
Hari itu pun telah tiba, seperti kata tuan Afsen, Kezia akan menikah hari ini dengan pria misterius pilihan papanya. Kezia tidak dapat membendung tangisanya di saat mua merias wajahnya. Hingga membuat perias itu kewalahan katena riasanya terus-terusan luntur karena air mata Kezia.
Vania masuk ke dalam kamar adiknya, entah kenapa dia merasa kasihan melihat adiknya yang terlihat sangat sedih. Yang membuat Kezia heran, kakaknya itu diam saja ketika tahu dirinya di jodohkan dengan pria asing. Karena biasanya Vania selalu menentang papanya perihal yang tidak Kezia sukai.
Entah kenapa ada yang mengganjal di hati Kezia, keluarganya terlihat sangat aneh dan menyimpan rahasia darinya.
"Zia, jangan nangis terus, dong! kasihan periasnya kewalahan dandanin kamu," ucap Vania.
"Biarkan saja, tidak usah di rias sekalian, untuk apa tampil cantik jika pernikahan ini menorehkan luka untuku seumur hidup," timpal Kezia.
"Jangan begitu, dong! kamu kan belum tahu calon suami kamu siapa. Jadi nurut aja, ya? percaya sama kakak, oke?"
"Bagaimana bisa kak Vania tahu tentang calon suamiku, sedangkan aku yang akan di nikahinya saja belum tabu bagaimana orangnya."
"Dia ganteng, pengusaha sukses! kamu pasti suka," ucap Vania.
"Enggak, di dunia ini hanya Rama yang bisa membuatku jatuh cinta dan selamanya hanya Rama," ucap Kezia.
"Sudah-sudah! ayo bersiap-siap, karena calon suamimu akan mengucapkan ijab qobul."
Terdengar suara penghulu memulai ijab qobul, di susul oleh suara seorang lelaki yang sangat familiar di telinga Kezia.
Kezia menatap Vania, dia meminta penjelasan kepada kakaknya tentang pria yang akan menjadi suaminya.
"Kak, kenapa suaranya_
Ucapan Kezia terpotong karena Vania memintanya untuk fokus mendengarkan ijab qobul. Entah kenapa setelah mendengar nama Rama Asher, Kezia tidak mampu lagi membendung air matanya. Dia segera bangkit dari duduknya setelah ijab qobul telah di bacakan dan mereka sah menjadi suami istri kembali. Kezia hendak berlari namun di cegah oleh Vania.
"Kau lupa sedang mengandung, Zia? kakak akan menemanimu menemui suamimu," ucap Vania tersenyum sembari menghapus air mata Kezia.
Kezia mengangguk, dia tersenyum penuh keharuan karena yang menikahinya ternyata adalah Rama Asher. Keluarganya bersekongkol mengerjainya, membuatnya hampir ingin mati karena perjodohan yang membuatnya sedih.
"Kak, jadi kau sekongkol selama ini dengan papa?"
"Hahaha, sebenarnya aku menolak karena kasihan melihat adiku yang malang ini bersedih. Namun aku rindu ingin mengerjaimu adik cantiku," ucap Vania.
Vania menuruni anak tangga bersama Kezia, semua mata berfokus pada dua wanita kakak beradik yang sama-sama cantiknya. Di antara banyaknya mata yang melihat ke arah mereka, hanya satu orang yang membuat fokus Kezia tidak teralihkan, orang itu adalah Rama Asher yang tersenyum menyambutnya.
__ADS_1
"Hik, ternyata kalian semua sekongkol mengerjaiku," protes Kezia.
Semua orang menertawai Kezia yang sedang menangis karena di kerjai. Rama panik, dia langsung menghampiri Kezia yang telah sah menjadi istrinya kembali.
"Sayang, jangan nangis! malu dong, di ketawain para tamu undangan," ucap Rama sembari menghapus air mata Kezia.
Kezia masih kesal, dia memalingkan muka, dia tidak mau memperlihatkan makeupnya yang telah luntur di hadapan Rama.
"Oh, jadi menolah perintah suami? dosa menolak suami, loh," goda Rama.
Kezia lagi lagi tersadar bahwa dirinya telah sah menjadi istrinya Rama kembali. Kezia menoleh, ketika jemari tangan Rama menggenggam jemari tanganya. Rama menuntunya mengajaknya ke hadapan penghulu dan mengambil cincin pernikahan mereka yang belum sempat di sematkan di jari manis keduanya.
Kezia terharu, semua ini seperti mimpi baginya bisa menikah kembali dengan pria yang teramat dia cintai. Sampai-sampai air matanya tidak mampu berhenti saking terharunya.
Rama mengusap air mata Kezia, Kezia buru-buru menstabilkan diri lalu mencium tangan kanan suaminya. Di lanjutkan Rama yang mencium kening Kezia dan mendapatkan tepukan tangan dari para tamu yang hadir di acara pernikahan mereka.
Ethan tak mau kalah, dia juga menghampiri kedua orang tuanya dan memeluk keduanya. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang sangat bahagia. Tuan Afsen yang melihat senyum dari putrinya, merasa terharu. Kezia melihat papanya memandang ke aranya dan Rama. Rama pun mengikuti arah pandangan istrinya.
Rama mengajak Kezia untuk sama-sama sungkeman kepada tuan Afsen beserta kedua orang tua Rama. Moment yang sangat mengharukan itu terjadi di antara orang tua dan anaknya. Kezia memeluk tubuh papanya, mengucapkan beribu-ribu terimakasih karena telah memberinya kejutan yang sangat indah. Meskipun Kezia harus menangis meratapi nasip selama berhari-hari. Semua terbayar dengan moment yang sangat indah dan tak terlupakan se umur hidupnya.
"Berbahagialah, nak! sudah cukup papa bersikap egois kepadamu. Papa sudah terlalu sering membuatmu menangis. Kini saatnya kamu berbahagia bersama keluarga kecilmu."
"Kalian semua berhutang penjelasan kepadaku, bagaimana semua ini bisa terjadi dan bagaimana Rama bisa meluluhkan papa."
Tuan Afsen memandang ke arah Rama, Adrian dan juga Vania. Merekalah yang bekerja sama untuk membuat kejutan pada Kezia.
Semenjak conferensi pers tempo hari, tuan Afsen jadi tahu bahwa Rama tidak bersalah. Bahkan setelah acara itu berakhir, Rama sempat mendatangi kediaman Afsen di saat Kezia sedang tidur.
Rama memohon kepada mantan mertuanya untuk mempersatukan kembali dirinya dengan putri bungsunya. Awalnya tuan Afsen ragu, karena masih di hantui masalalu. Namun karena kesungguhan Rama, akhirnya tuan Afsen pun luluh.
Semua nampak berbahagia kecuali Adrian, katena pria itu tidak bisa mengetahui kabar tentang Dewi. Adrian tidak tahu bahwa Dewi telah ganti ponsel beserta nomernya. Karena Erik telah membanting ponselnya.
"Ehemmm! ada yang galau memikirkan istri orang," sindir Vania, membuat semua mata memandang ke arah Adrian.
"Husst! jangan keras-keras," tegur Adrian.
"Saranku Lupakanlah dia, karena saat ini Dewi sudah bahagia bersama Erik," timpal Rama.
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Adrian.
"Semenjak kasusku kemarin, aku selalu waspada dan memata-matai Erik. Aku bisa bernafas lega, karena Dewi mampu menyadarkan Erik dari opsesinya untuk mendapatkan Kezia."
Entah Adrian harus bersedih atau bahagia, bersedih karena wanita yang dia cintai telah menentukan pilihanya dan bahagia karena adiknya bisa terbebas dari Erik.
"Udahlah, lupakan Dewi, tuh ada Ranti sekeretarisku nganggur dan gak kalah cantik dari Dewi," ledek Rama
Adrian pergi meninggalkan mereka semua, sepertinya mereka semua kompak meledeknya. Siapa yang tahu dalamnya hati seseorang, luar nampak tenang tetapi dalamnya sangat pedih.
"Tuh, Adrian pergi! kalian sih," tegur Kezia.
Tak puas meledek Adrian, kini Rama meledek Digo dan Vania. Karena mereka yang dari awal berniat untuk menikah. Nyatanya sampai sekarang mereka belum juga menikah.
"Kapan kalian nyusul? bukankah sudah lama kalian ingin menikah?" tanya Rama pada Vania dan Digo.
"Kalau bukan karena kalian berdua, sudah pasti kami menikah sejak lama. Ini karena perminta'an Vania yang ingin melihat kalian berdua bersatu. Setelah kalian bersatu, baru kami akan melangsungkan pernikahan," ucap Digo menjelaskan.
Rama dan Kezia saling tatap, kemudian bersama'an memandang ke arah Vania. Mereka berdua tidak menyangka bahwa Vania ternyata memendam rasa bersalahnya selama ini kepada Rama dan Kezia.
Tetapi Vania sekarang telah merasa lega setelah tujuanya tercapai. Melihat Kezia dan Rama bersatu seakan telah membuat beban yang di pikulnya telah menghilang.
Vania memeluk Kezia, Kezia pun memeluk Vania tak kalah erat. Kedua putri tuan Afsen itu saling berpelukan dalam tangis bahagia. Tuan Afsen sebagai orang tua tunggal mereka tak kalah bahagia. Karena melihat dua putrinya yang dulunya bermusuhan telah akur seperti saat ini.
"Papa, kemarilah peluk kami," pinta Vania.
Dengan senang hati tuan Afsen menghampiri kedua putrinya dan memeluk mereka dengan tangis bahagia. Rama beserta kedua orang tua dan semua tamu undangan merasa terharu melihat mereka bertiga.
"Aku juga ingin di peluk! kenapa kalian semua tidak melihatku yang sedari tadi berdiri di sini?" protes Ethan.
Semua orang-orang yang berada di sana menjadi tertawa karena Ethan. Rama mengambil alih putranya, mengajaknya ikut berpelukan lalu berphoto bersama.
Semua berakhir dengan happy ending, karena tiada masalah yang tidak bisa di selesaikan. Berawal dari kebencian, berakhir dengan kebahagiaan.
Mampir di novel terbaruku, ya😘
__ADS_1