Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Mahligai Mulia


__ADS_3

"Lihat dulu keadaan di sekitar, beb," kata Nadine sambil siap-siap turun dari mobil. "Jangan sampai ada orang kampung melihat kita."


"Wilayah ini jauh dari kampung kita," kata Gerdy. "Jadi menurutku aman."


Mereka keluar dari dalam mobil. Nadine berjalan agak tergesa sambil menoleh kanan kiri. Dia takut ada orang kampung yang berjualan di kawasan kaki lima. Mereka harusnya berpakaian biasa, sehingga tidak menarik perhatian.


"Jalanmu justru mengundang curiga," sindir Gerdy. "Kita mau nikah, bukan nagih hutang."


"Jangan kelewat pede deh," ujar Nadine cemas. "Siapa tahu ada orang kampung lagi healing."


"Kamu tenang saja," hibur Gerdy santai. "Aku selesaikan baik-baik kalau ada orang kampung yang memergoki kita."


"Kamu sudah banyak keluar duit!"


Kantor Urusan Agama sepi ketika mereka tiba di pintu masuk. Tidak ada tamu antri mengurus keperluan. Barangkali masih pagi. Hanya ada beberapa karyawan sibuk bekerja. 


Dennis ternyata bisa diandalkan. Mereka tidak mengalami kesulitan dalam pemeriksaan administrasi. Prosesi pernikahan berlangsung dengan lancar.


Gerdy tidak perlu bercerita tentang aib mereka sehingga pernikahan ini terjadi, padahal dia sudah siap untuk jujur. Dia tidak mau berbohong untuk sebuah mahligai yang mulia. Petugas KUA sepertinya sudah menerima bocoran dari Dennis.


Air mata Nadine jatuh menitik. Dia tidak tahu entah air mata bahagia atau sedih. Dia pernah berangan-angan ingin melangsungkan perkawinan dengan sebuah pesta besar, dihadiri banyak tamu undangan. Bukan cuma beberapa gelintir orang karena situasi tidak memungkinkan!


"Selamat ya, anakku." Mami adalah orang pertama yang memperoleh kesempatan untuk menyampaikan selamat. "Semoga berbahagia menempuh hidup baru. Kamu sudah mendapatkan apa yang dicita-citakan. Hidup berumah tangga dengan pria pilihanmu."


Dennis mendapat giliran kedua. "Selamat ya. Semoga jadi keluarga Samawa."


Nadine memeluk pria itu dengan erat dan menangis terharu. "Terima kasih ya, Om, mau jadi wali aku."


Ketika Prilly memberi selamat, Nadine berpesan dengan berbisik, "Jangan contoh kakakmu ya. Sekolah yang benar. Jadilah perempuan yang berdaya."


"Jangan inferior, Kak," kata Prilly. "Tes drive sebelum dibeli kan biasa."


"Jangan sampai untuk kamu."


"Iya."


Kemudian pegawai KUA antri menyampaikan selamat. Salah seorang pegawai berkomentar, "Mestinya ada acara foto-foto buat kenangan hari tua. Atau sudah di prewedding?"


Nadine tersenyum. "Cukup dengan kamera digital. Maklum darurat."

__ADS_1


"Jangan suka meremehkan diri sendiri, Non," ujar Mimin yang mendapat giliran terakhir untuk memberi selamat. "Perempuan lain banyak kayak si Non. Mereka tidak malu pesta besar-besaran. Saya malah bangga sama si Non, berani bertanggung jawab. Padahal banyak kesempatan untuk aborsi."


"Kok si Non sih, Min?" protes Gerdy. "Barusan sudah akad."


Mimin tersipu. "Oh, iya...Nyonya."


"Kamu kapan nyusul?" goda Mami. "Sudah kepala tiga loh."


Mimin sedikit tersipu. "Siapa yang mau sama saya?"


"Soalnya seleramu ketinggian," senyum Mami. "Turunkan view sedikit, pasti banyak yang antri."


"Mami kira saya bansos apa banyak yang antri?"


Prilly sibuk mengabadikan setiap momen dengan kamera digital. Gerdy mulanya mau menyewa fotografer, tapi Nadine tidak setuju. Dia mau akad nikah berlangsung secara sederhana, yang penting khidmat. Acara foto-foto di studio dengan berbagai model baju pengantin sudah cukup baginya, dan sudah menghabiskan banyak uang.


Selesai acara akad nikah, mereka pergi ke ruang prasmanan. KUA ini menyediakan ruangan wedding party untuk pasangan yang bermodal kecil. Sewa gedung sangat mahal di kota ini. 


Gerdy bukan tidak mampu untuk menyewa gedung. Dia menginginkan acara resepsi diselenggarakan secara tertutup untuk menjaga kemungkinan tersiarnya kabar pernikahan ini.


Nadine adalah fotomodel yang cukup terkenal di ibukota. Perkawinan mereka bisa berantakan kalau terendus wartawan dan beritanya sampai ke kota satelit.


"Minggu ini ada dinas luar kota?" tanya Gerdy ketika ada kesempatan ngomong berdua dengan Dennis. Dinas luar kota adalah alasan rutin untuk istrinya.


"Jangan mulai deh," geram Dennis. "Aku sudah memenuhi semua permintaanmu."


"Aku juga ingin memenuhi semua keinginanmu."


"Nah, jadi berlakulah sebagai keponakan yang baik. Jangan kurang ajar."


"Aku cuma bertanya, ada dinas luar kota tidak? Apa itu salah?"


"Jelas salah! Kau bertanya di tempat umum!"


"Jadi ada tempat khusus untuk persoalan ini?"


"Ada! Di toilet! Lalu kepalamu dibenamkan ke kloset!"


"Sadis banget si om," seringai Gerdy separuh mengejek. "Aku tidak bermaksud apa-apa. Jangan kecewakan Tarlita, itu saja pintaku."

__ADS_1


Gerdy berharap Dennis sering berkunjung ke Bandung. Dia bingung mencari alasan untuk menolak undangan Tarlita kalau pria itu jarang datang untuk memberi nafkah batin. Datang sesuai jadwal saja, dia sering mendapat undangan tengah pekan. Dia sudah bertekad untuk berhenti dari kehidupan bebas. Jadi tidak ada lagi affair dengan perempuan masa lalu.


"Aku minta kamu jangan macam-macam," kata Dennis. "Aku dan Tarlita bukan target yang menyenangkan bagimu, karena aku pasti tidak tinggal diam."


"Jangan berpikiran jelek tentang aku," sahut Gerdy tenang. "Aku merasa bukan laki-laki kalau memanfaatkan kejelekan laki-laki lain."


"Bagus kalau begitu. Artinya kamu bersedia jadi keponakan yang baik."


"Aku berharap kamu sering berkunjung ke Bandung, tidak hanya week end, dan itu jadi urusanmu untuk selamanya. Tapi jadi urusanku kalau kamu bilang ke Tarlita tentang pernikahan ini."


"Deal."


"Kau tidak ingin tahu kenapa aku minta begitu?"


"Permintaanmu sudah kupikirkan. Jadi jangan ajari aku."


"Usiamu lebih tua dariku, tapi pengalaman payah," senyum Gerdy kecut. "Permainanmu sangat berbahaya kalau tidak berkata jujur sama Tarlita. Kamu sudah membangun mimpi yang membuat semua orang muak."


Nadine heran melihat keakraban mereka. Curiganya tempo hari muncul kembali. Dia mendatangi mereka dan bertanya kepada omnya, "Aku minta Om jujur. Om kelihatan akrab sekali dengan suamiku. Apa Om sudah kenal sebelumnya?"


"Sudah," jawab Dennis pendek.


Nadine kaget. "Di mana?"


"Di rumahku," senyum Dennis. "Waktu kamu perkenalkan sebagai calon suami."


"Sesingkat itu Om bisa akrab?" tatap Nadine tak percaya. "Aku tahu Om sangat selektif memilih teman."


Mami yang baru datang menegur, "Kamu ini aneh sekali. Om sama keponakan akrab jadi masalah. Kamu harusnya bersyukur suamimu bisa diterima oleh keluarga besar kita. Lagi pula, masalahnya apa kalau mereka sudah kenal sebelumnya?"


Mami tidak tahu kekhawatiran aku, keluh Nadine dalam hati. Dia tahu kehidupan Gerdy sangat liar. Pemuda itu adalah predator cinta yang perlu dibenahi setelah berumah tangga. Mungkinkah Om Dennis terlibat skandal dan Gerdy tahu hal itu? Maka itu dengan gampangnya dia bersedia jadi wali. Nadine tidak ingin suaminya dalam masalah!


"Kamu yakin tidak mau cerita?" desak Nadine ketika mereka sudah meninggalkan kantor KUA, berada di perjalanan pulang.


"Ada saatnya kamu tahu," sahut Gerdy santai.


"Kapan saatnya?"


"Ketika kamu dapat memahami seorang laki-laki."

__ADS_1


__ADS_2