
Nadine yang menunggu kepulangan suaminya di beranda heran melihat Gerdy turun dari taksi. Pikiran jelek melintas di benaknya.
"Mobil disita Umi?" selidik Nadine penasaran saat Gerdy tiba di hadapannya sambil menenteng dua buah dus berisi buku dan berkas.
"Sambutannya kasar banget," sahut Gerdy santai. "Ibuku leasing apa?"
Gerdy masuk ke dalam rumah. Ditaruhnya dus di sudut ruang tamu. Kemudian berjalan melewati ruang tengah dan masuk ke dalam kamar.
Nadine melepaskan tas kuliah dari gendongan suaminya, kemudian mencopot kancing kemeja. Kebiasaan yang belum pernah ditinggalkan selama jadi istri Gerdy: Menyambut di beranda, menanggalkan pakaian dan sepatu, lalu menggantinya dengan pakaian santai.
"Mereka pada ke mana?" tanya Gerdy sambil duduk di tempat tidur, selesai mengenakan baju santai. "Sore begini biasanya ramai di depan televisi."
"Jalan-jalan ke mall. Mimin kan habis gajian. Dia mau mentraktir Mami dan Prilly makan di food court."
"Kamu makin cantik saja setelah punya anak."
"Ada apa suamiku tiba-tiba memujiku?"
"Hanya pujian yang kumiliki saat ini."
"Aku ingin mendengar ceritanya."
"Silvana datang ke apartemen untuk memintaku pulang dan menikah dengan Karlina. Aku memilih menyerahkan semua fasilitas yang dimiliki. Aku tidak punya apa-apa lagi sekarang."
Nadine memeluk suaminya dari belakang dengan mesra, dan berkata, "Masa tidak punya apa-apa lagi? Kamu kan punya aku, dan aku tersanjung diperlakukan di atas semua yang kamu miliki."
"Silvana datang sebenarnya untuk memintaku membawa semua barang yang dimiliki atas perintah Wisnu. Aku tidak mau mereka dapat masalah karena adikku sudah dapat masalah akibat perbuatanku. Dia menggantikan posisiku dalam perjodohan dengan Karlina."
Nadine terkejut. "Maksudmu Wisnu jadi calon suami Karlina?"
"Aku tidak tahu pasti setelah dikirim video syur itu ke Wisnu, apakah Umi tetap menginginkan Karlina jadi nyonya muda?"
Wajah Nadine berubah mendung. "Umi pasti bingung untuk memutuskan. Dia tidak mungkin membeberkan aib itu ke calon besannya karena berakibat fatal bagi Karlina. Aku kasihan sama Umi."
"Umi sendiri tidak kasihan sama kamu."
"Aku pernah jadi nyonya besar selama tiga puluh hari. Tidak layak kalau aku tidak prihatin."
"Aku lebih setuju Andini jadi nyonya muda. Aku terpaksa harus turun tangan untuk memastikan Roby tidak ingkar janji."
"Karlina sendiri kukira lebih memilih Wisnu."
"Aku harap Wisnu tahu bagaimana caranya agar Karlina tidak memilihnya."
Nadine menatap sendu. "Kamu masih berharap untuk dapat pulang ke istana itu?"
"Harapan itu sudah tertutup. Aku sudah menciptakan masalah baru karena berani menolak permintaan Umi untuk menikah dengan Karlina."
"Aku harap kamu tidak menyesal dengan keputusanmu."
"Aku menyesal dengan keputusanku kalau cintamu berubah setelah aku jadi gembel."
"Aku sangat bahagia memiliki dirimu," kata Nadine merdu. "Dan itu berlaku untuk selamanya."
"Meski aku ini gembel?"
"Kamu jadi gembel cuma di mata keluargamu. Mulai sekarang hilangkan standar itu."
"Aku tidak akan menghilangkan standar itu. Aku akan berusaha untuk mencapai standar itu. Jadi crazy rich adalah trahku karena jaman edan cuma tersilaukan oleh materi."
__ADS_1
"Aku tidak mau kamu frustasi kalau mimpimu berantakan."
"Aku tidak akan menyerah sampai mimpi itu terwujud."
"Dengan menempatkan aku jadi nomor dua di bawah karirmu?"
"Aku ingin kaya raya dengan mengusung cintamu."
Nadine khawatir dengan obsesi suaminya. Dia sudah bisa meninggalkan kehidupan mewahnya, mulai suka makanan yang disantap istrinya. Dia lupa dengan keadaannya saat ini, adalah mustahil untuk mengejar obsesi itu. Dia butuh keberuntungan.
"Orang kaya raya adalah orang yang dapat mewujudkan semua keinginannya," kata Nadine. "Kita ingin bulan madu ke Dubai saja perlu menabung dulu."
"Kita bisa pergi hari ini juga kalau ingin bulan madu ke Dubai secepatnya," sahut Gerdy. "Kamu tahu berapa isi rekeningku."
"Pulang bulan madu stres karena rekening kosong."
"Maka itu aku perlu penghasilan besar."
"Penghasilan besar butuh investasi besar. Pekerja di level manapun tetap pekerja."
"Di mana ada kemauan di situ ada jalan."
"Itu majas. Kita hidup di alam nyata, bukan di alam majas."
"Kamu seperti tidak mendukung suami?"
"Jelas tidak. Kamu pasti menempatkan aku di nomor dua kalau sudah berada di level itu. Kamu hanya memiliki sedikit waktu untukku, itu konsekuensinya."
"Ayahku banyak waktu untuk keluarga."
"Ayahmu pengusaha bukan pekerja. Dia bisa mendelegasikan kepada orang kepercayaan untuk mengelola perkebunan. Dia tinggal duduk ongkang-ongkang kaki menunggu rekening bertambah."
"Tidak boleh aku terobsesi jadi pengusaha?"
"Coba kamu minum pil anti hamil hari itu."
"Kamu pasti meninggalkan aku kalau aku tidak memuntahkannya. Kebiasaanmu begitu."
"Jadi jangan menyesal kalau aku gagal jadi crazy rich."
"Aku tidak pernah bermimpi jadi orang kaya raya. Mimpiku sama seperti tetangga, dapat mencukupi semua kebutuhan, dan kita sudah mencapai level itu."
Nadine tersanjung suaminya bertekad jadi orang kaya raya karena ingin memanjakan dirinya bagai permaisuri raja. Menurut Gerdy, istri secantik dirinya tidak pantas tinggal di perumahan ini, harusnya tinggal di perumahan elit dengan banyak pelayan.
'Aku menyesal jadi perempuan cantik kalau obsesimu karena itu," ujar Nadine. "Aku tidak minta macam-macam pada suami, kamu malah ingin memberi macam-macam. Aku takut kamu edan kalau tidak tercapai."
"Aku sudah edan," gumam Gerdy mesra. "Aku tergila-gila padamu."
Nadine melihat gelagat tidak beres dan segera mengingatkan suaminya, "Baru tujuh hari, tiga puluh tiga hari lagi."
"Mencium bibir saja masa tidak boleh?"
"Aku terpancing bagaimana? Kamu enak banyak pelampiasan."
"Pelampiasan apa?"
"Joging, cuci mata. Nah, aku di rumah selama empat puluh hari. Pelampiasan cuma lihat kompor."
Gerdy urung mendekati istirnya. "Aku mau belajar sama Pak Marto yang anaknya sudah banyak, bagaimana cara menahan diri, atau justru tidak menahan diri."
__ADS_1
Nadine menatap sengit. "Jajan di luar maksudmu?"
"Mendingan jangan ngomong soal itu. Aku baru tahu istri baru lahiran sensitif banget." Gerdy bangkit dari tempat tidur. "Aku mandi dulu. Aku mau menyusul mereka ke mall. Kamu tidak apa-apa ditinggal sendiri?"
"Mau cuci mata?" sindir Nadine. "Terus cuci yang lain habis dipakai?"
"Salah lagi aku ngomong. Jadi suami ganteng repot juga ya?"
"Kamu mau apa ke mall? Semua keperluan bayi sudah dibeli."
"Keperluanku belum dibeli. Aku butuh handphone dan laptop untuk persiapan bikin skripsi."
Nadine memandang kaget. "Kamu serahkan juga gadget dan laptop?"
"Barang-barang itu terlalu mewah untuk disimpan di kandang kuda."
"Dulu kamu bilang rumah kita kandang kerbau, sekarang kandang kuda. Besok kamu bilang kandang apa lagi?"
"Aku dulu ngomong asal. Aku belum pernah lihat kandang kerbau sebagus ini."
"Kalau kandang kuda?"
"Kandang kuda Abi jauh lebih indah dan luas dari rumah ini. Kamu sudah pernah lihat kan?"
Nadine melingkarkan lengan di leher suaminya dengan mesra. "Aku tidak tersinggung rumahku disebut kandang kuda karena suamiku seperti kuda ... sangat dahsyat."
"Aku sudah bertahan, kamu mancing-mancing."
"Satu kali saja." Nadine memejamkan mata, terlihat sungguh menggoda. "Please."
"Tidak," jawab Gerdy tegas sambil melepaskan rangkulannya. "Aku terpancing bahaya."
Nadine tersenyum renyah. "Aku cuma ngetes. Selamat berpuasa ya."
Gerdy mengecup bibir istrinya secara tiba-tiba. Nadine bengong. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk mendaratkan kecupan yang kedua.
"Dasar," omel Nadine sambil pergi ke kamar bayi.
Bayi adalah satu-satunya hiburan untuk melupakan kemesraan bersama suaminya.
Nadine tersanjung karena Gerdy memilih meninggalkan kehidupan mewahnya daripada menyerahkan cintanya untuk Karlina. Dia sadar keputusan suaminya membuat jalan menuju ke istana itu semakin terjal, bahkan mungkin tidak akan pernah ada kesempatan.
Nadine sudah merasa cukup dengan memilikinya dan berharap suaminya tidak menyesal dengan keputusan itu.
Mereka bisa membentuk keluarga kecil bahagia. Merajut mimpi indah di tengah ganasnya ibukota. Dia yakin dengan keteguhan cinta, mereka bisa meraih masa depan yang lebih baik.
"Aku cuci mata dulu ke mall ya?" Gerdy muncul di kamar bayi dengan berpakaian rapi. Matanya memandang istrinya separuh menggoda. "Masa disuruh puasa segalanya selama empat puluh hari?"
"Bagus ya," sergah Nadine berlagak marah. "Aku sibuk ngurus anakmu, kamu senang-senang di luar."
"Pria dahsyat kerjaannya begitu," sahut Gerdy menyebalkan. "Kebutuhan dapur apa yang kurang? Aku sekalian belanja."
Nadine tampak surprise. "Kamu tidak malu belanja kebutuhan dapur?"
"Pria takut istri kerjaannya begitu. Kamu catat saja biar aku tidak lupa."
"Sudah semuanya sama si Mimin. Cuma ada yang lupa satu; pembalut habis."
Gerdy terbelalak. "Kamu suruh aku beli pembalut?"
__ADS_1
"Keberatan? Jadi kamu ingin kelihatan belum punya istri di mata ABG?"
Gerdy mengusap-usap kepala.