
Mami berjalan-jalan di taman belakang. Taman terlihat asri karena sudah ada tukang kebun yang mengurusnya.
Mami duduk di pendopo kecil di mana suaminya biasa bersantai kalau tidak ada kegiatan. Pendopo ini jadi kenangan terindah manakala suaminya pergi entah ke mana.
"Pak," panggil Mami pada tukang kebun yang lagi memangkas bunga.
"Ada apa Kanjeng Mami?" tanya tukang kebun.
"Lubang di belakang pendopo siapa yang nguruk?" tanya Mami. "Waktu aku pergi, belum rapi begitu."
Cangkul dan garpu tergeletak begitu saja sampai karatan. Lubang dibiarkan ternganga jadi sarang nyamuk.
"Saya tidak tahu, Kanjeng Mami," jawab tukang kebun. "Pertama kali saya masuk kerja sudah begitu."
Mami tersenyum senang. Berarti Papi yang menguruk. Lubang itu adalah cermin kebodohan suaminya yang telah tertipu oleh paranormal.
"Aku bersumpah akan membiarkan lubang ini tetap terbuka untuk mengingatkan diriku pada keledai," kata Papi waktu itu. "Jika kau melihat lubang ini tertutup, berarti aku bukan lagi keledai, sudah berhenti mabuk, berjudi dan main perempuan."
Berarti Papi sudah bertobat, batin Mami terharu. Dia menguruk lubang untuk membuktikan bahwa dirinya bisa berubah.
Seharusnya Mami bersabar menunggu saat itu tiba, bukan pergi ke rumah anaknya. Jadi bukan kesalahan Papi semata ketika mengambil Leny sebagai istri muda. Dia butuh selimut untuk menghangatkan pembaringan yang dingin.
Papi adalah pria tua yang masih perkasa di atas ranjang, meski butuh suplemen.
Kini pertobatan itu hanyalah fatamorgana yang menghiasi catatan indah masa lalu. Papi tidak ketahuan di mana rimbanya.
Karena masa lalu, Mami mampu bertahan dari perlakuan kasar suaminya. Hidup tidak selamanya indah.
Mami mungkin perempuan bodoh, tak pernah melapor ke polisi padahal hampir setiap hari mengalami KDRT. Barangkali karena dia tidak mau terlihat pintar demi masa-masa indah di masa lalu.
Buat apa lapor kalau ujung-ujungnya rumah tangga hancur, atau justru memaafkan dengan menerima kehadiran suaminya kembali? Cuma membuka aib keluarga!
Wajah Mami berubah masam begitu melihat siapa yang muncul di pintu belakang, sekaligus menyadarkannya kalau tukang kebun sudah pergi ke tempat lain.
"Jutek banget," senyum Sastro. "Tapi manis."
Sungguh ucapan yang tidak pantas ditujukan kepada mertua. Mami mencium ada aroma busuk di balik pujian itu.
"Seharusnya kamu sudah berangkat ke rumah sakit," kata Mami. "Beberapa jam lagi istrimu melahirkan."
"Justru itu aku ke sini ingin mengajak Mami." Sastro duduk di sampingnya. "Masa Mami tidak menyambut kehadiran cucu?"
Mami terdiam kelu. Sungguh tidak pantas disebut cucu. Anak itu lahir bukan dari benih Sastro. Dia memilih untuk tidak melihatnya dan segera diambil oleh istri pertama menantu bajingan itu.
"Tapi melihat Mami demikian cantik pagi ini, aku jadi berubah pikiran untuk menunda keberangkatan beberapa jenak."
Mami mendelik. Dia tahu maksud dari kata-kata itu.
"Apa kamu sudah gila?" geramnya. "Kamu minta bercinta padaku di saat istrimu berjuang antara hidup dan mati?"
Pada detik-detik terakhir, Katrin memutuskan untuk melahirkan secara normal, tidak caesar. Dia takut sayatan-sayatan di perutnya berbekas.
__ADS_1
"Aku tidak tahu siapa yang gila." Sastro tersenyum sinis. "Aku, istriku, atau Papi."
"Tiga-tiganya," sambar Mami ketus. "Rumah ini jadi kacau gara-gara banyak orang gila."
"Tapi binatang cuma ada satu."
"Kau mengaku dirimu bukan binatang?" tatap Mami muak. "Sementara kau sudah membuat aku jadi binatang?"
"Karena aku tidak kebagian sama Papi," jawab Sastro tanpa beban. "Aku heran Papi begitu bernafsu sama perempuan hamil tua. Apa sama Mami dulu begitu?"
"Jangan sok tahu."
"Sok tahu adalah perbuatan yang paling kubenci." Sastro membuka galeri handphone dan memutar sebuah video. Tampak Papi dan Katrin lagi beradegan doggy di kamar mandi. Perut besarnya sampai terombang-ambing. "Aku sampai kuatir dengan bayinya."
"Kalau kuatir, kenapa mereka tidak dihentikan?"
"Aku pernah merasakan bagaimana sesaknya dihentikan saat mendaki ke puncak kenikmatan. Untung aku lolos dalam penggerebekan."
"Lalu tujuannya apa direkam?"
"Untuk membuktikan kalau aku bukan orang sok tahu. Aku bahkan pura-pura tidak tahu kalau anak dalam perutnya adalah bibit dari siapa."
"Hapus video itu."
"Ada syaratnya." Sastro tersenyum keji. "Tidak ada yang gratis di dunia ini."
Mami memandang sebal. Tapi dia tak berdaya. Video itu sangat berbahaya kalau tersebar luas.
Sebenarnya Mami bisa saja menolak. Sastro pasti tidak berani untuk menyebarkan video itu. Dia pasti takut jadi gelandangan. Tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk menolak. Katrin sedang berjuang untuk sesuatu yang dia tidak boleh tahu!
"Aku senang sekali mendengarnya," seringai Sastro puas, lalu menyodorkan handphone. "Silakan hapus."
***
Sastro mengendarai mobil dengan kencang menerobos keramaian lalu lintas. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya sejak berangkat.
"Aku lihat kau ceria sekali hari ini," kata Mami. "Kau pasti sangat bahagia atas kelahiran bayi itu, yang nantinya dijadikan mesin pencetak uang. Istrimu akan segera mewariskan seluruh hartanya pada anak itu, karena usianya tidak lama lagi. Di antara berkas tes DNA yang diberikan padaku terselip vonis dokter tentang penyakitnya. Kau sungguh suami yang sangat licik."
Sastro tertawa lembut. "Aku sengaja menyelipkan surat vonis dokter itu agar kau tidak main-main denganku, bahwa semua keputusan ada di tanganku."
"Kau bisa jadi gelandangan dalam hitungan detik kalau aku lapor pada istri pertamamu."
"Kau punya bukti apa mau lapor sama si Rini?" toleh Sastro melecehkan. "Kau cuma dengar omongan dariku. Hasil tes DNA sudah dibakar. Istri pertamaku pasti lebih percaya pada suaminya. Kalau tidak percaya, silakan buktikan."
Sastro menyodorkan handphone, ia menantang, "Ceritakan semuanya, aku mandul, anak yang dikandung si Katrin bukan anakku, dan aku ingin menguasai seluruh hartanya. Ayo ceritakan."
"Kau cuma menumpang hidup pada anak orang lain."
"Jadi Mami menginginkan anak itu tidak diakui sebagai darah dagingku?"
Mami mengakui Sastro memegang kendali atas apa yang terjadi. Dia bisa merekayasa kejadian sesuai kebutuhan dirinya. Rini tidak mungkin percaya pada orang yang cuma kenal sekilas.
__ADS_1
Untuk jadi crazy rich selalu saja ada jalannya, entah jalan lurus atau bengkok.
Mami sudah berbuat ceroboh, tidak memfotokopi hasil tes DNA, atau sekurangnya difoto dan disimpan di dalam handphone.
"Tapi sebenarnya bukan itu yang membuatku sangat senang hari ini," kata Sastro.
"Terus apa yang membuat dirimu senang?"
"Mami."
"Karena aku bersedia datang ke rumah sakit sesuai permintaanmu?"
"Karena aku bisa memakai Mami di mana saja setelah pulang dari rumah sakit," seringai Sastro liar. "Mami mau menarik kembali kata-kata itu?"
Percuma menarik kembali kata-katanya karena Sastro pasti tidak peduli!
"Kau mau pakai aku di mana?" tanya Mami dingin.
"Pertama dipakai di mobil, kemudian mampir di hotel, terakhir di rumah."
Bedebah, geram Mami dalam hati. Suaminya saja belum pernah memakai tiga kali dalam sehari, kecuali masa-masa indah dulu. Pagi dan sore saja, saat pulang dan pergi berjudi.
"Kau pasti tidak kuat, meski aku hampir separuh baya," ejek Mami. "Jadi kau cuma kepingin puas sendiri. Maka itu Katrin cari kepuasan pada pria lain, meski pria itu adalah ayah kandungnya sendiri."
"Mami minta kepuasan dariku?" tatap Sastro tak percaya.
"Maka itu aku minta kau minum obat vitalitas," sahut Mami sambil mengeluarkan serbuk putih dalam kemasan plastik dari dalam tas. "Kau ingat serbuk ini?"
"Aku beli buat Papi. Katanya reaksinya lambat, tapi kekuatannya sungguh luar biasa. Mami sampai termehek-mehek."
Ucapan menantunya makin kurang ajar saja. Tapi Mami berusaha sabar. Dia mengeluarkan air mineral dari kantong belanjaan, membuka tutupnya, lalu menuangkan serbuk seluruhnya, dikocok sebentar, setelah itu diserahkan pada menantunya.
Sastro semangat sekali minum sampai air mineral tak bersisa.
Mami tersenyum ... senyumnya terlihat aneh sekali....
Di rumah, Mami sudah menukar serbuk itu dengan obat tidur dosis tinggi. Dia ingin melakukan harakiri untuk menghapus cerita hitam selamanya.
Selama Sastro masih hidup, selama itu pula dia jadi ancaman bagi keluarganya. Mami ingin menyelamatkan kehidupan Katrin dan anaknya dengan kematian mereka berdua.
Beberapa saat kemudian Sastro dilanda rasa kantuk luar biasa, dan tertidur.
Mobil lepas kendali dan menabrak pembatas jalan tol dengan kecepatan tinggi. Mobil terbang dan jatuh terguling di aspal.
Sastro tewas seketika. Nyawanya melayang bersamaan dengan kelahiran anaknya di rumah sakit.
Sementara Mami masih bisa diselamatkan. Dia dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan.
Rini sangat terpukul kehilangan suaminya. Dia mengira kematiannya akibat terlalu bahagia menyambut kehadiran sang bayi sehingga lalai dalam berkendara.
Di kamar perawatan, Katrin meneteskan air mata. Sesuai perjanjian kontrak, pernikahan berakhir setelah kelahiran bayi. Tapi Sastro pulang ke pangkuan istri pertama, bukan pulang ke alam baka.
__ADS_1