Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Hadiah Istimewa


__ADS_3

Gerdy menghentikan kendaraan di depan rumah. Dia membukakan pintu buat istrinya, kemudian mengambil toga yang tersimpan di dalam tas jinjing.


Mereka turun dari dalam mobil. Toko kelihatan sangat ramai.


"Marto dan istrinya keteteran melayani pembeli," kata Mami. "Aku langsung ke toko."


"Istirahat saja dulu, Mam," cegah Gerdy. "Pembeli bisa antri."


"Kita harus memberi pelayanan yang terbaik, mereka tidak boleh menunggu."


Mami pergi ke toko untuk membantu Pak Marto dan istri.


Mereka masuk ke dalam rumah. Mimin langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan hidangan buat makan sore. Prilly masuk ke kamar beristirahat. Minggu-minggu ini dia banyak waktu luang menunggu hasil testing masuk perguruan tinggi negeri.


Nadine menidurkan anaknya di ranjang bayi, kemudian menghampiri suaminya yang duduk di sisi tempat tidur melepas sepatu.


"Biar aku," kata Nadine sambil mencopot sepatunya. "Izinkan aku untuk berbakti padamu selama ada di rumah."


Kemudian Nadine membuka pakaian suaminya. Kebiasaan yang tak pernah ditinggalkan bagaimana pun sibuknya.


Gerdy mengenakan pakaian santai yang diambilkan oleh istrinya, kemudian rebahan di kasur beristirahat.


"Kamu sudah memperoleh apa yang dicita-citakan sejak kecil," kata Nadine seraya berbaring menemaninya. "Bagaimana rasanya jadi sarjana?"


"Ada yang kurang."


"Apa?"


"Kamu belum ngasih kado."


"Aku kasih kado istimewa malam nanti sampai pagi."


"Aku ingin sekarang."


"Kita baru pulang. Tubuhku keringatan. Aku mandi dulu."


Nadine bangkit dari tidurannya, tapi Gerdy menariknya untuk kembali rebahan di sampingnya.


"Sekalian nanti," ujar Gerdy.


"Minta hadiah kok maksa?"


"Kamu tahu apa yang terjadi saat kamu pergi ke toilet untuk ganti popok Idyla di restoran Belle Vue?"


"Apa yang terjadi?"


"Karlina ngasih hadiah, Wisnu juga."


Nadine menatap ingin tahu. "Karlina ngasih hadiah apa?"


"Apa saja yang aku mau."


"Kamu minta apa?"


"Kamu tahulah apa permintaan lelaki untuk gadis secantik Karlina."


Nadine mendelik. "Jadi kamu masuk kamar hotel bersamanya, sementara aku mengurus anakmu?"


"Kok punya pikiran seperti itu?"


"Permintaan apa lagi yang pas untuk perempuan cantik dan seksi?"


"Jadi bercinta adalah permintaan yang pantas untuk perempuan terindah?"


"Tentu saja!"


"Lalu kenapa kamu banyak alasan saat aku minta? Kamu merasa sudah tidak cantik dan seksi?"

__ADS_1


"Kamu lagi membicarakan aku apa Karlina?"


"Aku sedang membicarakan perempuan terindah. Karlina adalah masa lalu dan aku tidak hidup di masa lalu."


"Lalu mereka ngasih hadiah apa?"


"Ada di tas toga. Mereka ngasih cek lima ratus juta."


"Kebetulan," kata Nadine senang. "Kamu bisa beli motor impianmu, tanpa mengganggu rekening kita."


"Kurangnya banyak."


"Yang second saja."


"Second juga tidak cukup. Aku mau keluaran terakhir."


"Bagaimana kalau aku kasih hadiah sekarang?" tatap Nadine mesra. "Apa kurang istimewa dibanding Harley Davidson keluaran terbaru?"


"Nah, kalau ada bonus ekstra bolehlah. Tidak apa-apa aku beli second, yang penting mereknya sama."


Handphone Gerdy yang tergeletak di meja kecil berbunyi. Dia ambil dan melihat layar.


"Siapa?" tanya Nadine sambil mulai bersiap-siap memberi hadiah.


"Surya," jawab Gerdy seraya menerima sambungan dari temannya. "Ada apa, Sur? Ganggu kenikmatan saja."


"Memangnya kamu lagi ngapain? Ngorek kuping pakai bulu ayam?"


"Hari ini aku wisuda."


"Maka itu aku ngebel," tukas Surya. "Aku ingin mengucapkan selamat, dan mohon maaf tidak bisa datang karena kesulitan transportasi subuh tadi."


"Tidak apa. Lagi pula, kamu pasti nyasar di kota besar, bikin aku repot nanti."


"Kamu mendesis lagi makan sambal?"


"Panas-panas begini?"


"Kamar kan adem ada pendinginnya."


Nadine mengambil handphone di kuping suaminya, dan berkata, "Sudah dulu ya, Sur. Kita lagi pesta berdua."


"Eh, bentar dulu! Aku mau laporan!"


"Laporan apa?"


"Mirna menemukan pisau yang sama persis dengan pisau di dalam mimpinya. Tanya suamimu, kapan mau diambil?"


Nadine terkejut. "Pisau? Kamu simpan saja dulu. Suamiku nanti mengambilnya."


"Kapan?"


"Tunggu saja informasinya."


"Beda ya orang kaya sama orang missqueen."


"Bedanya di mana?"


"Panas-panas begini orang missqueen mencangkul gemuk di bengkel, sementara orang kaya mencangkul nganu di kasur empuk."


"Aku yang ngasih hadiah, masa suamiku yang mencangkul?"


"Oh ya?"


"Istrimu belum pernah ya?"


"Boro-boro!"

__ADS_1


"Suruh coba deh. Sudah dulu ya, Sur. Bye." Nadine mengakhiri sambungan dan menaruh handphone begitu saja di meja kecil. "Surya sudah memegang barang bukti pisau dengan bentuk seperti dalam mimpi istri tukang kebun."


"Aku ambil malam nanti."


"Malam nanti kita tidak keluar kamar sampai matahari terbit."


"Berarti besok pagi."


"Kalau pisau sudah ada di tanganmu, terus mau apa?"


"Entahlah."


Gerdy tidak tahu apa yang akan dilakukan dengan pisau itu. Barangkali akan disimpannya sementara menunggu ditemukan bukti baru.


"Hadiahmu seakan memberi spirit untuk meningkatkan penyelidikan pada tahap yang paling menentukan."


"Apa itu?"


"Aku mau tahu di mana Papi dikuburkan. Tapi aku tidak tahu bagaimana mengetahui lokasinya. Aku perlu tukar pikiran sama Surya."


"Pikiranmu sudah terpola karena mimpi berturut-turut sehingga akhirnya pelaku menjurus kepada kakakku."


"Aku tidak menjadikan Katrin tersangka utama, dan tidak mau ada tersangka dalam kasus ini. Aku cuma ingin bukti kalau Papi sudah tiada untuk meyakinkan Mami."


Mertuanya perlu dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa suaminya sudah tewas, dan bisa percaya kalau ada bukti tak terbantahkan. Mami perlu menjalani hidup baru dan meninggalkan masa lalu.


"Aku mendukung kamu untuk menemukan bukti kuat untuk meyakinkan Mami akan kebahagiaannya yang selama ini terbengkalai," kata Nadine dengan tubuh bersimbah keringat. "Pak Hamdani sudah bertanya tiga kali ke aku mengenai status Mami."


Hamdani adalah tetangga seberang rumah, supervisor di sebuah perusahaan yang ditinggal mati istrinya. Dia butuh ibu buat kedua anaknya yang masih di bawah umur, dan tidak masalah meski usia mereka terpaut lumayan jauh. Pesona Mami tidak tertutup oleh usianya yang hampir kepala lima.


"Kamu mau menjodohkan Mami dengan Pak Hamdani?" tanya Gerdy.


"Aku kira Pak Hamdani suami pengganti yang jauh lebih baik."


"Cinta kadang tidak melihat keadaan."


"Lalu melihat apa?"


"Melihat sesuatu yang susah untuk dimengerti. Seperti aku, sampai detik ini aku tidak paham mengapa berani meninggalkan kehidupan yang gilang-gemilang cuma untuk seorang perempuan dari keluarga tidak bermartabat, padahal bisa mendapatkan perempuan yang lebih cantik dari keluarga terpandang."


Keliaran Nadine serentak berhenti, bukan karena ucapan suaminya yang menusuk itu, Idyla menangis. Dia segera pergi ke kamar bayi.


"Kenikmatan aku dirampok oleh anakku sendiri," gerutu Gerdy. "Untung tidak kembar."


"Kamu ingin Mami menggedor-gedor pintu kalau kita teruskan permainan sampai sudah?" balik Nadine sambil menyusui anaknya. "Tangisan anakmu terdengar ke toko."


Gerdy mengambil handphone di meja kecil dan menghubungi Surya.


"Kamu masih di bengkel?" tanyanya.


"Ya," jawab Surya. "Lagi istirahat. Capek juga mencangkul gemuk."


"Kok bisa sama ya? Temanmu juga lagi istirahat karena menyusui anaknya."


"Kalian belum selesai? Lama betul!"


"Minggu ini aku ke rumahmu untuk mengambil pisau."


"Aku tunggu."


"Sekalian membahas misi selanjutnya."


"Misi apa lagi? Aku kira sebuah pisau tidak bercerita apa-apa, sekedar barang bukti dari mimpimu dan mimpi Mirna."


"Kita bicarakan nanti saja. Aku belum tahu apa pisau itu bercerita atau tidak tentang kasus ini, aku perlu melihatnya."


"Pisau itu sering dipakai memotong sayuran oleh Mirna."

__ADS_1


"Tidak masalah. Aku cuma mau memastikan apa pisau itu sama dengan mimpiku."


__ADS_2