Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Karma


__ADS_3

Kejadian itu bukan cuma menggoreskan sesal mendalam di hati Nadine. Tapi juga menghadirkan petaka lain, yang tidak bisa dihadapi dengan segurat sesal.


Nadine tak mendapat haid. Dia tahu apa sebabnya. Aib sedang menghampiri pelan-pelan.


Kecurigaan itu memang belum punya bukti nyata. Tapi apa bedanya? Kemesraan mereka di kamar yang sunyi itu sudah cukup memberi gambaran, meski cuma satu kali.


Dia tak mau hamil! Dia takut. Takut sekali. Bukan takut melahirkan. Bukan takut punya anak. Dia tak sanggup menerimanya!


Gerdy terkejut menerima kabar itu, sekaligus tak percaya. Bagaimana sampai lolos? Padahal Nadine sudah minum pil anti hamil melebihi dosis!


Gerdy sengaja datang ke Jakarta malam itu karena Nadine mau menyampaikan secara langsung. Mereka bertemu di sebuah kafe terkenal. Masalah ini tidak mungkin dibicarakan di pondokan. Apalagi situasi makin panas gara-gara mereka gagal week end ke Anyer.


"Bukan jaminan," kata Nadine sambil menyantap hidangan tanpa semangat. "Kita melakukannya tepat pada hari suburku."


"Kau tahu hari subur tapi tidak mengingatkan aku," ujar Gerdy mengambang. "Aku bisa di luar."


Berita itu sungguh di luar dugaan. Dia begitu percaya pada keampuhan pil itu. Atau temannya memberikan obat palsu?


Luki tidak mungkin berani menipunya. Mereka biasa menggunakannya untuk pasangan kencan. Selama ini tidak ada pacar yang kecelakaan, untuk gadis yang pertama kali juga!


"Aku tahu setelah menghitung tanggal," keluh Nadine pahit.


Terlambat, batin Gerdy lemas. Menghitung tanggal setelah kejadian adalah informasi basi. Sebagai calon dokter, dia harusnya tahu dari awal.


"Sudah periksa ke klinik?" tanya Gerdy dengan perasaan berkecamuk tak karuan.


"Percuma. Aku belum pernah telat haid. Apalagi sampai lima hari begini."


"Siapa tahu penyakit."


"Aku sudah tes urine di pondokan dengan test pack. Hasilnya positif."


"Bisa saja keliru."


"Aku ini calon dokter kandungan."


Calon dokter kandungan bisa lolos, gerutu Gerdy dalam hati. Bagaimana mereka yang tidak tahu ilmunya? Pantas saja banyak masalah!


"Baiknya kamu tes sampel darah untuk memastikan," gumam Gerdy. "Tidak cukup test pack."


Nadine terdiam. Tiba-tiba saja muncul harapan baru. Ya! Siapa tahu hasil test pack keliru! Siapa tahu penyakit terlambat datang bulan!

__ADS_1


Uji sampel darah dilakukan di laboratorium. Hasilnya lebih akurat. Tak ada salahnya mencoba, meski sedikit memakan waktu.


Tapi hasil pemeriksaan dokter menghempaskan kembali harapan yang sempat melambung itu. Hasil uji sampel darah di laboratorium adalah positif! Nadine betul-betul hamil!


Ultimatum itu bagai petir di siang bolong menghantam Gerdy, membuat kacau segenap kesadaran. Tapi kata-kata dokter begitu jelas menusuk gendang telinga. Menghembuskan kenyataan yang mesti diterima.


"Anda pasangan yang berbahagia," kata dokter tersenyum. "Pasien saya kebanyakan sudah berumur. Mereka bukan menunda kehamilan, tapi kehamilan tertunda. Ada yang sudah sepuluh tahun berumah tangga belum dikaruniai anak. Anda layak bersyukur."


Bersyukur? Tahukah dokter siapa mereka? Bagaimana bisa bersyukur kalau mereka tak mengharapkan kehadiran bayi itu? Bagaimana dapat berkata-kata pada Tuhan kalau Dia sudah menjatuhkan keputusan-Nya?


Senyum dokter surut separuh. "Kalian kelihatannya tidak bahagia. Apakah kalian...?"


"Tentu saja kami bahagia, sangat bahagia," potong Gerdy tertawa dibuat-buat. Nadine sampai bengong, seumur-umur baru melihat pacarnya tertawa meski sangat hambar. "Kami cuma tidak menyangka karena lebih cepat dari perkiraan."


"Jadi kalian sebenarnya ingin menunda kehamilan?"


"Tidak juga."


"Kami permisi, dok," kata Nadine sebelum dokter menaruh curiga. "Saya sudah tidak sabar ingin segera ngasih surprise ke orang rumah."


"Selamat ya...."


Bagi pasangan suami istri, kehadiran seorang anak merupakan rahmat besar untuk mempererat tali kasih sayang, dan menjaga keutuhan rumah tangga. Tapi bagi mereka, merupakan bencana besar!


Apa yang harus dikatakan Gerdy pada kedua orang tuanya? Bagaimana dia menceritakan aib ini? Baru mendengar kata kecelakaan saja mereka pasti sudah pingsan!


Dia belum siap menerima kehadiran jabang bayi! Meski darah dagingnya sendiri! Terlalu cepat datangnya sebelum dia siap untuk berontak!


"Kau marah padaku?" tanya Nadine membuyarkan lamunannya. Dia baru sadar mereka telah meninggalkan rumah sakit dan berjalan di pelataran menuju ke tempat parkir mobil. "Kau marah aku hamil?"


Marah, pikir Gerdy dengan perasaan tak menentu. Dia justru benci kepada dirinya. Mengutuk kebodohannya. Sekarang apa tanggung jawabnya? Apa cukup dengan menyesal?


"Ini salahku," ujar Gerdy hampir tak terdengar. "Bagaimana bisa marah padamu?"


"Salah kita berdua, Ger," desis Nadine getir. "Kita telah mengotori kesucian cinta kita."


Kesucian cinta, pikir Gerdy kelu. Adakah itu di hatinya? Bagaimana kemesraan itu terjadi kalau ada cinta suci di antara mereka?


"Kita sudah berbuat bodoh," kata Nadine tercekat. "Kita sudah menghancurkan masa depan kita sendiri."


Gerdy diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Tapi dia tahu masalah ini tak dapat diselesaikan cuma dengan menyesal, memaki-maki.

__ADS_1


Nadine curiga melihat Gerdy diam saja. Dia memandangnya lekat-lekat. "Apa yang ada di kepalamu? Kau curiga aku menjebak dirimu?"


Gerdy terkejut. Dia tak menyangka dengan ucapan yang meluncur dari bibir mungil penuh pesona itu. Bagaimana Nadine sampai punya pikiran seperti itu? Padahal dia tahu kehamilannya mempertaruhkan masa depan mereka!


Lagi pula, Gerdy menyaksikan sendiri Nadine minum pil anti hamil. Kebiasaan habis main dengan pacarnya untuk memastikan tidak ada masalah di kemudian hari, kadang mencapai puncak kenikmatan di luar.


Rahim Nadine seakan jadi karma. Satu kali main langsung ambyar! Tapi percuma menggugat Tuhan, semuanya telah terjadi!


"Kamu boleh pergi kalau merasa dijebak," ujar Nadine sadis. "Aku tidak memintamu untuk bertanggung jawab."


"Jadi baperan ya," sahut Gerdy santai, padahal pikirannya pusing bukan main, memikirkan langkah apa yang harus diambil. "Baru punya anak satu dariku sudah panik begitu, bagaimana kalau dua?"


"Anak kembar maksudmu?"


Logika Nadine tidak jalan sehingga perkataannya kurang nyambung. Hasil tes darah benar-benar membuat pikirannya kalang kabut!


Nadine menaruh amplop berisi hasil analisa laboratorium di dashboard mobil. Dia tidak mungkin membawanya ke pondokan. Mereka seenaknya keluar masuk kamar. Tidak ada privasi.


"Jangan simpan di situ," kata Gerdy sambil menjalankan mobil dengan santai. "Mobil ini termasuk obyek yang dicurigai Umi. Maka itu aku melakukan gladi bersih sebelum pulang, bungkus permen karet saja jadi pertanyaan."


"Aku tidak pernah makan permen karet," dengus Nadine ketus. "Biasanya cewek SMA yang doyan permen karet! Itu pasti bekas Karlina! Atau ada cewek lain?"


"Kayaknya bukan saat yang tepat untuk ngobrol...."


"Aku tidak mungkin bawa map itu ke pondokan," tukas Nadine sengit. "Ibu kos pasti pengen tahu."


"Ya sudah, aku lenyapkan nanti di alat penghancur kertas," ujar Gerdy sabar. "Hari ini ibu kos ada di rumah?"


"Dia baru pulang kalau kelelawar sudah keluar."


"Nah, terus tahu dari mana kamu bawa amplop?"


"Teman pondokan tukang ngadu semua!"


"Kamu juga suka ngadu?"


"Aku tidak pernah ngadu ke ibu kos apapun yang mereka lakukan!"


Nadine tidak pernah usil sama mereka. Brengseknya, sejak ada Bradley, apa yang dilakukannya pasti sampai ke ibu kos!


Jika Gerdy menginap di kamar tamu, semua jadi CCTV!

__ADS_1


__ADS_2