
Secangkir kenikmatan dari Mirna menimbulkan seember masalah bagi Surya. Ketika dia tidak datang bertamu, wanita itu berkunjung ke bengkel dan melakukan transaksi cinta.
Istri Surya sempat memergoki kejadian itu dan tidak banyak bicara. Dia balas bercocok tanam dengan suami Mirna. Akhirnya bahtera rumah tangga mereka berakhir di pengadilan agama.
Kehidupan Surya jadi kacau. Kisah dengan Mirna berakhir karena wanita itu melanjutkan rumah tangganya dengan Dudung.
Surya galau setiap hari. Dia mengakui dirinya egois. Tidak memaafkan perselingkuhan istrinya padahal dia sendiri selingkuh. Akhirnya jadi pusing sendiri.
Tapi Surya masih memiliki perhatian ketika peristiwa besar terjadi. Nadine pulang dan menikah dengan Bradley dengan sebuah pesta yang sangat meriah!
Apa yang terjadi dengan sahabatnya? Kapan mereka bercerai? Mengapa Nadine menikah dengan Bradley? Semua pertanyaan itu menambah mumet pikirannya.
Biasanya Nadine memberi tahu setiap peristiwa yang terjadi. Untuk peristiwa besar itu tidak ada kabar sama sekali. Tahu-tahu Nadine memiliki suami baru! Apa kasusnya seperti dirinya? Selingkuh lalu terjadi perceraian?
Surya tidak banyak bertanya. Dia memendam rasa ingin tahunya dalam-dalam, dan sedih melihat nasib pernikahan sahabatnya. Dia sungguh tak mengira rumah tangga mereka akan berakhir tragis.
Lalu apa maksud Nadine dengan mengadakan pesta besar-besaran? Apa ingin membuat panas orang tua Gerdy? Dia ingin membuktikan bahwa ada keluarga bangsawan sudi menerima sebagai menantu meski sudah beranak satu!
Nadine sudah menyuguhkan secangkir tuba dan terminum oleh Umi. Dia datang melabrak dan berbuntut pada gugatan kakaknya atas ujaran kebencian. Dia telah memicu perang antara dua keluarga sultan!
Kira-kira itu kabar yang berhembus kencang di masyarakat. Surya tidak tahu persis kejadiannya. Dia tidak mendapat undangan dari Nadine, padahal sahabat yang paling setia.
Surya merasa perlu memberi tahu Gerdy. Dia mengirim chat, "Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian. Tapi aku perlu menyampaikan kabar kepadamu. Umi diadukan ke polisi oleh Katrin dengan delik ujaran kebencian."
Surya tidak menunggu balasan. Dia berharap Gerdy membacanya. Kondisi sahabatnya tentu tidak berbeda jauh dengannya. Perceraian bukan masalah yang bisa cepat berlalu.
Menjelang tengah malam terdengar suara Moge memasuki halaman rumahnya. Surya yang sudah berbaring untuk beristirahat segera meninggalkan tempat tidur dan membuka pintu rumah.
Sekejap Surya terpukau melihat sahabatnya yang berdiri di teras. Beda sekali penampilannya. Gerdy berpakaian ala gangster kelas atas; mengenakan celana jin, T-shirt, jaket kulit, kacamata, dan sepatu mengkilap, semua serba hitam.
Tidak tahan Surya memeluknya dan menangis. "Aku menunggumu dari siang."
"Jadi lelaki jangan cengeng," kata Gerdy sambil melepaskan pelukannya. "Aku tidak dipersilakan duduk?"
"Silakan," ucap Surya. "Dingin-dingin begini ngopi kayaknya cocok."
"Tidak usah. Kasihan istrimu tentu sudah tidur."
"Aku tidak tahu istriku sudah tidur atau belum."
"Maksudnya?"
"Kami sudah bercerai."
__ADS_1
Gerdy terdiam sejenak, kemudian duduk bersandar di kursi bambu dan bertanya, "Gara-gara Mirna?"
"Gara-gara istriku berhuhungan intim dengan suaminya. Aku tidak terima alasan dia ingin memberi pelajaran padaku."
"Kamu tidak adil. Kamu sendiri selingkuh dengan Mirna."
"Aku tidak tahu hidup ini adil atau tidak padaku. Aku sudah berbuat bejat, tidak berarti harus dibalas dengan kebejatan."
"Kadang kejahatan mesti dibalas dengan kejahatan untuk membuat hidup ini adil."
"Apa ini yang terjadi padamu?"
"Aku tidak mau bercerita tentang kehidupan karena aku sudah tidak punya kehidupan. Aku ingin bercerita tentang kehidupan sahabatmu, dia tidak salah menikah dengan Bradley dan mengadakan pesta besar karena itu adalah impiannya."
"Apa kamu sama seperti aku?"
"Aku tidak selingkuh. Kehidupan yang selingkuh. Maka itu aku bercerai. Tapi sudahlah, kau tidak akan paham. Aku minta kau antar aku ke rumah Katrin untuk menyelesaikan masalah ibuku."
"Sudah malam sekali."
"Kita bertamu secara tidak resmi."
Surya tahu apa yang dimaksud dengan kata-katanya itu. Sewaktu kecil mereka sering masuk ke kamar Nadine lewat jendela kalau lagi dikejar-kejar penduduk. Pernah temannya itu menjerit dan mengusir mereka karena lagi lepas handuk habis mandi.
Surya belum pernah mengendarai motor gede dan sahabatnya memberi kesempatan untuk itu. Mereka berkendara menelusuri jalan beraspal yang sepi. Dalam setengah jam mereka sampai di depan rumah Katrin.
"Berhenti di sini," kata Gerdy pada bagian pagar yang cukup gelap. "Aku masuk lewat sini. Kau tunggu di warung kopi."
"Apa tidak sebaiknya aku menunggu di sini?"
"Jangan memancing kecurigaan warga."
"Warga sudah tidur jam segini."
"Waspada perlu."
Gerdy berdiri di jok motor. Kemudian tangannya memegang ujung pagar tembok dan bergerak naik ke atas tembok. Surya pergi dari tempat itu setelah temannya melompat turun ke halaman.
Gerdy berlari dengan cepat ke beranda samping yang agak gelap, sekilas memeriksa jendela dan mencongkelnya pakai pisau, kemudian melangkah masuk dan merapikannya kembali.
Gerdy berjalan dengan waspada menuju ke kamar Katrin. Matanya beredar mengawasi keadaan. Aman. Semua penghuni rumah sudah tidur.
Tiba di depan kamar Katrin, Gerdy berhenti dan menggerakkan gagang pintu, tidak dikunci. Dibukanya pintu secara perlahan.
__ADS_1
Di tempat tidur, Katrin sedang heboh dengan alat bantu sambil menonton film dewasa. Dia baru menyadari keberadaan Gerdy setelah berdiri di dekatnya.
Katrin segera berhenti dengan aksinya, dan bukan terkejut, dia tersenyum menggoda.
"Kebetulan," katanya. "Aku kedatangan pangeran disaat aku membutuhkan."
Gerdy mengeluarkan pisau yang diselipkan di pinggang. Senyum Katrin lenyap seketika. Wajahnya tampak ketakutan. "Kamu mau apa? Jangan bunuh aku."
"Aku tidak akan membunuhmu," kata Gerdy dingin. "Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa kau terlalu terhormat disebut pelacur. Kau adalah iblis."
Gerdy menunjukkan pisau di depan matanya, dan bertanya, "Kau ingat pisau ini?"
Pisau dapur itu mengingatkan Katrin pada kejadian beberapa tahun lalu. Mendadak wajahnya memucat. Mungkinkah Gerdy mengetahui kasus pembunuhan ayahnya?
"Jadi kau sudah ingat pisau ini? Atau perlu diingatkan lagi? Pisau ini adalah senjata yang digunakan oleh perempuan iblis untuk menusuk punggung ayahnya selesai bercinta. Kejadiannya di belakang pendopo. Kau seharusnya merasa terhormat disebut pelacur, karena tidak ada pelacur yang membunuh ayahnya setelah puas berhubungan intim!"
"Apa...yang...kau inginkan?" tanya Katrin tergagap dengan sinar mata sangat ketakutan.
Gerdy mengeluarkan handphone dari saku jaket dan memutar video Katrin beradegan mesum dengan seorang pemuda.
"Aku dapat video ini dari Datuk Meninggi dan orang-orangnya siap untuk menjadi saksi kalau kau adalah pelacur."
Datuk Meninggi bersedia membantu ibunya jika Katrin bersikeras maju ke pengadilan. Dia merasa perlu membela karena keluarga mereka terkenal baik dan dermawan kepada masyarakat.
"Dan kau bertanya apa yang kuinginkan?" tatap Gerdy bengis sambil mengusap-usap pisau pada lehernya.
Tubuh Katrin gemetar ketakutan. "Ampun...! Aku akan menarik gugatanku...!"
Gerdy mendorong dahinya sehingga Katrin berbaring terlentang di atas kasur.
"Itu keputusan bijak karena aku tidak segan-segan menjebloskanmu ke penjara."
Gerdy menancapkan alat bantu silikon ke mulutnya, kemudian pergi meninggalkan kamar.
Gerdy keluar rumah lewat pintu depan, lalu menghubungi Surya via handphone, "Jemput aku di pintu gerbang."
Gerdy tidak lama menunggu, selang kemudian Surya muncul dengan keheranan.
"Kamu dapat kunci gembok dari mana?" tanyanya.
"Dari tuan rumah, dari mana lagi?"
"Katrin nggak diapa-apain, kan?"
__ADS_1
"Masa wanita body goal nggak diapa-apain?"