Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Kabar Baik


__ADS_3

Setelah Dewi membuka dan menutup pelan pintu rumahnya. Takut-takut jika Ethan terbangun dan menangis mencari-cari keberadaan papanya. Setelah Dewi membalikan badanya, wanita itu langsung di kagetkan dengan keberadaan Adrian yang sudah duduk di sofa ruang tamu. Jantungnya berdetak lebih kencang, seperti maling yang baru tertangkap karena mencuri. Dewi membiarkan sejenak tatapan penuh tanya dari Adrian. Ia melangkah menuju kamar Ethan, menidurkan putra majikanya dengan sangat pelan. Dewi juga mengecup kening Ethan, kemudian menyelimuti tubuhnya sampai sebatas leher.


Dewi keluar untuk menyapa Adrian, dia sudah siap mendengarkan omelan kakak dari majikanya. Adrian memintanya duduk, sebelum mengintrogasinya. Bibi mungilnya sambil komat- kamit membaca doa, berharap Adrian tidak mengetahui semuanya.


"P, pak Adrian, apakah pak Adrian sudah lama menunggu kami?" tanya Dewi membuka obrolan.


"Bisa di hitung, sekitar tiga jam! Dan kalian kemana saja seharian? Sehingga jam segini baru pulang?" pertanyaan Adrian memberinya sedikit perasaan lega, namun masih terselip rasa takut. Lambat laun Adrian pasti tahu, beberapa hari ini Rama diam-diam menemui Ethan.


"Anu pak, tadi kami jalan-jalan ke mall, kami main timezone, saking asiknya sampai lupa waktu," jawab Dewi, berbohong. Berharap Adrian percaya dengan alasanya. Benar saja, dengan mudahnya pria itu percaya dengan ucapan Dewi.


"Pak adrian sudah makan? Saya buatkan makan malam dan secangkir kopi hangat untuk, pak Adrian," ucapnya hendak pergi, namun di cegah oleh adrian.


"Tidak perlu! aku sudah makan dan ngopi di luar. Tolong siapkan kamar untuku, aku sangat lelah," pinta Adrian, segera di kerjakan Dewi. Wanita itu sebenarnya juga lelah. Lebih tepatnya lelah membuang waktu seharian, untuk menunggu anak majikanya kembali. Untung saja, Rama tidak mengantarkan Ethan hingga di depan rumahnya. Kalau itu sampai terjadi, sudah bisa di pastikan akan ada perdebatan bahkan perkelahian di rumahnya.


Dewi sudah selesai membereskan kamar yang akan di tempati Adrian. Bahkan pria itu nampak segar setelah mandi. Yang pastinya Adrian mandi di kamar Ethan. Karena kamarnya, sedang di rapikan oleh Dewi.


Dewi gugup, berada satu kamar dengan Adrian, apa lagi Adrian sangat tampan, membuat jantungnya berdetak kencang. Dewi berniat ingin keluar, namun lagi-lagi, Adrian menahanya.


"Minggu depan, Kezia akan kembali," ucap Adrian singkat, namun mampu membuat Dewi kaget sekaligus merasa senang. Secepatnya, ia akan memberi kabar ini kepada Rama. Bukan maksud dia untuk berhianat. Namun dari awal ia tahu, Ethan membutuhkan kedua orang tuanya.


Bahkan Ethan sempat bertanya kepadanya, kenapa kedua orang tuanya tidak ada di dekatnya. Kenapa hanya papanya yang menemuinya. Dimana mamanya selama ini. Kenapa dia tidak seperti teman-temanya, yang selalu di antar jemput ke sekolah oleh kedua orang tuanya. Bermacam- macam pertanya'an dari Ethan, sudah Dewi kantongi. Bahkan jawaban Dewi tetap sama seperti biasanya. Kedua orang tuanya bekerja jauh untuk mencari uang buat Ethan.


"Syukurlah! Saya merasa senang," ucap Dewi, lalu meminta izin untuk istirahat.

__ADS_1


Setelah sampai di dalam kamarnya, Dewi segera membuka aplikasi whatsappnya dan mengirim kbar untuk Rama. Tak lama, Rama langsung membalas pesanya.



Dewi :


Ada kabar baik, pak


Dewi :


Non Kezia akan segera kembali ke indonesia


Rama :


Jawaban yang sangat singkat, di dapatnya dari Rama. Dewi berharap, kepulanganya Kezia mampu merubah keada'an. Sedikit banyak, Dewi juga tahu cerita tentang masalalu Kezia dan Rama. Nona mudanya sangat mencintai papanya Ethan. Perceraian mereka berdua sangat di sayangkan. Perceraian tetaplah anak yang akan menjadi korbanya. Bahkan Dewi tidak yakin dengan ucapan Kezia. Bahwa mantan suaminya tidak mencintainya selama pernikahan mereka berlangsung. Tetapi yang Dewi tangkap dari Rama, lelaki itu di penuhi penyesalan. Bahkan Dewi yakin, Rama juga mencintai Kezia.Bisa di bilang, Dewi adalah orang pertama yang mengharapkan mereka berdua rujuk. Memberikan kehangatan keluarga untuk anak asuhnya.


Di tempat lain, seorang lelaki tampan sedang memandangi photo wanita cantik di ruang kerjanya. Pria itu adalah Rama Asher, tersenyum senang setelah mendapat kabar mengejutkan dari Dewi. Rama sudah tidak sabar menanti hari itu tiba. Hari di mana dia bisa melihat kembali ibu dari putranya. Wanita yang membawa pergi separuh hatinya. Wanita yang mampu memporak porandakan hidupnya. Wanita yang ia sia-siakan ketulusan hatinya. Seorang malaikat yang ia anggap nenek sihir selama ini.


Senyumnya berubah masam seketika, setelah Rama mengingat perbuatan buruknya pada Kezia. Mengingat tangisan Kezia di dalam kolam partemenya. Mengingat tangisan Kezia di bawah air shower yang mengguyur tubuhnya. Semua itu baru Rama ketahui lewat cctv apartemenya, setelah kepergian Kezia. Luka dan luka yang selama ini dia berikan pada mantan istrinya. Bahkan yang membut Rama kagum, Kezia selalu sukses menutupi kesedihanya dengan sikap pemberaninya.


"Apa kabar, Kezia? Apa kamu masih mengingatku? Apakah masih ada secuil cinta untuku?" gumam Rama lirih, sambil memandangi photo Kezia yang berbingkai indah di atas meja kerjanya.


"Bolehkah aku menebus kesalahanku selama ini? Apakah kita bisa rujuk kembali? Membangun keluarga kecil kita yang sempat berantakan."

__ADS_1


Rama tidak tahu perasaan apa yang saat ini ia rasakan. Senang, bahagia, sedih, penyesalan, semua campuraduk menjadi satu. Matanya sangat lelah, memberontak minta di pejamkan. Namun fikiranya tak ingin di ajak istirahat walau hanya sebentar. Sehingga obat tidurlah yang menjadi solusi terakhirnya. Kikinya melangkah menuju ranjang king size, yang hanya di tempati dirinya sendiri. Saat ia akan memejamkan matanya, terdengar pesan whatsapp masuk. Sayup-sayum karena obat sudah mulai bereaksi. Dengan pandangan sedikit kabur, Rama membuka pesan masuk dari Dewi.



Dewi :


Apa, Pak Rama sudah tidur?


Dewi :


Ma'af, jika saya mengganggu waktu istirahat anda


Dewi :


Untuk beberapa hari ini, saya mohon jangan menemui Ethan di sekolahnya


Dewi :


Karena, pak adrian pasti mengantar jemputnya


Rama membuka pesan dari Dewi, belum sempat ia membalasnya, Rama sudah memejamkan matanya. Obat tidur yang barusaja ia minum, bereaksi sangat cepat. Kini pria tampan beranak satu itu, telah tertidur lelap. Sedangkan layar whatsapp yang menampilkan chat dari Dewi, belum di matikan.


Sedangkan Dewi masih menunggu balasan dari Rama. Wanita itu takut jika kata-katanya ada yang menyinggung Rama. Bahkan dia kawatir, Ayah dari anak asuhnya akan tetap nekat menemui Ethan, meskipun ada Adrian. Bibirnya komat kamit, berdoa agar keadaan besok akan baik-baik saja. Dewi hanya berharap tidak ada pertengkaran antara Adrian dan Rama. Karena ia kasihan kepada Ethan yang tidak mengerti sama sekali, masalah papa dan pamanya. Lelah memikirkan hal yang belum pasti akan terjadi. Dewipun memejamkan mata dan mengistirahatkan fikiranya.

__ADS_1


__ADS_2