vania. Lambat laun ia sadar, kelakuan kekasihnya tidak akan pernah ada puasnya. Dia berharap, dengan kepergianya, bisa membuat Vania sadar. Tanpa dia tahu, fikiranya salah. Vania tidak akan ada puasnya menyakiti Kezia.
"Hallo, jebak Kezia dan juga Alex,lakukan sesuai perintah yang telah ku kirim di whatsapp," Perintah Vania kepada orang suruhanya.
Di tempat lain, Kezia menutup diri di lama kamarnya. Membuat Rama uring-uringan, ingin masuk namun ragu.
Rama terus berbolak balik di depan pintu kamar Kezia. Tanpa sadar, Kezia berdiri di ambang pintu menyaksikanya. Kezia berdehem, membuat Rama segera menoleh memandangnya. Kezia berlalu begitu saja menuju dapur. Di ambilnya segelas air di dalam botol, lalu meneguknya. Rama hanya melihatnya sambil menelan ludah.
Saat Kezia melewatinya hendak kembali ke kamarnya. Rama segera menghadangnya, membuat alis kezia mengkerut. Kezia bergeser ke kanan, Rama pun bergeser ke kanan. Kezia bergeser ke kiri, Ramapun bergeser ke kiri. Kezia mendengus kesal dengan sikap suaminya.
"Zia, apakah kamu marah? maafkan aku soal tadi siang."
"Tidak, aku ngantuk, minggirlah."
__ADS_1
Tidak terima jawaban singkat dari Kezia, membuat Rama mengangkat tubuh Kezia, membawanya masuk ke dalam kamarnya. Kezia meronta-ronta ingin minta di turunkan. Meskipun dia bisa saja terlepas hanya dengan memberi pukulan kepada Rama. Kezia tidak ingin Rama menilainya masih saja bar-bar seperti sewaktu SMA. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Asalkan Rama tidak melukai fisiknya, dia hanya akan diam.
"Kenapa kau membawaku masuk ke dalam kamarmu?"
"Katamu ngantuk, sini tidurlah! Aku meminjamkan lenganku untukmu."
Niat hati ingin menghindar dari Rama, malah di minta berdekatan dengan Rama. Sejujurnya Kezia masih merasa kesal kepada suaminya. Apa boleh buat,matanya memang mengantuk. Mau tidak mau,Keziapun tidur di lengan Rama. Kali ini dia benar-benar tidur. Bahkan Kezia secepatnya memejamkan matanya. Tidak ingin suaminya bertanya sesuatu ataupun berbuat sesuatu kepadanya.
Rama menatap wajah Kezia yang kedua matanya sudah terpejam. Entah kenapa dia masih merasa bersalah pada Kezia. Dia sadar, dia telah melanggar kesepakatanya pada Kezia. Kezia memintanya, jangan bertemu Vania di depan umum. Nyatanya malah Vania yang menghampirinya tadi.
Hanya permintaan sekecil itu saja, Rama sulit untuk memenuhinya. Dia juga merasa bersalah, mengingat permintaan Kezia untuk membahagiakanya selama sisa hubungan pernikahanya. Sebelum mereka benar-benar bercerai, Kezia berkata akan menjadi istri yang baik. Seharusnya Rama juga harus menjadi suami yang baik. Nyatanya, Rama terus saja membuat Kezia kecewa.
Kenangan indah sebelum perceraian apa yang Kezia dapatkan. Ibarat sehari bahagia, besoknya akan kembali terluka. Seterusnya selalu begitu, selama Vania terus saja berulah. Karena wanita itu tidak akan pernah puas menyakiti adiknya.
Jika kakak beradik di luar sana saling menyayangi. Semua Itu tidak berlaku bagi Vania dan Kezia. Jika seorang kakak di luar sana selalu melindungi adiknya. Berbeda jauh dengan Vania yang selalu menyakiti Kezia. Hingga Kezia pernah berkata kepadanya. Haruskah Kezia mati saja, asalkan kakaknya bisa hidup tenang, bahagia tanpa kehadiranya.
Jika kehadiranya di dunia ini hanya membawa luka untuk kakaknya. Dia tidak bisa memilih untuk tidak di lahirkan di dunia. Jika Kezia tahu malaikat maut akan menjemput ibunya. Maka sudah sedari dulu, Kezia ingin menggantikan posisi ibunya. Kadang Kezia ingin memeluk Vania, merasakan kehangatan pelukan saudara perempuanya. Jangankan mendapat pelukan hangat dari Vania. Vania sudah membencinya semenjak Kezia di dalam kandungan ibunya.
Dulu, Vania adalah anak perempuan kesayangan orang tua dan kakaknya. Semenjak ibunya mengandung Kezia, Vania menjadi iri. Perhatian seluruh keluarganya terfokuskan kepada Kezia. Bahkan Adrianlah yang paling antusias menyambut kehadiran Kezia. Sebenarnya tuan Afshen dan juga almarhumah Nadia istrinya. Mereka tidak pernah membedakan kasih sayangnya kepada putra putrinya. Semua itu murni karena sifat Vania yang iri dan tidak ingin tersaingi.
__ADS_1
Wajar saja Vania iri dan benci kepada Kezia. Selain lebih cantik, Kezia juga lebih cerdas dari pada Vania. Namun selama ini Kezia selalu mengalah kepada kakaknya. Dia tidak pernah menunjukan prestasinya kepada keluarganya. Semua pengorbanan Kezia tidak pernah membuat Vania puas. Wanita itu sudah membenci adiknya sebelum Kezia terlahir di dunia. Mungkin hanya takdir yang akan membuatnya sadar. Entah kapan waktu itu tiba, biarlah waktu yang akan menjawabnya.