
Wajah Nadine kelihatan buram meski berada di tengah keramaian pusat perbelanjaan. Kalau kebutuhan anaknya tidak habis, dia sebetulnya malas keluar rumah, kecuali pergi kerja saja. Mimin tidak bisa belanja. Dia sibuk membantu di toko. Bu Marto lagi kurang enak badan.
Hiruk pikuk orang-orang di sekeliling seakan tak mampu menghalau kabut yang sejak beberapa waktu lalu hinggap di matanya. Dia hanya tersenyum pedih setiap kali mendengar ocehan Idyla yang berjalan dalam bimbingannya.
Tidak lama lagi dia bukan cuma kehilangan celotehan Idyla, seluruh kehidupan putrinya akan berlalu dari sisinya!
Nadine sampai tak sadar saat berjalan menuju ke kasir ada seseorang yang berdiri terpukau melihatnya. Dia baru tersentak ketika sebuah seruan melecut telinganya:
"Nadine!"
Seruan itu bukan hanya mengejutkan Nadine, juga menghembuskan getaran yang entah sejak kapan sirna di hatinya. Lama dia tidak mendengar suara itu, tapi masih ingat baik-baik siapa pemiliknya.
Serentak Nadine berpaling dan berseru, "Kak Katrin...!"
Nadine tercekat. Dia hampir tak percaya kalau perempuan yang sedang mendorong kereta belanja ke arahnya adalah Katrin!
Dia kelihatan lusuh sekali. Wajah pucat seperti kurang tidur. Dan pesona buruk itu jadi satu dalam sorot mata yang hampir tak bersinar.
"Nadine," desis Katrin kaku, membuyarkan lamunannya. "Kita bertemu juga akhirnya."
Ada rasa iba menjalar di hati Nadine. Entah musibah apa yang menimpa kakaknya sehingga penampilannya kacau begitu, padahal perawatan kecantikan adalah hal pertama yang terpikirkan olehnya saat bangun tidur.
Katrin sudah tiga hari tidak mandi. Tidur di dalam mobil untuk menghemat biaya. Hotel berbintang di Jakarta sungguh mahal, menginap di hotel melati malah disangka PSK, sementara dia tidak tahu berapa lama berada di Jakarta untuk mencari keluarganya. Dia butuh pertolongan mereka untuk mengembalikan rumahnya. Dia sudah jadi korban konspirasi.
Katrin sudah mengubek-ubek wilayah barat ini karena
Katrin pernah berkunjung ke wilayah ini saat membesuk adiknya melahirkan. Dia berusaha mencari tempat tinggalnya karena pasti tidak jauh dari rumah sakit itu, dan ternyata benar.
Tapi Katrin tidak banyak bercerita tentang pencariannya sampai sudah berada di perjalanan menuju ke rumah adiknya. Mereka berada dalam satu mobil. Nadine tidak pernah membawa mobil kalau pergi berdua dengan Idyla. Kenakalan anaknya mengganggu konsentrasi mengemudi.
Mata Katrin sesekali melirik Idyla. Dia tak menyangka keponakannya sudah sebesar itu. Dia cukup menyayangkan anak semanis itu lahir tanpa pengakuan orang tua Gerdy, sehingga istrinya jadi repot belanja kebutuhan anak, padahal seandainya ada pengakuan, semua diurus oleh manajer rumah tangga.
Katrin tidak berkomentar apa-apa ketika mengetahui bagaimana keadaan rumah adiknya, padahal Nadine tahu apa yang ada di dalam pikirannya.
Ruang tengah berantakan. Kotor bukan main. Barang mainan berserakan di mana-mana. Benda pajangan jungkir balik. Layar teve datar belepotan es krim. Idyla suka melemparinya kalau ada nenek sihir di film kartun, jengkel.
Mimin kelihatannya belum sempat merapikan, sementara Gerdy pergi pagi-pagi sekali. Kalau agak senggang, biasanya dia membantu beres-beres rumah.
Rumah ini sebenarnya tidak buruk, bahkan tergolong mewah untuk orang kebanyakan. Interior bagus. Di dinding tergantung beberapa lukisan naturalisme modern. Udara sejuk, menggunakan alat pendingin. Perabotan lengkap, harganya lumayan pula. Tapi tentu saja belum masuk hitungan Katrin.
"Beginilah keadaanku," kata Nadine sambil membetulkan vas bunga yang terguling di meja. "Barangkali tidak seperti yang kamu bayangkan."
"Aku sudah bayangkan," senyum Katrin kecut. "Aku kira tempat tinggal kalian tidak terlalu buruk."
Memang tidak buruk, batin Nadine keki. Sudah tergolong mewah dibanding tetangga. Kamu saja standarnya ketinggian.
__ADS_1
"Suamimu kerja?" tanya Katrin.
"Ya," jawab Nadine singkat.
"Di mana?"
"Di mana-mana."
Katrin memandang tak mengerti. "Maksudnya?"
"Ojek offline."
Katrin tersentak di kursinya, seolah tidak menyangka. Tapi tak sepotong komentar pun meluncur dari mulutnya.
Nadine tersenyum pahit. "Ada apa datang ke Jakarta? Kamu belum putus asa untuk menyuruh Mami dan Prilly pulang?"
"Aku butuh bantuan kalian."
Melihat air muka kakaknya menggelap, rasa penasaran muncul di hati Nadine, dia bertanya, "Bantuan apa? Aku tahu kamu tidak butuh bantuan materi. Datuk Meninggi pasti sudah mencukupi semua kebutuhan."
"Jangan sebut lagi nama bajingan itu."
Nadine kaget. "Loh, kenapa? Dia suamimu, kan?"
"Sudah cerai."
"Ambu menginginkan kamu menikah sama Dodi, tunanganmu dulu," kata Nadine hambar. "Buat apa hidup bermewah-mewahan kalau hatimu tidak bahagia, kalau kamu mencari kesenangan pada sugar baby? Suami hobi selingkuh pun pasti tidak mau istrinya berkhianat."
"Barangkali kesalahan terbesarku adalah mengabaikan cinta demi kemewahan, akhirnya terjebak di dalamnya. Tapi aku tidak mau meratapi cintaku."
"Masalah harusnya selesai kalau begitu."
"Masalah jadi panjang karena kelicikan Datuk Meninggi dan Sastro. Kedua rumah itu berpindah tangan pada mereka."
Nadine terkejut. "Kok bisa begitu?"
"Aku yakin mereka sudah melakukan transaksi jual beli fiktif, tapi aku sulit membuktikan."
"Bagaimana kamu tahu transaksi itu adalah fiktif?"
"Transaksi terjadi setelah Papi menghilang."
Nadine berpikir sejurus, kemudian berkata, "Bisa saja Papi menjual kedua rumah itu untuk bersenang-senang di kota pelarian. Berarti Papi masih hidup dan ingin membuat sengsara keluarga. Kita perlu minta bantuan polisi untuk melacak keberadaan Papi kalau transaksi betul-betul terjadi."
"Menurut mereka transaksi terjadi di hotel bintang lima, kemudian Papi pergi."
__ADS_1
"Papi pasti menerima pembayaran dalam bentuk cek, tidak mungkin secara tunai. Nah, kita bisa lacak aliran transfernya."
"Papi minta dibayar tunai."
Nadine terhenyak heran, lalu dia bergumam, "Aneh. Aku merasa ada kejanggalan dalam transaksi ini. Apa mungkin Papi membawa uang tunai miliaran rupiah ke mana dia pergi?"
"Kita sulit untuk mencurigai Datuk Meninggi dan Sastro. Mereka orang kuat."
Semula Nadine ingin memanggil Mami di toko. Tapi melihat persoalan yang dibawa kakaknya, dia jadi ragu. Fakta baru ini menunjukkan kalau Papi bukan hanyut di sungai atau tewas dibunuh. Mami sebaiknya tidak tahu kalau Papi masih hidup.
Atau Katrin sudah berbohong? Kecurigaan Gerdylah yang benar. Dia sudah membunuh ayahnya, sehingga saat terjadi perampasan hak bingung untuk membuktikannya!
"Aku bisa memiliki salah satu dari rumah itu kalau memenuhi permintaan mereka," ujar Katrin mengambang.
"Apa itu?"
"Menjadikan Prilly sebagai istrinya."
"Tidak mungkin!"
"Mereka sebenarnya menginginkan kamu, biar sudah bersuami tidak kehilangan daya tarik."
"Gila!"
"Maka itu aku minta bantuan kalian bagaimana baiknya."
Jadi ini yang membuat hidup kakaknya kacau, pikir Nadine murung. Masalah itu sudah menguras pikirannya sehingga lupa mengurus diri.
"Sekarang kamu tinggal di mana?" tanya Nadine.
"Di dalam mobil."
Nadine kaget. "Nggak cari kontrakan?"
"Mobilku lebih nyaman dari kontrakan."
Nadine jadi bingung. Terus terang sampai detik ini dia belum bisa memaafkan kakaknya. Dosanya pada keluarga tak terhapus oleh waktu. Tapi kalau harus membiarkan kakaknya jadi tunawisma, rasanya tidak tega.
Dan Prilly terlalu belia untuk terlibat dalam permainan kehidupan. Dia tidak sampai hati melihatnya jadi korban persembahan di altar nafsu.
"Kamu bukan minta bantuan," kata Prilly saat kakak sulungnya menyampaikan hal itu. Dia baru pulang kuliah. "Kamu ingin menghancurkan hidupku demi kegilaanmu."
"Tega kamu bicara begitu pada kakakmu," desis Katrin sesak. "Aku tidak minta kamu berkorban. Aku minta pendapatmu karena kamu sudah mahasiswi."
"Semua itu terjadi karena kecerobohanmu."
__ADS_1
"Aku mengakui hal itu, tapi penyesalan tidak ada artinya. Aku butuh solusi."
"Solusinya lupakan rumah itu. Lupakan kehidupan mewahmu. Dodi menunggu hingga sekarang."