
Pertama-tama Gerdy mencari universitas yang sesuai di kota besar itu. Ketika memperoleh kepastian bisa kuliah di jurusan yang diinginkannya, dia mulai berpikir untuk menyiapkan kemampuan sambil menunggu biaya terkumpul.
"Aku heran kenapa kamu memilih fakultas agrikultura," komentar Katrin. "Kamu ingin kembali ke rumah untuk meneruskan bisnis ayahmu?"
"Aku ingin meneruskan mimpiku yang tertunda," kata Gerdy. "Saat ini aku harusnya sudah lulus S2 di Netherland."
"Kapan mulai masuk?"
"Kalau biaya sudah terkumpul."
"Aku ada simpanan. Aku kira cukup untuk menggapai impianmu."
"Aku sudah sering merepotkanmu, padahal aku bukan siapa-siapa kamu."
Gerdy bersikeras menolak bantuannya. Katrin sudah banyak keluar uang untuknya: Membelikan pakaian bermerek, merawatnya di kala sakit, mengurus kebutuhan sehari-hari sebagaimana layaknya seorang istri. Padahal statusnya apa?
"Aku bersedia menerima bantuanmu," ujar Gerdy ketika sudah kehabisan alasan untuk menolaknya. "Asal kau bersedia menjadi istriku."
"Mengapa kau begitu keukeuh ingin memperistri aku?" tatap Katrin buram. "Jangan pinta sesuatu yang aku tidak bisa memberikannya."
"Kehidupan kita sudah seperti suami istri. Apa lagi yang memberatkanmu? Jangan-jangan cerita cintamu bohong belaka."
"Aku tidak pernah mencintai lelaki seperti aku mencintaimu. Aku ingin kamu kembali ke rumah. Dan itu tidak mungkin terjadi kalau kau mempersunting aku."
"Yang kita rasakan adalah kebahagiaan semu."
"Bagimu. Bagiku adalah kebahagiaan sejati yang belum pernah dirasakan, meski kehidupanku tidak semewah dulu."
"Kau mementingkan perasaan sendiri."
"Aku mementingkan perasaanmu. Karena cintaku, aku membiarkan kamu menikah dengan adikku. Karena cintaku, aku ingin kamu pulang ke rumah. Tapi aku tidak bisa menjadi istri karena cintaku."
"Kenapa? Ada laki-laki lain yang kamu harapkan? Kamu mengharapkan Dodi untuk jadi suami terakhirmu?"
"Aku mengharapkan kamu untuk jadi suami pertama dan terakhirku. Aku menerima lamaran Dodi karena aku tidak bisa hidup bersamamu."
"Sekarang kesempatanmu terbuka lebar untuk jadi pendampingku."
"Aku kuatir cintamu adalah pelarian karena kau tidak pernah mencintaiku. Cintamu adalah adikku."
Gerdy enggan untuk membenarkan atau menampik ucapan Katrin, karena dia tidak tahu cinta macam apa yang bersemayam di hatinya.
Tapi Gerdy cukup tahu diri. Dia sudah numpang hidup di rumah Katrin. Dia tidak boleh memaksa, karena akan menjadi beban dalam berumah tangga. Atau perempuan itu menganggapnya sekedar pelepas dahaga?
"Sebenarnya di matamu aku ini seperti apa?" tanya Gerdy ingin tahu. "Kau selalu mencukupi kebutuhanku, baik kebutuhan lahir maupun batin, dan kau tidak pernah mengeluh. Kau lebih dari seorang istri."
Katrin tersenyum manis. "Di mataku kau adalah pria tercinta yang perlu diperjuangkan setiap keinginannya. Aku tidak tahu lagi bagaimana membuktikan kepadamu kalau hidupku sangat bahagia saat ini."
"Tapi kita menjalani kehidupan yang salah," sanggah Gerdy. "Aku ingin hidup tenang."
"Kita sudah hidup tenang. Semua tetangga menganggap kita adalah pasangan suami istri yang harmonis. Dan semua akan hancur jika aku jadi istri yang sah."
Terus terang Gerdy tidak mengerti dengan jalan pikiran Katrin. Tapi mempersoalkannya hanya akan menimbulkan keributan. Jadi dia mencoba untuk menahan diri dan fokus mengejar impiannya yang hilang; kuliah S2.
Buku-buku panduan tentu harganya mahal. Daripada keluar banyak uang, dia pergi menemui Luki, teman kuliahnya itu dulu diminta orang tuanya untuk melanjutkan S2 di fakultas agrikultura. Barangkali dia masih menyimpan buku-bukunya.
Tak ada yang berubah pada Luki. Dia tetap energik, periang, wajahnya kental berlumur senyum. Sinar matanya sejuk tapi nakal. Entah sudah berapa banyak perempuan yang jadi korban. Cuma penampilannya berbeda, memakai jas dan dasi.
Dia baru pulang kerja ketika Gerdy datang ke rumahnya.
"Hai, bro!" Lekas-lekas Luki turun dari mobilnya yang terparkir di pintu gerbang. Disalaminya Gerdy erat-erat. "Ke mana saja? Kukira sudah game over!"
__ADS_1
"Duluan deh."
"Bagaimana kabarnya?"
"Tidak sebaik kamu."
"Kita ngobrol di dalam," ajak Luki. "Motormu biar orang rumah yang ngurus."
"Biar saja di sini."
"Bandung tidak aman loh. Kemarin sepeda tetangga hilang diembat maling."
Sambil melangkah masuk ke halaman, Gerdy memperhatikan mobil yang lewat di sampingnya. Sedan mewah. Sopir Pribadi. Tentu hidup Luki sudah makmur.
"Ada apa datang ke rumahku?" tanya Luki setelah duduk di ruang tamu dengan dua cangkir minuman di meja. "Bukan kangen kan?"
"Masa sosis makan sosis?"
"Terus?"
"Aku mau pinjam buku."
"Buku apa?" Luki menatap heran.
"Buku materi S2. Masa buku catatan dosamu?"
"Buat?"
"Kuliah lagi. Lebihnya dijual ke tukang loak."
"Jadi kamu batal kuliah di Netherland?" pandang Luki terkejut. "Orang tuamu tidak menerima perkawinan kalian?"
"Aku tidak kuliah di agrikultura. Tapi barangkali ada beberapa buku yang cocok."
"Orang tuamu tidak masalah?"
"Mereka tak ada pilihan."
"Kamu enak punya orang tua liberal."
"Kuliah di mana? Negeri juga?"
"Swasta."
Gerdy sudah ditunggu oleh universitas ternama. Negeri atau swasta menurutnya bukan persoalan. Yang penting mampu mencetak outcome dengan kualitas terbaik. Universitas jadi besar karena mutu alumnus, bukan statusnya.
"Kapan mulai?" tanya Luki sambil berjalan ke gudang.
"Tergantung biayanya."
"Jadi belum ada modal?"
"Lagi kumpul-kumpul."
"Kerja di mana?"
"Di mana-mana."
"Maksudnya?"
"Ojek offline."
__ADS_1
"Apa sebenarnya yang terjadi, Kawan?" tatap Luki tak habis kaget. "Apes betul hidupmu."
"Bukan apes, belum ada kesempatan."
Masih diliputi rasa tak percaya, Luki meraih gagang pintu gudang. Begitu pintu dibuka, bau apek langsung menyambar hidung. Dia mengibaskan debu yang menerpa wajahnya.
"Kupanggil asisten rumah," kata Luki sambil menutup pintu kembali. "Biar dia yang ambil."
"Tidak usah," cegah Gerdy. "Aku saja."
"Nanti badanmu kotor."
"Sudah biasa."
"Wah, aku tidak enak. Masa tamu pulang dari rumahku mesti ke laundry?"
Tapi Gerdy sudah membuka pintu lebar-lebar dan melangkah masuk. Terpaksa Luki membiarkan saja.
Sambil menunggu di luar, diperhatikannya Gerdy yang mulai memindahkan barang yang menindih dus buku. Cepat sekali gerakannya. Mungkin sudah biasa diburu kejamnya hidup.
Luki masih belum percaya kalau orang yang di dalam itu sahabat karibnya. Mereka kehilangan kontak karena Gerdy ganti kartu. Dia membayangkan suatu saat mereka bertemu dengan dasi sama tinggi.
"Aku barusan ngebel HRD," ujar Luki. "Kebetulan ada lowongan pekerjaan untukmu."
"Aku tak mau hutang budi," tolak Gerdy. "Takut tidak mampu bayar."
"Perusahaan butuh pegawai dan aku kira kamu memenuhi kriteria."
"Kerja apa?"
"Supervisor cleaning service outdoor. Posisi itu aku kira cukup lumayan dan penghasilannya jauh lebih besar dari tukang ojek."
"Supervisor dibilang lumayan," komentar Gerdy sambil tangannya sibuk memilih buku yang diperlukan. "Jabatanmu pasti sangat tinggi."
"Direktur komersial."
Gerdy terpukau sesaat. Luki yang kerjanya cuma main perempuan punya kedudukan setinggi itu? Bukan main! Tiba-tiba saja dia merasa jadi demikian kecil di depannya!
"Dan mengenai biaya kuliahmu biar aku yang tanggung," ujar Luki. "Anggap saja pinjaman lunak."
"Bayarnya?"
"Habis kiamat juga boleh."
"Kedatanganku cuma untuk pinjam buku."
"Kita sahabat kan, Ger? Dulu kamu banyak membantu studiku. Sekarang apa salahnya aku menolongmu? Dengan keadaanmu sekarang bagaimana kamu dapat mengumpulkan uang dalam waktu singkat?"
Yang jadi pikirannya memang masalah biaya. Dengan profesi tukang ojek, dia sulit mencukupi biaya kuliahnya. Dia butuh bantuan orang lain.
"Kamu juga boleh tinggal di rumahku," kata Luki. "Ada banyak kamar kosong."
"Untuk cadangan makanan buaya peliharaanmu?"
"Kalau kamu berani macam-macam sama adikku."
"Bisa minta izin keluar buat kuliah?"
"Tentu saja. Perusahaan sangat mendukung karyawannya untuk maju."
"Baiklah. Aku terima tawaran kerja dan pinjaman lunakmu itu. Tapi untuk tidur satu rumah, aku masih punya harga diri untuk digerayangi direktur jomblo. Kamu belum punya istri kan?"
__ADS_1