Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Perasa'an Rama Asher


__ADS_3

Rama Asher


Ternyata takdir masih setia mempermainkanku, menghukumku atas perbuatanku di masa lalu. Awalnya aku sangat bersemangat bersama putraku, menyambut kedatangan Kezia. Ingin memeluknya untuk melampiaskan rasa rindu yang telah ku tahan bertahun-tahun lamanya. Awalnya ku kira, rumah tangga kami bisa di bangun kembali karena ada putra kami di tengah-tengah kami. Namun aku salah, semua sudah terlambat, pupus sudah semua harapanku.


Kezia kembali dengan seorang pria tampan yang ku yakini berkebangsaan inggris. Awalnya ku kira mereka kerabat jauh atau sekedar teman biasa. Ternyata dugaanku salah, ketika ku lihat dengan jelas, tangan pria itu, merangkul bahu Kezia dengan sangat posesife.


Aku masih mencoba membuang fikiran negativeku. Aku mencoba berfikir, bahwa pria itu hanyalah kerabat jauh Kezia. Nyatanya lagi-lagi aku salah, ketika dengan jelas Kezia menyuruh putra kami memnggil pria itu dengan panggilan papa Erik.


Apa maksud semua ini, apa mereka sengaja melukaiku. Apa karena ini, Kezia menutupi identitasku sebagai papa biologis putraku. Apa karena ini, Kezia menutupi kehamilanya dariku. Menggantikan papa biologisnya menjadi papa Erik. Sial, apa maksud mereka semua? Kenapa satu keluarga kompak mempermainkanku. Pertama Vania, kedua Kezia dan Adrian, benar-benar tiga bersaudara yang sukses mempermainkan hidupku.


Apa lagi ketika ku lihat putraku menangis di depan mataku untuk pertama kalinya. Ia menangis karena tidak ingin memiliki papa lain selain diriku. Bolehkah aku sedikit bahagia dan bersyukur memiliki putra sepertinya. Setidaknya aku masih memiliki Ethan, dan ku yakin Ethan akan lebih memilihku di banding Kezia. Aku tidak akan terlalu susah, jika meminta hak asuh Ethan, untuk jatuh kepadaku. Aku tidak akan membiarkan putraku memiliki papa lain selain diriku.


Air mata putraku mulai berhenti ketika kuyakinkan padanya bahwa papanya hanyalah papa Rama. Anak sekecil putraku saja tidak terima jika papanya di gantikan dengan pria lain. Apa lagi aku, sudah pasti aku tidak akan terima putraku memanggil sebutan papa selain diriku.


Ku beranikan melangkah menghampiri Kezia dan pria barunya. Ingin rasanya ku rebut dia dari pria itu saat itu juga. Namun aku urungkan, aku sadar, mungkin bersamaku dia menderita. Sebaliknya dengan pria yang ku ketahui bernama Erik, dia bisa membahagiakan Kezia.


Mata kami saling beradu, kulihat air mata Kezia mengalir dari mata hazelnya yang begitu indah. Ingin ku usap air matanya, namun lagi-lagi ku urungkan niatku. Dia bukan lagi miliku, kami hanya mantan suami istri. Aku sudah tidak ada hak lagi untuk Kezia.


Ku coba mengulurkan tanganku dan menyapanya. "Hai, lama tidak bertemu, apa kabar Kezia," sapaku kepada sang mantan istriku dengan menampilkan senyum terbaiku. Sedangkan Kezia bukanya membalas uluran tanganku, dia malah menangis sesegukan di dalam pelukan Adrian. Aku hanya tersenyum melihatnya dan ku sembunyikan kembali tanganku di balik saku celanaku.

__ADS_1


"Ethan, sapa mamamu, nak," pintaku pada putraku.


"Mama," panggilnya kepada Kezia, membuat Kezia langsung berhambur memeluk putra kami.


Begitulah drama singkat keluarga yang telah terpecah belah. Setelahnya, Adrian dan Kezia meminta Ethan agar ikut pulang bersama mereka. Namun aku terkejut dan tidak menyangka, jika putraku mengajak diriku untuk ikut bersamanya. Tentu saja aku bingung, di sisi lain aku ingin menghindari Kezia. Namun di sisi lain aku tidak ingin membuat putraku kecewa.


Jika boleh jujur, aku sangat terluka dan ingin menyendiri untuk saat ini. Hatiku bagai di tusuk-tusuk ribuan pisau namun tidak berdarah. Ku rasa aku tidak kuat jika harus berdekatan dengan Kezia. Apa lagi ada Erik di antara kami, aku benar-benar tidak sanggup melihatnya.


"Anak papa! Ethan ikut mama pulang, ya? Papa masih banyak pekerja'an. Papa berjanji akan menemui Ethan, setelah pekerja'an papa selesai, kamu mau sayang?" ucapku lembut kepada putraku, takut-takut jika sampai melukainya.


"Papa kerja kemana? Papa jangan tinggalin Ethan lagi. Papa harus janji akan kembali menemui Ethan," ucap putraku, membut sudut hatiku terasa nyeri. Aku mengangguk, aku hanya butuh waktu beberapa hari untuk memulihkan hati dan fikiranku. Setelahnya, aku akan mengambil putraku dan akan ku ajak pulang ke rumahku.


"Papa janji, nak! Papa akan belikan kamu mainan yang lebih banyak daripada yang di rumah, kamu mau?" bujuku, syukurlah dia mengizinkanku.


Mereka bertiga hanya meliriku tanpa kata, ketika membawa putraku pergi. Bahkan ku lihat jelas, Erik mulai mendekati putraku. Aku sangat cemburu, rasa takut itu jelas ada. Aku takut pria itu juga akan merebut putraku dariku. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kezia dan Ethan adalah kesempurna'an hatiku. Separuh hatiku telah Erik rebut dariku. Aku tidak akan membiarkan separuh yang tersisa, ia rebut juga dariku.


Untuk saat ini aku akan mengalah, dan membiarkan waktu mereka untuk bersama. Namun jika mereka sampai memisahkanku dengan putraku. Jangan kira seorang Rama Asher akan membiarkan begitu saja.


"Dada, papa," teriak putraku di dalam mobil.

__ADS_1


"Tutup jendelanya, nak! Itu sangat berbahaya," teriaku sambil membalas lambaian tangan putraku.


Setelahnya, akupun beranjak dari tempatku berdiri, menuju ke parkiran mobil. Masuk ke dalam mobilku dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Kepalaku sangat pusing, aku butuh obat tidur untuk mengistirahatkan pikiran beratku.


Tidak berselang lama, akupun tiba di rumah mewahku. Melihat keada'anku yang sedikit kacau, Dewi yang masih berada di rumahkupun menghawatirkanku. Aku memintanya untuk tidak menghiraukanku. Aku juga memintanya untuk kembali ke rumah lamanya guna menjaga putraku. Aku percayakan semuanya pada pengasuh putraku. Dia adalah orang kepercaya'anku saat ini untuk menjaga putraku.


"Kezia sudah kembali, Ethan di bawa olehnya. Aku meminta tolong padamu, tolong jaga anaku. Mungkin untuk beberapa saat aku ingin sendiri," ucapku kepadanya sebelum ku langkahkan kakiku menuju kamarku dan menguncinya dari dalam.


Bahkan aku menyuruh siapapun yang berada di rumah ini, untuk tidak menggangguku. Aku juga mematikan handphoneku. Aku benar-benar ingin sendiri tanpa seorangpun menggangguku. Mengurung diri di dalam kamar, meratapi nasip yang begitu kejam menimpaku.


"Aaaarrrrrrrk," sialan kalian semua, brengsek kalian semua."


Aku berteriak sekencang-kencangnya, untung saja kamarku kedap suara. Sehingga suaraku tidak mungkin terdengar hingga di luar kamarku. Apakah aku gila? Ya, aku memang gila dan bodoh. Pria macam apa aku ini, sehingga bisa di lukai oleh dua wanita bersaudara.


Bagaimana jika keada'anku sampai terdengar di awak media. Pasti beritaku akan menjadi trending topik yang paling utama. Seorang Rama Asher, pengusaha tersukses ternyata tak lebih dari seorang pecundang dan pengecut. Yang hanya bisa lari dan bersembunyi dari masalah percinta'an. Membayangkanya saja aku sudah miris sendiri dengan nasipku.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Ya ampun babang Rama kasihan banget sih😭

__ADS_1


Cup-cup, sini aku peluk


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


__ADS_2