Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Stres Berat


__ADS_3

Katrin mengeringkan rambut dengan hair dryer di depan cermin rias. Suaminya tertidur pulas di pembaringan. Dia sangat kelelahan habis bertempur. 


Sastro makin jarang pulang. Kebiasaan bejatnya makin merajalela. Dia berkeliling kota memetik bunga baru mekar dan mengimingi dengan tumpukan uang.


Katrin bisa saja melapor pada Rini, istri pertamanya. Tapi dia juga yang rugi. Sastro pasti dipecat jadi suami, kontrak rahim diputus, padahal lagi hamil muda. Dia tak mau jadi gembel.


Sastro tak punya apa-apa tanpa istrinya. Sungguh laki-laki tak tahu diuntung. Tugasnya cuma menghamili Katrin, lalu pergi mencari gadis seusia adiknya.


Katrin pergi ke dapur meminta si Mimin menyiapkan makan siang untuk suaminya setelah bangun nanti. 


"Rumah sepi banget, Min," komentar Katrin. "Mereka pada ke mana?"


"Mami sama Non Prilly pergi ke pasar tradisional," sahut Mimin.


Katrin memandang heran. "Buat apa?"


Mereka tidak pernah belanja kebutuhan dapur di pasar tradisional. Setiap akhir pekan belanja ke kota besar untuk persediaan selama seminggu.


"Kata mereka sekalian cari udara segar," kata Mimin. "Tiap hari menghirup udara AC tidak baik buat kesehatan."


"Mereka jalan kaki? Pasar tradisional kan jauh?"


"Iya, Nyonya."


"Ada-ada saja. Mami jatuh sakit lagi bagaimana? Kamu susul cepat sama sopir tuan."


"Baik, Nyonya."


"Oh ya, Papi sudah pulang?"


"Sudah, Nyonya. Lagi minum vodka di beranda. Mami paling benci lihat Papi bawa minuman ke rumah. Mami pergi barangkali untuk menghindari pertengkaran."


Katrin kaget. "Sudah mulai lagi. Pasti kalah judi."


"Nyonya baiknya menegur Papi untuk berhenti mabuk dan main judi. Dia paling takut sama Nyonya."


"Aku kasihan sama Papi. Temannya cuma pemabuk dan penjudi. Dia mau apa coba di rumah kalau berhenti main judi? Tetangga tidak ada yang mau bergaul dengannya. Papi bisa kena stroke. Kamu sampaikan ke Papi aku menyuruh istirahat, jangan banyak minum, tidak baik buat kesehatan."


"Baik, Nyonya."


Mimin pergi ke beranda samping mendatangi Papi yang duduk di kursi rotan. Wajah lelaki itu memerah karena banyak minum.


Mimin menyampaikan perintah Katrin dengan lengkap, "Nyonya menyuruh Papi istirahat, jangan banyak minum, tidak baik buat kesehatan."


"Aku nunggu Mami pulang," kata Papi. "Belanja apa lama sekali?"

__ADS_1


"Pasarnya jauh. Nyonya nyuruh saya menjemput."


"Lekas jemput. Tidak pulang satu jam kupecat kamu."


Mimin pergi dengan dongkol. Memangnya dia yang menggaji? Main pecat seenaknya! Nyonya besar saja tidak pernah ngomong begitu!


Papi meremas bokong Mimin yang lewat di depannya. "Lumayan juga. Kamu jadi gantinya kalau Mami tidak lekas pulang."


Kurang ajar, maki Mimin dalam hati. Kalau bukan orang tua majikan, sudah ditamparnya pemabuk itu.


Keberadaan Papi di rumah ini membuat dirinya muak. Dia sudah lama ingin berhenti kerja. Bising tiap hari mendengar pertengkaran gara-gara Papi pulang bau minuman.


Mami terlalu sabar, padahal sering menerima perlakuan kasar. Mimin berharap beliau pergi sehingga dia bisa meninggalkan rumah ini tanpa beban, meski tidak tahu tinggal di mana. Dia tak punya sanak saudara.


Mami melarangnya untuk berhenti. Mimin sering membantu wanita itu apabila menerima kekerasan dari suaminya.


Dua bulan belakangan bendera perdamaian berkibar. Entah keajaiban apa yang membuat Papi tidak mencari Mami setiap pulang, bahkan terkesan menghindari pertemuan. Baru hari ini dia menanyakan istrinya. Pertengkaran besar pasti terjadi. Mimin harus menyiapkan tenaga untuk melindungi Mami. Bila perlu menyembunyikan beliau di kamarnya.


Papi sebenarnya menang lotere sangat besar hari ini. Bandar kabur. Lapor ke polisi takut terjerat kasus judi online.


Papi pusing bukan main. Pening di kepala biasanya langsung hilang jika bertemu dengan Katrin. Hari ini suaminya mendadak pulang. Dia tidak mungkin masuk ke kamar anaknya.


Mami tidak ada di rumah. Dasar istri durhaka. Suami pulang bukan disambut, malah pergi ke pasar.


Papi menenggak minuman sangat banyak untuk menghilangkan bandar sialan itu dari pikiran. Dia sebenarnya sudah berniat untuk istirahat. Jadi tanpa diperintah juga dia pasti pergi ke kamarnya.


"Pintu sialan."


Makian Papi berubah jadi senyuman ketika melihat Katrin duduk tumpang kaki di sofa sambil membaca majalah, sehingga kimono tersingkap menyuguhkan pemandangan yang sangat menggugah selera.


"Jadi cuma bertahan dua bulan?" tegur Katrin tanpa mengalihkan pandangan dari majalah. "Setelah itu kembali pada kebiasaan lama. Ada apa? Kalah judi?"


"Aku justru menang lotere ratusan juta," jawab Papi. "Bandarnya kabur. Aku minum untuk mengusir muka setan itu dari ingatanku."


"Jadi uangnya dibawa pergi?" tanya Katrin santai. Papi tidak pernah kalah berjudi hingga mendapat gelar dewa judi kota satelit. Maka itu Katrin tidak pernah melarangnya berjudi karena secara finansial menguntungkan. "Papi tinggal ngomong sama Mas Sastro. Dia tahu jaringan judi online."


Papi menepuk jidat. "Oh, iya! Menantuku kenal betul siapa bandar judi online dan siapa bekingnya!"


"Maka itu jangan langsung lari ke minuman. Minuman cuma membuat Mami benci. Papi pasti minum obat penambah vitalitas juga. Kasihan Mami. Dia sering sakit-sakitan karena tidak sanggup melayani. Baiknya hentikan ketergantungan pada obat."


"Semua ini gara-gara bandar sialan itu! Aku jadi stres berat!"


"Ya sudah jangan marah-marah. Aku minta Mas Sastro nanti untuk mengurusnya. Sekarang Papi istirahat."


"Aku sudah terlanjur minum obat, bagaimana bisa tidur?"

__ADS_1


"Mulai besok jangan minum lagi, supaya Mami betah di rumah."


Katrin menaruh majalah di meja. Dia sebenarnya capek, tapi tak ada pilihan, karena Papi pasti menunggu Mami pulang.


Pria itu laksana serigala lapar melihat puteri sulungnya melepas tali kimono dan mengangkat kaki ke atas sofa.


Katrin terpancing juga menerima serbuan ganas pria di bawah pengaruh minuman. Kamar jadi berisik oleh suara-suara tidak jelas.


Mereka tidak melihat kalau pintu kamar dibuka lebar dan di luar berdiri keluarganya menyaksikan dengan mata melotot, seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi.


"Aku cuma ingin menunjukkan pada kalian kalau mereka binatang," geram Nadine menahan marah. "Betina itu mencari kepuasan tanpa peduli siapa yang menunggangi, sementara dajjal itu melampiaskan hasrat maniaknya tanpa melihat siapa yang ditunggangi."


Mami berurai air mata menyaksikan pemandangan yang menjijikkan itu.


"Tidak disangka mereka berani berbuat sehina itu," desis Mami dengan hati hancur.


Nadine berjalan ke dalam kamar, menaruh kertas di meja kecil, lalu keluar lagi sambil menutup pintu.


"Aku serahkan pilihan pada kalian," kata Nadine. "Tinggal di istana megah tapi penghuninya binatang, atau tinggal di kandang kerbau tapi penghuninya manusia."


"Saya jadi takut, Non," kata Mimin dengan perasaan tak percaya yang belum hilang. "Kalau Nyonya lagi pergi, saya bisa digempur habis."


"Aku tidak bisa menggaji kamu sebesar di rumah ini, Min."


"Saya tidak butuh gaji, Non. Saya cuma ingin pergi dari rumah ini."


"Aku ambil barangku dulu, Kak," kata Prilly menahan tangis, tidak sanggup melihat kejadian itu. "Aku memilih jadi gelandangan daripada tinggal bersama binatang."


"Aku tidak akan membiarkan adikku jadi gelandangan." Nadine menoleh kepada Mimin. "Sudah kamu siapkan barang Mami dan Prilly?"


"Sudah, Non. Barang saya juga."


Mereka bergegas pergi dengan perasaan terpukul.


Sementara itu di dalam kamar, Papi terkulai lemas di sofa.setelah melakukan pacuan yang melelahkan.


Katrin segera bangkit dari bersandarnya dan membuang tissue ke tempat sampah. Saat itu matanya melihat sebuah surat tergeletak di meja. Dia segera membacanya.


"Mereka memilih tinggal di rumahku," bunyi surat itu. "Mereka sudah menonton secara live kebejatan kalian."


"Adik durhaka!" geram Katrin marah. "Aku melakukan semua ini demi kalian!"


Katrin bergegas meninggalkan kamar dan berjalan dengan tergesa ke pintu depan, lalu bertanya kepada sopir yang terkantuk-kantuk di kursi teras, "Mereka pergi ke arah mana?"


Sopir bujangan itu melotot. Katrin lupa mengikat tali kimono sehingga terpampang pemandangan yang sangat indah.

__ADS_1


"Kurang ajar!" geram Katrin sambil merapikan kimono. "Kupecat kamu detik ini juga!"


__ADS_2