
Awalnya dokter keberatan Nadine minta pulang hari ini. Kesehatannya belum pulih benar. Tapi wanita itu betul-betul keras kepala.
"Tinggallah satu atau dua hari lagi," bujuk dokter. "Demi kebaikan Ibu."
"Dokter mau bayarnya?" potong Nadine jengkel. "Sampai rumah sakit digusur pun saya mau tinggal kalau gratis!"
Tentu saja dokter kelabakan. Keselamatan pasien adalah tanggung jawabnya. Ada dalam kode etik. Tapi kalau harus menanggung biaya pasien? Undang-undang nomor berapa itu?
"Sadis kamu, beb," kata Gerdy ketika mereka sudah meninggalkan gedung rumah sakit menuju halaman parkir. Tangannya mendorong kursi roda yang ditumpangi istrinya. "Maksud dokter baik."
"Ah, cuma alasan! Makin lama aku tinggal makin makmur mereka!"
Mereka sampai di tempat parkir. Gerdy membantu istrinya masuk ke dalam mobil, kemudian menaruh kursi roda di lokasi pengembalian.
Mobil mewah itu sudah meluncur di jalan raya saat mobil Katrin masuk ke halaman rumah sakit.
Katrin memang tidak setuju dengan keputusan adiknya untuk menikah secara diam-diam. Tapi dia tidak tega membiarkannya terlantar di rumah sakit. Siapa yang mengurus biaya persalinan?
Katrin sedikit lega ketika suster jaga memberi informasi kalau Nadine sudah pulang bersama suaminya. Jadi Gerdy memilih pergi dari rumah untuk hidup menderita bersama adiknya? Kehidupan macam apa yang mereka jalani?
Katrin kesal saat menghubungi Gerdy tapi yang menerima adiknya dan menuduhnya yang bukan-bukan, padahal dia sama sekali tidak berpikir ke arah itu.
Katrin segera memotong ucapannya dengan muak, "Kamu dengar ya. Aku datang ke rumah sakit untuk mengurus biaya persalinan, karena aku tidak menduga suamimu memilih jadi orang miskin, bukan untuk mengambil Mami dan Prilly. Terserah mereka kalau mau hidup menderita bersamamu."
"Kamu jangan kuatir," sahut Nadine dingin. "Suamiku tidak akan membiarkan mereka menderita."
"Kamu tahu kenapa aku malas menghubungimu? Bukan solusi yang didapat, malah terjadi pertengkaran."
"Gerdy adalah adik iparmu. Jadi jangan sering-sering ngebel tanpa sepengetahuan istrinya."
"Oh, jadi kamu cemburu? Aku pasti tidur dengannya kalau ada kesempatan, dan kubikin ada kesempatan! Empat puluh hari kan suamimu puasa? Terlalu lama untuk seorang laki-laki perkasa!"
"Kau sendiri empat puluh hari kan?"
"Perempuan bodoh menunggu selama itu!"
Nadine memutus percakapan dengan jengkel. Katrin pasti membuktikan ancamannya. Dia sudah tidak mengindahkan segala norma, bila perlu pakai ilmu hitam untuk membuat suaminya bertekuk lutut.
"Ada apa aku dibawa-bawa?" tanya Gerdy sambil mengendarai mobil dengan santai.
"Katrin ingin tidur denganmu."
"Setiap perempuan ingin tidur denganku. Keputusan ada di tanganku."
"Dia tidak segan-segan menggunakan ilmu hitam."
"Hari gini percaya begituan."
Gerdy adalah laki-laki realistik. Dia membaca apa yang terlihat, bukan meneropong apa yang tidak nampak, lalu terjebak halusinasi.
Gerdy tahu dari Surya kalau Katrin memakai susuk di beberapa organ khusus, sehingga siapapun lelaki yang diinginkan pasti takluk. Dia pikir hal itu terjadi bukan karena pengaruh susuk. Katrin adalah wanita body goal yang membuat setiap lelaki bergairah. Coba susuk itu dipasang pada nenek-nenek, apa yang terjadi?
Gerdy beruntung memiliki istri demikian sempurna, meski sempurna pula cemburunya. Jadi dia tak berhasrat melirik perempuan lain.
__ADS_1
Tiba di rumah, tetangga dekat berdatangan memberi selamat, terutama ibu-ibu. Mereka membawa bingkisan ala kadarnya.
Nadine merasa terharu. Ternyata banyak juga yang menyambut kehadiran bayi malang itu. Atau karena mereka tidak tahu asal usulnya?
'Aduh, cantik sekali," puji seorang ibu sambil memperhatikan bayi yang tidur di dalam cot. "Hati-hati loh, Bu Nadine. Dia jadi saingan beratmu kalau sudah besar."
Bukan wanita separuh baya itu saja yang mengatakan bayinya mirip sekali dengannya. Dokter yang membantu kelahiran pun bilang begitu. Sejak masih merah, dia sudah menunjukkan tanda-tanda kecantikannya.
Nadine berharap putrinya tidak bernasib seperti dirinya. Dia harus memiliki kehidupan yang benar walau terlahir di dunia yang salah.
"Terima kasih atas bantuannya ya, Pak," sambut Gerdy waktu Pak Marto datang melongok. "Entah bagaimana nasib istri saya kalau tidak ada bapak."
Pak Marto tertawa kecil. "Hampir melahirkan di dalam becak kalau tidak ada bangsawan yang menolong. Wah, bisa gempar dunia."
Sekarang saja sudah heboh, pikir Gerdy pahit. Mereka tentu akan meralat kembali ucapan selamatnya kalau tahu apa yang terjadi di daerah asalnya. Hanya suara sumbang yang berkunjung ke rumahnya.
Bangsawan yang dimaksud Pak Marto pasti Bradley. Gerdy berhutang budi padanya. Dia kagum pemuda itu sudi menolong perempuan yang sudah menolak cintanya mentah-mentah.
"Kita harus beli karpet," kata Gerdy setelah tamu-tamu pulang. "Aku tidak enak melihat mereka duduk di lantai. Mereka masuk angin aku kena complaint suaminya nanti."
"Kamu bisa beli di toko depan."
"Aku sudah lihat, bahannya kurang bagus."
"Jangan bandingkan dengan karpet di rumahmu."
"Aku sudah tidak punya rumah. Aku ingin karpet lebih bagus sekalian buat tidur."
Tradisi itu bertujuan agar pasangan suami istri tidak bercampur sampai genap berusia empat puluh hari, dan diadakan syukuran dengan menyembelih seekor kambing untuk bayi perempuan, untuk bayi laki-laki dua ekor.
"Tidak perlu," kata Mami. Dia baru saja selesai merapikan cot bayi. "Malah repot kalau aku ganti baju."
"Jadi aku dan suamiku tidur satu kamar?"
"Memangnya kenapa? Takut suamimu kepingin? Karena kamu sulit menolaknya? Kalian bisa cari solusi."
Mami pergi dari kamar bayi.
"Aku tidur di kamar anak kita pakai karpet," ujar Gerdy.
Sama saja! Kamar bayi memakai partisi semi permanen dan tidak berpintu. Suaminya banyak kesempatan untuk gentayangan tanpa Nadine kuasa menolaknya. Tapi bagaimana lagi?
"Siang ini aku pergi ke Bandung," kata Gerdy. "Mengambil barang-barang di apartemen."
"Kamu sewa apartemen untuk satu tahun, sayang ditinggalkan."
"Aku kuatir mereka mencariku untuk dibawa pulang. Umi tentu tidak mau Karlina jadi korban. Dia pasti memaksa aku untuk menikahinya."
"Kamu bisa menunjukkan video syur itu ke orang tuamu kalau Karlina tidak pantas jadi menantunya."
"Aku tidak mau banyak nama berjatuhan."
Nadine memandang suaminya dengan mata berkilat digenangi air. "Maafkan aku, beb. Andai aku tidak menemui kamu hari itu, andai aku dapat menahan rindu, kamu tidak kehilangan kehidupanmu."
__ADS_1
"Yang sudah terjadi biarlah terjadi," ujar Gerdy. "Yang penting istriku menerima keadaanku yang baru, yang penuh keterbatasan."
"Jangan terlalu merendahkan diri di depan istrimu. Kamu menganggap dirimu terbatas karena melihat kehidupan sebelumnya. Aku sudah merasakan kehidupan para raja meski cuma tiga puluh hari, dan itu sudah cukup. Jadi mulai hari ini aku ingin hidup dengan suamiku, bukan dengan sultan."
"Perempuan secantik kamu pantas untuk tinggal di rumah itu."
"Untuk tinggal di istana tidak hanya butuh keindahan fisik, butuh bibit, bebet, dan bobot. Aku tidak punya semua itu."
"Orang tuaku sebenarnya tidak melihat silsilah. Mereka hanya keberatan kalau aku mengambil istri dari keluarga yang paling jadi sorotan warga."
"Lalu bagaimana aku harus membuktikan kalau aku sendiri membenci keluargaku? Tidak ada kesempatan untuk itu, dan seandainya ada sekarang sudah tertutup. Jadi jangan bahas lagi soal itu. Aku sudah bahagia dengan memiliki dirimu."
Gerdy harus melupakan kehidupan kemarin kalau ingin bahagia di hari esok. Semua kemewahan hanyalah masa lalu. Sudah waktunya dia menjalani hidup seperti orang kebanyakan.
"Aku ingin mandi air hangat," kata Nadine. "Aku mau minta si Mimin masak air."
"Sudah aku siapkan semuanya," sahut Gerdy. "Air hangat sudah tersedia. Kamu tinggal pakai."
Nadine menatap tak percaya. "Kamu masak air sendiri?"
"Katamu aku harus jadi orang biasa. Jadi aku mengerjakan apa yang bisa dikerjakan. Begitu kan maksudnya?"
"Memangnya bisa masak air?"
"Apa susahnya masak air? Tinggal isi panci terus nyalakan kompor. Beres dah."
Pintu kamar diketuk dari luar.
"Masuk," kata Nadine. "Tidak dikunci."
Pintu dibuka dari luar. Mami muncul di ambang pintu dan memandang mereka.
"Siapa yang masak air?" tanyanya.
Nadine balik bertanya, "Kenapa, Mi?"
"Panci sampai gosong kekeringan."
Nadine tersenyum geli. "Suamiku hebat sekali. Masak air sampai gosong."
"Jadi suami kamu yang masak air?"
"Maafkan aku, Mam," kata Gerdy dengan perasaan bersalah. "Api kurang kecil kayaknya."
"Yang salah istrimu. Sudah tahu suami tidak tahu caranya, bukan diajari."
Gerdy merasa dapat pembelaan. Dia meledek istrinya, "Sukurin."
"Maka itu istri perlu mengajari suami supaya bisa beres-beres rumah dan masak," nasehat Mami. "Jangan mengandalkan si Mimin."
Gerdy merasa menang. "Bagus, Mi. Istriku bisanya cuma meledek suami."
Nadine menatap gemas suaminya.
__ADS_1