Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Kegundahan Hati Rama


__ADS_3

Rama Asher


Aku melihat tatapan penuh luka di mata Kezia. Tetapi dia terlihat seolah seperti wanita kuat. Aku akui sikapku memang keterlaluan, itu karena kekecewaanku padanya. Bahkan dia masih memperlakukanku dengan baik sebagai suaminya.Membersihkan kamarku, mencuci pakaian kotorku. Menyiapkan makanan kesukaanku sepulang kerja. Jujur saja hatiku terketuk dengan sikapnya. Namun aku mencoba untuk tidak peduli kepadanya. Aku takut terbuai dan masuk ke dalam dunianya. Ada hati yang harus ku jaga saat ini, hatiku hanya milik Vania.


Aku tidak sengaja membiarkan masakanya tidak termakan. Itu karena perutku sangat kenyang setelah makan malam bersama Vania. Terlihat dia sangat kecewa melihat masakanya yang masih utuh di meja makan. Dan ada lagi yang membuatku merasa terheran-heran kepada Kezia. Kenapa dia suka sekali berenang di malam hari hingga matanya memerah.


Saat itu aku hanya pura-pura fokus menonton siaran televisi. Tanpa Kezia tahu, aku selalu melihat setiap apa yang ia lakukan. Seperti saat ini, dia yang keluar hanya memakai pakaian minim yang membuat jiwa kelakianku bergejolak. Namun tak lama kemudiam dia masuk ke dalam kamar dan keluar lagi dengan pakaian yang berbeda. Dia melangkah ke meja makan memasukan semua makanan yang berada di meja makan ke dalam rantang. Dagiku mengernyit melihatnya, mau dia apakan semua makanan itu. Mau dia bawa kemana semua makanan itu. Bahkan dia tidak berpamitan saat hendak pergi. Langsung saja ku tegur dia dan jawaban singkat darinya yang ku dapatnya.


Setelah pintu apartemen tertutup,langsung saja ku sambar jaket, dompet dan kunci mobilku. Aku segera keluar dari apartemen mengikuti Kezia secara diam-diam. Untung saja Kezia hanya jalan kaki, jadi aku tak perlu kawatir kehilangan jejaknya. Aku mengikutinya dari belakang,berharap dia tidak curiga.


Di malam segelap ini entah dia mau kemana melangkahkan kakinya. Untung saja tidak ada preman yang mengganggunya. Jikapun ada aku yakin Kezia bisa mengatasi sendiri. Mengingat dia dulu yang jago berkelahi di waktu SMA.

__ADS_1


Ku lihat dia berhenti di depan kakek-kakek dan seorang anak kecil yang duduk di trotoar jalan. Dia berjongkok sambil memberikan makanan yang dia bawa dari apartemen tadi. Ternyata itu tujuan dia keluar malam-malam. Tidak hanya memberi makan, bahkan dia malah mengobrol dengan mereka berdua. Entah apa yang mereka obrolkan sehingga membuat mereka bertiga tersenyum sangat manis. Aku akui senyum Kezia terlihat sangat tulus kepada mereka. Sejenak aku jadi meragukan ucapan Vania jika Kezia berwatak buruk. Karena selama ku lihat semenjak kami menikah, tidak ada hal buruk yang ku dapati dari Kezia. Malahan aku yang selalu bersikap buruk kepadanya.


Semua yang di lakukan Kezia aku melihatnya sendiri dengan kedua mataku. Bahkan selain makanan, dia juga memberikan beberapa lembar uang ratusan kepada mereka. Hatiku semakin gundah, sebaik itukah Kezia yang selama ini ku anggap buruk.


Saat dia hendak pergi meninggalkan mereka berdua. Segera ku percepat langkahku kembali ke apartemen. Aku tidak ingin Kezia tahu jika aku mengikutinya. Tak lama kemudian setelah aku sudah kembali ke apartemen. Kezia juga membuka pintu apartemen yang lampunya baru saja ku matikan semua. Dia tidak melihatku yang duduk memperhatikanya di atas sofa. Ku lihat dia sangat bahagia terlihat dari senyum di bibirnya.


Senyumnya sangat manis hingga aku tidak rela saat senyum itu hilang bersamaan pintu kamarnya yang tertutup. Perasaan apakah ini, kenapa tiba-tiba aku ingin mendekatinya. Aku ingin memeluknya bahkan mencium bibinya yang tersenyum manis. Segera ku tepis fikiranku dan kembali meyakinkan diri bahwa aku harus menjaga hati Vania.


Ingin mengikutinya saking aku penasaran. Tetapi aku ingat pagi ini ada meeting dengan klien di kantor. Sehingga ku abaikan saja entah dia mau kemana. Mungkin dia ke kantor atau mungkin saja ada jadwal pemotretan. Oh ya, ngomong-ngomong soal pemotretan. Tempo hari aku sangat emosi saat dia berpose mesra dengan Alex. Berani sekali dia berpose mesra saat setatusnya masih sebagai istriku. Aku saja yang suaminya tidak pernah berfoto semesra itu bersamanya. Meski hanya sebagai model brand ambasador. Tapi pose mesra mereka berdua membuatku jengah melihatnya.


Ingin rasanya ku suruh Kezia berhenti dari pekerja'anya. Tetapi aku tidak ingin membatasi kebebasanya. Apa lagi kami bukan sepasang suami istri yang sebenarnya. Aku tidak ingin dia juga melarangku untuk tidak berhubungan lagi dengan Vania. Oleh karena itu aku membebaskan setiap aktivitasnya.

__ADS_1


Tetapi rasa penasaranku tentangnya ternyata tidak bisa di abaikan. Hingga aku menyuruh seseorang untuk memata-matai Kezia. Entah kenapa aku jadi begitu penasaran denga kegiatan Kezia.


Setelah ku suruh anak buahku untuk memata-matai Kezia. Kini aku bisa bekerja dengan tenang. Menemui klien dari jepang untuk meeting bersama dengan hati yang tenang. Aku percayakan semuanya pada orang-orang kepercaya'anku.


Setelah selesai meeting, aku sudah berjanji akan menemui kekasihku di apartemenya. Vania memang tidak serumah lagi dengan keluarganya. Dia berkata semua itu karena kluarganya lebih menyayangi Kezia dari pada dirinya. Aku sangat kasihan denga kekasihku, hidupnya jadi menderita karena Kezia. Memang jelas terlihat baik Adrian maupun Papanya lebih menyayangi Kezia daripada Vania. Oleh karena itu aku berjanji akan selalu ada untuknya.


Saat ini aku sudah berada di apartemen Vania.Dia menyambutku dengan senyuman manisnya. Aku sangat gemas, ingin rasanya ku kecup seluruh bagian wajahnya. Selama ini dia selalu melarangku untuk menciumnya. Alasanya karena kami belum menikah. Bukankah dia adalah wanita yang sangat menjaga dirinya. Tentu saja aku tidak kecewa,aku malah bangga memiliki kekasih sepertinya. Meski dia tak secantik dan sepintar Kezia.


Entahlah kenapa lagi-lagi aku teringat denga Kezia saat aku sedang bersama Vania. Jika di apartemenku sendiri, maka Kezia akan menyambutku dengan hidangan kesuka'anku. Tetapi di apartemen Vania, karena dia tidak bisa masak. Jadinya kami hanya bisa deliveri order untuk makan siang kami berdua.


Semua itu tidak masalah, bahkan aku sudah mamikirkan jauh-jauh hari jika kami menikah. Aku akan menikahinya apapun kekuranganya. Aku tidak mempermasalahkan dia bisa atau tidak bisa memasak. Karena yang ku cari adalah istri bukan pembantu. Yang terpenting dia mencintaiku dan aku mencintainya. Dia baik dan berhati lembut seperti dewi. Aku sangat memujanya karena kelembutanya.

__ADS_1


Ku lewatkan waktuku hanya di apartemen Vania sampai malam. Aku tidak menginap di apartemenya karena ia melarangnya. Aku kembali ke apartemenku tepat pukul delapan malam. Ketika ku buka pintu, suasana apartemen sangat gelap. Itu berarti Kezia belum pulang dari tadi pagi.


__ADS_2