
Penghasilan Gerdy sehari-hari sebenarnya cukup lumayan. Banyak orang tertarik dengan jasanya. Malah ada ibu-ibu berlangganan untuk antar jemput anaknya ke sekolah, bayar bulanan.
Anak orang kaya aneh-aneh. Dia merasa lebih keren naik Moge daripada diantar mobil mewah dengan sopir tua. Kalau bercerita, pasti tentang Jakarta tempo dulu, asal usul tugu peringatan. Bosan. Asal-usul papinya saja, dia tidak ingin tahu.
Apalagi tampang Gerdy tidak seperti berandalan, ramah, sopan, simpatik, dan satu lagi; sangat tampan. Tak heran pelanggan kebanyakan perempuan berumur tiga puluh ke bawah. Kalau belanja, tidak kelihatan seperti pembantu dan tukang ojek.
Gadis-gadis seksi itu merasa bagaikan pasangan romantis di film Bollywood. Lagi pula, motor bisa menyelinap dengan lincah di keramaian lalu lintas, lebih cepat sampai tujuan.
Tapi hidup di kota besar sungguh mahal. Baru dapat penghasilan sedikit besar, harga-harga membumbung tinggi, seolah ingin mengusir orang kecil dari kemegahannya. Tak pernah aman dari kejaran periuk nasi.
Tambah tidak aman Gerdy mesti bayar pajak pada sekelompok preman yang menguasai wilayah operasinya. Sebetulnya dia bisa saja mengalahkan mereka. Sekali mengeluarkan jurus bela diri, mereka pasti babak belur. Tapi dia tidak mau ambil risiko. Mereka banyak komplotannya, malah bawa-bawa bendera organisasi.
Jakarta tidak bisa dihadapi seorang diri. Mereka berani karena banyak teman. Kalau terjadi apa-apa dengan dirinya, anak istri merana, kehilangan kepala keluarga. Dia tak mau mempertahankan egonya. Konyol.
Nadine sendiri gajinya cukup besar. Kadang dapat bonus kalau melampaui target penjualan. Tapi pengeluarannya juga besar. Dia perlu menjaga penampilan agar tetap menarik untuk mempertahankan citra pelayanan, dan butuh anggaran tidak sedikit. Belum biaya Idyla dan biaya baby sitter.
Gaji Mimin dan kebutuhan sehari-hari sudah disesuaikan dengan pendapatan mereka. Penghasilan toko tidak diganggu gugat khusus untuk biaya Prilly kuliah dan ditabung kalau ada kelebihannya. Nah, pendapatan Gerdy untuk menutupi belanja dapur saja tidak cukup.
Maka itu Gerdy berusaha menambah pendapatan. Siang hari keliling di perumahan elit dan pertokoan jadi tukang ojek. Malamnya jadi tukang catat turun barang di proyek. Kelompok preman itu yang memberi jalan.
Karena truk barang tidak tentu datangnya, dia jadi sering pulang terlambat. Seperti malam itu.
Gerdy pulang sangat larut. Baju kotor berdebu. Tubuh bersimbah keringat. Wajah tampak letih. Truk batu karang datang sangat telat. Kuli sebagian sudah pulang. Dia terpaksa membantu biar cepat selesai. Lumayan dapat uang bongkar. Nadine sampai menitikkan air mata melihatnya.
"Jangan menangis," tegur Gerdy sambil menghibur istrinya dengan kecupan hangat. "Jangan sampai aku merampok bank karena ingin menghapus air matamu."
Nadine menatap haru. "Kamu kerja apa? Kenapa badanmu kotor sekali?"
"Namanya tukang catat proyek," senyum Gerdy samar. "Kalau mau bersih, jadi tukang catut."
"Jangan memaksakan diri. Nanti sakit."
"Aku butuh uang." Dengan lemah Gerdy menghempaskan tubuh ke atas kasur. Dibiarkan saja istrinya membuka baju dan mengeringkan keringat. "Saat ini cuma tenagaku yang laku dijual."
"Kebutuhan kita sudah tercukupi," hibur Nadine lembut. "Kehidupan seperti apa lagi yang diinginkan?"
"Aku ingin melihatmu bahagia."
"Aku sudah bahagia memiliki suami bertanggung jawab," bisik Nadine merdu. "Kita sudah mempunyai sesuatu yang belum tentu dimiliki orang-orang. Cinta kita lebih kaya dari siapapun."
__ADS_1
Cinta. Nadine selalu mendendangkan simfoni itu. Karena kesetiaan istrinyalah, rumah tangga mereka terjaga.
Meski sudah punya anak, tidak sulit bagi Nadine untuk berpaling pada laki-laki lain. Yang mempunyai masa depan lebih bersinar, dan mampu mewujudkan segala mimpinya.
Gerdy sering memergoki pria terkagum-kagum melihat istrinya. Sebagai lelaki, dia tahu sinar apa yang tersembunyi di balik tatapannya. Mata seorang pria yang bergairah.
Mata itu seolah menyesalkan mengapa perempuan secantik Nadine mau bersuamikan tukang ojek, tukang catat proyek, laki-laki tak punya kasta. Padahal dia bisa mendapatkan juragan ojek, juragan proyek. Kenyataan ini kadang mengiris hati Gerdy.
Dia tak bisa mempersembahkan apa yang semestinya disuguhkan untuk istrinya. Nadine tidak mendapat kebahagiaan yang sebanding dengan keagungan cintanya. Padahal dia berhak memperoleh kehidupan yang penuh warna.
Wanita sempurna seperti Nadine pantasnya tinggal di rumah megah dikelilingi banyak pelayan, naik turun sedan mewah, bukan keluar peluh karena sibuk membantu Mimin di dapur.
Jadi Gerdy tidak menyalahkan ketika mobilnya masuk bengkel untuk servis rutin, Nadine diantar pulang seorang lelaki perlente dengan sedan mewah, padahal biasanya naik taksi atau minta jemput Prilly pakai motor.
"Atasanku," kata Nadine setelah sedan itu pergi. "Direktur marketing."
Tanpa berkata apa-apa, Gerdy membantu istrinya membawa kantong belanjaan. Mereka berjalan masuk rumah.
Melihat suaminya diam saja, Nadine menoleh dan bertanya, "Marah?"
"Aku pasti tidak menyuruh lelaki itu mampir kalau marah," jawab Gerdy santai. "Dan pasti bertanya barang ini belanjaan siapa."
"Sudahlah, aku tidak apa-apa."
"Kamu perlu tahu."
"Buat apa?"
"Karena kau suamiku."
"Tikus got pun tahu aku suamimu."
Gerdy menaruh kantong belanjaan di lemari bayi. Semua belanjaan itu adalah barang kebutuhan Idyla. Di meja kecil ada segelas teh hangat dan beberapa potong martabak telor yang disediakan buat istrinya. Sementara anaknya sudah tidur di ranjang bayi.
Kalau istrinya pulang malam, Gerdy pulang cepat, tidak pergi ke proyek, takut anaknya rewel diasuh baby sitter seharian.
Nadine membiarkan saja suaminya melepas sepatu hak tinggi dan pakaian, sambil berkata, "Sekalian periksa ada bekas selingkuh tidak."
"Aku tidak perlu membuka seluruh pakaianmu untuk mengetahui hal itu, apalagi sampai mencium aroma organ intimmu," ujar Gerdy, menyindir istrinya yang sering melakukan perbuatan itu.
__ADS_1
"Oh, iya. Aku lupa kalau suamiku adalah orang pengalaman. Dia bisa mengetahui perselingkuhan istri dari perlakuan terhadap dirinya. Tidak perlu mengecek organ rahasianya."
"Mulai deh."
"Kamu tidak cemburu aku pulang bersamanya?" pancing Nadine. "Direktur itu lebih muda dari suamiku loh? Dia keponakan pemilik supermarket."
"Ada artinya bagimu?"
Nadine tersenyum menggoda. "Cemburu tandanya cinta. Kamu akrab sama baby sitter saja aku cemburu."
"Punya istri cantik kalau cemburuan makan hati. Aku bisa tidak kerja, tiap hari mengawalmu."
"Aku malahan suka. Jadi aku juga bisa mengawasi suamiku."
"Jadi sopir pribadi maksudnya?"
"Kebetulan bulan depan mobil dinasku turun, ada lowongan tuh, sopir pribadi merangkap suami," canda Nadine. "Waktu kerja, kamu menunggangi mobilku. Waktu off, kamu menunggangi diriku."
"Aku suka dengan pekerjaan saat ini."
"Kamu nggak kuatir aku nanti selingkuh sama sopir pribadi?"
"Aku justru kuatir tidak ada yang mau jadi sopirmu, karena takut jatuh cinta sama bosnya."
Meski Gerdy memberi kebebasan, Nadine tak pernah lagi pulang dengan pria lain demi menjaga perasaan suaminya. Padahal teman kerja banyak yang siap mengantar jemput. Bahkan ada pelanggan yang terang-terangan mengajak selingkuh, tajir pula. Dia tetap pada keteguhan cintanya.
Nadine tahu suaminya bukan semata-mata menaruh kepercayaan. Dia merasa kehilangan wibawa selaku suami. Merasa tak berhak mengatur. Jadi Nadine harus tahu diri.
Dia tidak pernah merasa besar kepala walau penghasilannya jauh lebih besar. Jadi pilar rumah tangga. Dia tidak pernah merasa tinggi hati karena kedudukannya lebih terhormat. Dia tetap menghargai posisi suaminya.
Dia tahu Gerdy kecewa dengan kehidupan yang dijalani. Dia berharap suaminya segera menemukan pekerjaan yang membuatnya percaya diri menatap hari esok. Dia kuatir suaminya frustasi karena obsesinya tidak kesampaian.
Dia lebih suka suaminya pulang ke istana megahnya dan hidup bersama perempuan lain!
Gerdy malah salah tanggap. Dia berkata dengan sangat nyelekit, "Kalau kamu merasa direktur muda itu dapat membahagiakanmu, maka detik ini juga aku pergi. Aku tidak akan pernah pulang ke istana tanpa anak dan istriku, dan kesempatan sudah tertutup. Suatu hari nanti barangkali anakku saja yang bisa pulang karena aku sudah tiada."
Akhirnya Nadine tidak berani lagi untuk mengungkit soal kehidupan sultan yang ditinggalkannya, meski sekedar bercanda.
Akan tetapi, bagaimanapun kokohnya mereka menjalani bahtera rumah tangga, bagaimanapun kuatnya mereka menutupi gelembung perasaan yang membuih, persoalan baru muncul juga. Kali ini datangnya dari anak mereka, Idyla!
__ADS_1