Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Hidupku Adalah Hidupmu


__ADS_3

Dennis marah-marah lewat ponsel, "Kamu laporan sama Bude dan Bulik? Tidak tahu diuntung! Kamu tidak bisa menikah dengan keponakanku kalau aku tidak bersedia jadi wali!"


"Memangnya ada apa?" tanya Gerdy tenang. "Pagi-pagi sudah ngegas. Apa salah sarapan?"


"Gara-gara kamu aku kena maki Bude dan Bulik!"


"Gara-gara aku apa gara-gara Tarlita?" sindir Gerdy sinis. "Sehingga om tersayang jadi lupa diri, tega mengorbankan anak yang lagi butuh kasih sayang."


"Kurang ajar!"


"Aku paling tidak suka dimaki sama suami bajingan. Dengar baik-baik, jangan hubungi nomorku kalau menempatkan nafsu di atas segalanya, atau aku lapor atasanmu agar dipecat."


"Kamu laki-laki terlicik yang aku kenal."


"Aku pria terdahsyat yang kamu kenal. Boleh tanya sama keponakanmu kalau tidak percaya."


"Bukan urusanku!"


"Jadi buat apa ngebel kalau bukan urusanmu? Aku jauh lebih bajingan darimu, dan berhenti jadi bajingan demi anakku. Kamu malah ingin meninggalkan anakmu untuk jadi bajingan."


Dennis tidak tahu sopan santun, pikir Gerdy jengkel sambil memutuskan sambungan. Dia sudah mengganggu kenikmatan makan paginya. Seharusnya dia dapat mengendalikan emosi untuk menunjukkan sebagai orang terhormat. Kedudukannya di kantor cukup tinggi.


Dennis dan Tarlita mendatangkan masalah baru baginya, karena Bude dan Bulik memintanya untuk mengawasi mereka. Pasti permintaan Caroline. Dia mestinya bicara langsung kepadanya, jadi urusan tidak merembet ke mana-mana.


"Kamu sudah?" tanya Nadine melihat suaminya menaruh sendok dan garpu di piring.


"Aku hilang selera."


Nadine menatap sedih. "Gara-gara aku ya? Kamu jadi kena marah sama Om, dapat tugas dari Bude dan Bulik juga."


"Aku menyuruhmu menghubungi mereka. Jadi risiko kalau dibuat pusing."


"Keluargaku kerjanya cuma bikin masalah. Kamu pasti menyesal jadi bagian dari keluargaku."


"Aku kaget karena belum pernah dimaki orang."


Gerdy terpaksa melanjutkan makan karena tidak mau istrinya berprasangka negatif. Dia tidak pernah menyesal menikah dengan Nadine, meski menyesal jadi bagian dari keluarga ini.


Atau masalah itu terjadi karena masa lalunya? Dia terlalu banyak mengenal perempuan sehingga ketika di antara mereka ada yang membuat masalah terkena getahnya di kemudian hari?


Setiap hari masalah datang dan sulit untuk pergi. Masalah yang ada belum selesai sudah muncul masalah baru. Rumah ini tidak mendatangkan kebahagiaan baginya, seandainya tidak ada cinta yang tak pernah surut mengalir.


Nadine kadang merasa iba. Suaminya tidak perlu kehilangan kemewahan kalau tidak bertahan dengan cintanya. Dia bisa pergi bersama anaknya untuk hidup bersenang-senang di istana megah dengan perempuan pilihan ibunya.


"Kamu jadi menderita karena aku," keluh Nadine getir. "Kamu bisa mendapatkan kehidupanmu kembali kalau pulang bersama anakmu tanpa membawa ibunya."


"Kamu bisa hidup tanpa anakmu?"


Nadine memandang suaminya dengan tercekat. "Kamu mau membawa anak kita pulang?"


"Ditanya balik nanya."


"Nanya begitu buat apa?"


"Sekedar perbandingan, Dennis ingin berpisah dengan anaknya. Jadi kamu bisa tahu kayak apa om kamu itu."

__ADS_1


"Aku tidak bisa hidup tanpa anakku," sahut Nadine pahit. "Cintaku jadi membawa sengsara."


"Kamu ini plin-plan," komentar Gerdy tanpa bermaksud menyinggung istrinya. "Kemarin kamu bilang kita sudah kaya menurut orang kebanyakan, hari ini ngomong hidup kita sengsara."


"Aku tidak membahas hidup kita, aku membicarakan hidupmu."


"Hidupku adalah hidupmu."


"Maka itu aku bilang cintaku membawa sengsara, karena kamu harus keluar dari istana kaca dan tinggal di kandang kuda."


Gerdy memandang istrinya dengan sinar mata menggoda. "Tiga kurang ya? Otakmu kelihatannya masih error?"


Nadine terpaksa tersenyum. "Sepuluh baru otakku normal."


"Benar ya?"


"Ogah." Nadine cemberut manja. "Waktuku habis buat suamiku. Buat anakku kapan?"


Handphone Gerdy bunyi. Dia kira Dennis call, ternyata Surya. Temannya pasti mau melapor hasil investigasi terhadap istri tukang kebun.


"Bagaimana, Sur?" tanya Gerdy.


Surya tertawa kecil. "Uang betul-betul hebat. Aku kasih Mirna kebebasan untuk belanja di pasar tradisional, semua informasi mengalir deras seperti kiriman banjir ke kotamu."


"Kau saja yang tidak doyan uang, Sur."


"Istriku doyan, jadi aku sering kena complaint kalau menolak transferan. Katanya rejeki tidak boleh ditolak."


"Apa kata Mirna?"


Gerdy terkejut. "Kok bisa?"


"Sah-sah saja kan? Namanya mimpi."


"Terus?"


"Dia mendesah keras karena punyamu sangat ..."


"Maksudku ada keanehan tidak dalam mimpinya?" potong Gerdy gemas.


Surya tertawa. "Aku kira ingin laporan secara detil. Saat bercinta tidak ada keanehan di kamarnya, aku sih berpikir Mirna tidak sadar saking nikmatnya. Selesai bercinta, baru terlihat ada Papi berdiri di ambang pintu dengan pisau dapur tertancap di dada."


Kemudian Surya memberi tahu karakteristik pisau dan cocok dengan apa yang dilihat Gerdy dalam mimpinya.


"Aku senang kalau Mirna gampang kena sogok," kata Gerdy. "Aku kasih uang lebih besar untuk penyelidikan selanjutnya."


"Kamu butuh informasi apa lagi?"


"Aku mau barang bukti."


"Barang bukti apa?"


"Aku ingin Mirna mencari pisau itu di dapur. Kamu pinta kalau ada. Aku ambil nanti."


"Cuma itu?"

__ADS_1


"Satu-satu saja supaya dia tidak curiga."


"Kamu tidak usah transfer. Uang sebelumnya ada sisa."


"Gunakan untuk keperluan anakmu. Aku bukan ngasih kamu, tapi ngasih anak dan istrimu. Jadi kamu tidak ada hak menolak."


Gerdy mengakhiri percakapan. Dia semakin yakin kalau Papi bukan hilang, tapi dibunuh. Arwahnya penasaran dan masuk ke dalam mimpi untuk memberi petunjuk. Tapi bagaimana Mirna bisa mimpi bercinta dengannya?


Dia kira bukan masalah penting. Setiap orang bisa mimpi bercinta dengan siapa saja.


"Kamu melakukan penyelidikan buat apa?" tanya Nadine seolah kurang setuju. "Anggap curigamu benar. Apa kamu akan menyeret Katrin ke meja hijau?"


Nadine sebenarnya ingin misteri ayahnya segera terbongkar. Dia butuh bukti nyata untuk menutup harapan ibunya. Tapi dia keberatan kalau bukti itu menjurus kepada kasus pembunuhan yang melibatkan kakaknya. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan mengingat nama baik keluarga sudah hancur.


"Kita serahkan keputusan kepada Mami," ujar Gerdy santai. "Aku cuma mau membuktikan rasa penasaranku."


"Benar kata Surya, kamu orang yang tidak pandai bersyukur. Harusnya senang bisa mimpi basah setiap malam dengan perempuan yang jadi rebutan cukong-cukong. Aku tidak cemburu karena cuma mimpi. Maka itu aku ambil jatah dua, satu lagi buat mimpimu."


"Aku tersiksa dengan mimpi itu karena sudah memiliki perempuan paling sempurna di mataku. Aku tidak mau bercinta dengan perempuan manapun meski hanya dalam mimpi."


"Kamu membuat aku tersanjung. Aku mendapatkan laki-laki yang dicintai melebihi apa yang kuharapkan."


"Jadi?"


"Kamu tidak ada kesibukan hari ini dan aku masih cuti. Jadi kita cari kesibukan bersama."


"Apa itu?"


Nadine tersenyum mesra. "Kira-kira kesibukan apa yang cocok untuk pasangan suami istri yang belum setahun menikah?"


Gerdy bangkit dari kursi makan.


"Mau ke mana?"


"Aku mau tanya Pak Marto kesibukan apa yang dilakukan mereka pada tahun pertama pernikahan," canda Gerdy. "Aku kan belum pernah mengalami."


"Dasar."


"Setiap minggu aku minta dikirim sembako yang stoknya kritis, jadi aku harus melihat sediaan barang di warung."


Nadine merapikan meja makan dan pergi. "Aku tunggu di kamar."


"Aku paling tidak bisa menolak permintaan istri."


"Kamu bahagia denganku?"


"Aku tersiksa kalau kamu lagi dapet."


"Jadi bahagiamu hanya saat bercinta denganku?"


"Bahagiaku adalah saat-saat berada di sisimu. Tapi kamu rusak bahagiaku dengan menaruh pembalut di mukaku."


"Itu tandanya terowongan siap dilalui kereta. Situasi sudah aman terkendali."


Gerdy tersenyum. Jika di rumah ini hanya ada kemesraan, betapa indah hidup mereka. Kebahagiaan jadi rusak karena banyaknya masalah.

__ADS_1


__ADS_2