
Pagi harinya, tepat pukul setengah lima pagi, Rama terbangun lebih dulu dari Kezia. Kezia masih tidak bergeming, menikmati udara pagi yang dingin yang terasa hangat karena pelukan tubuh Rama.
Perlahan Rama melepaskan pelukan tubuhnya pada tubuh Kezia. Rama harus pergi secepatnya, meninggalkan Kezia yang masih terlelap dalam tidurnya. Sebelum penghuni lainya bangun, dan memergoki keberada'anya di dalam kamar Kezia.
Tak lama Keziapun terbangun, setelah mendengar ketukan pintu dari arah luar kamarnya. Sayup-sayup matanya mengerjap, tanganya meraba tempat kosong di samping tidurnya, yang dari semalam di tempati Rama.
Kezia langsung terpekik, merasakan tempat yang telah kosong di sampingnya. Karena Kezia bangun kesiangan, dia lupa membangunkan Rama. Setelah matanya benar-benar terbuka lebar dan tidak mendapati keberada'an Rama si sampingnya. Meskipun rasanya sulit di tinggal pergi Rama. Tetapi setidaknya Kezia merasa lega, setidaknya Rama sudah pergi, sebelum orang-orang di rumah papanya memergoki Rama yang berada di dalam kamar Kezia.
"Andai aku bisa memohon pada bulan, cepatlah gantikan tugas matahari, agar malam kembali datang dan mempertemukanku kembali dengan my beloved hubby, Oop's maksudku mantan suamiku," ucap Kezia berharap.
Pintu masih di ketuk dari luar, dengan pelan sesuai perintah Rama. Kezia beranjak dari tempat tidur, melangkah pelan, membuka pintu kamarnya.
"Kau baru bangun?"
Ternyata yang mengetuk pintu kamar Kezia sedari tadi adalah Adrian. Seketika wajah semangat Kezia mendaji berubah masam. Mengingat kakak laki-lakinya bukan lagi kakaknya yang seperti dulu.
"Ya, aku sangat lelah," jawab Kezia singkat.
"Boleh kakak masuk? ada sesuatu yang ingin kakak bicarakan denganmu."
Tanpa menjawab, Kezia membiarkan saja Adrian memasuki kamarnya. Entah apa yng ingin Adrian bicarakan padanya. Belum mendengar ucapan Adrian pun, Kezia sudah malas mendengarnya.
"Apakah kakak menyakitimu, Zia? Kakak merasa semakin ke sini, kamu semakin menjauh dari kakak," tanya Adrian.
Kezia langsung menatap wajah kakaknya, seolah pertanya'an Adrian adalah pertanya'an orang-orang bodoh. Bagaimana mungkin kakaknya bertanya seperti itu kepadanya. Sedangkan Adrian dari dulu sudah mengenal Kezia. Bagaimana Kezia, apa yang dia suka dan dia tidak sukai. Semuanya Adrian tahu, namun kenapa hanya karena Erik kakaknya menjadi sebodoh dan tidak sepeka dulu.
"Apakah jawabanku penting untukmu, kak? bahkan dulu kau adalah satu-satunya orang yang memahamiku. Sayangnya kakaku yang seperti itu sudah hilang entah kemana. Yang aku tahu saat ini, kakaku hanya bisa percaya dengan orang lain. Sama sekali tidak lagi bisa mengerti perasa'anku. Kau lebih percaya Erik, dan setuju dengan tawaran gila dari Erik. Jika aku hidup hanya untuk membalas budi kepada Erik, kenapa aku tidak mati saja dari dulu."
"Zia! jaga ucapanmu," tegur Adrian.
Kezia tersenyum smirk, seperti kata Rama tadi malam. Dia harus kuat dan tidak boleh sedih, karena bagaimanapun yang terjadi kedepanya. Rama akn selalu da untuknya, memperjuangkanya dan anak-anaknya.
Kezia harus kembali menjadi dirinya yang kuat, untuk menghadapi semuanya. Karena dia sudah lelah menangis, kini saatnya kebal untuk semua. Ini semua Kezia lakukan demi bayi yang sedang ia kandung.
Setidaknya saat Kezia mengandung Ethan, bisa di jadikan pelajaran ke depan. Kezia tidak ingin terlalu setres sehingga berdampak pada dirinya dan bayinya.
"Maafkan kakak, Zia! Kakak sama sekali tidak berniat memaksamu. Kakak hanya melihat Erik adalah laki-laki baik yang bisa menjagamu. Kakak hanya ingin yang terbaik untukmu. Karena kakak tidak ingin melihatmu kembali tersakiti jika bersama Rama."
"Omong kosong apa yang kau ucapkan, kak? yang tahu tentang apa yang ku rasakan hanyalah diriku. kau kira aku senang? kau kira aku bahagia? kamu salah besar, kak."
"Tapi Zi, kamu sudah bertunangan dan kan menikah dengan Erik. Jangan memberi harapan palsu pada laki-laki sebaik Erik."
Lagi-lagi Kezia tersemum smirk, kakaknya memang benar-benar buta. Tidak ada lagi yang ingin Kezia dengar dari Adrian. Jika ujung-ujungnya hanya membahas pernikahanya dengan Erik.
"Keluarlah dari kamarku, kak! aku mau mandi," pinta Kezia.
Adrian keluar dari kamar Kezia, meskipun masih banyak hal yang ingin Adrian katakan pada adiknya. Melihat wajah Kezia yang di penuhi kekesalan. Membut Adrian mengalah dan melangkah keluar dari kamar Kezia.
__ADS_1
Tak lama setelah Adrian keluar dari kamarnya, handphone Kezia berdering. Ada panggilan masuk dari Rama, yang seketika membuat mud Kezia berubah senang.
Setelah mengangkat telpon dari pria yang ia cintai dan mendengar suaranya. Entah kenapa membuat Kezia tak puas jika hanya mendengar suaranya. Kezia ingin bertemu Rama setiap waktu, sepanjang hari dan selamanya.
Begitupun dengan Rama, merasa kurang puas jika hanya mendengar suara Kezia, tanpa melihat wajah cantiknya. Telpon pun telah di ubah menjadi panggilan vidio. Terlihat senyum malu di antara keduanya. Sama persis seperti ABG muda yang baru saja merasakan jatuh cinta.
"Morning my dear love," sapa Rama yang berada di ruang kerjanya. Lengkap dengan pakaianya yang sudah rapi.
"Morning too! kenapa kamu pergi tidak membangunkanku?" protes Kezia cemberut.
"Mana mungkin ku tega mengganggu tidur lelapmu, sayang. Maafkan aku, nanti malam aku akan menemuimu kembali. Pastikan jendela kamarmu tidak di kunci dari dalam."
Ucapan Rama membuat Kezia cekikikan, karena membayangkan Rama seperti pencuri yang mengendap-endap masuk lewat jendela kamarnya.
Karena memang cara itulah yang bisa Rama lakukan agar bisa bertemu dengan Kezia. Jikapun keluarga Kezia tidak melarangnya masuk, sudah pasti Rama menemui Kezia lewat pintu depan.
"Apakah kau baru bangun, sayang? kenapa aromanya sampai tercium di hidungku?"
"Jangan mengejek! aku memang belum mandi. Aku baru akan mandi, tetapi kau menelponku," ucap Kezia.
"Baiklah, kalau begitu mandilah! ingat semua pesan-pesanku tadi malam, sayang. Kamu harus kuat dan jangan kalah dengan keada'an. Jadilah Kezia seperti dulu, meskipun tersakiti oleh perbuatanku, namun kamu masih bisa berpura-pura tersenyum. Asalkan jangan menangis di dalam kolam dan di bawah guyuran air shower, ya," ucap Rama, mengingatkan Kezia pada kebiasaanya dulu.
Reflek Kezia merasa kaget, bagaimana Rama bisa tahu tentang kebiasaanya yang satu itu. Tanpa Kezia tahu setelah percerian mereka berdua, Rama selalu melihat rekaman ulang cctv di partemenya. Rama selalu melihat aktivitas Kezia setiap harinya. Karena sulit bagi Rama untuk menemukan Kezia setelah perceraian mereka berdua.
"Bagimana kamu bisa tahu tentang_
"Sayang! apa kamu masih di sana? kenapa diam saja?" tanya Rama di balik telponya.
"Eh, masih-masih! aku masih di sini, em_ aku terlalu malu karena kamu mengetahui kebiasaanku selama ini," jawabnya dengan suara yang sedikit tercekat karena malu.
Di sebrang sana, Rama yang mendengarkan ucapan Kezia, tertawa kecil karena Kezia begitu menggemaskan. Sayangnya hanya bisa melihatnya lewat telpon. Dengan jelas Rama bisa melihat wajah kesal Kezia karena di tertawakanya.
"Terus saja kamu nertawain aku, huh," ucap Kezia merasa kesal.
Ingin rasanya Rama menemui Kezia sekarang juga, karena wanitanya begitu menggemaskan di matanya. Mungkin dengan memberikanya kecupan singkat penuh cinta dan kasih sayang, akan membuat Kezia luluh kembali. Sehingga melupakan kekesalanya karena Rama menertawakanya.
Bicara soal kecupan singkat, mana pernah mereka berdua berciuman secara singkat. Mungkin dari ciuman singkat akan menjadi ciuman panas antara keduanya. Bagaimana mungkin dua pasang pria wanita cukup berciuman singkat. Apa lagi yang modelanya seperti Rama Asher dan Kezia Afsen. Bukan hanya ciuman, bahkan Rama sudah berhasil membuat Kezia mengandung kembali calon anak kedua mereka.
"Sudahlah sayang! aku mau mandi, lanjutkan kerjamu. Jangan lupa temui aku nanti malam, aku masih rindu," ucap Kezia manja.
Lagi-lagi membuat Rama tersenyum dengan anggukan tipis. Setelah sambungan vidio call mereka terputus. Mereka melanjutkan aktivitas masing-masing. Kezia yang melanjutkan langkahnya memasuki kamar mandi untuk mandi. Sedangkan Rama melanjutkan pekerja'anya yang sebentar lagi ada jadwal meeting dengan clienya.
Tak lama, sura ketukan pintu terdengar dari luar ruangan. Ranti sekertaris Rama, memberitahunya bahwa ada seorang pria bernama Erik ingin menemuinya. Rama menyeringai, merasa heran karena tumben-tumbenan Erik menemuinya di kantornya. Dari mana laki-laki itu mengetahui lokasi kantornya. Rama sampai lupa, bahwa dirinya pernah terkenal sebagai pengusaha muda yang sukses dan di kenal sebagai workaholic. Tentu saja sangat mudah menemukan lokasi kantornya. Karena telah tersebar di berbagai media sosial, koran, dan majalah.
Rama menyuruh sekretarisnya untuk mempersilahkan Erik masuk ke dalam ruangan kerja Rama. Rama menunggu Erik masuk, sementara dirinya dengan santainya duduk di kursi kebesaranya.
Seorang pria memasuki ruangan kerja Rama dengan wajah angkuh dan tidak bersahabat. Rama mengernyit, masih memperhatikan ekspresi Erik. Erik terus melangkah dan duduk di kursi tepat di depan Rama dan meja kerjanya sebagai pembatas antara dua pria tersebut. Padahal Rama belum mempersilahkan Erik untuk duduk.
__ADS_1
"Ada angin apa kau datang ke kantorku, tuan Erik?" tanya Rama, bertopang dagu.
"Apa kau sengaja mempersulit data pernikahanku dengan Kezia?" tanya Erik masih dengan ekspresi penuh permusuhan.
Rama tertawa hambar, dan saat ini adalah saatnya Rama mulai ber acting. Rama akan berpura-pura kaget, seolah dirinya tidak tahu menahu tentang yang Erik ucapkan barusan. Karena memang tidak ada bukti yang menunjukan Rama pelakunya. Dengan uang, Rama mampu membayar orang lain untuk melakukanya. Semua sudah Rama fikirkan matang-matang, sebelum menjalankan rencananya.
"Kenapa kau datang-datang langsung menuduhku? dan kau jauh-jauh ke kantorku hanya untuk ini? apakah anda punya bukti jika aku pelakunya, tuan Erik?" tanya Rama dengan ekspresi seolah ia benar-benar tidak tahu.
"Tanpa bukti, aku bisa menebak bahwa kaulah pelakunya, tuan Rama Asher," sahut Erik.
"Saya bisa menuntut anda karena anda menuduh saya, tuan Erik. Apakah ada hal yang lebih penting lagi yang ingin anda katakan pada saya? jika tidak, silahkan pergi, karena saya ada jadwal meeting dengan klien sebentar lagi."
Erik tersulut emosi, karna Rama mengalihkan pembahasnya. Parahnya lagi, Rama memintanya untuk pergi seolah Rama sedang mengusirnya.
"Maaf tuan Erik, bukanya aku mengusirmu tetapi memang saat ini aku benar-benar sibuk. Selain itu kau tidak membuat janji untuk menemuiku. Jadi tolong anda pergi karena saya juga akan pergi untuk meeting."
Erik mendesak karena kesal dengan sikap kurang sopan Rama. Padahal Erik sendiri juga di nilai Rama kurang sopan. Nyelonong masuk tanpa permisi tanpa salam dan tiba-tiba menuduh Rama. Meskipun yang di tuduhkan Erik memang benar adanya.
Dengan tatapan semakim kesal, Erik beranjak dari duduknya dan melangkah keluar begitu saja tanpa permisi. Rama mendengus kesal, kedatangan Erik hanya membuang-buang waktunya saja.
"Hallo! beri tambahan pada orang itu, agar bisa tutup mulut dan pastikan dia tidak membocorkan tindakan kita," ucap Rama pada Bagas, lewat sambungan telponya.
"Permisi pak Rama! Pak Edward dan lainya sudah menunggu anda di ruang meeting," ucap Ranti sang sekretaris.
Lagi-lagi karena Erik, Rama terlambat datang ke ruang meeting. Rama segera mempercepat langkahnya menuju ruang meeting. Di susul Ranti di belakang Rama, mencoba mensejajarkan langkahnya dengan atasanya.
Meski nafasnya berasa ngos-ngosan karena terlalu terburu-buru. Rama tetap menampilkan wajah tegasnya penuh kewibawa'an di depan semua rekan bisnisnya.
"Selamat siang semua! maafkan saya sedikit terlambat," ucap Rama sekedar basa basi.
Suasana di ruang meeting terlihat hening, hanya suara Rama yang sedang berbicara menjelaskan kepada semua rekan kerjanya, tentang proyek baru yang akan di garapnya.
Semua terlihat fokus mendengarkan ucapan dari Rama. Setiap mata yang memandang Rama terlihat jakjup dengan kecerdikan si pengusaha muda. Setiap proyek yang di garap Rama, selalu menuai hasil yang fantastis. Tidak pernah sekalipun ada yang gagal. Oleh karena itu para pengusaha lainya sangat senang bekerjasama dengan Rama.
Bahkan ada sebagian pengusaha yang ingin menyaingi Rama. Namun tidak ada yang sanggup mengalahkan laki-laki yang di juluki workaholic seperti Rama. Rama selalu beruntung dalam dunia pembisnis. Numun dia selalu kurang beruntung soal asmara. Seperti yang terjadi padanya di masalalu. Di tipu perasa'anya oleh Vania, di manfaatkan hanya untuk menyakiti Kezia. Setelah Rama berpaling hati kepada Kezia, takdir memisahkanya dengan jalan perceraian. Sedangkan ketika Rama dan Kezia di pertemukan kembali, dan keduanya sama-sama cinta. Ternyata takdir mempermainkanya kembali dengan hadirnya Erik sebagai penghalang bersatunya Kezia dan Rama.
Selesai meeting, Rama langsung masuk ke dalam ruanganya. Rama sangat lelah dan ingin beristirahat sejenak di ranjang yang berada di dalam ruang kerja Rama. Rama juga memerintahkan kepada secretarisnya Ranti, bahwa dirinya tidak menerima tamu. Dia ingin beristirahat sejenak, sebelum nanti malam kembali mengendap-endap masuk ke dalam kamar Kezia. Seperti pencuri yang harus memanjat pagar rumah orang dan menyelinap lewat jendela kamar Kezia.
Untung saja aksi nekatnya Rama tidak di ketahui orang lain ataupun tetangga Kezia. Jika tidak, pasti Rama sudah babak belur di hajar masa. Karena di kira maling yang hendak mencuri.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Jika malingnya ganteng seperti Rama, mau dong hatiku di malingin🤭
Mampir di novel temanku, ya😘
__ADS_1