Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Keagungan Cinta


__ADS_3

Gerdy sangat gelisah.


Makin tua kandungan Nadine makin tidak betah tinggal di Bandung, dan makin sering istrinya menasehati.


"Kuliahmu terbengkalai nanti," kata Nadine setiap kali melihat kedatangan suaminya. "Jangan sampai kamu gagal meraih gelar."


Nadine begitu ingin dirinya menyelesaikan studi, karena jadi sarjana adalah cita-citanya sejak kecil. Cita-cita itu kini memudar seiring membesarnya kandungan istrinya.


"Aku tidak tahu apa cita-cita itu masih ingin dicapai," keluh Gerdy hambar. "Keadaan membuat aku kehilangan jalan terbaik."


"Kamu tidak boleh kehilangan motivasi," tegur Nadine lembut. "Jangan sampai aku menyesal telah mengandung anakmu. Aku tidak mau kamu gagal karena mimpi suamiku adalah mimpiku."


Nadine mendukung penuh suaminya jadi sarjana, karena di situlah letak masa depan mereka, sekaligus penawar kemurkaan orang tuanya, barangkali.


Nadine sampai mengorbankan kehidupannya sendiri demi tercapainya harapan itu. Dia tidak menuntut suaminya untuk tinggal di rumah mewah, tidak pula menggugurkan kandungan. Dia rela meniti jembatan yang berduri.


Gerdy jadi merasa terlecut hati nuraninya. Dia tidak bisa menerima pengorbanan istrinya begitu saja. Tanggung jawabnya bukan sekedar mewujudkan impian mereka. Dia mempunyai beban pikiran yang sangat menentukan kelangsungan studinya.


Sekarang Nadine masih sanggup bertahan. Dia belum menemukan rintangan berarti. Bagaimana setelah bayi itu lahir?


Tentu dia tak bisa bekerja. Dia harus merawat bayi. Penghasilan suaminya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dari mana dia menutupi kekurangan itu? Sudah sampai ke situkah pikirannya?


"Aku bisa urus diriku," kata Nadine. "Kamu urus saja kuliahmu."


"Bagaimana kamu menghidupi bayimu?"


"Dengan gaji suamiku."


"Gajiku tidak cukup."


"Aku sudah berulang kali bilang jangan ukur dengan kehidupanmu," tegur Nadine sabar. "Kamu harus terbiasa dengan kehidupan orang-orang di sekelilingmu. Kita sudah hidup berkecukupan. Kamu tidak dengar omongan tetangga? Mereka menganggap kita crazy rich."


"Standar mereka."


"Kamu mau pakai standar keluargamu? Kamu sudah jadi sarjana saja aku tidak yakin dapat mencapainya. Aku mohon mulai biasakan hidup dengan tidak melihat kehidupan keluargamu. Aku takut kamu depresi kalau orang tuamu mengetahui pernikahan kita secara tiba-tiba dan semua fasilitas dicabut. Kamu harus membiasakan diri mengukur hidup dengan gaji yang diperoleh."


Jujur Gerdy tidak siap menderita. Dia terbiasa hidup dalam kemewahan dan menjalaninya dengan mudah. Tinggal di rumah ini saja sudah merupakan musibah. Gudang barang bekas di rumahnya lebih bagus.


Gerdy harus memperoleh penghasilan besar agar kehidupannya tidak mengalami penurunan. Dia harus menduduki posisi top management untuk mempertahankan level hidupnya. Tentu saja hal itu sangat sulit dan butuh waktu lama. 


Tante Marliana memiliki wacana untuk melimpahkan kepercayaan padanya kalau Bimo dianggap belum siap jadi pucuk pimpinan tertinggi di kantor. Tapi dia tidak bermimpi untuk menduduki posisi CEO dengan jalan mengorbankan sahabatnya.


Nadine benar, satu-satunya jalan Gerdy harus menurunkan level kehidupan.


Tentu saja tidak sekarang. Abi dan Umi pasti curiga dan tidak bakal membiarkan anaknya hidup berhemat karena uang makin bertumpuk di bank. Buat siapa?


Mereka juga tidak mengijinkan anaknya mencari pekerjaan di luar. Mengelola perkebunan dengan baik sudah jadi jaminan masa depan yang gemilang. 


Situasi jadi berbalik dengan kehadiran Nadine dalam kehidupannya. Dia kehilangan kesempatan untuk meneruskan usaha keluarga dan mesti siap hidup seperti orang kebanyakan.

__ADS_1


"Maafkan aku kalau kehadiranku membuat kamu kehilangan kehidupan mewahmu," kata Nadine sendu. "Kalau kamu tidak siap, maka pilihan ada di tanganmu."


"Pilihanku jelas," tegas Gerdy. "Aku rela kehilangan hidup mewahku. Jadi jangan suruh aku pergi."


"Aku tidak menyuruh pergi. Aku cuma tidak mau suamiku kehilangan segalanya demi aku."


"Aku tidak kehilangan segalanya. Aku memiliki kamu dan anakku. Jadi mulai besok jangan kamu hidangkan makananku. Aku ingin menikmati hidanganmu. Tapi aku tetap dengan kehidupanku kalau berada di rumah karena orang tuaku paling benci mendengar kata hemat. Mereka sudah menghabiskan uang untuk berbagai kegiatan, tapi tetap saja makin bertumpuk di bank."


"Aku tidak minta kamu untuk mencoba makananku. Aku ada uang untuk menyajikan masakan kesukaan suamiku."


Gerdy menatap istrinya dengan sinar mata protes. "Kamu bilang aku harus belajar hidup seperti orang kebanyakan, bagaimana sih?"


Nadine mengecup wajah suaminya dengan mesra. "Aku minta mulai biasakan hidup dengan tidak melihat kehidupan keluargamu. Suamiku orang cerdas, masa tidak bisa membedakan maksudnya?"


"Aku tidak bisa membedakan karena aku tidak melihat apa-apa di rumah ini, selain keagungan cintamu."


Nadine tersenyum manis. "Aku ingin kamu melihat itu untuk selamanya. Jadi saat aku sudah tua tidak melihat rambut putih, lihatlah cintaku."


"Kamu semir rambutmu kalau tidak mau kelihatan putih," canda Gerdy sambil bangkit dari tempat tidur. "Aku sudah hilang lelahnya. Perutku lapar."


Nadine yang menemani suaminya beristirahat ikut bangkit. Mereka berjalan ke luar kamar.


"Aku sudah siapkan yellowfin tuna," kata Nadine.


"Berikan saja ke si Mimin," sahut Gerdy. "Aku ingin makan gurami kesukaanmu."


"Kalau begitu kasih ke bayiku. Sesekali diasup hidangan berkelas. Jangan dikasih makanan murahan terus, kamu tidak kuatir hidupnya jadi murahan?'


"Gurami sudah mewah."


"Menurutmu."


"Menurut tetangga."


"Tetangga melihat mobilku. Jika mobil itu diambil oleh orang tuaku, maka aku cuma memiliki motor."


"Di tempat kerjaku ada kreditan mobil."


"Aku tidak biasa kredit. Aku akan mengumpulkan uang untuk membeli mobil yang sekelas dengan mereka."


"Aku sudah mengajukan kredit dan sudah disetujui oleh atasan."


"Atasanmu cowok? Minta bunga nanti."


"Bunga apa?"


"Bunga cintamu, masa Bunga Cinta Lestari?"


"Minta tubuhku maksudnya?"

__ADS_1


"Lagi trending kan balas jasa seperti itu?"


"Atasanku wanita solehah."


"Bukan jaminan."


Nadine terbelalak. "Maksudmu...?"


"Sebentar." Gerdy baru ingat sesuatu. "Kalau ambil kreditan, kamu berarti tidak berhenti kerja setelah bayimu lahir?"


"Kamu ingin aku berhenti kerja?"


"Aku ingin kamu merasa nyaman. Aku tidak keberatan jika bekerja membuatmu nyaman. Tapi bayimu bagaimana?"


"Ada penitipan bayi di dekat kantorku."


Gerdy kelihatan tidak senang. "Kau korbankan segalanya untuk mempertahankan kandungan. Setelah bayi itu keluar, kau serahkan ke orang lain buat mengurusnya. Sekarang saja kau serahkan ke orang lain, minta bayi itu diambil dari perutmu."


"Kalau ditinggalkan di rumah kejauhan, bagaimana kalau butuh ASI?"


"Kan bisa disimpan di kulkas."


"Aku harus bolak-balik ke rumah kalau ingin ketemu anakmu. Repot."


Gerdy termenung. Dia mendadak ingat sesuatu yang jadi ganjalan hatinya.


"Suamiku bengong kenapa?" tanya Nadine lembut.


"Aku jadi berpikir. Jika aku wisuda, kamu berarti membawa bayimu ke kampus."


"Aku tidak datang."


"Aku ingin kamu datang."


"Kamu tidak malu istrimu dimaki-maki orang tuamu di depan wisudawan? Aku siap menanggung malu demi suamiku. Tapi aku tidak rela suamiku dibuat malu karena aku. Menurutku hari wisuda bukan saat yang tepat untuk membawa anakmu."


"Aku tidak yakin ada saat yang tepat untuk membawa istri dan anakku ke hadapan orang tuaku."


"Setidaknya aku yakin mengarungi hidup bersama kalau kamu sudah jadi sarjana, sekalipun tidak ada kesempatan bersujud sebagai menantu."


"Lebih baik aku berterus terang sama orang tuaku sebelum bayi lahir."


"Aku minta jangan," cegah Nadine dengan wajah muram. "Aku belum siap kehilangan kamu."


"Sampai langit runtuh pun kamu tidak akan kehilangan aku. Aku cuma butuh kepastian."


Gerdy tidak mau dilanda kebimbangan berkepanjangan. Pikirannya jadi kacau. Dia mesti berterus terang sedahsyat apapun kemarahan orang tuanya.


Gerdy justru lebih menghancurkan mereka kalau melapor setelah bayi lahir, kapan pun waktunya itu.

__ADS_1


__ADS_2