Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Perjuangan Calon Ibu


__ADS_3

Gerdy seolah punya firasat kalau istrinya bakal melahirkan malam ini....


Tepat jam dua belas malam, Nadine mendadak terbangun dari tidurnya. Perutnya terasa mulas sekali, melilit seperti diperas. Pikirannya langsung sadar gejala apa ini.


Nadine segera keluar dari dalam kamar. Dia tidak membangunkan Mami atau Mimin untuk mencari pertolongan. Mami butuh banyak istirahat sehabis kena musibah di jalan tol, sementara Mimin pulang larut malam terjebak macet. Tentu sedang pulas-pulasnya.


Nadine terpaksa mencari pertolongan sendiri. Dia berusaha mencapai pintu rumah Pak Marto sambil menahan sakit yang semakin menjadi-jadi.


Nadine mengetuk pintu rumah itu dengan terburu-buru, sambil berteriak, "Pak! Pak Marto!"


Lelaki separuh baya yang lagi lelap-lelapnya tidur itu terbangun dengan kaget. Siapa pula yang berani menggedor pintu tengah malam buta begini? Tidak mungkin rampok! Apa yang dicari di rumah ini? Perabotan butut?


Malas-malasan Pak Marto bangkit dari tempat tidur, kemudian berjalan ke pintu depan dan membukanya. Dia jarang mengunci pintu. Terlalu percaya dengan kemiskinannya.


Mata Pak Marto yang separuh terpejam serentak terbuka lebar begitu melihat perempuan muda terjajar di dinding dengan darah mengalir di betis.


"Nyonya kenapa?!" tanyanya. "Terpeleset di kamar mandi?"


"Tolong antar aku ke rumah bersalin, Pak," pinta Nadine separuh sadar. Dia hampir tak kuat menahan sakit yang tiada terkira. "Aku mau melahirkan."


"Melahirkan?" Mata Pak Marto hampir meloncat ke luar. "Tuan ke mana?"


"Tidak di rumah."


Tanpa ingin tahu kenapa suaminya pergi sementara istri lagi hamil tua, Pak Marto berlari ke garasi mengambil becak. Dia sampai tak sempat memakai baju.


"Tolong kasih tahu Mami kalau sudah bangun nanti, aku pergi ke rumah sakit," kata Nadine kepada Bu Marto yang muncul di pintu. "Mami sekarang lagi istirahat."


"Baik, Nyonya," sahut Bu Marto. "Saya sampaikan nanti."


Dia heran buat apa menunggu sampai bangun sedangkan perempuan itu sangat butuh bantuan? Siapa yang mengurus administrasi di rumah sakit?


Suaminya tidak memiliki uang sepeser pun. Dokter pasti keberatan kalau jaminannya becak. Nadine bisa terlantar!


Bu Marto teringat tetangga di kampung yang dibiarkan tergeletak di bangsal rumah sakit karena menunggu keluarga yang bertanggung jawab. Alasannya menunggu antri persalinan!


Bu Marto kuatir kejadian serupa menimpa Nadine. Maka itu dia segera pergi ke rumah sebelah begitu becak melesat pergi ke rumah bersalin. Mami justru bisa marah kalau dia terlambat memberi tahu.


Pada ketukan ketiga pintu rumah terbuka dan muncul Mami dengan wajah kusut, kelihatan merasa terganggu sekali.


"Ada apa, Bu Mar?" tanya Mami. "Kayaknya penting sekali."


"Maafkan saya mengganggu tidur Mami," jawab Bu Karto. "Saya disuruh ngasih tahu kalau Nyonya pergi ke rumah sakit."


Mata sayu itu terbelalak lebar. "Maksudnya anakku pergi untuk melahirkan?"


"Ya."


"Pergi sama siapa?"


"Diantar suami saya."


"Pergi pakai becak?! Astaghfirullah!"


Mami jadi panik. Rasa kantuknya langsung hilang. Dia segera pergi ke kamar belakang membangunkan Mimin, "Min! Bangun! Anakku pergi ke rumah sakit! Cepat kita susul!"


Mimin bangun dengan kaget. Bergegas membuka pintu. Pikirannya yang separuh sadar membuat dia bertanya sekenanya, "Mami mau melahirkan? Kan yang hamil Nyonya?"


"Cuci muka dulu! Biar pikiran kumpul!"

__ADS_1


Mimin pergi cuci muka ke wastafel, sementara Mami masuk ke dalam kamar mengambil sweater. Ketika keluar lagi, Mimin sudah menunggu di depan pintu.


"Kamu tidak pakai jaket?" tanya Mami.


Mimin balik bertanya dengan bingung, "Kita mau pergi ke mana?"


"Rumah sakit. Anakku mau melahirkan."


Mimin memandang kaget. "Nyonya sudah di rumah sakit?"


"Lagi di perjalanan."


"Tunggu sebentar. Saya ambil jaket dulu."


"Ya. Sekalian keluarkan motor di garasi."


"Motor kan dibawa si Non nginap di sekolah."


"Pinjam motor bestie mu. Aku tunggu di depan."


Mami berjalan ke depan rumah menemui Bu Marto yang masih berdiri di luar.


"Maaf, Bu Mar," kata Mami. "Aku sampai lupa menyuruh masuk."


"Tidak apa," senyum Bu Marto. "Saya sengaja menunggu, barangkali Mami butuh bantuan."


"Aku titip kunci rumah saja. Prilly pulang pagi."


"Apa lagi? Apa saya perlu masak air untuk menunggu di rumah bersalin nanti?"


"Oh, tidak usah. Aku beli saja nanti di kantin rumah sakit. Tapi ... rumah sakitnya di mana ya?"


Mami terbelalak. "Sepuluh kilo? Dan diantar pakai becak? Aduh, bagaimana nasib anakku!"


"Mami," panggil Mimin yang sudah siap dengan motor di halaman. "Kita berangkat."


"Kamu tahu rumah sakitnya, Min?"


"Gampang kita cari."


Bu Marto memberi tahu, "Keluar dari perumahan ini belok kanan. Pas lampu merah, belok kiri. Lurus saja terus, nanti ada plank besar sisi jalan, sudah sampai."


"Terima kasih ya, Bu Mar." Kemudian Mimin menoleh ke Mami yang naik membonceng, "Kita ngebut sedikit, siapa tahu tersusul."


"Jangan sampai tersusul."


"Kok begitu?"


"Berarti anakku lama di perjalanan."


"Sekencangnya becak berapa kilo per jam sih?"


Mimin menghidupkan motor dan melaju meninggalkan halaman. Motor meluncur cukup kencang di jalan perumahan yang sepi.


Mami terlihat gelisah di boncengan. Perjalanan sepuluh kilo ditempuh dengan becak sungguh membuatnya khawatir. Kondisi Nadine menurut Bu Marto sudah mulai keluar darah, berarti bayi segera lahir. Ya Tuhan! Sanggupkah Pak Marto mengayuh becak dengan kecepatan tinggi menempuh jarak sejauh itu?


Gerdy benar! Dia hapal situasi di perumahan seperti apa. Sulit minta bantuan tetangga di malam libur. Mereka pergi week end, dan cuma Pak Marto yang tersisa!


Lelaki itu memang hanya memiliki sebuah becak. Tubuhnya penuh daki kehidupan. Rumah tak sepi dari tangis kelaparan. Tapi jiwanya tidak semiskin hidupnya. Dia sangat bersemangat membantu kalau ada yang butuh pertolongan, tanpa pamrih.

__ADS_1


Pak Marto menggenjot becak secepat mungkin ke rumah sakit. Dia kerahkan tenaga habis-habisan. Tak dihiraukan angin malam menusuk dingin melalu kaos oblongnya.


Tapi rumah sakit jaraknya cukup jauh. Pak Marto mulai kelelahan, padahal belum separuhnya menempuh jarak. Nafasnya tinggal satu-satu. Keringat mengucur deras membasahi tubuh.


Pak Marto mulai kebingungan ketika tak menemukan satu pun tempat praktek bidan di sepanjang jalan. Tidak mungkin istirahat dulu. Nadine bisa keburu melahirkan.


"Cepetan, Pak!" seru Nadine dari dalam becak. "Aku tidak tahan!"


"Sabar ya, Nyonya."


"Anakku tidak sabar, Pak! Sakit sekali!"


"Saya sudah berusaha untuk cepat, Nyonya."


Pak Marto terpaksa berteriak minta bantuan ke setiap kendaraan roda empat yang lewat. Mobil yang berseliweran tak ada yang mempedulikan teriakannya. Heran, apa suaranya kurang keras untuk menembus kaca gelap yang pengemudinya bermata terang itu?


Pak Marto sudah hampir putus harapan ketika sebuah sedan mewah tiba-tiba berhenti di depannya. Sebuah kepala menjulur ke luar hendak bertanya. Tapi mendadak terpekik saat mengenali perempuan di dalam becak itu.


Begitu tahu siapa yang turun dari dalam mobil itu, Nadine berseru separuh merintih, "Tolong aku cepat, Brad! Bayiku sudah mau keluar!"


Bradley terkejut. Bayi? Nadine punya bayi? Tak ada waktu buat berpikir. Dia segera mengangkat tubuh perempuan itu dan membawanya ke dalam mobil dengan diliputi perasaan bingung.


"Kecepatan penuh," kata Bradley kepada sopir. "Pakai sirine."


Sirine meraung dan sedan mewah itu melesat separuh terbang meninggalkan Pak Marto yang berdiri tertegun.


Mimin datang dengan motornya dan berhenti di dekat lelaki itu.


"Pak Marto kok berdiri bengong di sini?" tanya Mimin heran. "Nyonya mana?"


"Ada bangsawan menolongnya dengan mobil mewah. Bayinya sudah mulai keluar."


Mami kaget. "Bangsawan apa penculik, Pak Marto? Jaman edan begini banyak mobil mewah menculik bayi dan ibunya!"


Pak Marto tersentak seakan baru sadar. "Astaga! Tidak kepikiran sama saya!"


"Cepat kejar, Min! Minta bantuan polisi patroli kalau ketemu!"


"Tahu nomor polisinya, Pak Marto?"


"Waduh! Saya tidak memperhatikan!"


"Ah, Pak Marto ini bagaimana?"


Sementara itu di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi Bradley berpikir keras. Nadine punya bayi? Kapan menikah? Kenapa tidak mengundangnya? Kenapa Gerdy tidak mengantarnya? Membiarkan istri pergi ke rumah bersalin dengan becak?


Berondongan pertanyaan itu gencar menyerbu pikirannya sampai memasuki halaman rumah sakit. Mobil berhenti di depan pintu lobi.


Bradley segera turun dan berteriak ke suster jaga, "Lahiran, Sus! Sudah mulai keluar!"


Suster itu cepat-cepat mengambil kereta brankar dan membawa Nadine masuk ke rumah sakit. Bradley menemaninya sampai di depan kamar bersalin.


"Maaf," kata suster jaga. "Anda suaminya?"


"Bukan."


"Tolong tunggu di luar."


Suster menutup pintu. Bradley segera kembali ke mobil untuk memberi tahu keluarga Nadine, terutama suaminya.

__ADS_1


Dia tidak tahu kalau niat tulusnya itu justru membuahkan petaka bagi Gerdy!


__ADS_2