Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Kehadiran Vania


__ADS_3

Kezia Afshen


Hari ini adalah hari resepsi pernikahan kami yang di gelar secara besar-besaran. Semua kolega dan rekan bisnis papaku, kak Adrian dan juga Rama di undang ke acara resepsi pernikahan kami. Aku mengenakan gaun pilihan Rama tempo hari. Semuanya hadir di acara resepsi pernikahanku kecuali kak Vania.


Dengan sangat anggun, aku perlahan menuruni anak tangga. Kulihat semua para undangan memperhatikanku tanpa berkedip. Pandanganku menelusuri banyaknya orang di acara. Ku cari di mana keberada'an suamiku yang beberapa hari ini bersikap sangat baik kepadaku. Ternyata dia juga baru keluar dari kamar bawah bersama kak Adrian.


Hari ini Suamiku terlihat sangat tampan mengenakan tuxedo berwarna hitam. Di hiasi dasi kupu-kupu sehingga ia terlihat sangat gagah di mataku. Rama berjalan menghampiriku mencium punggung tanganku. Kemudian membantuku menuruni anak tangga hingga ke lantai bawah.


Semua undangan memberikan tepukan tangan untuk menyambut kami berdua untuk naik ke pelaminan. Banyak yang memuji kami adalah pasangan yang sangat serasi. Aku tersipu malu, apa lagi tangan Rama saat ini sedang menggenggam jemariku. Ku pandang wajahnya dan diapun menoleh kepadaku dengan senyuman manisnya.


Aku berharap setelah selesainya acara resepsi ini. Kami berdua bisa menjadi pasangan suami istri seperti orang lain pada umumnya.


"Selamat adiku tersayang dan adik iparku."


Aku dan Rama sama-sama menoleh pada sumber suara yang sangat kami kenal. Seketika tangan Rama yang tadi menggenggamku tiba-tiba di lepas begitu saja. Kakaku Vania yang tiba-tiba hadir di acara resepsi pernikahanku. Aku melihat binar kerinduan terpancar di mata suamiku.


Ada apa lagi ini? apakah ini awal dari penderitaanku kembali. Bahkan tangan yang tadi menggenggamku telah berpindah menjabat tangan kakaku Vania. Mereka saling pandang bahkan berpelukan di depan mataku dan di depan tamu undangan.


"Aku ingin bicara denganmu," ucap Rama menarik tangan kak Vania entah mau di bawa kemana. Semua itu tak luput dari penglihatanku dan semua orang yang hadir di acara.


Bahkan kak adrian yang melihatnyapun langsung mengikuti mereka berdua. Karena tidak ingin ada keributan ataupun tatapan curiga pada seluruh tamu undangan. Akupun turun dari pelaminan dan mengikuti mereka.

__ADS_1


Ku tarik tangan kak Adrian saat ia hendak membuka pintu di mana Rama dan kak Vania berada. Aku menggeleng dan memohon,karena sangat jelas terlihat raut kekesalan di wajah tampan kakaku.


Terdengar isakan tangis di dalam ruangan yang ku yakini itu adalah kak Vania. Ku dengar jelas saat kak Vania berkata kepada Rama jika akulah yang memaksanya untuk menggantikan namanya menjadi namaku. Sesaat aku syok,kenapa kakak kandungku tega berbuat itu kepadaku.


Melihat wajahku yang terlihat syok, membuat kak adrian segera mengajaku masuk menghampiri suamiku dan kak Vania. Terlihat raut yang berbeda dari wajah Rama saat melihatku. Tatapan lembut yang beberapa hari ku lihat telah hilang. Kini tatapanya berubah dingin penuh kebencian seperti sebelumnya.


Bagaimana tentang hatiku saat ini,rasanya sangat sakit, hancur tanpa bisa berkata apapun. Tubuhku hanya mematung di ambang pintu. Sedangkan kak Adrian sudah mencekal pergelangan tangan kak Vania. Tatapan kemarahan yang tak pernah ku lihat sebelumnya pada diri kaka Adrian.


"Jangan membuat kekacauan Vania!" sudah cukup kau ber_


"Rama tolong aku!" dia gadis licik dan lihatlah kak Adrian lebih membelanya," ucap kak Vania dan Ramapun percaya.


Rama melepaskan cekalan tangan kak Adrian dengan tatapan kemarahan. Membuat kak Adrian semakin tersulut emosi. Aku segera lari untuk menahan saat kak Adrian hendak memukul Rama. Aku tak ingin pesta pernikahanku yang telah kacau ini semakin kacau.


"Apapun yang di katakan kak Vania memang benar. Aku sangat senang akhirnya aku mendapatkanmu suamiku."


"Dasar wanita licik, sekali penyihir akan tetap menjadi penyihir. Tunggu sebentar lagi aku akan melayangkan gugatan cerai padamu dan menikahi Vania."


Bagai di sambar petir mendengar ucapan Rama barusan. Hatiku semakin sakit dan hancur sehingga kepinganya berserakan entah bisa utuh kembali ataupun tidak. Ku tahan diri agar tidak menangis, karena jika aku menangis kak Vania akan menertawaiku.


"Baiklah suamiku, kita lihat saja kau bisa menceraikanku atau tidak."

__ADS_1


Setelah mengucapkan kata-kata barusan, ku ajak kak Adrian meninggalkan mereka berdua. Bahkan kak Adrian sudah tidak sudi lagi menganggap kak Vani sebagai adiknya.


Aku menangis saat tubuh kekar kak Adrian memeluku. Ini yang aku butuhkan, sebuah pelukan dari kakak yang teramat menyayangiku. Meskipun aku memiliki dua kakak. Tapi sedari kecil hanya kak Adrian yang tulus menyayangiku. Sedangkan kak Vania hanya memperlihatkan kebencianya kepadaku.


"Jangan menangis Kezia,kau gadis yang kuat. Jangan biarkan Vania dan Rama tertawa melihatmu menangis. Akan ku pastikan suami bodohmu itu akan menyesal. Dan aku tidak sudi lagi menganggap Vania sebagai adiku."


"Jangan kak, bagaimanapun kak Vania adalah adikmu dan juga kakaku. Kita doakan saja kak Vania segera berubah."


"Entah kau begitu baik atau begitu bodoh, Kezia."


Ku usap air mataku lalu tersenyum setelah mendengar ucapan kak Adrian barusan. Aku memanggil perias yang meriasku tadi untuk membetulkan riasanku. Aku harus terlihat seperti Kezia yang kuat. Apa lagi acara resepsi pernikahan kami belum selesai.


Demi mencegah kecurigaan pada para tamu undangan. Akhirnya aku dan rama berpura-pura menjadi pengantin yang sangat bahagia di atas pelaminan.


Setelah resepsi pernikahan kami sudah selesai. Kini aku dan Rama sudah kembali ke apartemen. Rama hanya diam membisu tidak ada sepatah katapun yang ku dengar darinya.


Tanpa ku tahu ternyata dia masih meredam kemarahan padaku. Seperti biasanya aku tetap menyiapkan baju ganti untuk suamiku. Menyiapkan air hangat untuknya mandi. Meskipun tubuhku sangat lelah, aku tetap memerankan sebagai istri yang baik.


"Sudah cukup sandiwaramu!" dan jangan lagi menyiapkan sesuatu kepadaku. Aku sudah tidak sudi lagi menerima pelayanan dari wanita licik sepertimu."


Setelah berucap seperti itu padaku, Rama segera menyambar dompet, kunci mobil dan juga jaketnya. Entah dia mau kemana, bertanyapun pasti hanya di abaikanya.

__ADS_1


Setelah kepergian Rama,tanpa terasa air mata yang ku tahan sedari tadipun menetes. Ku remas dadaku yang teramat sesak merasakan semua ini. Ku buka gaun pernikahanku dan ku biarkan saja di lantai. Kakiku melangkah memasuki kamar mandi. Kunyalakan shower untuk mengguyur seluruh tubuhku. Aku menangis sejadi-jadinya meluapkan rasa sakit di hatiku. Bayangan tadi siang berputar di kepalaku. Bayangan wajah penuh kebencian dari Rama juga melekat di ingatanku.


Lagi-lagi malam yang seharusnya menjadi malam yang paling indah bagi pengantin harus ku lewatkan dengan rasa perih di hatiku. Malam ini menjadi malam terburuk yang pernah ku rasakan. Apakah malam-malam berikutnya akan lebih buruk dari malam ini.


__ADS_2