Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Gara-gara Mandi Basah


__ADS_3

Nadine melewati hari-hari di rumah suaminya dengan bahagia. Dia merasa jadi ratu di rumah ini. Setiap kata-katanya adalah perintah, tak ada yang berani membangkang, padahal bukan menantu resmi. Dia akan pergi sebelum orang tua suaminya pulang dari Tanah Suci.


Siang ini Nadine melihat Pak Kumis sudah mencukur bersih kumisnya. Malam itu dia sebenarnya bercanda, tapi didengar serius oleh security separuh baya itu. Dia tidak takut melihat pria berkumis, hanya geli. Itu juga untuk suaminya, bukan untuk orang lain. Dia merasa terganggu apabila mereka berciuman.


Nadine menghabiskan waktu di dalam rumah. Dia tidak merasa bosan karena rumah ini sangat besar dan terdapat banyak ruangan. Kadang dia jalan santai di taman ditemani Silvana dengan CCTV dikondisikan oleh Wisnu. Anak itu sangat berpengaruh di rumah ini sehingga tidak ada satu pegawai pun yang berani berkhianat.


Kemudian Nadine tenggelam berjam-jam di perpustakaan melalap habis novel klasik yang menarik perhatiannya. Kebanyakan buku pertanian dan agama. Dia lebih menaruh minat kepada cerita kolosal sekalian menyembunyikan diri karena Karlina dan Andini datang bertamu hari ini.


Karlina banyak bertanya kepada Silvana tentang kebutuhan dapur karena mendapat kuasa dari Umi untuk memegang uang belanja. Gadis itu sudah dilibatkan demikian jauh dalam urusan keluarga. Dia calon nyonya muda resmi di rumah ini. 


Andini sekedar menemani. Dia tidak ada kepentingan di rumah ini. Tanggung jawabnya sudah selesai. Dia hanya bantu-bantu untuk kelancaran tasyakuran selama tujuh hari. Dia sering datang karena ada tujuan lain.


Nadine pernah melihat gadis itu menyelinap masuk ke kamar Wisnu. Dia tidak tahu adik iparnya ada di dalam atau pergi. Wajah Andini tampak ceria saat keluar dari kamar yang bersebelahan dengan kamar suaminya itu. Mungkinkah gadis itu merasa bahagia karena sudah menyerahkan sesuatu yang berharga kepada lelaki yang jadi idaman setiap gadis?


Nadine jadi teringat kepada dirinya. Dia tidak minum pil anti hamil hari itu karena tahu Gerdy pasti melupakan kemesraan yang terjadi kalau tidak berbekas, perbuatan yang sudah jadi kebiasaan dengan gadis lain. Penyesalan datang ketika banyak hal yang harus dikorbankan. Dia lebih percaya diri tinggal di rumah ini jika janin tidak pernah hadir di rahimnya.


Nadine sulit menghindar dari dakwaan Umi sebagai perempuan penggoda. Dia seharusnya tidak berbuat naif karena Gerdy sudah memilihnya untuk jadi pasangan hidup. Makanya pemuda itu membiarkan semuanya terjadi. Ketakutan akan kehilangan cinta membuat mereka kehilangan kehidupan gemerlap yang jadi dambaan setiap insan.


Nadine jadi teringat suaminya saat membayangkan apa yang dilakukan Andini di kamar Wisnu hari itu. Dia mestinya tidak bersembunyi di ruang perpustakaan, mengurung diri saja di kamar. Bagaimana kalau Karlina masuk dan suaminya lagi mandi di dalam? Gerdy jarang sekali mengunci pintu karena tidak ada yang berani masuk apabila tuannya ada di dalam.


Nadine segera keluar dari ruang perpustakaan. Langkahnya demikian tergesa sehingga membuat cemas orang rumah yang berpapasan dengannya. Dia tidak sadar jadi perhatian mereka karena dihantui pikiran jelek.


Dokter Hilman melihat itu dan mengingatkan karena khawatir, "Hati-hati, Nyonya. Jangan terlalu cepat jalannya."


"Oh iya, terima kasih sudah diingatkan." Nadine melambatkan langkahnya. "Karlina dan Andini sudah pulang?"


"Ada di lantai atas."


Darah Nadine terasa berdesir. Ada apa mereka di lantai atas? Keperluan mereka cuma memeriksa kebutuhan dapur. Sejak kapan orang dapur pindah ke lantai atas?

__ADS_1


Nadine ingin berlari untuk mengetahui apa yang terjadi. Dia merasa bayi menendang perut sehingga mencoba bersabar untuk berjalan pelan-pelan.


Nadine melihat Karlina dan Andini turun dari lantai atas sambil bercakap-cakap dengan riang gembira. Dia menahan diri untuk tidak menegur dan bersembunyi di balik lekukan dinding, menunggu mereka berjalan ke ruang depan. Kemudian dia segera berjalan ke anak tangga menuju kamar suaminya. Kecurigaan semakin kental menyelimuti pikiran.


Nadine membuka pintu kamar dan mukanya langsung ditekuk melihat suaminya keluar dari kamar mandi dengan sangat ceria. Dia habis mandi basah.


"Istriku cemberut kenapa?" tanya Gerdy heran. "Siapa yang berani membuat kesal nyonya muda?"


"Suamiku sendiri," sahut Nadine ketus.


Gerdy memandang bingung. "Aku? Hari ini ketemu saja baru sekarang. Aku biasa pergi pagi-pagi saat istriku tertidur pulas. Apa itu yang membuatmu kesal?"


"Memangnya di kantor kehujanan pakai mandi keramas?"


Gerdy makin bingung. "Aku biasa mandi keramas. Jadi aneh tiba-tiba dipertanyakan."


"Karlina maksudnya?"


Nadine mendengus sinis. "Ada calon lain? Laris banget. Satu saja perut buncit belum habis."


Gerdy baru paham. Dia memandang geli. "Ceritanya istriku cemburu? Kamu jadi kehilangan kepercayaan diri sejak perut buncit. Aku tidak tahu Karlina ada di rumah ini. Aku baru pulang kerja."


"Dia barusan dari lantai atas dan wajahmu kelihatan bahagia sekali."


Gerdy menjelaskan dengan sabar. "Karlina dari lantas atas pasti habis dari ruang brankas, menyimpan bukti transfer. Hari ini gajian. Dia bertanggung jawab terhadap keuangan pegawai."


Nadine terdiam. Jadi sudah sejauh itu kepercayaan yang diberikan pada Karlina? Hanya orang istimewa yang mendapat izin masuk ke ruang brankas. Bagaimana jika orang tua Gerdy tahu perjodohan mereka cuma jadi sandiwara?


"Karlina hanya mendapat akses untuk satu brankas," kata Gerdy. "Uang tunai yang ada juga tidak seberapa."

__ADS_1


Akses satu brankas sudah cukup untuk membuktikan kalau gadis itu adalah orang kepercayaan orang tua suaminya, dan uang tidak seberapa di mata keluarga ini adalah sangat berharga buat orang lain.


"Aku kelihatan bahagia karena bulan ini aku dapat bonus," ujar Gerdy. "Nominalnya tidak seberapa. Kebanggaan atas penghargaan hasil kerjaku yang penting."


Wajah Nadine serentak berubah cerah. "Bonus? Suamiku dapat bonus?"


"Dasar perempuan. Urusan duit langsung bermuka manis."


"Siapa yang ingin uangmu?" sambar Nadine keki. "Aku senang karena kerja keras suamiku diakui oleh kantor."


"Uang bonus dan cek dari Wisnu kukira cukup untuk membuat kamar bayi."


"Terserah mau digunakan buat apa. Aku ingin merayakan prestasi suamiku."


"Tidak malam ini. Aku harus ke rumah kakakmu. Dia ngebel aku barusan."


"Dia harusnya ngebel aku, bukan ngebel suamiku. Dia sudah aku kasih nomor kontak."


"Mulai lagi. Sama kakak sendiri cemburu."


"Aku tahu siapa kakakku."


"Kamu ikut kalau begitu. Mami kelihatannya mendesak Katrin untuk mencari Papi. Dia sampai hari ini belum pulang."


Nadine terlena dengan kehidupan di rumah ini sehingga lupa ada masalah yang belum selesai di keluarganya. Dia bingung ke mana harus mencari ayahnya, karena tidak ada yang tahu persis siapa temannya dan tempat yang biasa dikunjungi. Mengherankan juga sampai hari ini belum pulang. Dia tidak membawa apa-apa saat diusir istri mudanya.


"Aku tahu kamu dan Katrin lebih memilih Papi pergi untuk selamanya," kata Gerdy. "Mami adalah istrinya dan kalian harus paham itu."


Nadine mengakui apa yang dikatakan suaminya benar. Mereka tidak mengharapkan kepulangan Papi karena cuma mendatangkan masalah. Tapi hati seorang istri tentu lain. Dia harus menghargai perasaan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2