Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Kok Jadi Begini


__ADS_3

Mengunjungi orang sakit adalah kebiasaan langka di kelurahan ini. Paling antar saudara saja. Kalau antar tetangga, jarang sekali.


Jadi sangat surprise jika Surya membawa buah tangan cukup banyak. Dia turun di depan gerbang rumah Katrin. Meski perempuan itu sudah pulang bulan madu, dia tidak akan mengenali mobil kreditan ini.


"Aku langsung pulang ya, Sur," kata Gerdy.


"Hati-hati pisaunya. Kau kena sweeping nanti. Hari ini di kota kecamatan ada demo."


"Aku tidak lewat kota, sedikit jauh tapi tidak kena macet."


"Bagusnya begitu."


Surya turun. Mobil Gerdy melesat pergi. Dia tidak mau orang-orang di rumah itu mengenali mobilnya. Orang-orang Datuk Meninggi pasti bisa melacak dan akhirnya ketahuan alamat rumahnya.


Surya membuka pintu gerbang yang tidak terkunci dan memasuki pelataran rumah sambil menjinjing beberapa kantong plastik berisi bingkisan.


Surya memencet bel. Mirna muncul dari dalam rumah mengenakan daster.


"Kang Dudung kemarin update status lagi sakit, apa benar?" tanya Surya.


"Oh iya, kena demam," jawab Mirna. "Sejak kemarin tidak bangun-bangun dari tempat tidur."


"Nyonya ada?"


"Sudah pergi lagi. Katanya mau bulan madu ke Bali, terus pergi ke Eropa."


Sial, gerutu Surya dalam hati. Tahu Katrin pergi cukup lama, Gerdy disuruh mampir tadi, sekalian menginap. Jadi mereka leluasa melakukan penyelidikan.


"Masuk, Sur," kata Mirna.


Surya masuk, Mirna menutup pintu. Buah tangan diserahkan kepadanya.


"Pakai bawa oleh-oleh segala," ujar Mirna.


"Tidak apa-apa," sahut Surya. "Kang Dudung tidak dibawa ke klinik?"


"Besok kalau panasnya tidak turun-turun."


"Baiknya hubungi satgas pandemi. Dia ada asma, kan?"


"Sekarang suka kambuh."


"Maka itu hubungi satgas untuk menelisik penyakitnya."


"Langsung saja ke kamar di belakang, Sur," kata Mirna. "Dia pasti senang lihat teman begadangnya datang."


"Si Emi nggak kelihatan?"


"Biasa...dia suka kabur-kaburan kalau Nyonya tidak ada."


Surya sengaja berjalan sedikit lambat supaya dapat melihat situasi di dalam rumah. Dia tidak menemukan hal yang mencurigakan pada furnitur dan perabotan yang ada. Lagi pula, dia bingung bukti apa yang perlu dicari.


Kunjungan hari pertama kelihatannya tidak akan memperoleh hasil yang memuaskan. Surya susah untuk mendeteksi keberadaan Papi terakhir kali di rumah ini. Ketahuan dari apanya?

__ADS_1


Dia tidak hapal barang-barang miliknya. Dia hanya tahu kebiasaannya yang sudah jadi buah bibir masyarakat; judi, mabuk, main perempuan.


Tidak ditemukan kartu, botol minuman, atau alat kontrasepsi di bufet dan lemari kaca yang dilewatinya.


Dudung hendak bangun dari berbaringnya ketika Surya masuk ke dalam kamar diantar istrinya. Mirna menaruh bingkisan di meja kecil.


"Sudah tiduran saja," cegah Surya. "Aku kehilangan teman main catur dua hari ini."


"Terima kasih sudah menjengukku," sahut Dudung sambil berbaring lagi. "Terima kasih juga oleh-olehnya. Baiknya kita jaga jarak. Aku kuatir kena penyakit kekinian."


"Maka itu aku minta istri Akang untuk menghubungi satgas pandemi," ujar Surya. "Aku bawa makanan dan minuman kesukaan Akang. Aku tidak lama di kamar ini. Semoga lekas sembuh."


"Terima kasih, Sur."


Surya pergi. Matanya dengan lincah membaca situasi di sekitar. Banyak ruangan tertutup. Dia harus mencari akal agar bisa memeriksa ruangan itu.


"Boleh aku numpang ke toilet?" tanya Surya.


"Oh, boleh, boleh."


Surya masuk ke toilet khusus pembantu. Dia sengaja berlama-lama di dalam karena tahu cuaca di luar mendung pekat. Jika turun hujan, maka banyak waktu untuk berada di rumah ini.


Surya tersenyum minta maaf saat keluar Mirna setia menunggu di muka pintu. "Lama ya nunggu?"


"Oh, tidak apa-apa."


Mereka tiba di ruang tamu, disambut petir menggelegar dan listrik padam, kemudian hujan turun sangat lebat.


Surya pura-pura gelisah, padahal hati tersenyum.


"Tunggu saja sampai hujan berhenti, Sur," tukas Mirna. "Payung ada, cuma aku lupa di mana menyimpannya."


Padahal Mirna takut mencarinya sendiri. Gelap-gelapan lagi. Terang benderang saja keadaan di dalam rumah kelihatan seram. Entah kenapa. Barangkali karena rumah ini terlalu besar.


"Kalau tidak keberatan, kita cari payung sama-sama," kata Surya. Dia tahu Mirna penakut. "Hujan gelagatnya sampai malam."


"Aku bisa mencari sendiri," senyum Mirna. "Cuma pas payung ditemukan, hujan pasti sudah berhenti."


Suasana di dalam rumah gelap karena tidak ada lampu emergency. Generator kayaknya bermasalah, padahal seharusnya otomatis hidup saat listrik PLN mati.


"Aku cari lilin dulu," kata Mirna. "Buat di kamar suamiku. Kau punya korek?"


"Ada." Surya menyerahkan geretan gas yang dibawanya. "Berani sendiri?"


"Kalau masih siang, aku berani biar gelap juga."


Mirna pergi. Surya memanfaatkan kesempatan itu untuk memeriksa beberapa ruangan. Dia tidak menemukan sesuatu yang aneh. Biasanya ada hawa negatif jika di rumah ini pernah terjadi pembunuhan. Dia tidak merasakan tanda-tanda keberadaan makhluk astral.


Pikiran Surya buntu. Dia tidak menemukan ide untuk menemukan bukti tentang pembunuhan Papi. Sore ini cukup anjang sana saja. Dia tidak memiliki insting handal untuk membaca situasi yang baru dilihatnya ini.


Mirna datang dengan membawa lilin dan secangkir kopi. Minuman ditaruh di meja. Hari mulai gelap.


"Aku pulang saja, Teh," kata Surya. "Hari mulai malam."

__ADS_1


"Tunggu agak reda," cegah Mirna. "Hujan deras begini kamu sakit nanti. Minum kopinya."


Surya meneguk kopi, kemudian bertanya, "Nyonya tidak marah kalau kalian menerima tamu?"


"Aku tidak tahu. Kami belum pernah menerima tamu."


Lilin padam tertiup hembusan angin yang masuk lewat pintu yang terbuka. Pintu itu sengaja dibuka, ruangan terasa pengap karena semua ventilasi kedap udara.


Suasana gelap gulita.


"Kau bisa membetulkan generator, Sur?" tanya Mirna.


"Aku tahu sedikit-sedikit," jawab Surya. "Switch otomatisnya barangkali tidak berfungsi."


"Kenapa tidak bilang dari tadi kalau kamu bisa?" gerutu Mirna. "Ayo kita betulkan, generator ada di belakang rumah."


Mereka bangkit dari sofa. Petir menyambar pintu sangat keras. Mereka kaget dan jatuh bertubrukan ke sofa dengan posisi Surya menindih Mirna.


Ruangan sunyi. Tidak ada suara apapun dari sofa. Di luar hujan semakin deras.


Entah bagaimana ceritanya, beberapa lama kemudian terdengar erangan Mirna dan bunyi derit kayu ukir sofa.


"Oh, Sur...ssshht...aah.... Kok jadi begini?" desah Mirna. "Kamu kan mau membetulkan generator?"


"Aku tidak tahu...," desis Surya. "Terus gimana?"


Erangan Mirna makin berisik merobek gemuruh hujan seakan memberi pertanda untuk sampai selesai.


Pada saat segalanya berakhir, Surya melihat Papi berdiri menyaksikan di pintu ruang dalam dengan pisau tertancap di dada, lalu berbalik pergi.


"Aku ke toilet sebentar," kata Surya pada Mirna yang terkapar di sofa.


Dia segera berjalan menuju ke ruang dalam. Matanya berusaha beradaptasi dengan kegelapan di sekitar, dan jadi mudah untuk membuntuti karena kilau cahaya pisau di mana Papi sesekali menoleh ke arahnya.


Pria itu berjalan melewati dapur dan keluar lewat pintu belakang. Dia berdiri sebentar di ujung beranda dan menengok. Untung Surya seorang pemberani, jadi tidak jatuh pingsan melihat wajah pucat pasi yang begitu nyata.


Kemudian Papi melangkah ke halaman menerobos derasnya hujan.


Surya berdiri di beranda memperhatikan gerak geriknya. Dia dapat melihat dengan jelas ke arah mana perginya. Papi menghilang di belakang pendopo kecil.


Surya segera menghubungi Gerdy dan menceritakan peristiwa itu.


"Kamu meniduri Mirna ya sehingga bisa melihat roh Papi?" selidik Gerdy kaget.


"Boleh dibilang kecelakaan," sahut Surya jujur. "Semua terjadi begitu saja."


"Aku minta kamu segera pulang," kata Gerdy. "Kamu sudah berkhianat pada istrimu."


Surya bengong. Kok jadi begini?


"Istrimu begitu percaya padamu. Kita hentikan penyelidikan ini demi kebaikan rumah tanggamu."


"Tapi...."

__ADS_1


"Aku minta kamu segera pergi dari rumah itu."


Surya jadi bingung. Dia sendiri tidak tahu bagaimana peristiwa itu terjadi. Tapi haruskah penyelidikan berakhir tanpa kepastian?


__ADS_2