
Gerdy pulang cukup malam. Dia melihat istrinya duduk di beranda sambil bermain handphone. Biasanya Nadine sudah tidur jam segini. Dia harusnya beristirahat selagi ada kesempatan karena sering terbangun tengah malam menyusui bayi.
"Baiknya kamu pergi tidur," kata Gerdy sambil berjalan masuk ke dalam rumah. "Tidak usah menunggu aku."
"Tanpamu aku tidak bisa tidur," senyum Nadine mesra.
"Bagaimana kalau aku ditugaskan oleh Ibu Marliana ke daerah dan tidak pulang?"
"Situasinya kan jelas tidak pulang."
"Kamu harus jaga kesehatan. Sejak punya bayi kamu kurang istirahat."
"Risiko seorang ibu."
Ruang tengah sunyi, tidak ada yang menonton televisi. Mereka sudah pergi tidur. Gerdy hendak duduk di ruang tengah, Nadine menarik tangannya untuk masuk ke kamar mereka.
"Sudah empat puluh hari," kata Nadine sambil tersenyum penuh arti. "Aku sengaja tidak tidur untuk memberi tahu kamu."
Mereka masuk ke dalam kamar. Di atas kasur sudah disiapkan baju tidur. Nadine melepaskan sepatu dan pakaian suaminya.
"Bagaimana skripsimu?" tanya Nadine.
"Aku besok berangkat lagi ke Bandung untuk daftar sidang."
"Harusnya kamu tidak pulang, menginap di hotel atau apartemen temanmu, biar tidak capek bolak-balik."
"Aku berpikiran begitu, tapi takut dicurigai karena di sana banyak mantanku."
"Curiga pasti. Aku akan VC satu jam sekali."
"Maka itu aku pulang."
"Aku sudah menyiapkan air hangat buat mandi, atau kita makan dulu?"
Gerdy memandang heran. "Kita? Kamu belum makan?"
"Aku ingin makan dan mandi bareng sekurang-kurangnya sekali dalam sehari."
"Jadi kamu belum mandi?"
"Belum."
"Tiap hari kita makan dan mandi bareng, pagi dan sore. Nggak bosan apa?"
"Kamu bosan?"
"Nggak."
"Buat apa nanya?"
"Jadi bisa sekalian dong di kamar mandi?" goda Gerdy. "Kan sudah empat puluh hari?"
Nadine menatap mesra. "Sekalian apa?"
"Sekalian aku mau ngobrol sama kamu. Hari ini aku capek segalanya, tenaga dan pikiran."
"Capek pikiran kenapa? Skripsimu kan tidak masalah?"
"Memikirkan orang-orang di sekelilingku. Mami sudah mulai melupakan Papi dengan kesibukan baru. Anggaplah masalah hampir selesai. Aku tinggal menunggu informasi dari Surya untuk membuktikan kebenaran dari mimpiku. Hari ini om kamu membuat heboh. Dia mau menceraikan istrinya."
Nadine terkejut. "Gila! Aku harus bilang ke Mami. Aku tidak suka sama Tante Caroline, tapi aku tidak suka kalau Om Dennis menceraikannya gara-gara perempuan lain."
"Aku kira Mami tidak kuasa untuk menyelesaikan masalah karena cuma kakak ipar. Baiknya kamu hubungi bude atau bulik sebelum masalah jadi besar."
"Barangkali Tarlita permainannya lebih heboh dibanding si Tante sehingga Om Dennis terpesona, bandingannya kayak aku sama Katrin."
__ADS_1
"Terus aku terpesona sama kakakmu, begitu?"
"Jadi ngegas sih?"
Gerdy mengusap-usap kepala. "Iya juga. Kamu lagi membandingkan permainan perempuan di ranjang, aku kan laki-laki, buat apa ngegas?"
"Menurutmu siapa yang paling payah? Aku?"
"Aku belum pernah merasakan Katrin dan Caroline."
"Katrin sudah dalam mimpi."
"Caroline ada kesempatan tadi. Dia mabuk berat dan menawariku karena tahu aku lagi paceklik, tapi aku tidak pernah menggagahi perempuan tak berdaya."
Nadine memandang tak percaya. "Apa kamu bilang? Tante Caroline mabuk?"
"Dia tampaknya stres berat karena masalah ini. Untung aku sempat melihat mobilnya di bar. Kalau bablas, tantemu jadi santapan lezat pria hidung belang."
"Pantesan bajumu wangi parfum perempuan."
"Kok tidak menginterogasi?"
"Aku tahu kamu pasti bercerita. Kamu memapahnya ke dalam mobil?"
"Sampai ke dalam kamar. Isi segitiganya lumayan juga."
Nadine terbelalak. "Apa?"
"Biasa saja, jangan ngegas," tegur Gerdy santai. "Kamu mau suamimu tidak jujur karena takut dimarahi istri?"
"Kok kamu sampai tahu? Roknya kamu lepas?"
"Dia pakai rok mini kayak kamu. Jadi kelihatan kalau tiduran."
"Aku pakai hot pant, jadi tidak kelihatan!"
"Tante Caroline kan mabuk? Kamu dapat cerita dari mana?"
"Tantemu sudah bikin malu di bar. Sangkaan pengunjung aku suaminya. Dia meracau soal perceraian. Orang mabuk berat itu jujur. Dia mengeluarkan semua unek-unek di hati."
"Sudah lewat tengah malam. Kita mandi dulu."
"Kepingin mandi apa kepingin...?"
"Aku tidak memaksa kalau kamu capek. Aku tidak mau suamiku kena serangan jantung karena kelelahan bercinta. Tapi...sekali saja bisa kan?"
"Berarti benar-benar sudah kebelet."
"Aku sudah empat puluh hari puasa."
"Aku juga puasa."
"Puasa apaan? Berapa kali kamu mimpi basah? Dan itu sama kakakku!"
"Aku tidak bisa menciptakan mimpi. Kalau bisa menciptakan, aku ingin mimpi bermesraan denganmu sepanjang malam."
Dan malam ini Gerdy bermimpi lagi. Padahal dahaga sudah terpuaskan oleh istrinya. Malam ini ada keanehan. Papi memberi isyarat untuk ikut. Tapi dia sulit melepaskan diri dari permainan yang sangat romantis.
Wajahnya dibelai-belai dengan mesra. Kapan Katrin berlaku lembut dalam bercinta? Dia bagai kuda liar lepas dari kandang, gaya bercinta yang sangat disukainya sebelum menikah.
Belaian itu semakin lama semakin terasa nyata. Dia membuka mata. Ternyata istrinya yang membelai-belai!
Nadine tersenyum manis. "Bangun juga akhirnya. Aku sudah tidak tahan."
Gerdy melirik jam dinding. Pukul tujuh pagi. Dia kaget.
__ADS_1
"Jam tidak rusak, kan?" cetusnya.
"Kamu tidur pulas sekali. Hari sudah pagi."
"Perasaan kita baru saja bercinta di kamar mandi."
Nadine memandang suaminya dengan mesra. "Waktu terasa cepat berlalu. Tapi aku merasa kita baru saja menikah."
Gerdy sebenarnya ingin jujur kalau mimpi itu datang lagi. Dia merasa bukan waktu yang tepat karena pasti mengurangi gairah istrinya yang sudah menunggu tanpa busana.
Mereka baru keluar kamar untuk mandi jam sembilan pagi. Itu juga karena Gerdy harus segera pergi ke Bandung. Betapapun rindunya mereka untuk bermesraan, masa depan lebih penting.
Gerdy sedang berdandan di depan cermin saat ada call dari Surya. Dia pasti ingin melaporkan hasil penyelidikan terhadap tukang kebun dan tetangga Katrin.
"Bagaimana, Sur?" tanya Gerdy langsung ke pokok permasalahan.
"Mereka tidak pernah mendengar atau melihat keanehan di rumah itu," jawab Surya.
"Keanehan seperti apa maksudnya?"
"Mereka tidak pernah mendengar teriakan, suara aneh, atau melihat hantu gentayangan."
"Horor banget. Maksudku adakah hal baru atau sesuatu yang berbeda dengan sebelumnya."
"Ada satu kejadian yang kelihatannya tidak penting."
"Tidak pentingnya seperti apa?"
"Tiga malam ini tukang kebun sering mendengar erangan keras dari kamarnya setiap kali pulang begadang, ternyata istrinya mimpi bercinta." Surya tertawa kecil.
"Bercinta dengan siapa?"
"Dengan suaminya, padahal di alam nyata tidak pernah mendesah sekeras itu. Dia rupanya kesengsem karena sudah dua minggu tidak bercampur."
"Istri tukang kebun sudah berbohong."
"Maksudnya?"
"Pernahkah kamu mimpi bercinta dengan istrimu? Sampai tiga malam berturut-turut pula?"
"Betul juga. Satu kali saja belum pernah."
"Coba kamu tanya istrinya mimpi bercinta dengan siapa."
"Wah, ini agak susah. Dia jarang sekali bertetangga. Paling keluar seminggu sekali ke pasar tradisional."
"Artinya ada peluang untuk ngobrol. Bila perlu kamu bayar semua barang yang dibelinya. Aku transfer uangnya nanti."
"Urusan sama crazy rich ujungnya pasti diselesaikan dengan duit."
"Aku tidak kaya lagi, Sur."
"Tidak kaya apaan? Kamu buka toko besar banget."
"Nadine ngasih tahu ya?"
"Siapa lagi? Kamu harus bersyukur bisa hidup senang tanpa bantuan orang tua. Minggu depan aku laporan lagi."
"Pokoknya kabari aku secepatnya kalau ada perkembangan, tentang keluargaku juga."
"Aku tidak banyak tahu kehidupan keluargamu, istana itu tertutup untuk umum."
"Kamu kan bisa lihat kalau mereka lagi keluar."
"Wisnu kayaknya mengikuti jejakmu, main dobel. Aku lihat dia sering pergi sama Karlina, kadang sama Andini juga."
__ADS_1
Wisnu rupanya mendengar omongannya untuk memilih Andini. Bagaimana dengan Karlina?