Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Senandung Duka


__ADS_3

Melihat wajah dokter Patologi Anatomi itu, Gerdy sudah tahu bagaimana hasil biopsi Idyla. Air muka dokter itu bercerita dengan sendirinya. Ya Tuhan! Akhirnya petaka itu datang juga!


"Putri Anda kena kanker jenis langka," ujar dokter sambil menaruh berkas hasil penelitian di atas meja. "Berbahaya kalau tidak dioperasi secepatnya."


"Kanker?!" cetus Nadine histeris. Matanya mengawasi Idyla yang berada di pangkuan suaminya dengan nanar. Tidak! Tidak! Oh, Tuhan! Mengapa Kau limpahkan azab ini pada anakku? Aku yang berbuat dosa! Aku yang membuatnya ada! Mengapa bukan nyawaku yang Kau ambil?


"Paru-parunya masih bersih," kata dokter. "Belum ada gambaran coin lesion. Masih besar harapan untuk dapat tertolong."


Seluruh tubuh Gerdy terasa dingin. Wajahnya pucat tak berdarah. Dia sudah bisa membaca ke mana arah pembicaraan dokter. Bukan sekedar operasi biasa, tapi operasi...ya Tuhan! Dia tak sanggup membayangkannya!


'Dokter," desis Gerdy bergetar. "Kalaupun anak saya harus mati, biarlah dia pergi dengan kedua telinganya. Barangkali hal ini lebih baik daripada dia menyesali nasib setelah besar nanti."


"Saya harap Anda bisa berpikir rasional," tukas dokter datar. "Bagaimana juga sebuah nyawa jauh lebih berharga daripada seonggok nisan."


"Tapi, Dok...."


"Rumah sakit ini sudah mampu menciptakan telinga buatan meski masih taraf uji coba. Kalau Anda ragu, bisa pergi ke luar negeri. Tapi biayanya sangat mahal."


Justru itu masalahnya, pikir Gerdy bingung. Dia tidak punya uang sebanyak itu. Untuk pelaksanaan operasi dan penggantian telinga Idyla seperti sediakala butuh biaya miliaran rupiah!


"Beri saya waktu, Dok," pinta Gerdy galau. "Saya belum bisa memutuskan sekarang."


Dokter menarik nafas pelan. "Anda punya waktu tiga bulan untuk berpikir. Setelah itu hanya bisa berharap pada kebesaran Tuhan. Kami tak sanggup lagi menolong putri Anda."


Tiga bulan? Nadine yang tercenung panik langsung tersentak. Jadi waktunya tinggal tiga bulan untuk memiliki anaknya? Jadi seorang ibu? Itu tidak boleh terjadi!


Karena mempertahankan kandungan Idylalah hidupnya terkatung-katung, tanpa masa depan yang jelas, tanpa satupun mimpi yang tersisa!


Tiga tahun dia membesarkan anaknya, mengorbankan hari-harinya, membiarkan malam-malamnya terganggu! Bagaimana dia rela menyerahkan anaknya pada Malaikat Maut dalam waktu tiga bulan?


Gerdy mengusap rambut Idyla dengan hati teriris pedih. Gadis kecil itu begitu suci, tak bernoda, tapi sungguh berat penderitaan yang dialaminya.


Umur Idyla hanya soal waktu. Sungguh menyakitkan. Dia tak dapat mencegah Malaikat Maut membuat keranda hari demi hari untuk putrinya.


Biar kerja banting tulang siang dan malam, menguras segala macam keringat, penghasilannya tidak cukup untuk menyelamatkan sebuah nyawa. Biaya anaknya tidak tercukupi seandainya seluruh harta kekayaannya dijual sekalipun.

__ADS_1


Tempat kerja Nadine tidak bersedia memberi pinjaman besar untuk penanganan anaknya. Lagi pula, kenapa dia harus mengandalkan istrinya?


Gerdy tidak mau menabur bunga buat putrinya! Apa dosanya? Mengapa tak berhak hidup lama?Mengapa terlahir cuma untuk menjemput penderitaan yang akan memulangkan kembali ke tempat asalnya?


"Melamun lagi," tegur Toto yang datang membawa dua gelas wedang jahe. Lumayan untuk menghangatkan tubuh di malam gerimis. Mereka duduk di depan bedeng proyek menunggu truk pasir datang. 'Ada apa?"


"Namanya sudah berkeluarga, Mas," keluh Gerdy. "Ada saja masalah."


"Istrimu yang cantik jelita itu minta cerai?"


Toto pernah berkunjung ke rumahnya. Dia tak habis pikir mengapa di abad milenium masih ada perempuan bodoh yang menyia-nyiakan pesonanya, padahal Nadine bisa mencari suami kaya raya semudah mengambil es di dalam kulkas. Gerdy sungguh lelaki yang sangat beruntung.


"Mbok ya sudah kuperingatkan dari dulu, hati-hati dengan istrimu, atau kau melamarnya saat dia lagi mabok?"


"Istriku nggak kayak istrimu, Mas," senyum Gerdy pahit. "Sudah tubuhnya kayak kaleng kerupuk, mulutnya kayak kaleng rombeng, cerewet."


Toto membela istrinya, "Tapi hasil produksinya bagus. Anaknya sehat, tidak penyakitan."


Gerdy merasa tersengat juga, padahal Toto tidak tahu keadaan putrinya. Ucapan itu seolah menyindir istrinya.


"Aku siap jadi yang kedua loh, Mas," kata Inah, yang di Jakarta biasa dipanggil Ine. "Biar kata cuma pembantu, aku bisa memberimu anak yang montok, cakep. Pokoknya nggak kalah deh sama anak ndoro putri."


Ine adalah pelanggan yang paling cantik dan paling sering memakai jasanya. Kalau tidak belanja, minta diantar keliling Jakarta. Dia sanggup membayar mahal. Entah berapa gajinya. Atau dia anak crazy rich yang menyamar jadi pembantu!


Biar kerjanya cuma mengurusi pakaian dan perabotan kotor, Ine bisa saja mempunyai anak kinclong seperti hasil cuciannya. Cerdas, kuat, sehat, berprestasi. Kecantikan dan pengetahuannya cukup mendukung.


Tapi Gerdy tak dapat menyalahkan istrinya. Kanker bukan penyakit keturunan. Bukan semata-mata faktor makanan pula. Bisa menyerang siapa saja tanpa pandang bulu, meski sudah diberi nutrisi yang sesuai dan setiap minggu berkonsultasi dengan dokter anak.


Dia justru menyalahkan dirinya sendiri. Tidak mampu memikul tanggung jawab sebaik-baiknya. Andai punya banyak uang, penyakit Idyla tak perlu jadi persoalan.


Tidak akan dilihatnya kabut hitam menggantung di rumah. Tidak akan didengarnya senandung duka mengalun pilu. Tidak akan dibiarkan istrinya merangkai karangan bunga untuk putrinya!


Rumahnya sekarang bukan lagi rumah yang menyemilirkan kesejukan. Yang menyuguhkan mimpi indah tiap malam. Yang membuatnya ingin segera pulang. Rumah yang penuh air mata.


Setiap kali Gerdy pulang kerja yang dijumpai bukan pemandangan yang dapat menghibur keletihannya. Tak ada sambutan hangat di depan pintu. Tak ada senyum ceria di bibir yang mungil. Yang ada cuma pemandangan suram yang makin memekatkan hatinya.

__ADS_1


Nadine sudah menjadi seorang istri yang pemurung. Hampir tak pernah terlihat cahaya kehidupan di matanya. Dia bahkan mulai lupa mengurus diri sendiri. Hari-harinya tersita untuk meratapi anaknya.


Gerdy kadang merasa berdosa. Selama empat tahun berumah tangga, Nadine belum pernah meminta apa-apa, hanya diam menerima. Tapi pada saat dia memiliki sebuah keinginan, Gerdy tak mampu berbuat apa-apa! Membiarkannya terpuruk di jalan menuju ke pemakaman putrinya!


Keadaan Idyla semakin hari semakin memprihatinkan. Hampir tiap malam sakit di telinganya kambuh. Hampir tiap malam pula Gerdy melihat istrinya menangis.


Malam itu Idyla kembali terbangun dari tidurnya. Dia menangis sekeras-kerasnya. Mereka yang masih terjaga sampai tersentak kaget.


Biasanya dia bandel, pikir Gerdy sedih. Kalau sampai kalap begitu, pasti sakitnya tak tertahankan lagi.


"Sakit, Ma! Sakit!" erang Idyla tak henti-hentinya.


Nadine mengelus kepala dan mencium telinganya dengan penuh kasih sayang, lalu berbisik lembut, "Simpan tangismu, Sayang. Mama janji besok akan mengobatimu. Besok sakitnya pasti sembuh."


Entah rasa sakitnya mulai berkurang atau pengaruh sentuhan seorang ibu, tangis Idyla mereda. Ketika gadis kecil itu sudah terlelap lagi, Nadine lah yang tak dapat menahan tangisnya.


Bila waktunya tiba, dia bukan lagi harus meredakan tangis putrinya, memberinya belaian atau bujukan, tapi harus menghibur dirinya sendiri!


Oh, rasanya tidak sanggup menyaksikan wajah yang demikian polos terhempas oleh penyakit yang demikian kejam!


Tapi Nadine tidak bisa mendesak suaminya untuk menyelamatkan putri mereka. Semua ini di luar kemampuannya. Tuntutannya hanya makin meruntuhkan harga dirinya sebagai suami. Dia justru merasa berdosa karena tak dapat melayani seperti biasa.


Nadine bukan tidak mau memperhatikan suaminya, menyuguhkan keceriaan seperti hari-hari sebelumnya, menghangatkan pembaringan yang dingin, tapi adakah yang lebih pantas dipikirkan selain penyakit anaknya?


Lebih-lebih Gerdy sendiri seolah tak mau dipedulikan, seakan mengerti perasaannya. Dia bahkan masih berusaha menghibur padahal hatinya sendiri perlu pelipur! Oh, alangkah sejuknya punya suami seperti dirinya!


Tak sadar Nadine menoleh ke arah lelaki yang berbaring di sisinya. Dia terhenyak heran. Gerdy sedang tak berkedip memandangnya. Sinar matanya demikian gelap. Kapan dia menunjukkan kesedihan di hadapan istrinya?


"Maafkan aku," desis Gerdy tercekat. "Aku bukan seorang suami yang baik. Bukan seorang ayah yang baik. Aku tidak bisa menyatukan kalian selamanya."


"Oh, baby!" Nadine mendekapnya dengan haru. Air matanya merebak kembali. "Bukan...bukan kamu yang salah. Kehidupan tidak adil, menyuguhkan petaka kepada orang yang tidak sanggup menerimanya."


Gerdy membalas pelukan istrinya dengan perih. Air mata yang jatuh mengenai dadanya seolah berubah menjadi pisau amat tajam yang menikam tembus ke jantungnya.


Rasanya dia rela melakukan apa saja. Apa saja! Asal istrinya bahagia! Asal anaknya sembuh!

__ADS_1


__ADS_2