Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Setiamu Padaku


__ADS_3

Gerdy menyodorkan sertifikat nilai ke hadapan Marliana. Wanita cantik itu tersenyum bangga melihat nilai yang tercantum. Gerdy adalah lelaki hebat dalam segala aspek kehidupan, begitu informasi yang didapat dari orang kepercayaannya. Hal yang sangat menggugah sifat kewanitaannya.


'Jauh sekali dengan anakku Bimo," puji Marliana. "Mestinya kamu jadi CEO."


"Posisi saat ini sudah cukup baik bagi saya," kata Gerdy. "Saya ingin diterima sebagai pegawai secara penuh, tentu saja kalau Ibu berkenan."


"Ada posisi sangat menarik untukmu. Kamu bisa mendampingi Bimo sebagai CEO junior. Kamu dapat mewujudkan semua mimpi dengan fasilitas eksklusif yang diberikan."


Gerdy menolak secara halus, "Saya belum ada pengalaman, masih harus banyak belajar."


Marlina tersenyum manis. "Kamu bisa belajar banyak nanti. Aku tidak akan melepas kalian begitu saja."


"Menurut saya ada yang lebih pantas."


Handa, staf senior sangat layak untuk menduduki jabatan itu, dia unggul pengalaman dan pendidikan, sudah magister. Tapi rupanya tidak menjadi pertimbangan ibu CEO.


"Menurutku kamu yang paling pantas."


Gerdy membaca gelagat ada persyaratan khusus di balik jabatan yang sangat prestisius itu, di luar persyaratan formal.


"Untuk menduduki posisi bergengsi tentu ada syaratnya," ujar Marliana. "Apa bentuk syarat itu adalah hak mutlak aku untuk menentukan."


"Apa syaratnya kalau boleh saya tahu?"


Marliana memandangnya dengan sinar mata mengandung keputusan yang menentukan. "Aku ingin kamu jadi suami kedua."


Gerdy terkejut. "Maaf, Bu. Apa saya tidak salah dengar?"


Marliana tersenyum tipis menyembunyikan rasa tersinggungnya. "Aku kira kata-kataku sudah jelas."


"Saya sudah punya istri."


"Aku seharusnya sudah memecatmu karena sudah berbohong. Kamu kerja di perusahaan ini bukan ingin mandiri, karena harus menafkahi anak dan istrimu. Tapi aku bisa memaafkan mengingat jasamu pada anakku."


"Lalu?"


"Aku tidak memintamu bercerai dengan istrimu, seperti halnya aku tidak perlu bercerai dengan suamiku. Aku justru ingin membahagiakan istrimu. Perempuan secantik Nadine tidak pantas tinggal di perumahan yang sekarang. Dia harusnya dikelilingi dayang-dayang dengan segala kemewahan."


Gerdy menatap dengan galau. "Ada waktu buat saya berpikir?"

__ADS_1


"Tentu saja. Senin depan kamu masuk artinya menyetujui untuk promosi."


"Ada pilihan untuk tidak promosi?"


Marliana tersenyum samar. 'Semua pilihan ada padamu."


Senyum itu membuat Gerdy paham bahwa posisi staf junior sudah tidak ada lagi untuknya. Jadi suami kedua adalah hal mutlak untuk bertahan di kantor ini.


"Aku sudah menghargaimu sangat tinggi. Suami kedua adalah posisi paling mulia dibanding sugar baby. Tugasmu hanya memberi kepuasan dan semua mimpi yang diinginkan berada dalam genggaman."


Jadi suami kedua adalah sebuah pilihan sangat sulit untuk seorang lelaki berkepribadian seperti Gerdy. Dia tidak sudi jadi budak nafsu perempuan yang haus kenikmatan. Dia bercinta karena menginginkan, bukan diinginkan.


Lagi pula, Gerdy sudah memiliki istri. Tidak ada perempuan yang


sudi berbagi dengan perempuan lain, meski demi kesejahteraan hidupnya.


Konsekuensinya Gerdy harus pergi dari kantor ini. Meninggalkan kedudukan prestisius untuk sebuah hakikat.


Alangkah menyakitkan jika kelulusan dengan keistimewaan nilai adalah penyematan dirinya untuk jadi pengangguran. Sebuah penghargaan yang sangat menghina dari kehidupan.


"Suamiku kelihatan galau sekali," komentar Nadine sambil menemani berbaring di tempat tidur. "Ada masalah apa di kantor?"


"Kau saat wisuda bilang ke Ibu Marliana bahwa kau adalah istriku."


"Apa yang kamu harapkan dariku?" tanya Gerdy mengambang.


"Cinta," jawab Nadine tanpa ragu.


"Cuma itu?"


Nadine memandang dengan selidik. "Apa yang terjadi denganmu? Mengapa tiba-tiba saja mengajukan pertanyaan aneh?"


"Aku sedang menghadapi kenyataan aneh. Kau bisa memperoleh apa yang diimpikan dengan merelakan aku jadi suami kedua, atau kau bisa mendapatkan cintaku seutuhnya dengan status suamimu jadi pengangguran."


"Mengapa kau mengajukan pilihan yang sangat sulit untuk dijawab? Apa tidak ada pilihan ketiga, aku bisa mendapatkan semua yang diimpikan dengan memilikimu seutuhnya?"


"Jika ada pilihan ketiga, aku tidak minta pendapatmu."


Nadine tersenyum berlumur madu. "Jika aku ingin mendapatkan cintamu seutuhnya dengan pertaruhan dipecat dari jabatan, maka harus ditempuh dengan segala kerelaan hati."

__ADS_1


"Aku tahu pilihanmu pasti itu," gumam Gerdy pahit. "Jadi aku akan kehilangan pekerjaan, pekerjaan yang sangat sulit diperoleh di tempat lain dengan mengandalkan titelku."


"Posisi sangat sulit seperti apa yang dihadapi?"


"Aku diangkat jadi CEO junior dengan syarat bersedia jadi suami kedua."


Nadine tersenyum samar. "Mengapa kamu bilang padaku, padahal bisa memperoleh dua kenikmatan?"


"Aku berharap kamu memiliki pilihan yang tidak sesuai dengan perkiraanku."


"Aku sudah menduga hal ini sejak mengenal bosmu saat wisuda. Makanya aku berterus terang siapa diriku ini. Kebaikan yang diberikan mengandung pamrih dan dinyatakan secara jelas saat kamu tidak bisa menangkap sinyal yang dikirimkan."


"Aku kira Ibu Marliana tidak pernah mengirim sinyal. Jadi aku sangat terkejut saat hal itu disampaikan."


"Sinyal pasti ada, hanya kamu tidak menyadari karena setiamu padaku."


Gerdy mengingat semua kejadian di kantor. Dalam situasi terjepit begini, dia baru memahami banyak hal yang dilakukan Marliana yang jadi sinyal untuk memancing gairah. Jika lagi berdua, dia begitu bebasnya duduk padahal memakai rok pendek.


Dia tidak menganggapnya sebagai kode karena semua staf wanita hampir seluruhnya bebas duduk di depannya!


"Cintaku kepadamu tidak akan luntur bagaimanapun keadaanmu," bisik Nadine merdu. "Sebuah sikap yang sangat bodoh dari perempuan secantik diriku."


Dan sebuah keputusan yang sangat goblok dari pria perkasa seperti aku, keluh Gerdy dalam hati. Dia bisa memperoleh segalanya jika tidak bertahan dengan cinta. Marliana adalah perempuan sempurna yang sangat pantas dimilikinya.


Lelaki seperti dirinya tidak perlu menjalani kehidupan dengan terhina, jika sedikit menyingsingkan kesetiaan. Dia terlalu memikirkan perasaan istrinya, sehingga sikapnya jadi kelihatan sangat bodoh di jaman yang sangat pintar ini!


"Kenapa resign, bro?" tanya Bimo dalam sambungan jarak jauh. "Aku sangat membutuhkan tenagamu."


Jadi itu keputusan Marliana? Dia tidak sabar untuk menunggu sampai Senin depan. Dia langsung memecatnya saat ini juga. Dia pasti tidak menjelaskan persyaratan apa yang diajukan sehingga Gerdy menolak jabatan prestisius itu.


"Kau tanyakan saja kepada yang memberi informasi," kata Gerdy. "Dia tahu alasanku menolak jabatan yang sangat bergengsi itu."


"Mami bilang kau mau merintis usaha baru dengan dukungan finansial dari orang tuamu. Maka itu beliau memberimu satu milyar untuk tambahan modal. Mengapa kau mempertaruhkan masa depan untuk sesuatu yang kau belum ada pengalaman sama sekali? Kau mau merintis bisnis apa? Perusahaan lama saja banyak yang gulung tikar."


"Aku suka tantangan ketika kalian tidak berani menaklukkan keadaan."


Marliana cukup bijak dengan alasan yang disampaikan kepada anaknya, dan tidak memecatnya secara cuma-cuma. Tapi sudahlah, Gerdy tidak ada lagi urusan dengan mereka. Dia harus menghadapi tantangan baru dengan segala kemampuan yang dimiliki.


Gerdy belum memutuskan untuk melamar ke perusahaan mana. Satu hal yang pasti, dia tidak akan menghubungi teman-temannya karena takut tidak enak hati di kemudian hari jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

__ADS_1


Dia tahu persaingan di dunia kerja sangat keras. Banyak yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan posisi tertentu. Untuk orang seperti dirinya, tidak mudah memenangkan persaingan dengan mengindahkan aturan yang ada.


Gerdy tidak mau hidup bermegah-megahan tapi kehilangan cinta. Dia tidak mau memperoleh pekerjaan dengan mengorbankan orang lain. Dia ingin hidup sukses tanpa air mata orang-orang di sekelilingnya.


__ADS_2