Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Bukan Menantu Pilihan


__ADS_3

Surya bersama para penyelam melakukan penyisiran di sepanjang aliran sungai selama satu minggu dengan hasil nihil. Mereka berkeyakinan mayat Papi sudah terseret ke muara sehingga pencarian tidak mungkin dilanjutkan.


Polisi menetapkan Papi dengan status orang hilang setelah melakukan berbagai upaya. Keputusan itu sudah final mengingat tidak ada bukti telah terjadi pembunuhan atau tewas karena faktor musibah.


Nadine sendiri sudah mengganggap Papi meninggal. Dia tidak mungkin dapat bertahan selama itu tanpa uang sepeser pun. Dia butuh minuman dan kehangatan wanita, sebuah kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan.


Mami mendukung keputusan polisi dengan harapan suatu saat suaminya akan pulang. Dia tidak percaya Papi hanyut terbawa arus sungai atau terbunuh karena mayatnya tidak ditemukan. Papi bisa saja pergi jauh bersama kawan lama dan belum berniat untuk kembali.


Mami seakan belum dapat menerima kepergian suaminya. Sebuah kenyataan yang membuat hati Nadine sesak. Dia khawatir kalau ibunya memelihara harapan semu ini sakitnya kambuh. Sekarang saja Mami sering melamun sehingga anaknya bingung harus bagaimana.


"Aku heran," kata Nadine sambil memasukkan pakaian ke travel bag. "Kakakku harusnya curhat sama adiknya, bukan sama suamiku."


"Sudah deh jangan cemburu berlebihan," tegur Gerdy sabar. "Dan jangan bilang ini bawaan bayi."


"Aku tidak cemburu, cuma heran. Tidak boleh aku heran?"


"Ngomong herannya kok muka dilipat begitu?"


"Aku tidak mau Katrin tahu alamat rumahku," tukas Nadine ketus. "Aku lebih suka dia tidak melihat keponakan yang baru lahir."


"Kok begitu?"


"Harus begitu," tegas Nadine. "Dia pasti sering menengok keponakan sekalian mengincar suamiku yang lagi puasa. Aku bisa kecolongan karena empat puluh hari bukan waktu sebentar."


"Katrin lusa melahirkan."


"Alah, dia pasti minta caesar."


"Masa menunggunya kan sama."


"Lusa caesar minggu depan dia berani bercinta denganmu pada saat aku melahirkan."


"Kamu bisa berpikiran begitu sama kakakmu?"


"Aku tahu kakakku belum berubah. Dia cuma berusaha menahan diri agar Mami dan Prilly mau pulang. Maka itu aku berharap Papi tidak pulang untuk selamanya supaya tidak kejadian lagi."


"Kamu berarti ingin mengorbankan perasaan Mami?"


Nadine menarik nafas dengan sesak. "Mami lama-lama dapat melupakan Papi. Jika tidak bisa melupakan, berarti ada kesalahan dengan cintanya."

__ADS_1


"Cinta banyak kesalahan."


Nadine merapikan travel bag, kemudian memasukkan peralatan kosmetik di meja kecil ke dalam cosmetic pouch. Dia membawa travel bag dan cosmetic pouch hadiah dari Wisnu untuk keperluan di rumahnya.


Malam ini mereka akan pulang ke Jakarta. Kerabat Gerdy besok mulai berdatangan untuk menyambut kedatangan orang tuanya dari Tanah Suci. Nadine sudah tiga puluh hari tinggal di rumah ini. Masanya jadi ratu sudah berakhir. Dia akan kembali pada kehidupan sebagaimana kebanyakan orang.


Nadine sudah memberikan kesan yang baik kepada orang rumah. Mereka berharap nyonya muda dapat tinggal untuk selamanya. Harapan yang sulit terwujud karena dia bukan menantu pilihan.


Nadine tahu diri tempatnya bukan di istana ini. Dia tidak merasa berat untuk pergi dan tidak pernah menyesal. Barangkali suaminya berat meninggalkan segala kemewahan cuma untuk cinta seorang perempuan dengan latar belakang keluarga yang buruk.


Nadine harus mulai menyiapkan hati untuk jadi single parent bilamana suaminya berubah pikiran. Dia hanya ingin mengenal satu laki-laki untuk seumur hidupnya. Dia akan tetap menikmati cinta mereka dalam kesendirian. Sejujurnya dia tidak pantas untuk jadi menantu di rumah ini.


Makan malam tiba begitu cepat. Suasana tidak ceria seperti biasanya. Wajah-wajah berkabut bertebaran di setiap kursi. Nadine sulit untuk mengendalikan perasaan karena terpengaruh situasi. Mereka menjadikan makan malam ini sebagai acara perpisahan.


"Pada kesempatan kali ini aku mau menyampaikan hal yang penting buat kalian," kata Gerdy. "Aku dan tuan puteri sudah sembilan bulan menikah. Sebuah keputusan nekat karena tanpa restu orang tua. Aku tahu apa risikonya. Malam ini mungkin makan malam terakhir untuk kita karena tidak ada kesempatan untuk kembali. Maka itu aku minta maaf atas segala perbuatanku selama ini jika menyakiti kalian. Aku memilih menjalani kehidupan biasa daripada harus kehilangan cintaku."


Mereka diam mendengarkan. Tidak ada yang berani angkat bicara kecuali ada perintah. Itu aturan yang berlaku di rumah ini.


"Terima kasih atas pelayanan kalian selama ini kepadaku. Kalian tidak pernah mengecewakan diriku. Aku akan ingat itu di kehidupan yang baru. Aku akan merindukan kalian." Gerdy menoleh ke arah Nadine. "Silakan istriku kalau ada yang ingin disampaikan."


"Terima kasih suamiku," sahut Nadine. Dia bicara singkat saja kepada mereka. "Tiga puluh hari aku bersama kalian adalah pengalaman yang sangat berkesan bagiku. Kenangan yang tidak akan dilupakan untuk seumur hidupku. Maafkan aku jika ada perilaku yang kurang berkenan di hati kalian."


"Aku akan memperjuangkan kalian untuk kembali ke rumah ini," ujar Wisnu. "Kalian adalah keluargaku yang tidak boleh tercoret dari silsilah karena latar belakang yang tidak penting."


"Aku tidak mau kamu mempertaruhkan hidupmu," kata Gerdy. "Kamu adalah penerus dinasti keluarga. Aku kira cukup testimoni ini. Kita mulai makan."


Mereka mulai bersantap malam. Gerdy dan Nadine memilih yellowfin panggang. Makan malam berlangsung dengan khidmat. 


Air mata para pegawai jatuh berderai ketika tuan dan nyonya muda pamit pergi selesai santap malam. Mereka mengantar sampai ke mobil dan berdiri diam sampai SUV mewah itu meninggalkan pintu gerbang. Semua berdoa semoga bukan kepergian untuk selamanya.


Gerdy menjalankan mobil dengan santai membelah kegelapan malam.


"Aku tahu sejak kecil kamu bercita-cita ingin hidup seperti keluarga raja-raja," kata Gerdy. "Hanya tiga puluh hari yang bisa kuberikan padamu."


"Itu sudah cukup bagiku," sahut Nadine bahagia. "Aku sejak kecil sudah memilihmu untuk jadi suamiku karena ingin hidup seperti keluarga raja-raja. Sejak mengenal cinta, aku memilihmu karena cintaku, yang lebih mewah dari kehidupan raja-raja."


"Kamu sangat berkesan bagi mereka.'


"Wisnu sangat pandai membentuk image aku."

__ADS_1


"Dia belajar dari kakaknya."


Nadine menyindir, "Wisnu play boy juga? Jangan-jangan Andini hari itu masuk kamar adikmu karena tahu kisahku?"


"Dia tidak akan berani macam-macam sama Andini."


"Nyatanya?"


"Andini hari itu minta ijin ke aku untuk memfoto kartu ujian praktek Wisnu yang ketinggalan di dalam kamar."


"Wajahnya kelihatan ceria banget."


"Siapa yang tidak ceria melihat betapa mewahnya kamar pengantin mereka nanti? Kamu saja yang sudah buncit sangat bersemangat saat pertama kali bercinta di kamarku."


Gerdy menghidupkan lampu sen dan belok memasuki halaman rumah Katrin. Pintu gerbang terbuka berarti Sastro pulang. Padahal seharusnya berada di rumah sakit menunggu detik-detik kelahiran anaknya.


"Baiknya Mami kita ajak pulang," kata Nadine. "Tinggal di sini membuatnya sulit melupakan Papi."


"Aku maunya begitu. Bagaimana dengan Katrin?"


"Dia tidak perlu tahu."


"Pasti marah kalau melihat Mami tidak ada di rumah."


"Dia sudah membuat aku marah."


"Kenapa?"


Nadine memandang tak percaya. "Kamu masih tanya kenapa? Katrin adalah kakak yang tidak ada sopan santun. Dia sering ngebel kamu, sama aku sekali saja tidak pernah. Maksudnya apa coba?"


"Kok tanya aku?" balik Gerdy santai. "Tanya sama yang ngebel."


Gerdy turun dan berjalan memutar lewat kabin, kemudian membukakan pintu buat istrinya. Dia memegang tangan halus itu membantu turun. Mami muncul dari dalam rumah.


"Kalian mau pulang ya?" tanyanya.


"Ya," jawab Nadine. "Aku kepingin Mami ikut."


"Aku tidak enak sama Katrin. Masa pergi tanpa pamit?"

__ADS_1


Gerdy berbisik, "Apa kubilang?"


__ADS_2