Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Berlibur


__ADS_3

Gerdy mempersiapkan bahan untuk membuat spaghetti carbonara. Dia dapat ilmu masak dari koki di rumah. Pekerjaan di dapur sangat disukainya apabila bosan dengan makanan online atau tidak ada kegiatan.


Spaghetti carbonara adalah makanan favorit Nadine. Dia hanya mengunjungi kafe yang menyediakan menu masakan Italia itu. Awalnya dia menyukai martabak telor, tapi kemudian jadi makanan favorit Papi. Dia menghilangkannya dari daftar makanan favorit.


Nadine sangat benci kepada papinya yang tiap hari kerjanya mabok, berjudi, dan main perempuan. Papi tidak berusaha memperbaiki citra keluarga yang sudah terpuruk, malah membuat skandal yang sangat memalukan.


Nadine tidak tahu bagaimana mengembalikan nama baik keluarga yang sudah hancur berkeping-keping. Dia pesimis untuk diterima sebagai nyonya muda di keluarga Gerdy, bahkan tak berani berharap!


Dia betul-betul merasa hidup sendiri kalau tidak ada kekasih tercinta di sisinya. Semakin habis rasa rindu untuk pulang ke rumah.


Nadine merasa hidupnya sunyi. Tidak ada genderang yang meramaikan hatinya. Dia tahu ke mana mencari pelipur. Maka itu dia terima bagaimanapun keadaannya.


Nadine sulit untuk membawa Mami dan Prilly pergi. Rumah itu sekarang tenteram dan damai. Perangai Papi berubah secara drastis, dan menurut Mami ada malaikat membisikkan kebenaran di hatinya.


Nadine tidak mungkin memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mami pasti tidak percaya. Dia membiarkan ibunya mengetahui sendiri. Bau bangkai lama-lama pasti tercium.


"Baguslah kalau sudah berubah," kata Nadine di akhir cerita Mami yang menggebu-gebu. Dia berharap ponsel lowbat atau sinyal putus-putus. Heran pemancar di kota satelit siang ini tidak mengalami gangguan. "Coba Mami pastikan apa benar ada malaikat mampir atau setan bertamu."


"Kamu suka asal," tegur Mami. "Setan justru sudah pindah kontrakan sehingga rumah aman sentosa. Maka itu kamu pulang, lihat sendiri perubahan Papi."


"Gak bisa kayaknya deh, Mam," kata Nadine sambil kepalanya rebahan di bathtub. "Aku lagi ada pemotretan."


"Pemotretan apa?"


"Model tanpa busana."


"Astaga! Nadine!"


"Kan tidak kelihatan, Mam, lagi berendam di bathub, banyak busa."


"Jadi minggu ini tidak bisa pulang?"


"Masa harus ngulang sih, Mam?"


"Terus kapan kamu bisa pulang?"


"Tanya sama Katrin deh."


"Kok tanya sama Katrin?"


"Atau begini saja, Mam. Aku lagi cari rumah. Kalau sudah dapat, Mami sama Prilly boleh tinggal. Jadi kita bisa ketemu setiap hari."


"Papi juga?"


"Kalau Papi juga, berarti teman mabok sama teman judinya harus dibawa. Sudah ya, Mam."

__ADS_1


Nadine tidak tahu bagaimana menghadapi situasi ini. Mami lagi di puncak bahagia, padahal sedang menuju kehancuran hidupnya.


Kondisi yang rumit di masa lalu membuat Papi tenggelam dalam kekecewaan, dan tidak berusaha bangkit dari keterpurukan padahal banyak kesempatan. Dia sudah merasa nyaman dengan kehidupan yang semu.


Nadine berada di apartemen ini sebenarnya karena tidak mampu mengatasi situasi yang ada.


Ibu kos menghubungi dan tidak sempat diangkat karena Nadine sedang menerima sambungan dari Mami.


Rindy pasti laporan dengan bumbu yang banyak, sehingga ibu kos kirim chat memintanya membatalkan week end, karena tidak enak pada Bradley yang sudah menyewa bungalow di Pulau Seribu.


Bagaimana mungkin! Nadine pergi liburan karena tidak bisa mengatasi rasa rindunya pada Gerdy, sehingga segalanya terjadi!


Dia tidak mau menuruti permintaan mereka karena sepenggal perasaan tidak enak. Perayaan ulang tahun terjadi karena perasaan itu. Entah apa yang mereka laporkan sampai ibu kos berpihak pada mereka.


"Aku tidak mungkin membatalkan acaraku, dok," balas Nadine di kotak dialog. "Aku tidak peduli kalau mereka merasa tidak enak pada Bradley. Mereka membuat acara sendiri dan merasa enak tidak minta izin padaku."


"Kata mereka kamu pergi ke Bandung," ujar ibu kos di kotak chat. "Kamu week end sama Gerdy? Apa tidak berbahaya liburan berdua? Apa tidak lebih baik week end bersama mereka?"


"Aku lebih berbahaya liburan bersama mereka, dok," jawab Nadine. "Mereka adalah tikus-tikus yang menggerogoti kehidupanku. Dokter keliru kalau menganggap kehidupanku baik-baik saja bersama mereka."


"Selamat berlibur kalau begitu," kata ibu kos. "Kita selesaikan saat kamu pulang nanti. Kalian anak-anakku, aku tidak mau ada silang sengketa di antara kalian."


"Terima kasih, dok."


Nadine menutup kotak dialog. Mulai sekarang dia harus bertindak tegas. Mereka tidak peduli bagaimana perasaannya, yang penting jalan-jalan gratis. Nah, sekarang apa bisa mereka jalan-jalan gratis kalau dia sudah tidak peduli?


"Kapan pesannya?" tanya Nadine sambil menyantap hidangan. "Enak banget."


"Aku masak sendiri."


Nadine terpukau. "Calon suamiku bisa masak?"


"Jangan lebay deh," kata Gerdy. "Cowok lain bisa bikin pesawat tempur Boramae reaksi calon istrinya gak gitu-gitu banget."


"Biarin," sahut Nadine. "Aku seneng banget calon suamiku bisa masak. Kamu bisa masak apa saja?"


"Aku bisa masak semua makanan favoritmu."


"So sweet! Belajar dari koki di rumah ya?"


"Dari siapa lagi? Aku hidup sendiri. Kadang bosan sama masakan luar, terus masak sendiri."


"Sultan mau juga ya masak?"


"Ini komentar yang ke seratus satu."

__ADS_1


"Yang seratus lagi pacar sebelumnya?"


"Yang seratus lagi orang rumah."


"Aku perlu ngasih hadiah," senyum Nadine mesra. "Kamu pengen hadiah apa? Apa pengen...?"


Nadine memandang penuh arti. Sebuah tantangan yang sulit ditolak dari seorang gadis yang sangat cantik dan seksi, tapi Gerdy merasa cukup.


"Kejadian itu adalah kebodohan terbesar. Aku sebenarnya cuma ingin melihat kesempurnaan tubuhmu, tapi aku terjebak dalam rasa kagumku."


"Aku juga terjebak dalam nyanyian rinduku, tapi aku tidak menutup kesempatan untuk terjadi lagi."


"Aku menutup kesempatan untuk diriku sendiri. Ada saatnya aku berpesta...setelah kita nikah."


Nadine sebenarnya berharap Gerdy tidak merasa cukup satu kali dengannya supaya berhenti dengan gadis lain, terutama Karlina! Kedekatan mereka tidak menutup kemungkinan melahirkan benih-benih cinta!


"Cowok katanya kalau sudah kepingin susah ditahan," pancing Nadine. "Kalau cuma sekali denganku, terus ..."


"Terus kita nikah kalau mau berkali-kali," potong Jodi sambil menyantap spaghetti. "Aku nge-gym untuk menurunkan libido."


"Aku senang mendengarnya, jadi tidak perlu kuatir sama Karlina." Nadine tersenyum manis. "Aku tidak ada kuliah minggu besok. Boleh aku menghabiskan waktu bersamamu? Aku lihat banyak perubahan di kota ini."


"Aku minggu besok lagi sibuk-sibuknya. Beberapa mata kuliah ada kuis. Akhir pekan ini saja aku sulit bangkit dari kursi belajar, laporan hasil riset ditunggu hari Senin."


"Jadi kamu keberatan aku liburan di sini?"


"Aku tidak keberatan sama sekali. Aku sekedar memberi gambaran kalau aku tidak bisa menemani jalan-jalan."


"Sesekali temani aku, sekalian refreshing."


"Aku fokus belajar kalau ada kuis, tidak pernah keluar jalan-jalan. Kamu lihat banyak makanan di kulkas, aku tidak mau konsentrasi terganggu cuma karena perut lapar."


"Kamu tidak kuatir ada yang menculik cintamu kalau aku jalan-jalan sendiri?"


"Jadi kamu selalu jalan ramai-ramai kayak karnaval?"


"Sejak jadi pacarmu aku tidak pernah pergi jalan-jalan, kecuali sama teman pondokan, ibu kos, atau keluarga."


"Panggil Prilly untuk menemanimu jalan-jalan, suruh week end di apartemenku."


"Mami juga?"


"Boleh."


"Mami pasti ngajak Papi."

__ADS_1


"Bagus! Jadi sejenak melupakan kartu dan minuman."


Padahal mana mau Nadine ada Papi dalam kehidupannya!


__ADS_2