
"Apa-apaan kamu?" Kemarahan Abi langsung meletup begitu istrinya tiba di rumah. "Tua-tua tidak tahu malu!"
Dia baru pulang dari perkebunan, dan menemukan istrinya tidak ada di rumah. Dia tahu dari puteranya ke mana istrinya pergi.
"Giliran urusan begini aku dibilang tua!" gerutu Umi ketus. "Kalau urusan di kamar, dibilang masih muda! Plin-plan!"
Abi gelagapan tidak bisa menjawab. Untung hanya ada mereka berdua di ruang keluarga. Mukanya terselamatkan.
"Aku ingin memberi pelajaran pada keluarga begundal itu," kata Umi kesal. "Biar mereka membuka mata, tidak semua orang bisa dipecundangi!"
"Kita memang pecundang! Nama kita sudah jatuh di mata masyarakat!"
"Dan aku tidak mau jatuh kedua kali!" potong Umi sengit. "Aku tidak rela anakku diperlakukan seperti sampah!"
Abi menatap geram. "Kamu tahu kenapa Nadine menikah dengan pria itu? Kamu tahu apa alasannya?"
"Tentu saja! Dia tidak tahan hidup menderita!"
"Mereka ingin menyelamatkan anaknya!" sambar Abi melengking. "Gerdy sendiri yang menceraikan istrinya!"
"Perempuan sundel itu mengadu ke Abi?" dengus Umi sinis. Tatap matanya membentuk lautan cemooh. "Dan Abi percaya setelah merasakan sendiri apa yang diperbuat?"
Dengan kesal suaminya mengeluarkan secarik kertas dari kantong celana dan dibanting ke atas meja. "Baca surat itu! Itu pesan terakhir Gerdy sebelum meninggalkan istrinya! Minggu kemarin istrinya datang ke kantorku agar kita tidak salah paham!"
Tak kalah jengkelnya Umi meraih kertas itu. Dan mendadak parasnya berubah. Dia hapal tulisan siapa itu. Dibacanya kata demi kata dengan sinar mata yang sulit dipahami artinya.
"Di mana kita saat anak kita membutuhkan pegangan?" Suara Abi terdengar getir. Sorot matanya terpuruk luruh. "Di mana kita saat dia panik memikul beban yang terlalu berat untuknya? Di mana kita saat dia kebingungan mencari tempat berlindung dari teriknya kehidupan? Kita masih berdiri di sini, Umi! Dengan angkara murka kita!"
Ada kepedihan yang amat dalam menyengat dada Umi. Tak tahan dia menangis sambil mendekap surat anaknya.
"Bagaimana juga Gerdy anak kita," gumam Abi perih. "Tidak ada dosa yang tak termaafkan. Kita tidak boleh membiarkan anak kita tersungkur dan kehilangan segalanya. Kita harus membawa pulang anak kita."
"Besok pulang kuliah kamu cari kakakmu." Umi menoleh ke Wisnu yang turun dari lantai atas. Tadi dia sengaja menyingkir ke kamar. "Jangan berhenti mencari sebelum ketemu."
Wisnu sudah mencari kakaknya sebelum diperintahkan. Dia sudah mengubek-ubek kota Jakarta dan Bandung. Setiap sudut jalan dijelajahi. Tapi Gerdy seolah lenyap ditelan bumi. Dia seperti tak ingin ditemukan.
Wisnu berpikiran begitu ketika tidak menjumpai Gerdy di semua lokasi kerjanya. Padahal alamat yang diberikan Nadine demikian jelas. Satupun tak ada yang tahu ke mana perginya. Dia menghilang begitu saja bagai angin malam....
"Kita tidak boleh putus harapan," kata Wisnu sambil menikmati hidangan makan siang di sebuah kafe mewah, ditemani Karlina dan Andini. "Kita harus cari sampai ketemu."
Mereka sejak pagi pergi ke kota metropolitan untuk mencari Gerdy, dan baru berhenti setelah tiba jam makan siang.
"Harapanmu untuk hidup bersama kakakku tumbuh kembali," kata Wisnu kepada Karlina. "Jadi aku terbebas dari perjodohan itu. Dan aku tidak perlu menikahi kalian berdua."
"Kamu keberatan punya istri dua?" pancing Andini.
"Kalian nampaknya ganas-ganas, aku pasti keteteran."
__ADS_1
"Bahlul!"
Rencana semula Wisnu akan menikahi mereka berdua setelah wisuda, dengan menjadikan Karlina istri pura-pura. Bilamana kondisi sudah kondusif, mereka akan bercerai. Namun rencana berubah setelah muncul kejadian baru.
"Aku tidak yakin Gerdy bersedia pulang," kata Karlina separuh mengeluh. "Dan bersedia menikah denganku."
"Kakakku sudah kehilangan segalanya dan hanya kamu yang dapat mengembalikan semua itu," sahut Wisnu optimis. "Dia tidak bisa menghindar dari pilihan yang ada."
"Kita harus optimis," timpal Andini. "Lagi pula, kita tidak perlu Gerdy pulang atau tidak. Di manapun dia tinggal, kamu harus menyelamatkan hidupnya."
Perceraian Gerdy dengan Nadine secara tidak langsung membawa berkah bagi Andini. Dia tidak perlu jadi istri kedua untuk mendapat sebutan nyonya muda di rumah itu. Dia harus berjuang keras untuk mewujudkan impiannya dengan menemukan calon kakak iparnya.
Sejujurnya Karlina juga berharap dapat bertemu dengannya. Situasi sudah berubah kini. Nadine sudah menjadi istri Bradley, dan Gerdy menjadi duda. Di balik musibah tentu ada hikmahnya, dan dia merasakan betul hal itu.
Pikiran lain tiba-tiba muncul di benak Karlina.
"Bagaimana kalau sebelum kita temukan, Gerdy sudah menikah lagi?" cetusnya.
"Aku tahu siapa kakakku," sahut Wisnu santai, baru kali ini dia bisa sangat rileks sejak peristiwa kelam itu. "Dia tidak mudah untuk jatuh cinta."
"Berarti kepadaku juga," kata Karlina kelu. "Sungguh berat perjuanganku."
"Setidaknya pintu terbuka sekarang," tukas Andini. "Semua tergantung kamu, pantas tidak untuk masuk."
"Kalau soal pantas, aku kira sangat pantas," ujar Wisnu. "Karlina pengganti yang sesuai untuk istrinya terdahulu."
"Tapi Gerdy sudah kehilangan banyak," keluh Karlina.
"Aku harap demikian," sela Andini. "Demi kebaikan kita semua."
"Nadine memberi alamat di mana lagi?" tanya Karlina.
"Jakarta sudah semuanya, tinggal Bandung," jawab Wisnu. "Tapi untuk Bandung, Nadine tidak memberikan alamat, cuma menyebut beberapa nama sahabatnya. Gampang nanti kita tanya ke kampus."
"Kita sebaiknya mencari ke kota ini tidak hanya sekali," kata Andini. "Boleh jadi Gerdy sampai hari ini belum keluar dari tempat tinggalnya yang baru, karena masih syok dengan perceraian yang terjadi. Menurut perkiraanku dia pergi tidak jauh-jauh banget. Tinggal di Bandung kayaknya kemungkinan kecil."
"Kita tidak bicara kemungkinan," sanggah Karlina. "Gerdy susah ditebak pikirannya. Jadi bisa tinggal di mana saja."
"Maka itu nanti kita mencari dengan berpencar," potong Wisnu. "Siapa yang ada waktu luang langsung mencari dengan bantuan orang rumah. Aku juga akan mengupah beberapa orang untuk bantu mencari dan menghubungi kepolisian di setiap sektor."
"Ide brilian," sambar Andini semangat. "Dengan demikian, Gerdy akan lebih cepat ditemukan. Sekalian kita pasang iklan."
"Kalau pasang iklan, aku jamin Gerdy tidak ditemukan karena tahu lagi dicari. Lagi pula membongkar borok keluarga ke publik. Satu bangsa jadi tahu di keluargaku ada masalah."
"Bagaimana baiknya saja. Aku support kamu."
Di antara mereka bertiga, Andinilah yang paling bahagia. Dia pasti mendapat dukungan penuh dari orang tuanya untuk menjadi istri Wisnu. Selama ini mereka hanya merestui setengah hati. Karena memandang Abi, mereka menerima lamaran itu.
__ADS_1
Wisnu mengajukan persyaratan sedikit sinting kepada Umi karena tak mau mengecewakan Andini. Dia bersedia jadi suami Karlina dengan syarat menjadikan Andini istri muda.
Mula-mula Andini keberatan. Meski hanya istri pura-pura, Karlina tetap istri sah. Dia tidak yakin Wisnu sanggup bertahan untuk membiarkan perempuan yang demikian menarik tidur sendirian, apalagi ada hak untuk memberikan nafkah batin. Malam pengantin tanpa terjadi cerita indah adalah omong kosong.
"Kamu mau melamar aku?" Andini tidak percaya saat Wisnu menyampaikan keinginannya itu. "Karlina bagaimana?"
"Dia hanya istri hitam di atas putih. Aku hanya ingin menyelamatkan nama baik keluarga. Umi setuju dengan persyaratan yang diajukan dengan menjadikanmu istri kedua."
"Orang tua Karlina?"
"Mereka tidak ada pilihan."
"Mereka merelakan anaknya jadi istri cuma status saja?"
"Yang tahu itu hanya kita bertiga, orang tua kita tahunya kalian istri sungguhan."
"Aku tidak percaya kamu bisa memperlakukan Karlina sebagai istri pura-pura."
"Aku tidak mungkin meniduri perempuan bekas kakakku."
"Karlina terlalu cantik untuk membuatmu ingat hal itu."
"Kamu juga terlalu cantik untuk diduakan."
"Peres."
"Aku tidak akan melamarmu kalau cuma untuk menyakiti."
"Sanggup kamu melewati malam pengantin dengannya tanpa kejadian apa-apa? Tidak halal saja kamu sering kejadian, apalagi halal!"
"Aku pernah melakukan tapi tidak sering."
"Ngakunya!"
"Aku kira wajar anak SMA ingin tahu."
"Buktinya aku tidak ingin tahu."
"Ngakunya!" Wisnu menyerang balik.
"Buktikan saja malam pengantin!"
"Malam pengantin?" Wisnu memandang tak percaya. "Jadi kamu menerima lamaranku?"
"Datang saja ke rumahku. Kalau tidak disambut herder, berarti lamaranmu diterima."
"Di rumahmu kan tidak ada binatang peliharaan? Jadi...?"
__ADS_1
Kalau bukan Andini, sudah dipeluk saking bahagianya. Dia lagi malas dengar khutbah!
Andini tidak ada pilihan. Cintanya yang demikian besar membuatnya sulit menolak lamaran itu, meski tidak yakin Wisnu mampu memperlakukan Karlina sebagai istri pura-pura.