Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Cemburu Selalu Ada


__ADS_3

"Aku takut, Ger," keluh Nadine lirih sambil merebahkan kepalanya di dada pemuda itu. "Sebentar lagi perutku ada perubahan."


Mereka sedang duduk berdua di pantai Ancol. Masalah ini tak bisa dibicarakan di pondokan. Ketahuan teman-temannya bahaya, jadi gorengan dahsyat untuk ibu kos. Lagi pula, Gerdy tidak pernah datang lagi ke pondokan sejak perayaan ulang tahun itu.


"Aku juga takut, Nad." Gerdy membelai rambutnya dengan lembut. "Tapi itu tidak cukup untuk menghadapi semua ini."


"Kita tidak mungkin begini terus sampai perutku membesar."


"Kamu ingin kita menikah?"


Nadine diam. Siapapun ingin hidup bersama pria yang dicintainya, pria pilihannya. Tapi kalau sebelum waktunya?


Mendengar tak ada jawaban, Gerdy curiga. Dia mengangkat dagu gadis itu. Ditatapnya lamat-lamat. "Benar apa yang kukatakan, Nad? Kamu ingin kita segera ke penghulu?"


"Aku ingin kamu segera lulus," desah Nadine getir. Disingkirkannya lengan Gerdy dengan halus. "Kamu harus berhasil mencapai cita-citamu."


"Kamu juga."


"Aku sudah gagal."


Cita-cita Nadine sudah kandas bersama hadirnya jabang bayi dalam perutnya. Sekarang dia bukan harus jadi dokter, tapi bolak-balik ke dokter memeriksa kandungannya.


"Aku tak mau kamu mengikuti jejakku."


"Kamu sudah keburu melahirkan sebelum aku jadi sarjana, Nad," desis Gerdy tawar. Matanya bersorot hampa ke hilir mudik motor boat yang memecah ombak. "Aku tidak bisa meneruskan kuliah karena ada tanggung jawab yang lebih besar."


"Aku tidak minta kamu untuk menafkahi aku."


"Di dalam rahimmu ada anakku."


"Kamu harus menyelesaikan studimu. Aku tidak mau mimpimu hancur karena kehadiran bayi di perutku. Jadi sarjana adalah cita-citamu sejak kecil."


"Lalu kamu dan bayimu bagaimana?"


"Urusanku."


Gerdy menatap separuh protes. "Maksudnya apa, Nad? Yang menghamili kamu adalah aku."


"Sementara kamu belum lulus kuliah," jawab Nadine lembut. "Setelah jadi sarjana, aku dan anakku jadi urusanmu."


"Kamu tinggal di mana selama menunggu aku selesai kuliah?"


"Aku bisa sembunyi."


"Di mana kamu bisa sembunyi? Di apartemenku?"


"Boleh aku tinggal di sana?"


"Kamu aman tinggal di sana."


"Bullshit. Pemilik apartemen sering memeriksa ke setiap sudut kamar. Kamu mau menyembunyikan aku di dalam lemari?"

__ADS_1


"Kamu tahu dari mana Tante Friska sering sidak?"


"Aku cuma mengira-ngira, ternyata benar. Jadi Tante Friska sering kontrol? Sekalian cari sugar baby kayak kamu ya?"


"Dalam situasi begini, curigamu tidak hilang."


"Cemburuku selalu ada selama nyawa belum berpisah dengan raga, karena aku cinta kamu."


"Kamu tidak mungkin tinggal di pondokan."


"Aku akan pindah."


"Lalu di tempat baru kita pura-pura jadi pasangan suami istri? Karena mereka tidak tahu asal usul kita?"


Nadine mengangguk lemah. "Tapi kita tidak tinggal bareng. Kamu tinggal di Bandung meneruskan kuliah, aku menunggu kelahiran bayi di tempat tinggal yang baru."


"Tidak mungkin."


"Apanya yang tidak mungkin?"


"Tinggal di rumah kontrakan butuh KTP atau KK. Status kita belum kawin. Masa punya bayi?"


"Namanya pura-pura, ada banyak alasan. Yang penting setiap minggu kamu sempatkan waktu untuk datang seperti saat ini, untuk membuktikan kepada mereka kalau aku ini punya suami."


"Aku tidak bisa bersandiwara untuk masalah besar."


"Kamu boleh memintaku untuk menikah kalau sudah jadi sarjana nanti."


"Meminta? Kamu ingin aku melamarmu?"


"Tidak mungkin."


"Kamu mau lari dari tanggung jawab?"


"Tidak mungkin aku melamarmu setelah aku jadi sarjana. Kamu mau bayi itu lahir tanpa ayah?"


"Setidaknya punya seorang ibu."


"Tapi itu gila, Nad!"


"Ada ide lain?"


Gerdy tersedak. Dia sendiri bingung. Kalau semua tidak mungkin, lalu apa yang mungkin?


"Kita nikah saja sekarang," gumam Gerdy pahit. Pikiran itu muncul begitu saja di benaknya. "Biar anak dalam perutmu tidak punya sejarah terlalu buruk."


"KUA mana yang mau menikahkan kita?"


"Mereka tak punya pilihan."


"Kita yang tak punya pilihan," sambar Nadine muram. "Ini satu-satunya jalan buat kita. Aku tidak mau kuliahmu terganggu karena tanggung jawab sebagai suami. Ada saatnya nanti untuk jadi seorang ayah."

__ADS_1


"Bagaimana alasanmu ke ibu kos?"


Keluar dari sana memang tidak mudah, harus punya alasan kuat. Dan saat ini mencari alasan yang masuk akal rasanya sulit. 


Ibu kos sangat baik. Dia begitu memperhatikan anak-anak semangnya, menyediakan waktu untuk berkumpul, membantu menyelesaikan masalah, dan melimpahi dengan kasih sayang.


Dia tak pernah menagih uang sewa meski telat beberapa bulan. Tarifnya pun murah. Fasilitas terjamin. Rumah mewah. Nah, kurang apa lagi? Harus bagaimana lagi? Mengapa Nadine tiba-tiba ingin pindah?


"Jadi begini solusinya?" tatap ibu kos kecewa. "Kamu pergi dari teman-temanmu?"


"Saya sebenarnya tidak ada masalah sama mereka. Saya cuma tidak suka dengan sikap mereka. Jadi bukan karena mereka saya pindah."


"Karena apa?" desak ibu kos penasaran. "Apa Ibu terlalu ketat?"


"Bukan."


"Apa karena Bradley? Ibu akan bicara baik-baik supaya tidak mengganggumu lagi. Lagi pula, Ibu tidak suka persoalan ini berlarut-larut."


"Dia sudah tidak mengganggu saya lagi, Bu. Dia sudah tidak datang beberapa hari ini."


"Lalu kenapa?" tanya ibu kos menusuk. "Ada masalah apa? Bilang sama Ibu. Barangkali Ibu bisa bantu."


Sekejap Nadine menenteramkan jantungnya yang berdetak kencang. Dia tak boleh salah tingkah. Ibu kos pasti curiga.


"Saya pindah kerja, Bu," kata Nadine tenang. "Di tempat lama jam kerjanya tidak tentu. Repot bagi waktu."


"Ibu sudah bilang berhenti saja. Ibu bisa bantu soal biaya kuliah. Kamu sudah seperti anak Ibu sendiri."


Nadine mendapat tempat yang istimewa di hatinya. Bukan karena dia paling cerdas atau paling cantik di antara gadis pondokan. Mereka memiliki kedekatan karena menekuni bidang yang sama, kandungan. Tapi kalau tahu Nadine hamil di luar nikah, image itu pasti berantakan.


"Saya tidak mau merepotkan."


"Kamu bisa bekerja pada Ibu. Ibu malah ingin mewarisi klinik itu kepadamu. Ibu tak punya anak. Semua adik Ibu tidak berminat mengelola klinik."


"Perhatian Ibu kepada saya sudah membuat teman-teman jealous. Kalau saya terima tawaran ini, mereka pasti lapor ke KPK, ada nepotisme di klinik."


"Tidak lucu."


"Untuk orang-orang lucu biasanya melakukan hal yang tidak lucu."


"Sebetulnya ada apa?" selidik ibu kos memaksa. "Jujur sama Ibu. Jangan-jangan kamu dihamili pacarmu supaya tidak direbut sama Bradley."


Nadine berusaha tersenyum setenang mungkin. "Ibu ada-ada saja. Kedengaran Gerdy tidak enak. Saya cuma ingin dekat ke tempat kerja. Transportasinya jadi gampang. Tidak kena macet. Bisa jalan kaki."


"Pindah ke mana?"


"Kerja apa pondokan?"


"Dua-duanya."


Nadine menyebutkan sebuah distributor ternama dan daerah perumahan elit. Tentu saja bukan alamat asli. Dia tidak mau ibu kos berkunjung ke tempatnya yang baru.

__ADS_1


"Baiklah," kata ibu kos. "Ibu tak keberatan. Lingkungan itu cukup baik. Kamu boleh kembali kapan saja dan bisa bekerja pada Ibu kalau tidak betah di tempat baru."


Nadine bukannya lega mendengar itu. Kata-kata ibu kos bagaikan pedang menikam dadanya. Dia masih mengharap kehadirannya padahal dirinya tak pernah berpikir untuk kembali!


__ADS_2