
Nadine membelai wajah suaminya yang berbaring di karpet dengan penuh kasih sayang.
"Aku beli alat bantu ya?" ujarnya. "Perempuan bilangannya sembilan tapi bisa tahan. Lelaki bilangannya satu tapi sulit bertahan."
"Perempuan sekalinya jebol merusak semua tatanan yang ada," sindir Gerdy.
"Seperti Katrin maksudnya?"
"Bagaimana aku melupakan kakakmu kalau disebut-sebut terus?"
"Asal jangan kepikiran."
"Aku tidak pernah kepikiran, tapi kemarin aku ditawari untuk datang ke rumahnya kapan saja kalau butuh."
Nadine terbelalak. "Lalu apa tanggapanmu?"
"Aku munafik kalau tidak berminat tidur dengan wanita body goal. Tapi melakukan atau tidak, itu perkara lain."
"Jadi kamu kepingin melakukan?"
"Aku lebih suka menunggumu. Maka itu aku heran bagaimana kakakmu berani melakukannya."
"Aku masih lama, maka itu aku kasih solusi."
"Solusinya kakakmu?"
"Enak saja!"
"Aku tidak pernah memakai alat bantu, karena perempuan selalu sudi membantu."
"Aku tidak mau suamiku jajan. Kamu tidak tahu di luar sehat apa tidak."
"Kalau tahu?"
"Bagaimana kamu tahu mereka sehat?"
"Medical check up sebelum dipakai, dan itu keahlianku sebelum pensiun jadi play boy."
Nadine cemberut manja. "Pikiranmu sudah sejauh itu."
"Pikiranku dekat, tapi istriku membuat jauh. Tiap hari membicarakan hal itu."
"Soalnya minggu-minggu kritis. Pria macam suamiku sangat gampang untuk jajan gratis."
"Aku tidak pernah jajan gratis."
"Sukanya bayar?"
"Sudahlah, aku mau tidur, capek."
Gerdy memejamkan mata dan tidur memunggungi istrinya. Dia malas meladeni. Hampir tiap hari curiga dan cemburu. Setiap kali membukakan baju sehabis pulang kerja, Nadine sering mencium aroma organ rahasianya.
"Apa yang kamu perbuat?" tanya Gerdy heran.
__ADS_1
"Aromanya pasti beda kalau habis dipakai."
"Sok tahu."
"Aku pasti bisa membedakan karena cuma kenal satu. Kalau kamu sudah kenal banyak, makanya tidak bisa membedakan."
"Sok...tahu....!"
Perbuatan konyol itu justru menciptakan imajinasi tersendiri. Gerdy melihat semua perempuan yang dijumpai jadi demikian cantik dan seksi! Pinggul Bu Marto pun terlihat menggairahkan! Edan!
Maka itu Gerdy mencari kesibukan dengan joging atau mengawasi pembuatan rak toko jika tidak ada kegiatan kuliah atau kerja.
Paling tersiksa bila malam hari. Gerdy harus bolak-balik ke kamar mandi untuk meredakan gejolak karena melihat pemandangan yang demikian sempurna di tempat tidur. Kadang dia tidur di sofa ruang tengah menghindari kemolekan istrinya.
"Ngapain sih bolak-balik ke kamar mandi?" tanya istrinya sambil berbaring miring menyusui bayi di tempat tidur, bokongnya kelihatan begitu menggoda. "Aah, aku tahu. Kamu pasti habis Mas Turkiyem."
"Masturbasi," ralat Gerdy. "Jauh banget.... Aku tidak pernah masturbasi."
"Nah, terus ngapain di kamar mandi?"
"Kamu lihat saja sendiri...eh, jangan deh. Malah jadi sasaran nanti. Aku merendam organ rahasiaku."
"Biar tidur ya?"
Libido berlebih menyebabkan segala sesuatu terlihat sangat berbeda. Lenggang lenggok Mimin saja terlihat seperti peragawati di atas cat walk! Astaga!
Apakah semua suami mengalami hal seperti ini?
Mami dan Prilly pun seolah dapat membaca situasi lagi gawat darurat. Begitu Gerdy pulang, mereka langsung menyingkir ke dalam kamar. Dia sempat mendengar istrinya memerintahkan mereka untuk mengunci pintu kamar.
Reaksi gerak cepat Nadine patut mendapat pujian. Tapi saat terlihat berlebihan, Gerdy jadi sebal, seakan dia adalah dewa mabuk yang siap menyantap siapa saja!
Bagi Gerdy cobaan paling berat dalam hidup berumah tangga adalah pasca lahiran.
"Aku tersinggung," kata Gerdy sambil duduk beristirahat di dalam kamar. "Aku demikian menakutkan apa?"
"Aku minta mereka hati-hati."
"Tidak lebay juga."
"Mereka cuma mengerjakan apa yang perlu dikerjakan. Pencegahan dini adalah cara efektif untuk menghilangkan bencana."
"Kau benar-benar posesif. Siapa saja dicurigai."
Mulai dari Bu Marto sampai Mami semua diproteksi. Ada perintah khusus untuk menjaga jarak kayak lock down.
Kalau Gerdy mau, tinggal pilih di kantor. Mereka tahu dirinya lagi paceklik. Tidak sedikit pula staf wanita berusaha memancing.
Perkara godaan dalam berumah tangga adalah hal penting yang perlu dijaga, dan modalnya adalah kepercayaan. Mereka harus saling percaya tidak berbuat macam-macam di kantor. Fakta di lapangan selingkuh atau tidak, hanya mereka sendiri yang tahu.
Ketika suami atau istri mulai menerima kehadiran orang ketiga, artinya ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan mereka, dan bahtera rumah tangga tidak layak dipertahankan.
"Kamu tahu kenapa aku tidak berniat selingkuh?" tanya Nadine. "Aku tidak tahu harus cari pria yang bagaimana lagi? Kamu adalah lelaki paling sempurna yang pernah kutemui."
__ADS_1
"Tapi Bu Marto sama si Mimin masa dicurigai? Mami dan Prilly okelah aku terima. Kamu mengalami trauma dengan peristiwa yang terjadi dalam keluargamu."
"Aku tidak mencurigai si Mimin. Aku tidak memintanya untuk mengunci pintu."
"Pikirmu aku tidak mungkin berbuat dengannya? Si Mimin lumayan cantik dan seksi. Kamu tidak tahu bagaimana kalau suami kepepet!"
"Kejadian itu adalah pilihan buruk dari yang terburuk."
"Kamu sangat menghina diriku."
"Kok menghina?"
"Aku ini seolah binatang buas yang mengabaikan segala moral."
"Aku tidak bilang kamu tidak bermoral."
"Perbuatanmu menunjukkan itu. Kamu menyuruh Mami dan Prilly mengunci pintu kamar, sementara si Mimin dibiarkan jadi umpan. Tujuannya apa? Kamu ingin aku berbuat dengan si Mimin?"
"Aku menganggap tidak mungkin."
"Jadi kamu menganggap mungkin kalau aku berbuat dengan Mami dan Prilly?"
"Sayang.... Kamu jadi baperan begini sih? Selama ini kamar mereka kan terkunci, kenapa baru dipermasalahkan sekarang?"
'Aku sudah mempermasalahkan sejak dulu sebenarnya, tapi berusaha maklum karena kejadian lagi hangat-hangatnya dan terus berlangsung. Sekarang Papi sudah pergi. Kamu tidak hanya posesif, kamu juga merendahkan suamimu."
"Ya sudah, aku suruh mereka tidak mengunci kamar."
"Aku tidak pernah mengunci kamar," kata Prilly yang masuk tanpa permisi. Dia baru pulang sekolah. "Perbuatan biadab itu terjadi bukan karena mereka tidak mengunci kamar, mereka sama-sama menginginkan."
"Kamu itu kebiasaan," tegur Nadine. "Masuk kamar tidak mengetuk pintu."
"Aku kangen mau nengok keponakan. Seharian aku belum bermain dengannya."
Prilly pergi ke ranjang bayi, dan mulai bermain dengan keponakannya yang tersenyum-senyum.
"Kangen sih kangen," gerutu Nadine. "Ketuk pintu jangan lupa."
"Takut kalian lagi berbuat intim? Kalau begitu pintu kamar harus dikunci. Pencegahan datang dari diri sendiri, jangan mengandalkan orang lain."
"Jadi selama ini kamu tidak melakukan pencegahan? Kamu biarkan kamar tidak terkunci?"
"Pencegahan dari apa? Aku tidak berniat berbuat mesum dengan lelaki satu-satunya di rumah ini. Jadi buat apa dikunci? Takut suami kakak yang lagi puasa masuk? Nah, berarti urusannya dengan suami kakak, bukan denganku."
"Tapi kamu kena akibatnya."
"Dikunci atau tidak pasti kejadian kalau ada niat. Contohnya sudah ada dalam keluarga kita. Aku dan suami kakak tinggal satu rumah. Setiap detik ada kesempatan. Jadi sangat bergantung pada niat."
"Sukur," ledek Gerdy pada istrinya. "Sore-sore diceramahi anak putih abu-abu."
"Alah, aku tahu seleramu kayak apa!" balas Nadine. "Dulu adikku tipis, sekarang tebel banget!
"Memiliki selera terhadap perempuan cantik adalah normal," kelit Gerdy. "Yang penting bisa menahan diri apa tidak? Kamu ingin aku tidak berselera terhadap wanita cantik? Bagaimana aku menghadapimu nanti?"
__ADS_1