
Semua saksi mata mengira sopir mengendarai mobil dalam keadaan mengantuk, atau mabuk. Tidak seorang pun tahu kecelakaan itu terjadi karena Bradley ingin segera berjumpa dengan istrinya, karena deru cintanya.
Bradley memerintahkan sopir untuk melarikan mobil secepat mungkin. Di sebuah tikungan mobil belok terlalu tajam sehingga lepas kendali dan menabrak pohon pembatas jalan. Sopir tewas di tempat. Dan kelalaian itulah yang menjadi akhir perjanjian Bradley dengan kehidupan.
Sia-sia petugas berjuang keras mengeluarkan tubuhnya dari dalam mobil yang ringsek. Sia-sia ambulans melarikannya secepat kilat ke rumah sakit. Dia menghembuskan nafas terakhir tepat pada saat memasuki halaman rumah sakit.
Mami Bradley yang menunggu dalam kegelisahan terkulai pingsan ketika melihat dokter menggeleng muram setelah melekatkan kepala stetoskop di dadanya. Anaknya telah pergi!
"Dia terlalu banyak kehilangan darah," vonis dokter. "Maafkan kami."
"Mas!" Nadine menjerit sambil menubruk tubuh suaminya yang masih hangat.
Papi Bradley terpaku lunglai di tempatnya berdiri. Tubuhnya terasa lemas. Tulang-tulang sendinya seakan berlucutan. Putera kesayangannya sudah tiada! Sudah pergi mendahului mereka!
"Maafkan aku, Mas!" tangis Nadine meraung-raung. "Maafkan istrimu! Aku salah! Egois!"
Beberapa jam yang lalu mereka bertutur kata melalu telepon! Beberapa jam yang lalu mereka saling berbagi rindu! Kiranya percakapan itu adalah percakapan yang terakhir! Kerinduan itu adalah kerinduan yang terakhir!
***
Isak tangis mewarnai tanah pemakaman yang sunyi ketika jenazah Bradley perlahan-lahan diturunkan ke liang lahat. Puji-pujian yang dilantunkan sekelompok santri menambah duka suasana. Amat mengiris hati.
Tangis ibu Bradley makin menjadi-jadi ketika gumpalan tanah mulai memisahkan pandangannya dengan jenazah puteranya. Suaminya memeluk erat-erat seolah ingin memberi ketegaran sambil mengawasi sekop demi sekop tanah yang dilemparkan ke lubang kubur.
Di seberang sana, Nadine tak putus-putus meratapi kepergian suaminya. Sesal mendalam menyapu wajahnya yang gelap. Segelap gaun hitam yang dikenakannya.
Selama ini dia tidak memberi banyak pada suaminya. Dalam empat tahun perkawinan mereka, dia hampir tak pernah berperan sebagai seorang istri yang baik. Yang menunaikan kewajiban tanpa keterpaksaan. Yang melayani suami dengan sepenuh hati.
Dari luar rumah tangga mereka tampak harmonis, rukun, seiring sejalan. Tapi semua itu karena Bradley pandai bersandiwara!
Dia menyimpan rapat-rapat gejolak rumah tangga agar tidak menimbulkan kecurigaan orang tuanya. Dia membungkam pertanyaan mereka dengan kabar yang bagus-bagus. Padahal kehidupan rumah tangganya demikian buruk!
Bertahun-tahun dia berharap dapat mengecap kebahagiaan dalam berumah tangga. Segenap kasih sayang dilimpahkan untuk memperoleh sepotong cinta dari istrinya. Dan di saat Nadine sudah rela untuk menyerahkannya, saat itu justru waktu terakhir hidupnya! Oh, kalau saja dia tahu pembicaraan malam itu adalah undangan maut!
"Sudahlah, Bu," bisik seorang wanita muda yang berdiri di sampingnya. "Relakan Bapak pergi. Biarkan Bapak berisitirahat dengan tenang."
__ADS_1
"Selamat jalan, Mas," rintih Nadine pilu.
Air matanya mulai menderas lagi ketika dia menaburkan anggrek putih ke gundukan tanah merah di hadapannya. Seputih itulah cinta yang terkubur di bawah sana.
Nadine tidak menolak ketika sekretaris pribadinya itu membantunya melangkah. Dia yang mengatur acara pemakaman, dari keberangkatan sampai tempat peristirahatan terakhir.
Nadine tetap bungkam ketika seorang pria menyampaikan ucapan belasungkawa. Dia hanya mengangkat kepalanya sedikit saat mengenali suaranya. Dia tak berhasrat untuk berbicara kepada Gerdy sekalipun!
Saat ini yang ada dalam pikirannya hanyalah Bradley. Suaminya yang berbaring sendirian di belakang sana. Laki-laki yang sedikit meminta tapi begitu banyak memberi!
Gerdy sengaja menyempatkan diri datang melayat meski belum pulih betul.
Bradley pernah meruntuhkan langit hidupnya, merampas mimpi-mimpinya, tapi dia pula yang membangun puing-puing harapan perempuan yang dicintainya.
Dia mampu menyuguhkan secawan anggur kebahagiaan yang tak dapat dihidangkannya. Dia mampu mewujudkan semua angan-angan yang beterbangan di awan. Karena itu Gerdy tak pernah berniat untuk mengkhianatinya!
"Wajah kakak pucat banget," kata Prilly yang datang menghadiri pemakaman bersama Mami. "Mendingan kakak menginap di rumahku. Bolak-balik ke Bandung sangat melelahkan."
"Aku ingin melupakan masa lalu," ujar Gerdy tawar. "Terlalu pahit untuk diulang kembali."
"Kapan-kapan aku mampir."
"Tidak semua masa lalu harus dibuang. Aku dan Mami sampai kapanpun menganggap kakak adalah bagian dari keluargaku. Aku lihat kakak datang bersama Katrin. Katanya kalian tinggal bersama, kenapa tidak jadi suami istri?"
"Kalian sudah memaafkan Katrin?"
"Kami sudah berkumpul kembali sebagaimana sebuah keluarga."
"Aku kira kata maaf itu yang dibutuhkan Katrin sehingga akhirnya bersedia jadi istriku. Dia tahu takkan pernah diakui sebagai menantu, dia butuh kekuatan untuk menempuh bahtera rumah tangga dengan sekurangnya diakui sebagai bagian dari keluarga kalian."
"Jadi selama ini Katrin menolak jadi istri kakak?"
"Karena dia tahu tantangan ke depannya sangat berat."
"Sekarang tantangan itu sebagian sudah hilang."
__ADS_1
Gerdy mengakui apa yang dikatakan Prilly adalah benar. Masalah keluarga mereka sudah terselesaikan. Dia melihat Mami dan Katrin terlihat akur dan bersama-sama menghibur Nadine yang tengah dirundung malang.
Perempuan itu kelihatan tidak mau segera pulang. Dia masih berdiri di luar mobil sambil menatap makam suaminya yang sudah sunyi.
"Kalian pulang duluan," gumam Nadine hampir tak terdengar. Matanya memandang pilu pada gundukan tanah merah di kejauhan. "Aku masih ingin di sini."
"Kepergian suamimu adalah takdir," bujuk Katrin lembut. "Mau sampai kapan kau berdiri di sini? Sampai Tuhan membangunkan kembali suamimu?"
"Aku merasa sangat bersalah pada suamiku."
"Aku juga merasa sangat bersalah pada kalian. Bertahun-tahun aku dikejar perasaan bersalah, dan aku begitu bahagia saat mengetahui kalian sudah memaafkan ku. Begitu juga Bradley. Aku sangat yakin dia sudah memaafkan semua kesalahanmu. Dia justru bersedih kalau kamu tidak merelakan kepergiannya."
"Tragedi itu bukan kesalahanmu, Bradley tahu itu," kata Mami. "Kalau di dalam rumah tangga banyak berbuat salah, dia pasti maklum, karena perempuan terbuat dari tulang rusuk laki-laki, dan tulang rusuk tidak ada yang lurus."
"Aku ingin kalian menginap di rumahku, untuk menemaniku," ujar Nadine. Dengan berat hati dia masuk ke dalam mobil. Sebelum menutup pintu, dia memandang kakaknya. "Teman hidupmu juga."
"Maksudmu...Gerdy?" tatap Katrin tercekat.
"Siapa lagi? Aku tahu kamu menolak jadi istrinya karena aku. Sejak kecil kau mengalah untuk adikmu. Sekarang waktunya aku berkorban untukmu. Cintaku padanya hanya masa lalu. Yang tersisa di hatiku saat ini adalah sepotong cinta untuk suamiku yang berbaring sendirian."
Katrin tidak tahu apakah hatinya bahagia mendengar penuturan itu. Bermacam perasaan berkecamuk membuat pikirannya kalut.
Kematian Bradley sangat menghancurkan perasaan adiknya. Kehidupan Nadine saat ini gelap gulita, dan Katrin tahu siapa yang bisa jadi lentera untuk meneranginya.
Cinta Gerdy kepadanya hanyalah pencecap luka masa lalu. Ketika masa lalu itu hadir kembali dengan sinar kemilaunya, dia tidak akan sanggup menahan silaunya.
Dan di atas semuanya, Katrin merasa dirinya terlalu kotor untuk dicintai. Dosanya terlalu besar untuk dimaafkan. Dia bahagia keluarganya mau menerima kehadirannya kembali, tapi tidak cukup untuk menghapus rasa sesalnya.
Pengorbanan terakhirnya adalah mengangkat Nadine dari keterpurukan. Dan cuma ada satu jalan, Katrin pergi dari kehidupan masa lalu adiknya.
Masa lalu itu akan berkilau kembali seiring kepergian Bradley. Katrin yakin itu dan waktu akan membuktikannya.
Ketika esok paginya Katrin ditemukan tak bernyawa di tempat tidur, keluarganya menganggap dia terkena serangan jantung.
Mereka tidak tahu kalau kegalauan pikirannya membuat Katrin kehilangan kontrol minum pil tidur melampaui dosis.
__ADS_1
Mereka tidak pernah tahu betapa besar rasa cintanya kepada adik-adiknya.