
Setelah mengabari Vania, Adrian merosot ke lantai dan terduduk lemas dalam posisi tanganya menjambak-jambak rambutnya karena frustasi. Bagaimana Adrian tidak se frustasi ini, jika melihat wanita yang diam-diam dia cintai sedang dalam kondisi kritis.
Rintihan Dewi bahkan masih terngiang-ngiang jelas di telinganya. Saat Dewi memohon kepadanya agar menyelamatkan bayinya. Hatinya mencelos ketika Adrian mendapati Dewi tak sadarkan diri setelah mengucapkan permintaan tolong kepadanya.
Membayangkan dirinya sendiri menatap nanar darah segar yang terus mengalir di kakinya. Bahkan Adrian sampai tak kuasa menahan tangisnya, seperti yang dia lakukan saat ini. Hanya menangis dan berdoa agar Dewi dan bayi yang berada di kandunganya bisa di selamatkan.
Untung saja ketika Adrian tiba di rumah sakit tadi, dokter spesialis kandungan segera memberi pertolongan.
Cukup lama Adrian menunggu, hingga dokter sepecialis kandungan keluar dari UGD. Entah kenapa Adrian tersentak ketika dokter menepuk bahunya dan kepalanya menggeleng. Adrian benar-benar tidak mengerti maksud bahasa tubuh dari dokter itu. Tak lama dokter itupun mengatakan sebuah kenyata'an yang pastinya akan membuat Dewi hancur saat dia tersadar nantinya.
"Maaf, pak! saya sudah melakukan sebaik mungkin, namun janinya tidak bisa di selamatkan. Benturan yang sangat keras membuat janin gugur. Kami akan melakukan kuretase setelah ini, bapak yang sabar dan mohon kuatkan pasien saat sadar nanti," ucap Dokter sepecialis kandungan itu.
Adrian merasa syok, meskipun bayi itu bukanlah anaknya. Namun rasa syoknya terasa seperti ada sesuatu yang menghantam hatinya. Adrian membayangkan bagaiamana hancurnya Dewi ketika dia tersadar nanti. Mendapati perutnya yang tak lagi membuncit. Melihat kenyata'an bahwa bayinya telah gugur sebelum terlahir ke dunia.
Adrian terus menangis membayangkanya, dia juga merasakan perihnya di dada. Sungguh malangnya nasip wanita yang diam-diam ia cintai. Di perkosa, di rampas mahkotanya secara paksa, di telantarkan ketika mengandung dan kini harus kehilangan bayinya yang beberapa bulan berada di dalam rahimnya.
Semakin lemas tak berdaya, begitulah kondisi Adrian saat ini. Tak lama Rama, Bagas dan Digo tiba dan menghampiri Adrian. Sengaja Vania tidak ikut karena Vania harus menjaga Kezia.
Rama menepuk bahu Adrian, mantan kakak iparnya itu terlihat sangat rapuh. Bahkan ketiga pria tersebut menatap penuh tanya pada kondisi Adrian. Kenapa Adrian terlihat begitu rapuh, mereka bertida bertanya-tanya dalam hati.
"Bangunlah!" ucap Rama membantu Adrian berdiri.
Dengan langkah lunglai Adrian di bantu Rama menuju ke sebuah kursi yang tak jauh dari ruang UGD (unit gawat darurat). Bahkan Adrian belum bisa merespon pertanya'an baik dari Rama maupun Digo.
Tak lama dokter yang menangani Dewi tadi keluar, tandanya proses kuretase telah selesai dan Dewi bisa di pindahkan ke ruang rawat inap.
Semua beranjak dari duduknya dan menghampiri sang dokter. Dari penjelasan dokter, ketiga pria yang tadinya tidak mengerti pun kini mengerti masalah yang sedang terjadi.
Namun satu hal yang masih memenuhi pikiran Rama. Kenapa mantan kakak iparnya terlihat begitu rapuh dengan kondisi Dewi. Apa Adrian terlalu syok melihat Dewi keguguran, begitulah yang ada di dalam fikiran ke tiga pria tersebut. Tanpa mereka tahu bahwa Dewi adalah wanita yang di cintai Adrian dalam diam.
Setelah melihat brankar Dewi di pindahkan ke ruang rawat inap. Adrian segera mengikuti petugas yang membawa Dewi menuju ruang rawat inap. Di susul Rama, Digo dan juga Bagas di belakang Adrian.
Sampai di depan pintu, bahkan Adrian belum masuk, tiba-tiba langkahnya berhenti. Adrian terus membayangkan betapa sedihnya Dewi nanti, ketika mendapati fakta yang terjadi.
Rama menepuk bahu Adrian, menyadarkan Adrian dari lamunanya. Kakinya gemetaran, dengan lunglai Adrian melangkah ke arah Dewi yang sedang terbaring di atas ranjang pasien.
Terlihat wajah manis Dewi yang nampak pucat, membuat Adrian tidak sanggup melihatnya. Adrian memalingkan mukanya dan menangis begitu pilunya.
Lagi-lagi ketiga pria tersebut di buat bertanya-tanya dengan yang Adrian lakukan saat ini. Sikap Adrian seolah seperti seorang kekasih yang sangat terluka ketika melihat kekasihnya terbaring lemah di atas ranjang pasien.
Lagi-lagi Rama menepuk bahu mantan kakak iparnya, seolah ingin menanyakan perasaan yang Adrian rasakan saat ini. Adrian masih bungkam, dadanya terlalu sesak dan sehingga bibirnya tak mampu berucap sepatah kata pun.
Adrian berbalik memandang ke arah Dewi kembali, mencoba menguatkan dirinya sendiri. Setidaknya dia harus kuat menghadapi ketika Dewi sadar nanti. Di peluknya tubuh Dewi yang belum juga sadarkan diri. Meski kali ini tanpa tangisan, bukan berarti dada Adrian tidak terasa sesak. Bahkan dadanya semakin sesak ketika memeluk wanita yang diam-diam ia cintai terasa sangat lemah.
__ADS_1
"Dewi, apa yang harus aku lalukan agar kamu segera siuman? bahkan ketika kamu tersadar nanti, aku bingung apa yang harus aku lakukan. Bahkan ketika kamu nanti mendapati perutmu yang tidak lagi membuncit, apa yang harus aku lakukan? kenapa semua ini begitu menyesakan, Dewi? Bagaimana perasaanmu nanti setelah tahu semua ini? aku bingung harus menjawab apa, aku tidak sanggup melihatmu rapuh, aku sangat terluka karena aku mencintaimu, Dew."
Rama, Digo dan Bagas kompak fokus mendengar ucapan Adrian. Ketiga pria tersebut saling menoleh seolah bertanya tidak ada yang salah dengan pendengaranya.
Dua orang perawat masuk membawa kotak yang berisi janin yang telah gugur. Adrian langsung melepaskan pelukanya pada tubuh Dewi. Ke empat pria itu kompak menghampiri ke dua perawat tersebut.
Adrian dan Rama tak kuat melihat janin yang begitu kecil dan berwarna merah itu harus gugur sebelum terlahir ke bumi. Seketika Rama teringat Kezia yang sedang mengandung. Rama berjanji akan menambah penjaga'an ketat pada wanitanya.
"Pak, ini janinya! apa di kubur sekarang atau menunggu sang ibu siuman?" tanya salah satu perawat.
"Tunggu ibunya siuman, sus! dia berhak atas janinya dan dia berhak melihat janinya untuk terakhir kalinya," ucap Adrian tanpa melihat ke arah perawat yang membawa kotak berisi janin milik Dewi.
Perawatpun mengangguk dan menyimpan kotak berisi janin tersebut ke tempat khusus di rumah sakit itu. Adrian lalu menoleh, menatap nanar pada dua orang perawat yang baru saja menghilang di balik pintu. Kemudian tatapanya berpindah ke arah Dewi yang belum juga sadarkan diri.
Karena tak kuat, Rama pun berlari ke dalam kamar mandi dan memuntahkan sesuatu yang di tahanya dari tadi. Entah kenapa setelah melihat janin tak berdosa milik Dewi, membuat Rama mual. Bukan berarti jijik ataupun apa, hanya saja Rama belum pernah melihat bentuk janin yang telah gugur sebelum terlahir menjadi bayi.
Bagas menyusul bosnya, ia kawatir terjadi sesuatu pada Rama. Rama keluar dan Bagas pun segera menghampirinya dengan wajah kawatirnya. Rama menggeleng dan berkata dia tidak apa-apa. Bagas pun bernafas lega setelah mendengar ucapan bosnya.
Tak lama Dewi menggerakan jari telunjuk di tanganya yang sebelah kanan. Menandakan wanita itu akan segera sadar dari tidurnya. Adrian langsung bangkit memanggil dokter agar segera menangani Dewi. Dokter dan para perawat pun berlarian menuju ke ruang rawat Dewi.
Dokter yang menangani Dewi itu pun bernafas lega karena pasienya telah sadarkan diri. Tak lama Dewi membuka kedua matanya dengan pelan dan meraba perutnya yang terasa seperti ada yang aneh. Bahkan Dewi meringis merasakan rasa perih pada perutnya. Dokter meminta Dewi agar jangan bergerak dulu.
Dewi melihat sekeliling sudah di penuhi laki-laki yang di kenalnya. Pandanganya berfokus pada Adrian yang matanya terlihat sangat sembab sedang menatapnya.
"Dewi, kamu tenang dulu, ya! kamu harus kuat," ucap Adrian semakin membuat Dewi ketakutan dan menduga-duga.
"Apa maksut anda, pak! bayiku di mana? kenapa perutku rata, pak?" teriak Dewi yang sudah di penuhi air mata.
"Sabar, Dew! Tuhan terlalu sayang pada bayimu, sehingga dia harus kembali lagi ke sisinya," ucap Adrian tercekat.
Dewi menggeleng di tengah tangisnya, bahkan tanganya membungkam mulutnya sendiri. Sakit teramat sakit yang terasa begitu menyesakan di uluh hatinya. Adrian sampai tak sanggup melihat Dewi begitu rapuh. Adrian langsung memeluk Dewi, memberi kekuatan pada wanita yang diam-diam di cintainya.
Air mata Dewi tak henti-hentinya mengalir membasahi pipinya. Bagaimana dia harus bebesar hati menerima segala masalah di dalam hidupnya. Kehilangan bayi yang belum sempat di lahirkanya ke dunia begitu menyakitkan baginya. Meskipun bayi itu hadir dalam cara yang sangat salah. Namun Dewi sangat menyayanginya dan menanti kelahiranya di dunia ini. Dewi sama sekali tidak pernah membenci kehadiranya di dalam rahimnya.
Tangisan Dewi sangat memilukan sehingga begitu membuat hati orang yang mendengarnya berasa seperti teriris hatinya.
"Menangislah Dewi, jangan kau tahan tangismu, keluarkan semua hal yang terasa sesak di hatimu, tetapi ku mohon setelah ini kamu harus bangkit menjadi wanita kuat yang ku kenal selama ini," ucap Adrian masih memeluk Dewi.
"Sakit, pak! semua ini membuat dada saya terasa sesak," ucap Dewi terisak di dalam pelukan Adrian.
"Keluarkan semua beban di hatimu, ada aku di sini, kamu tidak sendiri, Dew," ucap Adrian menguatkan Dewi.
"Di mana bayiku, pak? aku ingin melihatnya," tanya Dewi, matanya melihat di sekeliling ruangan mencari keberada'an janinya yang telah gugur.
__ADS_1
"Nanti setelah kamu membaik, aku akan mengantarmu melihatnya untuk terakhir kali. Aku akan menemanimu mengantarkanya ke peristirahatan menuju ke tempat keabadianya di sisi Tuhan," ucap Adrian menahan sesak di dadanya karena masih mendengar isakan Dewi.
"Yang tabah, Dewi! semua atas kehendak yang kuasa. Tuhan lebih menyayangi bayimu dan dia akan menjadi penolongmu kelak," ucap Rama setelah dari tadi terlihat diam karena fokus melihat Adrian dan juga Dewi.
Dewi melepaskan pelukan Adrian, wanita itu mengusap air matanya. Lalu Dewi tersenyum seolah dia berusaha menguatkan dirinya sendiri.
"Terimakasih untuk semuanya! terimakasih pada pak Rama yang selama ini telah membantu dan meindungi saya. Terimakasih untuk pak Bagas yang selama ini juga membantu saya. Terimakasih juga pada pak Adrian, telah membawa saya ke rumah sakit ini. Mungkin tanpa pak Adrian tadi, saya dan bayi saya tidak akan terselamat_
Ucapan Dewi terputus ketika Adrian membungkam bibir Dewi dengan jari telunjuknya. Adrian menggeleng, meminta agar Dewi diam. Adrian juga meminta Dewi agar beristirahat, supaya kondisinya segera membaik dan bisa memakamkan bayinya.
Namun Dewi tidak bisa mejamkan matanya kembali. Wanita itu hanya terbaring kembali di atas ranjang rawatnya. Sedangkan entah matanya sedang memandang apa. Terlihat jelas tatapanya yang kosong, seolah dia sedang baik-baik saja namun sebenarnya ia begitu rapuh.
Adrian mengusap lembut kening Dewi, berharap wanita yang ia cintai diam-diam itu segera terlelap. Rama dan dua orang yang lain berpamitan. Rama juga meminta pada Adrian supaya tidak menceritakan kejadian yang Dewi alamai pada Kezia.
Tentu saja Rama tidak ingin melihat Kezia kawatir apa lagi kondisinya sedang hamil. Adrian mengangguk dan setelahnya tiga pria itu keluar meninggalkan Adrian yang masih setia menemani Dewi yang telah terlelap.
Digo juga mengabari Vania, bahwa Dewi telah keguguran. Di sebrang sana Vania terlihat syok dan semakin merasa bersalah. Namun Vania tetap mencoba mengendalikan dirinya agar Kezia tidak menaruh kecurigaan padanya.
Mati-matian Vania menahan sesak di dadanya dan seluruh tubuhnya terasa gemetaran karena menahanya.
"Kak Vania kenapa? apa kakak sakit?" tanya Kezia.
"Ah, iya! sepertinya aku kurang enak badan, Zia."
"Aku ambilin obat ya, kak?" tawar Kezia.
"Gak usah! uku hanya perlu istirahat saja, aku ke kamar sebelah mau istirahat sebentar, ya?" ucap Vania berbohong.
Kezia percaya begitu saja, karena dia memang melihat kakaknya nampak kurang enak badan. Kezia membiarkan saja Vania beristirahat di kamar lama milik Vania.
Vania sudah tidak bisa menahan rasa bersalahanya. Dia mempercepat langkahnya memasuki kamar lamanya. Wanita yang hampir susah meneteskan air mata itu pun kini tak kuasa menangis. Membayangkan betapa sakitnya dan hancurnya hati Dewi saat ini. Ini semua karna kecerobohanya, sampai detik ini Vania masih menyalahkan dirinya sendiri.
Fikiranya terfokus pada Erik, Vania akan memberi pelajaran pada sosok laki-laki pengecut itu jika bertemu. Jika Erik tidak membawa pergi Dewi secara paksa, hal ini tidak akan pernah terjadi. Sudah pasti Dewi dan bayi yang berada di dalam kandunganya akan aman di apartemen yang di siapkan Rama untuknya tinggal.
"Dasar pria brengsek! karena dirinya semua ini terjadi," gumam Vania, ingin membanting benda-benda yang berada di kamar lamanya, namun ia urungkan. Suara pecahan benda pasti akan memancing kekawatiran adiknya. Belum juga papanya pasti akan mengomelinya dan itu sangat menyebalkan bagi Vania.
Yang bisa Vania lakukan saat ini hanyalah mencoba mengontrol emosinya. Dia sangat hafal dengan sifat buruknya jika dia gagal mengontrol emosinya.
Andai saja saat ini Vania tidak berada di rumah papanya. Andai saja saat ini Vania berada di apartemen kekasihnya, atau bahkan dia berada di lapangan luas, sudah pasti Vania akan berteriak sekencang-kencangnya untuk membuang beban yang sedang mengganggunya.
Sayangnya Vania harus menahan mati-matian emosinya hingga kesabaranya bisa ia kuasai seratus persen, baru dia akan keluar dari kamarnya dan menemui Kezia kembali.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
Malangnya nasipmu, Dewi 😣