Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Biarlah Aku Pergi


__ADS_3

Gerdy terkejut mendengar kabar itu. Katrin bercerai. Dan perceraian itu menimbulkan bencana bagi dirinya.


Sejak awal Gerdy sudah menduga Datuk Meninggi dan Sastro bukan orang baik-baik, seorang bandot tua berjiwa kambing muda. Sisa umurnya digunakan untuk menikmati perempuan. Mereka punya peluang buat melalap daun muda dengan ancaman nistanya.


"Kenapa Katrin tidak menempuh jalur hukum?" tanya Gerdy penasaran.


"Katrin tidak memiliki bukti surat apapun."


"Surat gampang dibikin, sekarang banyak mafia tanah."


"Satu-satunya orang yang dapat membuktikan surat itu asli atau palsu adalah Papi, dan dia tidak ketahuan di mana rimbanya."


Atau boleh jadi dugaanku benar, batin Gerdy kelu. Katrin sudah membunuh Papi. Dia tahu surat itu palsu, tapi tidak berani mengadukan ke polisi karena akan membuatnya terjerat kasus hukum.


Dia sudah dihantui perasaan bersalah, padahal bisa saja menuntut mereka untuk membuktikan keabsahan surat itu dengan meminta bukti lain, tidak sekedar tanda tangan di atas materai.


Katrin bisa berpatokan pada kejanggalan proses jual beli. Papi sudah dinyatakan hilang. Bagaimana tiba-tiba bisa muncul untuk transaksi? Bagaimana mereka berkomunikasi?


"Kita tidak mungkin membiarkan kakakmu jadi gelandangan," ujar Gerdy galau.


"Dia sudah ditawari untuk tinggal di rumah ini, tapi menolak."


"Jelas menolak, karena dia tahu kamu sangat cemburu padanya."


Sejujurnya Nadine keberatan kalau Katrin tinggal bersama mereka. Dia cuma akan mendatangkan masalah bagi rumah tangganya. Masih terngiang jelas ucapan kakaknya yang ingin tidur dengan suaminya. Tapi selaku adik, dia mesti menawarkan solusi meski sekedar basa-basi.


"Tanggapan Mami bagaimana?" tanya Gerdy.


"Dia tidak diberi tahu, aku pikir cuma membuatnya kembali pada harapan semu tentang keberadaan Papi."


"Katrin tidak biasa hidup miskin. Kamu tega melihatnya?"


"Dia harus bisa hidup kayak orang kebanyakan. Dia tidak bisa bertahan dengan kehidupannya. Dia harus mencontoh suamiku."


"Tidak semua orang bisa seperti itu."


"Jadi kau ingin aku yang berkorban?"


"Kamu?" Gerdy yang berbaring di sisinya serentak bangun dengan kaget. Matanya memandang lekat-lekat. "Mereka menginginkan kamu?"


"Lelaki mana yang tidak menginginkan aku?" balik Nadine sombong. "Untung aku cuma punya satu cinta, sesuai janjiku dulu."


"Rumah itu bisa diambil lagi oleh keluargamu tanpa perlu ada pengorbanan."


"Bagaimana caranya? Kamu hanya punya asumsi, sementara mereka punya bukti."


"Tanda tangan gampang dipalsu."


"Bagaimana membuktikannya kalau tanda tangan itu palsu? Di keluargaku tidak ada yang hapal tanda tangan Papi."


"Jadi kamu akan mengalah?"


"Bukan cuma mereka yang bersedia menukar rumah itu dengan diriku."

__ADS_1


"Siapa lagi?"


"Bradley."


Gerdy terkejut. Matanya menatap tak berkedip. "Permintaan Katrin atau usulmu?"


"Permintaan Bradley melalui kakakku."


Astaga! Apa laki-laki itu sudah sinting? Bukankah dia sudah tahu siapa Nadine kini? Sudah punya suami! Punya anak! Apa yang diharapkan dari istrinya? Sementara dia bisa memilih seribu wanita yang masih lajang!


"Dia belum putus asa mengejar aku," keluh Nadine sendu.


"Dia tidak mungkin segila itu," desis Gerdy tak percaya. "Pasti bisa-bisanya Katrin."


"Cinta bisa membuat yang tidak mungkin jadi mungkin."


Gerdy heran entah apa yang ada di benak Bradley saat ini. Mengapa masih penasaran untuk memiliki Nadine padahal pintu telah tertutup. Atau dia justru merasa sekaranglah saat yang paling tepat buat maju. Mungkin pikirnya, lebih baik menikmati sisa cinta Nadine daripada tidak sama sekali!


"Dia bersedia membeli kedua rumah itu untukku," kata Nadine pelan. "Bahkan memindahkan istana mana saja. Barangkali otaknya sakit, kalau bukan cintanya yang aneh."


Pikiran Gerdy melayang pada laki-laki itu sambil merebahkan tubuhnya kembali di tempat tidur. Tentu dia memiliki alasan kuat untuk merebut istrinya. Alasan yang tak luntur terbilas waktu, entah apa. Yang jelas, dia melancarkan serangan pada saat yang paling tepat! Kesempatan yang mungkin sudah lama dinantikannya!


Dia kehabisan sabar untuk menunggu. Tak mau lagi bermain secara sembunyi-sembunyi. Ketika peluang terbuka lebar, dia terang-terangan ingin merampas istrinya!


Ada lelaki macam itu! Lelaki yang demikian pandai mengendalikan kehidupan tapi demikian bodoh di depan cinta!


Bodohkah namanya berusaha memiliki perempuan yang dicintai? Ah, Bradley tidak bodoh! Cinta yang terlalu pintar!


Nadine sendiri mula-mula kukuh dengan pendiriannya. Ketika Katrin bolak-balik belanja ke tempat kerjanya, dia mencoba membujuk dengan sabar untuk tinggal bersamanya dan menata hidup baru.


Dia memang mencintai Gerdy. Tak mau berpisah dengannya. Tapi kalau harus secepat itu ditinggalkan anaknya, darah dagingnya sendiri, rasanya lebih tidak sanggup lagi.


Sembilan bulan dia menghidupi Idyla dengan darahnya, merasakan tendangan-tendangan halusnya. Masih terbayang bagaimana beratnya mengandung, bagaimana sakitnya melahirkan.


Tiga tahun dia membesarkan anaknya, menyirami dengan tetes kasih sayang, memberinya kehidupan. Haruskah kini menyerahkan kepada Malaikat Maut, sementara ada kesempatan untuk menyelamatkannya? Apapun kesempatan itu?


Semakin mendekati batas waktu yang ditentukan, Nadine semakin panik. Dia merasa seakan menanti kematiannya sendiri, seakan menunggu hukuman gantung.


Idyla sudah menunjukkan tanda-tanda kritis, seperti akan berakhir sebelum waktunya. Dan kejadian luar biasa menimpanya malam ini.


Idyla menangis menjerit-jerit, tubuhnya kejang-kejang, wajahnya membiru, matanya mendelik liar.


Dengan kalap Nadine meraihnya. Tapi jerit tangisnya tidak reda meski sudah digendongnya, dibelainya, diciuminya.


"Anak kita, beb!" pekik Nadine antara panik dan putus asa. "Kenapa jadi begini?!"


Gerdy berdiri terpaku dengan bingung. Dia sendiri sudah mencoba menghibur. Tapi Idyla seolah tak merasakan sentuhan tangannya, tak mendengarkan bujuk rayunya.


Tidak tahu mesti bagaimana lagi, akhirnya Nadine menangis tersedu-sedu sambil memeluk anaknya.


Entah di mana kekuatan tangis itu. Entah di mana kehebatan air matanya. Tiba-tiba saja Gerdy menemukan sebuah jawaban di sana.


Diperhatikannya Idyla yang tak henti menggelepar. Tentu anak itu mengalami sakit yang amat hebat. Yang tak dapat dihentikan oleh jerit tangis dan tekukan keras wajahnya.

__ADS_1


Tak sadar air mata Gerdy jatuh menitik. Dia tak pernah menangis untuk hidupnya, tapi dia tidak sanggup menyaksikan penderitaan anaknya. Tidak rela membiarkannya pergi!


Bagaimana hancurnya perasaan Nadine saat menyaksikan detik-detik kematian anaknya. Bagaimana hampanya dia ditinggal mati anaknya. Kebahagiaan apa lagi yang tersisa dari hidupnya?


Idylalah yang mampu membangun semangatnya untuk menyambut hari esok. Yang membuat hidupnya berarti, tabah, tegar. Tapi satu-satunya bekal hidupnya itulah yang sebentar lagi berlalu dari sisinya!


Malam ini juga Gerdy harus mengambil keputusan. Dia harus mengakui bahwa dirinya sudah kalah segala-galanya!


"Besok kita bawa Idyla ke rumah sakit," desis Gerdy sambil menekan gejolak perasaan di dadanya, ketika hampir satu jam tangis anaknya baru berhenti. Tertidur dalam gendongan ibunya. "Dia harus segera dioperasi."


Nadine yang sedang mengelus-elus putrinya spontan mengangkat wajah, dan menatap suaminya dengan tercekat.


"Biayanya?"


"Bisa kamu bicarakan dengan Bradley."


"Tidak!" jerit Nadine seketika. "Apa kamu sudah gila?"


"Idyla harus diselamatkan."


"Tapi bukan dengan jalan begini!" protes Nadine sengit. "Bukan dengan mengorbankan kehidupanmu!"


"Aku sudah tak punya kehidupan," gumam Gerdy sakit. "Sementara kehidupan Idyla masih sangat panjang."


Nadine menatap dengan nanar. "Kamu sudah bosan denganku? Ingin membuangku?"


"Jangan katakan itu di depan lelaki yang sudah berkorban segalanya untukmu." Gerdy memandang dengan pedih. Sedapat mungkin menahan air mata yang hampir merebak. Dia tidak mau menangisi kegagalan hidupnya. "Aku sudah berbuat bodoh dengan mengagungkan cinta, dan kini aku harus berkorban demi anakku, darah dagingku sendiri."


Nadine sudah membuka mulutnya hendak berkata lagi, tapi yang keluar malah isak tangisnya. Dia sendiri tidak tahu untuk siapa tangis itu, untuk dirinya, anaknya, atau suaminya?


Dia tak mau kehilangan suami yang dicintainya. Dia juga tidak mau Idyla berlalu dari kehidupannya. Tapi dia tahu harus memilih, dengan pilihan yang sama sulitnya.


Gerdy dapat membaca pergolakan batinnya itu. Nadine tidak mungkin meninggalkannya, tidak mungkin minta cerai. Jadi dia yang harus pergi, yang harus menceraikannya.


Dia tahu istrinya tidak pernah bercerita kalau kariernya meningkat pesat karena bekerja di supermarket milik ibunya Bradley. Dia curiga ada peran pria itu di dalam pengambilan keputusan.


Bradley sedang mempersiapkan perangkap untuk menjebak Nadine. Dan kini ada peluang besar untuk maju!


Jadi permintaan Bradley itu bukan datang lewat Katrin, tapi dari pertemuan mereka! Meski tidak ada pengkhianatan, namun dia tahu semua hanya soal waktu!


Nadine sudah berbuat tidak jujur karena tidak mau hidup menderita! Dia tidak mungkin memperoleh kedudukan setinggi itu di tempat lain!


Padahal hidup mereka akan jauh lebih senang jika dulu Gerdy menerima tawaran dari Ibu Marliana! Karena terlalu mengagungkan cinta, akhirnya berbuat bodoh!


Sekarang sudah waktunya untuk pergi!


Subuh-subuh, saat Nadine tertidur lelap, Gerdy mengumpulkan barang-barangnya. Handphone, kamera digital, modem, laptop, dan berkas-berkas penting semua dimasukkan ke dalam ransel.


Hatinya berdarah, sakit, pedih. Tapi dia tahu harus pergi, betapapun beratnya. Dia ingin meninggalkan rumah ini sebelum mereka bangun pagi-pagi. Dia tak sanggup melihat lambaian tangan anaknya. Idyla terlalu polos untuk memahami apa yang terjadi dengan ayahnya!


"Aku rela menceraikanmu," tulis Gerdy dalam suratnya, pilu. "Demi Idyla yang tak selayaknya menderita. Demi kamu yang semestinya bahagia. Demi kakakmu yang tak pantas jadi permainan nasib. Dia tampak bersalah karena kehidupan menghakiminya."


"Biarlah aku pergi dengan cintaku," tulisnya lagi. "Meski cinta itu mengkhianati diriku. Terimalah persyaratan dari anak bosmu yang kemarin menjumpaimu untuk menyelamatkan Idyla. Dia tahu bagaimana memperlakukan perempuan yang dicintai...."

__ADS_1


Saat Gerdy keluar dari pintu rumah, saat itu pula sebelah hatinya hancur. Dunia memang iblis bagi laki-laki yang terdesak!


__ADS_2