Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Datang Ke Rumah Rama


__ADS_3

Kezia Afshen


Tubuhku seketika lemas tak berdaya, sesampainya di dalam kamarku. Kamar yang dulu pernah ku tempati ketika mengandung putraku. Aku benar-benar tidak menyangka, akan bertemu denganya kembali. Sosok pria di masalaluku yang sangat aku cintai. Bahkan jika boleh jujur, rasa itu masih ada dan tidak pernah bisa hilang dari hatiku.


Rama asher, mantan suamiku, ayah dari anaku yang selama ini kututupi keberada'anya. Aku tidak menyangka, Rama bisa menemukan putranya. Aku fikir, dia tidak akan bisa menemukan Ethan. Ternyata aku salah, bahkan sepertinya putraku sangat nyaman bersam papanya.


Rama masih setampan dulu, bahkan dia yang sekarang lebih tampan dari Rama yang dulu. Hatiku terganggu lagi setelah kehadiranya di dalam kehidupanku dan kehidupan putraku. Apakah aku berdosa karena masih mencintainya. Sedangkan aku sudah menjadi tunangan Erik, sosok pria yang menemaniku selama empat tahun ini.


Hatiku goyah, kenapa takdir harus mempertemukan kami kembali. Aku harus berusaha melupakan Rama. Apa lagi, sebentar lagi dia akan menikah dengan kak Vania. Aku yakin, pria yang akan di nikahi kakaku adalah Rama asher. Kenapa hatiku seperih ini, membayangkan pria yang ku cintai, akan bersanding dengan kakaku.


Pria yang sebelumnya menjadi suamiku, sebentar lagi akan menjadi kakak iparku.


Hatiku juga sakit, ketika melihat putraku menolah kehadiran Erik. Putraku tidak menginginkan papa lain selain Rama. Namun aku bingung harus bagaimana lagi. Jika keada'anya sudah berbeda, aku tidak mungkin merebut Rama kembali demi putraku. Aku juga tidak sanggup melukai perasa'an pria baik seperti Erik.


Bahkan pria itulah yang membuatku masih bisa bernafas hingga detik ini. Dialah yang menyelamatkanku dari koma yang hampir merenggut nyawaku. Aku koma setelah melahirkan putraku, karena depresi yang lumayan parah.


Aku masih ingat dengan jelas ketika aku mengandung Ethan. Di hari-hariku, kulalui dengan menahan kerinduan pada mantan suamiku. Aku ingin di dekatnya, ingin rasanya memeluk tubuhnya kembali. Semua keinginanku ku tahan hingga membuat kepalaku menjadi pusing. Untung saja di tengah depresiku, putraku bisa terlahir dengan selamat.


"Tok, tok," suara pintu di ketuk dari luar.


Ternyata putrakulah yang mengetuk pintu kamarku. Memandang wajah putraku, mengingatkanku pada Rama. Wajah mereka bagai pinang di belah dua. Hanya bedanya versi dewasa dan versi anak-anak.

__ADS_1


"Mama! Bisakah kita kerumah istana papa, sekarang? Aku tidak bisa jauh dari papaku, ma," ucap putraku. Tunggu, putraku barusan mengatakan kita, itu sama halnya dia mengajaku untuk menemui Rama.


"Mama," panggilan putraku, sekali lagi menyadarkanku dari pikiranku. Aku segera berjongkok mensejajarkan tinggi tubuh kami.


"Bukankah papa sudah bilang, papa sibuk bekerja, sayang."


"Aku tahu, maka kita bisa menunggu papa di rumah papa, ma."


Bagaimana ini, tidak mungkin aku pergi ke rumah Rama. Di sisi lain aku tidak tahu rumahnya, aku juga tidak sanggup lagi bertemu denganya. Apa lagi di rumah ini masih ada Erik.


Ku lihat putraku masih merengek sambil menarik-narik tanganku. Bahkan putraku sudah menangis karena diriku tidak kunjung menuruti permintaanya. Kenapa putraku harus bertemu dengan papanya. Jika hanya membuatku terluka kembali, karena harus bertemu kembali dengan Rama.


Sedangkan di sisi lain, aku melihat Erik yang sedang mengobrol dengan kak Adrian menoleh padaku dan putraku. Bahkan aku yakin, Erik juga mendengar rengekan putraku. Aku jadi tidak enak denganya, apa lagi dia sekarang adalah tunanganku.


Aku bingung antara harus pergi atau tetap tinggal di sini. Bahkan ku lihat Erik mulai berdiri dan berjalan menghampiriku dan putraku. Dia tersenyum dan ikut berjongkok, mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan putraku. Andai saja putraku tidak bertemu dengan Rama. Mungkin saat ini putraku menganggap Erik adalah papanya.


"Ethan, kenapa kamu menangis, nak?" tanya Erik pada putraku. Namun putraku memalingkan wajahnya, tidak ingin merespon pertanya'an Erik. Aku sempat ingin marah, melihat putraku yang tidak sopan. Namun Erik menahanku, dia masih berusaha meluluhkan hati putraku. Namun nihil, putraku malah menarik tangan Dewi, dan mengajaknya keluar sambil menangis.


"Kakak, antar aku ke rumah papa! Hatiku merasa tidak baik-baik saja. Aku merasa terjadi sesuatu pada papaku. Jika mamaku tidak mau mengantarku, maka antarkan aku kak. Biarkan saja mamaku tetap tinggal di sini dengan om itu," ucap Ethan denga tatapan kecewa terarah padaku. Hatiku sungguh terluka, setelah mendengar ucapan putraku. Apakah aku sudah mengecewakan putraku. Bahkan di pertemuan pertama kami, aku sudah membuatnya kecewa.


Kak Adrian hanya bisa diam tanpa bisa membujuk putraku. Bahkan Dewi terlihat bingung harus bertindak bagaimana. Akhirnya aku meminta izin pada Erik, untuk mengantarkan putraku ke rumah Rama. Erik mengizinkanku, asal dia yang akan mengantarkan kami. Akupun mengangguk, ini semua demi putraku. Aku harus siap dan kuat, untuk bertemu Rama kembali.

__ADS_1


Kami pergi berempat, kak Adrian tidak ikut dengan kami. Dengan bantuan arah dari Dewi, kamipun bisa menemukan tempat tinggal Rama. Ternyata rumah Rama tidak jauh dari lokasi tempat tinggal kami. Atau memang dia sengaja ingin selalu dekat dengan putranya.


Kami menggunkan mobil milik kak Adrian, sekitaran sepuluh menitan, kami sudah tiba di depan bangunan megah yang ku yakini adalah rumah Rama. Bangunan ini di jaga ketat oleh dua orang penjaga berjas hitam. Putraku langsung turun dari mobil dan meminta penjaga untuk membukakan pintu.


Seolah sudah mengenali putraku, dua penjaga itu memberi hormat pada putraku. Mobil kamipun memasuki halaman yang begitu luas, setelah dua penjaga itu membukakan gerbang untuk kami.


Etan sudah berlari mencari keberada'an papanya. Sedangkan kami bertiga masih menunggu di depan pintu. Tak lama seorang wanita yang kuyakini adalah asisten ruamah tangga di rumah ini, mempersilahkan kami untuk masuk.


Ku lihat rumah ini sangatlah mewah, pantas saja putraku menyebutnya istana papa. Rumah ini benar-benar seperti istana. Mungkin Rama sengaja mendesain mirip istana, untuk putra kami. Putra kami? Baru saja aku menyebut Ethan putra kami. Tidak bisa di pungkiri, dia memang putra kami berdua. Putra yang terlahir setelah rumah tangga kami terpecah belah.


Ku dengar teriakan Ethan memanggil-manggil papanya, sambil menggedor pintu di lantai atas. Karena penasaran, akupun melangkah menaiki anak tangga, di susul Erik di belakangku. Aku penasaran, kenapa Rama tidak kunjung membukakan pintu kamarnya.


Bahkan dua penjaga yang berjaga di depan gerbang tadi, berlarian menuju kesini. Aku merasa panik, apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan dua penjaga itu, sampai mendobrak pintu kamar Rama. Apa yang terjadi dengan Rama, kenapa mendadak perasa'anku tidak enak.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Ada yang tahu Rama kenapa?


Jadi ikut penasaran deh, kenapa kira-kira, ya?🤔


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


__ADS_2