
Rama masih memandang Erik, penuh kecuriga'an. Apa lagi, Rama tidak sengaja, melihat bekas cakaran di leher Erik, di bagian belakang. Lelaki berpengalaman seperti Rama, pasti tahu, tanda cakaran di leher Erik, bukanlah cakaran hewan atau sebangsanya, melainkan cakaran kuku seorang wanita.
Dalam hati Rama tertawa, dan mengatai Erik, adalah pria brengsek. Hal itu, memicu Rama, semakin penasaran. Siapa wanita yang telah bermalam bersama Erik. Tentu saja hal yang sangat mudah, bagi Rama, untuk mengetahuinya. Uang bisa mengabulkan apapun yang orang inginkan, termasuk identitas seseorang.
"Di mana Kezia?" tanya Erik, pada Adrian.
Adrian memberi tahu, bahwa Kezia ada di dalam bersama putranya. Erik langsung masuk, tanpa menghiraukan Rama, untuk sekedar permisi.
Setelah masuk, Erik langsung menutup kembali, pintu ruangan. Ada sesuatu yang ingin lelaki itu katakan kepada tunanganya. Kezia menoleh, setelah mendengar suara pintu di tutup dari dalam.
"Erik," sapa Kezia.
"Zia, kau tidak pulang dari kemarin? Pulanglah, kau juga butuh istirahat," pinta Erik.
Kezia menggeleng, ia tidak ingin terjadi hal yang buruk, pada putranya, untuk kedua kalinya. Melihat sang putra kemarin kritis, membuat Kezia takut. Apa lagi, penyebab putranya sakit, adalah kepergianya. Tentu saja, Kezia memilih untuk menjaga putranya, hingga putranya benar-benar sehat kembali.
"Tidak! Aku tidak ingin putraku kembali sakit," jawab Kezia.
Erik hanya mendengus kesal, sebenarnya Erik sangat pusing dan takut. Namun, pria itu berusaha menyembunyikan ketakutanya dari semua orang. Erik takut, perbuatanya semalam, akan menghasilkan benih yang tidak di inginkanya. Apa lagi, ia melakukanya dengan pengasuk dari putra calon istrinya.
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat kebingungan?" tanya Kezia.
"Oh, tidak! Aku hanya tidak tega meninggalkanmu di indonesia. Karena aku harus kembali lagi ke singapura. Banyak pasien yang membutuhkanku saat ini," alasan Erik.
"Pergilah! Kembalilah ke negaramu, mereka lebih membutuhkan pertolonganmu. Aku akan baik-baik saja di sini, percayalah," ucap Kezia, meyakinkan Erik.
"Apa ucapanmu bisa ku percaya? Apa kamu tidak akan berdekatan dengan mantan suamimu?" tanya Erik.
"Aku tidak bisa berjanji! Karena di antara kami, ada Ethan yang membutuhkan perhatian kami berdua," jawab Kezia.
"Tapi_
"Cukup Erik! Tolong mengertilah, putraku masih sangat kecil, untuk mengerti keada'an kedua orang tuanya saat ini," ucap Kezia final.
__ADS_1
Erik tak mampu melayangkan protesnya kembali. Erik harus tetap kembali ke singapura sekarang juga. Kepalanya, lama-lama akan semakin pecah, jika teringat dan berdekatan dengan Dewi. Bukanya ingin menghindar, namun rasa takutnya menjadikanya pengecut.
Erik berharap, perbuatanya semalam, tidak akan membuat Dewi hamil. Jika itu terjadi, maka hubunganya dengan Kezia akan kandas. Tentu saja Erik tidak akan mau hal itu terjadi.
"Erik! Kau melamun?"
"Oh, maaf! Baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke singapura hari ini. Jaga dirimu baik-baik, kabari akau jika terjadi sesuatu," pesan Erik, sebelum pergi.
Kezia tersenyum mengiyakan, Erikpun keluar dari ruang inap, Ethan. Di luar ruangan, ternyata Rama masih berada di sebuah kursi, di depan ruang inap putranya.
"Ehem," suara Erik berdehem, membuat Rama menoleh.
"Aku akan kembali ke singapura! Aku harap, kamu tidak akan mendekati tunanganku," ucap Erik, memperingatkan.
Rama hanya tersenyum, tanpa mengeluarkan kata-kata sedikitpun. Bagi Rama, buat apa Rama harus di larang mendekati Kezia. Jika mereka berdua saja, sudah melakukan hal lebih dari pendekatan.
Melihat Rama hanya tersenyum, membuat Erik kesal. Lelaki itu pun, langsung pergi meninggalkan Rama, yang masih memandang meremehkan.
"Siapa kau, berani melarangku! Tidak ada yang bisa melarangku, termasuk dirimu," guman Rama, di dalam hatinya, sembari terlihat seringai licik di wajahnya.
Rama berjalan masuk ke ruang inap putranya. Di lihatnya, Ethan sedang tertidur, dan di sampingnya juga ada Kezia yang tertidur, dalam posisi duduk di kursi. Rama melangkah mendekat, memindahkan Kezia, ke sofa yang hampir mirip dengan ranjang tempat tidur.
Setidaknya, tidur di sofa akan lebih baik, daripada tidur di kursi. Rama membaringkanya pelan, lalu menyelimuti Kezia, menggunkan jas kerjanya.
Melihat mantan istrinya yang tidak berganti baju dari kemarin. Ramapun meminta Ranti sekertarisnya, untuk membelikanya pakaian wanita, lengkap beserta dalamanya.
Meskipun setatusnya hanya sebagai mantan suami Kezia. Rama masih mengingat betul, ukuran pakaian dalam mantan istrinya.
Rama memandang wajah Kezia, yang sedang terlelap. Mengingatkanya pada kenangan mereka berdua, saat menjadi suami istri.
Wajah Kezia, tidak berubah sama sekali, masih tetap secantik dulu. Bahkan semakin cantik dan lebih berisi, di banding Kezia yang dulu. Rama tersenyum, membayangkan jika mereka berdua rujuk kembali.
Di layangkanya sebuah kecupan singkat, di bibir Kezia, yang sedikit terbuka. Kemudian, Rama bersandar di sofa, di sebelah Kezia.
__ADS_1
Pria tampan itu, kini mengotak atik handphonenya. Meminta kembali kepada sang secretaris, untuk membelikan mereka makanan. Rama tahu, Kezia hanya makan sekali saja hari ini.
"Papa," panggil Ethan.
Rama memberi kode pada putranya, menggunakan jari telunjuknya yang di tempelkan ke bibirnya, tanda agar suara Ethan, sedikit di pelankan. Karena mamanya saat ini, sedang tertidur sangat lelap.
Rama berjalan pelan, tanpa suara, menghampiri putranya. Di kecupnya singkat, kening putranya, tanda sayangnya pada jagoan kecilnya.
"Ada apa, jagoan papa?" tanya Rama.
"Apa mama sedang tidur?" bisik, Ethan.
Rama tersenyum dengan tingkah putranya, yang berbisik di dekat telinganya.
"Ya, mama baru saja tidur! Biarkan mamamu tidur sebentar, nak. Apa kau memerlukan sesuatu? Biar papa yang membantumu," tawar Rama.
"Tidak papa! Cukup kalian berdua selalu di sampingku, aku sudah sangat senang," ucap Ethan, membuat Rama, mendadak merasa terharu.
Begitu simpel, permintaan putranya, yang selama ini, belum bisa ia penuhi. Namun Rama bukan berarti tidak bisa memenuhi keinginan putranya. Rama hanya butuh waktu, ini hanya masalah waktu.
Semoga putranya mau bersabar, karena Rama sedang memperjuangkan mamanya kembali. Dan Rama berjanji, akan menybung kembali, benang yang pernah terputus. Menjadi sebuah ikatan yang kuat, apa lagi ada putranya yang memperkuat mereka berdua.
Bukan cinta, jika tanpa ujian dan coba'an, seperti yang di alamai Kezia dan Rama. Lika liku yang pernah mereka berdua alami di masalalu. Bahkan masih berjalan hingga saat ini.
Bukan namanya cinta, tanpa pertengkaran dan duka. Karena cinta tak selamanya berjalan dengan mulus. Kadang kita memang di uji dengan kesakitan, perpisahan, untuk memperkuat cinta itu, jika suatu saat di persatukan kembali. Menjadi dua insan yang saling melengkapi, mencintai dan saling melindungi.
Begitulah yang akan di lakukan oleh Rama, di saat mereka bersatu kelak. Rama berjanji, tidak akan ada duka lagi, di antara mereka. Tidak akan ada lagi, orang ke tiga di antara mereka. Cukuplah hanya mereka berdua beserta anak-anak mereka kelak.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
...Hai Readers🖐️😊...
...Mampir di karya temanku juga, ya ...
__ADS_1