
Rumah Surya sepi ketika mereka tiba di halaman. Belum terlihat ada kesibukan persiapan resepsi pernikahan.
Surya mondar-mandir di beranda seperti orang bingung. Dia sampai tidak melihat kedatangan mobil mewah itu.
Surya baru sadar saat mereka menaiki beranda. Dia menyambut dengan wajah ceria, tapi terkesan agak dipaksakan.
"Duduk," kata Surya. "Aku bikin minuman ya."
"Tidak usah, aku tidak lama," sahut Gerdy sambil duduk di kursi teras. Karlina duduk di sampingnya. "Dua hari lagi resepsi kok kelihatan masih sepi? Belum ada persiapan apa-apa."
"Resepsinya di rumah calon istri. Paling besok pasang tenda buat mengumpulkan kerabat dan sahabat."
"Aku lihat tadi kamu mondar-mandir kayak orang bingung," komentar Gerdy. "Ada apa?"
Surya tertawa kecil. "Namanya orang mau kawin bingung itu biasa. Banyak hal yang di luar dugaan terjadi."
"Apa itu?"
Surya memandang Karlina seakan ragu untuk bercerita. Dia tidak sungkan mengadu kepada temannya, tapi malam ini ada orang lain.
Karlina terpaksa tersenyum. "Cerita saja. Aku ini calon istri Gerdy. Jadi bukan orang lain."
"Aku kayaknya kena karma." Surya mulai bercerita. "Barangkali jalan ke pernikahan terlalu dipaksakan, begini jadinya. Pusing tujuh keliling."
"Kenapa?"
"Calon istriku sebenarnya tidak mau menikah dalam waktu dekat. Orang tuaku mendesak untuk segera menikah. Aku terpaksa pakai cara lain agar pacarku bersedia menikah secepatnya."
"Cara lain bagaimana maksudnya?"
"Masih ingat kan aku pernah pesan obat frigiditas ke kamu?"
"Aku titip lewat Karlina. Kurang atau bagaimana?"
"Obat itu sebetulnya bukan buat ibuku, buat pacarku. Nah, rencanaku sukses. Dia mendesak untuk segera menikah karena takut aku lari dari tanggung jawab."
Gerdy tersenyum sedikit. "Kamu kena karma dari aku karena sudah berbohong. Karmanya di mana?"
Surya menunjuk kepala. "Di sini. Kepalaku hampir pecah. Aku dan pacarku mulanya sudah sepakat menikah dengan mas kawin lima gram cincin emas dan bulan madu ke Ciwidey. Menjelang detik-detik pernikahan, dia minta sepuluh gram dan bulan madu ke Lombok. Apa tidak pusing kepalaku?"
"Itu tandanya kamu butuh teman, bukan karma." Gerdy mengeluarkan amplop besar dari balik jaket dan diletakkan di atas meja. "Ini cukup untuk membuat kepalamu adem. Kamu bisa beli sepuluh gram cincin emas dan bulan madu ke Lombok."
Mendung di wajah Surya mendadak hilang. Bibirnya tersenyum ceria. Dia basa-basi, "Pinjaman atau apa ini?"
"Tanda permintaan maafku karena tidak bisa hadir di hari pernikahanmu. Aku ada kepentingan mendesak."
"Aku paham. Terima kasih banyak ya." Kemudian Surya membawa temannya pergi menjauh, dengan minta ijin terlebih dahulu kepada Karlina, "Maaf ya, Lin. Ada pembicaraan sedikit antar lelaki. Aku mau minta tips untuk pertempuran di malam pertama."
__ADS_1
Surya membawa Gerdy ke ujung beranda, lalu berkata, "Selamat ya atas pernikahan kalian. Aku tidak mengira kamu berani nekat. Aku maklum karena itulah jalan terbaik untuk menyelamatkan kehidupan segumpal darah di perut sahabatku. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian. Aku adalah sahabat kalian apapun yang terjadi ke depannya."
"Istriku memberi tahu kamu?"
"Dia ingin berbagi bahagia, sama siapa lagi kalau bukan sahabatnya?"
"Dia cerita pada semua sahabatnya di kampung?"
"Hanya aku, dan hanya aku yang tahu sampai kapanpun."
"Ada satu lagi yang tahu."
"Siapa?"
"Karlina. Jadi buat apa kamu bawa aku ke pojokan kalau cuma untuk ngomong soal ini?"
"Pantesan mukanya kelihatan bete."
"Dia begitu kalau lagi dapet."
Karlina tidak ada cerianya malam ini karena kesal dengan rekaman video syur yang dikirim lewat WA. Gerdy benar-benar memiliki bukti yang membuatnya tidak berkutik.
Karlina heran bagaimana security hotel begitu ceroboh sehingga Gerdy bisa masuk ke kamar secara diam-diam. Mereka sudah melanggar privasi tamu.
"Aku bisa tuntut kalian ke meja hijau," kata Karlina dalam perjalanan pulang. "Kalian sudah melanggar privasiku."
"Brengsek."
"Sudahlah. Aku tidak bermaksud jahat dengan rekaman itu. Aku cuma mau kita kembali ke skenario awal. Perjodohan ini hanya pura-pura di depan kita."
"Bagaimana aku bisa percaya sama orang brengsek seperti kamu?"
"Kamu kadang harus percaya dengan orang brengsek."
Gerdy tidak ada niat untuk mengambil keuntungan pribadi dari video syur itu. Dia hanya ingin Karlina tidak mengacaukan kehidupannya.
Gerdy pasti menghapus rekaman itu kalau mereka sudah menjalani kehidupan sesuai rencana semula. Dia menikah dengan Nadine dan Karlina menikah dengan Robby, sehingga perjodohan mereka tamat.
Karlina sebenarnya lebih diuntungkan. Dia dapat memanfaatkan momen ini untuk mendesak orang tua agar menyetujui hubungannya dengan Robby.
Keuntungan itu bisa dijadikan senjata setelah Karlina lulus kelak. Gerdy tidak mau gadis itu gagal menikah. Dia sudah berjasa karena telah menyelamatkan cintanya, meski akhirnya jadi bumerang bagi diri sendiri.
"Kamu sudah membuat kesalahan besar," sesal Nadine saat suaminya menyampaikan hal itu. Gerdy langsung pulang ke Jakarta karena besok hari pertama kerja. Mereka lagi rebahan di atas kasur. "Kamu seharusnya tidak memberi tahu Karlina tentang pernikahan kita."
"Kamu juga seharusnya tidak memberi tahu Surya."
"Surya tidak mungkin berkhianat. Dia sahabat kita sejak kecil."
__ADS_1
"Karlina juga."
"Bagaimana kamu bisa yakin? Gadis itu bisa saja lapor ke orang tuamu dan kuliahmu jadi berantakan."
"Tidak mungkin."
"Kamu punya bukti untuk balik menghancurkan kalau Karlina sampai lapor ke orang tuamu? Dia bisa saja nekat karena ingin menghancurkan hidupmu. Jadi hidup kalian sama-sama hancur."
"Bukti ini terlalu dahsyat sehingga Karlina tidak mungkin berbuat nekat, kecuali otaknya sudah tidak waras."
"Sedahsyat apa?"
Gerdy mengaktifkan handphone dan mencari video di folder tersembunyi. Kemudian dia sentuh play dan menyerahkan handphone kepada istrinya. Durasi video itu cukup lama karena berisi adegan ranjang secara utuh. Nadine terbelalak melihatnya.
"Biasa saja kali nontonnya," komentar Gerdy. "Kayak belum pernah saja."
"Aku belum pernah!"
Gerdy terkejut. "Masa?"
"Aku sungguh tidak mengira gadis yang sehari-hari demikian lugu ternyata begitu binal di atas ranjang."
"Seperti aku yang sungguh tidak mengira istriku yang sehari-hari demikian binal ternyata begitu lugu di atas ranjang."
"Kamu ingin istrimu binal?"
"Aku ingin istriku melakukan apa yang disukainya."
Nadine menaruh handphone di atas kasur karena durasi sudah habis. Kemudian dia duduk di atas perut suaminya dan mulai membuka pakaian.
"Aku mau mempraktekkan apa yang dilihat," kata Nadine tersenyum mesra. "Kelihatannya yummy banget."
"Sebentar," ujar Gerdy. "Ada yang mau kutanyakan."
"Kamu mau tanya apa?" pandang Nadine tidak sabar.
"Pakaianku buat kerja besok sudah disetrika?"
"Sudah."
"Dasi, sepatu?"
"Sudah. Semua pokoknya sudah. Tinggal kamu belum disetrika. Mau disetrika?"
Gerdy meraih tubuh istrinya ke dalam pelukan, dan berbisik mesra, "Cukup sekali kamu nonton. Aku suka istri yang polos."
"Maksudnya polos gak pakai baju?" kerling Nadine nakal.
__ADS_1
"Baru nonton sekali sudah binal."