Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Dicoret Dari Silsilah Keluarga


__ADS_3

Gerdy mengeluarkan semua pakaian dari lemari berpintu banyak dan memasukkan ke dalam beberapa travel bag. Pakaiannya sangat banyak, bahkan ada yang belum terpakai. Tiap minggu dia pergi ke butik untuk membeli pakaian model terbaru.


Handphone di atas meja kecil berbunyi, dari Wisnu.


"Ada apa?" tanya Gerdy.


"Tolong kirim video Karlina," kata Wisnu, suaranya terdengar tenang. "Umi memintaku untuk menggantikan posisi kakak. Aku mau menunjukkan kalau gadis itu tidak pantas jadi nyonya muda."


Gerdy terkejut. Ibunya ternyata berani mengambil keputusan yang jauh dari bayangannya. Mengambil Karlina jadi istri Wisnu adalah sebuah kesalahan besar. Dia tidak layak untuk adiknya.


"Jika Umi tetap melanjutkan perjodohan itu, terserah," ujar Wisnu. "Aku kira cukup waktu untuk Umi berubah pikiran. Sementara ini aku mau meredakan ketegangan yang terjadi."


"Pendirian Umi tidak akan berubah dengan berjalannya waktu. Dia bisa memaafkan Karlina kalau ada kata taubat darinya."


"Kalau begitu apa boleh buat, aku akan menikahinya. Aku kira pernikahan adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan kehormatan keluarga dan kehidupan rumah tangga kakak."


"Orang tua Andini tentu tidak terima dengan keputusan ini. Umi ingin menyelesaikan satu masalah dengan menciptakan masalah baru."


"Umi belum membuat kesepakatan apapun dengan keluarga Andini. Aku sendiri kurang begitu suka dengannya karena terlalu banyak ngatur. Rarasati adalah pilihanku, tapi Umi tidak setuju dengan perempuan yang lebih tua dariku."


"Rarasati tidak lebih baik dari Karlina. Andini paling cocok untukmu. Orang tuanya tentu sudah berharap banyak meski belum ada ikatan apa-apa."


"Aku tidak peduli. Aku tidak bisa berpikir dalam situasi ini. Aku mau meredakan kemurkaan Umi, itu saja."


"Aku tidak rela kamu jadi korban dalam situasi ini. Kamu penerus dinasti keluarga. Sudah selayaknya memiliki kehidupan yang nyaman dengan pendamping hidup sesuai pilihanmu."


"Saat ini aku tidak mendengar kata hatiku. Aku mendengar kata Umi. Hanya itu yang bisa membuat kehidupan di rumah kembali normal."


"Abi bagaimana?"


"Dia tidak mempermasalahkan siapa pilihan kakak. Dia mempersoalkan pernikahan tanpa sepengetahuan dirinya. Itu sangat menyinggung harga dirinya."


Kesalahan terbesar Gerdy adalah menikah secara diam-diam. Dia sangat maklum kalau ayahnya merasa sudah tidak dianggap lagi sebagai orang tua. Tapi semua sudah terjadi. Dia tidak bisa memutar ulang kehidupannya.

__ADS_1


Wisnu tahu Gerdy tidak mungkin meninggalkan anak istrinya. Maka itu dia rela berkorban dengan harapan suatu saat keputusan Umi berubah. Mereka tidak akan menikah dalam waktu dekat karena harus melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.


Gerdy merasa terbebani jika pernikahan mereka terjadi di kemudian hari. Dia sudah mengorbankan adiknya untuk kepentingan diri sendiri. Dia tidak tahu keputusan apa yang akan diambilnya kelak. Dia tidak mau memikirkannya dari sekarang. Masalah yang dihadapi saat ini sudah cukup pelik.


Bel apartemen bunyi. Gerdy segera keluar kamar untuk membuka pintu. Dia sudah selesai beres-beres.Tamu yang datang pasti utusan orang tuanya.


Silvana dan dua orang security mengangguk hormat ketika Gerdy membuka pintu lebar-lebar.


"Selamat siang, Tuan Muda," kata Silvana.


""Siang," sahut Gerdy singkat. "Masuk."


Gerdy berjalan ke sofa diikuti oleh mereka. Security menutup pintu.


"Duduk," ujar Gerdy sambil duduk di sofa tunggal dengan rileks. "Ada minuman di kulkas, kalian bisa ambil sendiri. Atau perlu diambilkan?"


"Tidak usah, Tuan Muda," tukas Silvana segera. "Kami bisa ambil sendiri nanti kalau haus."


"Aku sudah tahu kedatangan kalian untuk apa, Wisnu memberi tahu aku. Semua barang sudah dirapikan. Kalian tinggal membawa pulang." Gilang mengeluarkan STNK dan kunci mobil. Ditaruhnya di atas meja. "BPKB mobil ada di laci brankas di rumah."


"Aku tidak mau membahayakan posisi adikku dan kalian. Lebih baik kalian ikuti perintah Nyonya Besar agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Aku mau belajar hidup tanpa semua fasilitas yang diberikan ibuku."


"Tuan Muda, apa harus seperti ini?"


"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Kalian sudah tahu aku tidak mungkin berpisah dengan anak dan istriku. Jadi aku harus menerima konsekuensinya. Oh ya, kartu ATM-nya belum." Gerdy mengeluarkan beberapa kartu dari dompet. "Jumlah kartu sesuai dengan daftar yang kamu punya."


Wajah Silvana dan dua security terlihat sedih. Mereka sama sekali tidak mengira kalau keputusan Gerdy bertolak belakang dengan tugas yang diemban. Tapi mereka tidak bisa membantah. Mereka cuma pegawai.


Gerdy bangkit dari sofa siap-siap pergi, sambil berkata, "Pesanku jaga Tuan dan Nyonya Besar baik-baik. Aku tidak membawa apa-apa dari apartemen ini. Pakaian yang dikenakan adalah hasil keringatku, kalian bisa lihat mereknya."


Gerdy hanya membawa barang yang berhubungan dengan kuliahnya, transkrip nilai dan buku-buku. Dia menyerahkan semua barang mewah yang dimiliki karena benar-benar ingin meninggalkan segala mimpi yang pernah dinikmatinya.


"Perintah dari Nyonya Besar tidak begini, Tuan Muda," tatap Silvana buram. "Nyonya Besar hanya menyuruh kami mengambil beberapa barang. Gadget dan laptop tidak termasuk, Tuan Muda boleh membawanya."

__ADS_1


"Gadget dan laptop nilainya ratusan juta. Aku tidak pantas memakainya. Aku bukan tuan muda lagi. Jadi jangan sebut-sebut namaku di rumah itu. Aku tidak mau Tuan dan Nyonya Besar setiap hari mengutukku."


"Tuan Muda tidak berniat kembali ke rumah itu?"


"Aku tidak tahu. Aku hanya ingin mereka tidak membenciku, tapi tidak mungkin dalam waktu dekat atau mungkin selamanya."


Gerdy pergi sambil menggendong tas kuliah dan menenteng dua buah dus berisi perlengkapan kuliah. Security datang untuk membantu, tapi dia menolaknya.


"Tidak usah. Kalian urus saja barang-barang yang ada di apartemen ini. Kalian harusnya membawa truk untuk mengangkut semua perabotan dan furnitur, atau kalian tanya sama Nyonya Besar semua barang itu mau dilelang atau bagaimana."


"Tuan Muda mau pergi ke mana?" tanya Silvana dengan mata berair.


"Aku akan pergi ke rumah istriku dengan kehidupan baru."


"Selamat jalan, Tuan Muda," kata Silvana dengan air mata menitik. "Saya berharap kita bisa bertemu lagi."


"Bila kita bertemu lagi, jangan panggil tuan muda karena aku bukan siapa-siapa."


Gerdy meninggalkan apartemen dengan hati mantap. Dia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi dan tak ada yang perlu disesali. Dia ingin memulai hidup baru seperti orang kebanyakan.


Silvana melapor kepada Nyonya Besar sesuai amanat Gerdy, "Tuan Muda sudah pergi dari apartemen, Nyonya. Beliau meninggalkan semua barang yang dipakainya. Perabotan dan furnitur saya bawa pulang atau bagaimana?"


"Kamu sudah sampaikan pesanku?" tanya Umi dengan suara tinggi. "Kepergiannya akan membuatnya dicoret dari silsilah keluarga."


"Sudah, Nyonya. Tuan Muda memilih pergi."


"Bagus. Aku mau tahu berapa lama dia sanggup bertahan. Dia ditakdirkan bukan untuk hidup sengsara. Kamu boleh sumbangkan semua perabotan dan furnitur ke orang yang membutuhkan."


"Baik, Nyonya. Pakaian Tuan Muda banyak sekali. Apa saya sumbangkan juga, Nyonya?"


"Pakaian?" Terdengar nada keheranan di speaker handphone. "Dia meninggalkan semua pakaiannya? Dia pergi pakai apa?"


"Tuan Muda mengenakan pakaian hasil keringat sendiri. Saya lihat bukan pakaian bermerek. Kayaknya Tuan Muda sudah kerja, Nyonya."

__ADS_1


"Bagus! Dia berarti sudah mempersiapkan diri untuk menentang diriku!"


__ADS_2