Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Retak


__ADS_3

Mami heran sudah dua minggu Papi pulang tidak bau alkohol, dan seperti menghindari pertemuan dengannya, tidak mau cari keributan.


Mami jadi kangen. Dia menunggu suaminya di kamar. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi. Papi pasti sudah pulang. Dia lagi minum teh di beranda samping.


Pria yang ditunggu-tunggu tidak masuk kamar juga. Akhirnya Mami turun dari tempat tidur dan pergi ke luar kamar.


Di depan pintu, Mami bertemu dengan Prilly yang sudah rapi berpakaian. Hari ini mereka akan pergi ke kota untuk belanja kebutuhan dapur.


"Mami kok belum siap-siap?" tanya Prilly heran.


"Aku sudah bilang berangkatnya jam sembilan," jawab Mami.


"Pulangnya nanti keburu sore kalau pergi jam sembilan. Kita tidak sempat mampir ke pondokan Kak Nadine."


"Kita mampir sebentar saja."


"Kenapa sih kalau pergi sekarang? Mami ada kesibukan apa? Jangan-jangan si Mimin belum siap juga."


Mami kelihatan tidak sabar sekali.


"Ayahmu masih di beranda samping?" tanyanya.


"Sudah deh, jangan ngurusin Papi," sahut Prilly. "Rumah ini sudah bebas dari perang, tenteram dan damai. Sekarang Mami malahan cari gara-gara mau ketemu Papi."


"Aku tidak cari gara-gara," sanggah Mami. "Aku ada perlu."


Prilly jadi penasaran. "Ada perlu apa sih? Butuh uang buat beli baju? Sejak kapan Mami mau uang hasil judi? Kak Katrin sudah ngasih uang sama aku. Pokoknya Mami mau baju model apa tinggal pilih nanti."


"Aku tidak butuh baju."


Usia Prilly yang sudah tujuh belas paham melihat Mami seperti bingung untuk menjelaskan. Pasti bukan minta uang belanja. Mami mengenakan kimono....


Huh, tidak ada kapok-kapoknya diperlakukan kasar! Apa ini yang dinamakan cinta? Menerima segala kekurangan dan kelebihan suami. Dan kekurangan Papi cuma satu ... tidak punya kelebihan!


"Papi lagi minum teh di beranda samping," kata Prilly. "Kayaknya kurang enak badan. Aku lihat Papi minum obat."


Mami kelihatan senang. "Minum obat?"


Prilly jadi berpikir. Pasti bukan obat sakit kepala. Jadi Papi bukan pusing habis begadang semalaman!


"Aku ke kamar si Mimin dulu supaya siap-siap," kata Prilly. "Aku nunggu di depan nanti. Jam sembilan kan?"


"Ya."

__ADS_1


Hebat sekali pengaruh obat pusing itu, pikir Prilly kagum. Sekarang baru jam tujuh, berangkat jam sembilan, berarti dua jam. Mami tidak biasanya begitu senang mendengar Papi minum obat. Apa karena sudah dua minggu Papi pulang tanpa mabok? Atau sudah dua minggu tidak.... Ah, sudahlah! Bukan urusan anak sekolah!


Mami berjalan ke beranda samping. Dia melihat suaminya sedang duduk santai sambil menghisap cerutu. Wajahnya kelihatan tenang padahal semalam tidak tidur. Biasanya memerah karena pengaruh minuman. Syukurlah, sudah tobat!


"Belum berangkat ke kota?" tanya Papi melihat istrinya muncul di pintu.


"Aku menunggu kamu di kamar." Mami tidak perlu berlaku genit untuk membuat paham suaminya. Dia pakai kimono saja sudah bercerita dengan sendirinya.


Papi memandang istrinya tak berkedip, entah tidak mengerti atau pura-pura bodoh, ia bertanya, "Anakmu tidak memberi uang belanja?"


"Ngasih."


"Lalu?"


"Aku kangen karena Papi sudah tidak mabok lagi."


"Mabok adalah hidupku, cuma tidak di rumah. Bosan tiap hari ribut."


"Maka itu aku kangen sama Papi," kata Mami sedikit manja.


Papi jual mahal. "Aku pagi ini lagi mager banget. Kebiasaan kalau habis menang besar."


"Katanya Papi minum obat...."


Mami pura-pura ngambek, padahal dalam hati heran, tumben dagangannya tidak laku. "Jadi Papi tidak mau?"


"Mendingan kamu segera pergi shopping, sekalian cari brondong. Jangan lupa cerutu."


Mata Mami bersinar gembira. "Jadi aku boleh jajan?"


Mami sebenarnya hanya memancing untuk memanas-manasi, tapi jawaban Papi sungguh luar biasa, "Aku bukan suami egois. Aku sering jajan. Masa istriku kepingin jajan tidak boleh?"


Mami pergi. Dia senang melihat suaminya sudah berubah, ucapannya tidak kasar dan tanpa emosi. Entah malaikat mana yang membisiki!


Mami bahagia suaminya sudah kembali seperti dulu. Dia berharap kebiasaan mabok dan judi bisa ditinggalkan secara total.


Prilly yang duduk santai di beranda bersama Mimin heran melihat Mami keluar dari dalam rumah dengan berpakaian rapi. Cepat sekali. Jangan-jangan obatnya palsu!


"Berangkat sekarang?" tanya Prilly separuh tak percaya. "Katanya nanti jam sembilan?"


"Aku pikir kamu benar, waktunya terlalu mepet."


Mereka pergi ke mobil sedan yang parkir di halaman.

__ADS_1


Papi mengintip dari balik gorden. Sedan meninggalkan halaman. Kepergian mereka adalah kebahagiaan bagi dirinya.


Katrin muncul di belakangnya, dan berkata, "Papi harusnya memenuhi keinginan Mami. Aku sudah bilang, kalau Mami kepingin, Papi harus kasih. Kalau Mami tidak mau, jangan paksa, datanglah ke kamarku."


"Ibumu sering sakit, aku kasihan."


"Maka itu perlakukan dengan lembut supaya Mami tidak sering sakit."


"Aku tidak pernah lagi berbuat kasar, tidak pernah lagi pulang dalam keadaan mabuk, sesuai permintaanmu."


"Jangan drastis juga perubahannya. Orang rumah curiga nanti."


"Suamimu sudah pergi kan?"


Pertanyaan itu jadi pemicu datangnya gelombang dahsyat dan merobohkan bangunan norma. Katrin rela jadi kuda pacu asal rumah tenteram dan damai!


Situasi ini menimbulkan masalah besar dengan Nadine. Dia sudah dua minggu tidak pulang. Untung Mami bisa menerima alasannya; banyak job. Entah benar entah tidak.


Kebejatan Papi sudah membuat hubungan adik dan kakak jadi retak. Katrin bingung bagaimana memperbaiki komunikasi dengan Nadine. Dia tahu perbuatannya salah besar, tapi tidak ada solusi terbaik. Adiknya hanya melihat dari segi norma dan etika, tanpa mau tahu apa motifnya.


Motif bisa membuat seekor marmut jadi harimau. Seekor gajah jadi semut. Apakah terpikirkan dalam situasi seperti itu untuk mengagungkan norma dan etika?


Apapun bisa dilakukan untuk menyelamatkan kehidupan! Katrin bukan mencari pembenaran diri!


"Maafkan aku kalau tidak lagi menganggap dirimu kakak," kata Nadine sebelum pergi. "Mulai saat ini, aku hanya punya Mami dan Prilly. Terima kasih kalau kau mau menjaganya."


"Kita bisa bicarakan baik-baik, Nad," pinta Katrin. "Kamu tidak perlu mengambil keputusan senekat ini."


"Aku bisa pulang untuk dua alasan; menjemput Mami dan Prilly untuk tinggal bersamaku nanti, atau kamu berani memenjarakan ayahmu!"


Sebuah ultimatum yang benar-benar meruntuhkan hatinya! Tapi harus bagaimana lagi?


Suaminya juga kemarin membuat ulah mengintip Prilly mandi karena lupa mengunci kamar. Katrin mencoba bersabar meski marah besar. Dia sudah positif hamil. Berarti selambat-lambatnya sepuluh bulan lagi mereka bercerai karena begitu perjanjiannya.


Katrin tidak takut jadi janda demi kebaikan keluarga. Dia melihat Dodi masih hidup sendiri. Entah menunggunya atau sudah tidak berhasrat lagi untuk mencari calon istri. Peristiwa itu memang terlalu menyakitkan.


Katrin selalu kehilangan alasan untuk bertahan hidup kalau teringat masa lalu.


Dodi adalah cinta pertamanya, namun Katrin tidak mampu menyelamatkan cintanya karena kebangkrutan ekonomi keluarga.


Demi keluarga, Katrin rela jadi istri kontrak CEO. Dia tidak mau sejarah itu terulang pada kedua adiknya. Mereka harus menikah dengan lelaki pilihan hatinya.


Tapi kini adik yang paling disayanginya memilih pergi dari rumah. Bagaimana Katrin bisa memenuhi tuntutannya kalau Mami jadi korban kekerasan?

__ADS_1


__ADS_2