
Gerdy bangun pagi-pagi sekali. Selesai berdandan, dia langsung menghubungi Tarlita. Dia tidak mau ada pertengkaran antara dua perempuan memperebutkan seorang lelaki.
Tarlita kedengaran tenang saat Gerdy menceritakan bahwa Dennis sudah mempunyai istri dan hari ini akan datang ke rumahnya. Semula dia berharap gadis itu tidak memberi tahu alamatnya, ternyata malah share lokasi.
"Aku harus bagaimana kalau begini?" tanya Gerdy bingung. "Aku kira kamu tidak memberi tahu alamat. Aku tunjukkan saja rumah kosong nanti."
"Kamu tahu apa yang membuatku kecewa?"
"Apa itu?"
"Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau Dennis adalah om kamu dan sudah punya istri?"
"Aku ada di posisi sulit."
"Sesulit apa posisimu sampai mengkhianati aku?"
"Aku tidak bisa menikah dengan istriku karena dia adalah wali istriku."
"Kalian brengsek."
"Aku tahu sudah mengkhianati sahabatku. Persoalannya sekarang tidak ada waktu untuk memperdebatkan kesalahan itu. Istri Dennis minta diantar ke rumahmu pagi ini."
"Antar saja. Aku ingin tahu sehebat apa kemarahan Caroline melihat suaminya ada di kamarku."
"Jadi Dennis ada di rumahmu?"
"Aku sudah bilang kamu terlambat ngasih tahu. Aku sudah terlanjur memilih Dennis. Tentu saja aku mempertahankan cintaku."
Pasti ramai kalau begini caranya, pikir Gerdy kalang kabut. Awalnya dia mau meminta Tarlita menyingkir untuk menghindari pertengkaran. Biar saja asisten rumah yang menerima. Gadis itu ternyata malah ingin menyambut sendiri.
"Kacau," keluh Gerdy sambil menghempaskan tubuh ke atas kasur. "Hari ini bakal terjadi perang dunia ketiga."
"Ada apa, beb?" tanya Nadine lembut. "Tugasmu cuma mengantar, setelah itu pergi menemui dosen pembimbing."
"Tidak sesederhana itu masalahnya," kata Gerdy pusing. "Dennis sekarang ada di rumah Tarlita, dan temanku siap menghadapi istrinya."
Nadine terpana sesaat. "Ada perempuan kayak begitu."
"Dia menyalahkan aku karena tidak memberi tahu siapa Dennis. Saat ini dia tidak mungkin mundur."
"Tarlita hamil?"
"Dia sudah terlanjur jatuh cinta pada Dennis, itu yang membuatnya bertahan."
"Lalu masalahmu di mana?"
__ADS_1
"Kok di mana? Bagaimana kalau terjadi perkelahian lalu Caroline terluka, aku diam saja? Atau Caroline kecewa terus mabuk-mabukan, aku membiarkan saja dia membawa mobil sendiri?"
"Biarkan saja," sahut Nadine enteng. "Kok jadi kamu yang repot?"
Gerdy memandang tak percaya. "Apa aku tidak salah dengar? Kamu tidak ada rasa peduli sama tantemu?"
"Semua ini salah Tante Caroline sendiri. Dia kurang perhatian sama suami. Sibuk mengurus diri sendiri dan pergi bersenang-senang bersama temannya, padahal sudah punya anak. Saat Om Dennis selingkuh, baru kelimpungan. Telat."
"Tantemu usianya hanya beda beberapa tahun denganmu. Jadi masih muda banget. Menurutku wajar kalau dia masih sering kumpul sama temannya. Lagi pula, dia menikah bukan karena cinta, dijodohkan sama orang tua."
"Sudah keluar anak satu ngomongin cinta. Lalu anak itu lahir dari rahim siapa?"
"Bisa saja Caroline lagi tidur diterkam suaminya."
"Itu kamu."
"Kok aku?"
"Kamu sering kan begitu sama aku?"
"Kita lagi membicarakan Dennis, bukan suamimu."
"Bukan urusanmu."
"Dia bawa mobil sendiri. Kamu tunjukkan saja rumah Tarlita dari pinggir jalan lalu pergi."
"Kamu ini terlalu menggampangkan masalah. Bagaimana kalau Caroline beralasan mobilnya mogok atau lagi service, atau apa sajalah, tantemu ditinggal?"
Benar juga, pikir Nadine tiba-tiba. Terpaksa Gerdy harus membawa tantenya. Urusan dengan dosen pembimbing bisa berantakan dan sidang terancam molor.
"Begini saja, aku bilang sama Tante Caroline kamu sakit perut," kata Nadine. "Jadi tidak bisa jemput dan batal pergi."
"Aku mau menghadapi situasi penting, jadi tidak mau bohong. Aku pernah kualat soalnya."
"Makin kualat kalau membohongi istri."
"Kapan aku membohongi istri?"
"Syukurlah kalau setia."
"Jadi aku jemput tantemu jangan?"
"Bagaimana lagi? Dia pasti marah kalau tidak dijemput."
"Aku bisa ribut sama Dennis di rumah Tarlita."
__ADS_1
"Pesanku, apapun yang terjadi jangan pikirkan mereka. Pikirkan skripsi."
"Tiba di rumah Tarlita langsung kabur, begitu?"
"Kamu sudah biasa meninggalkan perempuan. Kenapa hari ini jadi bingung begitu?"
"Aku biasa meninggalkan perempuan kalau sudah mendapatkan segalanya. Jadi kamu ingin aku mendapatkan segalanya dari Caroline, lalu pergi?"
"Dasar."
"Makanya jangan asal."
Gerdy suka enek kalau istrinya mengungkit-ungkit masa lalu. Barangkali dia mau mengingatkan agar suaminya tidak terseret pada kehidupan masa lalu, karena sudah memiliki kehidupan baru yang butuh tanggung jawab.
Masalahnya kalau masa lalu dibaca-baca terus, kapan dapat melupakan jalan yang ditempuh sementara dia tidak mau kembali ke jalan itu. Dia sudah merasa cukup melanglang di dunia cinta.
Tidak sedikit godaan yang bisa menyeret pada kehidupan masa lalu. Wanita haus belaian berserakan di kantor. Mereka semua menggairahkan dan tidak kekurangan cinta. Beruntung dirinya sudah mempunyai perempuan paling sempurna, sehingga mereka kehilangan daya tarik.
Caroline sudah menunggu dengan penampilan yang membuat mata lelaki sulit berkedip. Dia sudah memiliki anak tapi tidak mengurangi keindahan tubuhnya. Keindahan yang terlihat luar biasa di matanya karena lagi paceklik.
"Aku bawa mobil sendiri atau bagaimana?" tanya Caroline dengan senyum mautnya.
"Aku pulang malam karena harus menemui tiga dosen pembimbing," jawab Gerdy tanpa turun dari mobilnya. "Hal yang membosankan untuk ditunggu."
"Hidupkan aplikasi kalau begitu. Aku ikuti."
Caroline masuk ke dalam sedan yang parkir di depan garasi. Kemudian mobilnya melaju pelan-pelan menuju pinggir jalan raya dan melesat membuntuti mobil Gerdy yang berlari kencang di keramaian lalu lintas.
Tarlita menurutnya tidak lebih cantik dari Caroline. Kelebihannya cuma belum keluar anak sehingga belum pernah dijahit. Tapi suami paling konyol pun pasti tidak berpikir ke arah itu.
Barangkali permasalahan berawal karena mereka berumah tangga bukan berdasarkan cinta, karena pilihan orang tua. Mereka berhubungan intim atas dasar kebutuhan batin belaka. Lalu Dennis mencari perempuan yang bisa menyuguhkan apa yang tidak dihidangkan di rumah.
Tidak masuk akal kalau Dennis selingkuh karena Caroline tidak suci lagi di malam pertama. Tarlita juga bekas lelaki lain. Gerdy tidak perlu bercerita siapa yang telah merenggut kegadisannya karena hal itu merupakan bagian dari kisah kehidupan yang sudah tamat.
Gerdy juga tidak pernah berharap Nadine masih perawan saat memilihnya jadi calon istri mengingat pergaulannya yang liar. Hatinya tertawan karena memperoleh lebih dari apa yang diharapkan. Dia adalah laki-laki beruntung.
Gerdy melambatkan lari mobil ketika hampir sampai ke alamat yang dituju dan berhenti di depan rumah berpagar tinggi. Tarlita dan Dennis tampak asyik mengobrol sambil duduk santai di beranda. Mobil Caroline tiba di belakang.
Gerdy menghubungi lewat handphone, "Mereka kelihatannya sudah menunggu Tante. Aku pergi."
Mobil Gerdy melesat lagi. Dia tidak mau mereka melihat kedatangannya. Tarlita pasti memanggil dan susah menolak untuk mampir. Dia harus segera sampai di kampus dan menunggu kehadiran dosen pembimbing. Jangan sampai beliau datang lebih dulu, tidak elok.
Tarlita sepertinya sengaja mengajak Dennis bersantai di beranda. Dia sudah siap bertempur dengan Caroline. Pria itu pasti terkejut dan kebingungan menentukan sikap. Gerdy yakin Dennis tidak tahu kedatangan istrinya.
Gerdy sadar akan terlibat lebih jauh dalam persengketaan cinta mereka, dan dia memilih untuk menghindar.
__ADS_1