Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Adakah Kesetiaan


__ADS_3

Nadine tersenyum memandang Idyla yang berlari-lari ke arahnya. Alangkah lucunya dia dengan tas mungil di punggung. Topi TK terpasang melintang ke samping. Entah siapa yang mengajari, dari rumah tidak begitu.


Dia seperti melihat bayangan Nadine kecil pada pemandangan di hadapannya. Tapi bukan berlari-lari di atas paving blok yang keluar dari sebuah gedung bertingkat, di pematang sawah, mandi lumpur.


Ah, masa lalu memang sulit dilupakan. Lebih-lebih bila bagian dari masa lalu itu masih tersisa dalam kehidupan.


Setiap kali melihat tatapan bening putrinya, entah kenapa, dia sulit menghalau bayangan seseorang yang kini entah di mana.


Sering Nadine terlarut memikirkannya. Kasihan orang tuanya. Apalagi hubungan mereka makin hari makin baik. Bahkan Umi sering membawa Idyla ke rumahnya. Dan dibiarkan saja meski dirinya sendiri tidak betah tanpa Idyla di sisinya.


"Idyla adalah cucuku," kata Umi suatu hari. "Kesalahan kalian adalah tidak membawanya padaku saat cucuku tertimpa musibah."


"Maafkan aku, Umi," sahut Nadine kelu. "Hal itu tidak terpikirkan sebelumnya."


"Tidak perlu minta maaf," tukas Umi bijak. "Kesalahanku juga tidak menerimamu sebagai menantu sehingga kamu takut untuk datang padaku. Semua sudah terjadi dan tak ada yang perlu disesali."


"Aku tidak bisa hidup tanpa Idyla. Aku mohon Umi memahami hal ini."


"Aku sangat paham," senyum Umi lembut. "Aku tidak mungkin mendesakmu untuk bercerai dengan suamimu agar bisa tinggal di rumahku. Jadi jalan tengahnya, tolong izinkan Idyla untuk bermain bersamaku. Kau tidak keberatan, kan?"


Sejak Wisnu bertugas di Bandung, praktis di rumah tinggal orang tuanya. Nadine paham bagaimana sunyinya hidup berdua di rumah sebesar itu, tanpa gelak tawa anak cucu. Kehadiran Karlina tak cukup menghangatkan rumah.


Mulanya Umi tidak setuju Wisnu bekerja di Bandung. Dia ingin anaknya mengurus perkebunan saja, dan segera menikah. Karlina sudah mendapat posisi cukup bagus di sebuah perusahaan. Apa lagi yang ditunggu?


"Aku tidak mau menikah sebelum kakakku ditemukan," tegas Wisnu. "Gerdy saudaraku satu-satunya. Dia harus menyaksikan kebahagiaan adiknya."


Sampai detik ini Wisnu tak pernah berhenti mencarinya. Setiap hari dia berkeliling kota Jakarta dan tidak putus asa meski jejak kakaknya kian gelap. Dia pernah berniat memasang iklan di koran. Tapi bukan ide bagus, sama saja membeberkan rahasia keluarga ke masyarakat luas, dan belum tentu Gerdy baca.


Karena alasan itu, Wisnu memilih dinas di kota Bandung sekalian mencari kakaknya. Tapi Umi curiga kalau dia menolak pernikahan dengan berusaha menemukan Gerdy. Dan entah kenapa Nadine merasa cemas.


"Kau ingin Karlina jadi perawan tua?" tatap Umi tajam.


"Dia bisa cari pria lain."


"Dia sudah melakukannya kalau mau. Masalahnya dia cuma cinta kamu."


"Kenapa Umi baru bicara cinta sekarang?" protes Wisnu. "Setelah aku kehilangan seorang kakak. Setelah Kak Nadine hidup sama laki-laki lain. Idyla tak perlu sekedar singgah di rumah ini kalau Umi sadar sejak awal."


"Jangan salahkan Umi." Nadine yang kebetulan sedang menjemput anaknya coba mendinginkan suasana. "Umi tidak salah."


"Lalu aku yang salah?"


"Aku berdua yang salah," sahut Nadine pelan. "Kami terlalu mengagungkan cinta."


"Cinta memang agung, tapi terhinakan oleh orang-orang yang tidak ada penghargaan terhadapnya, kayak Umi."


"Jadi kamu merasa pandai menghargai cinta?" pandang Umi menusuk. "Lalu kenapa kamu menolak cinta Karlina? Apa kekurangannya?"


"Aku tidak menolak, Umi."


"Lalu apa namanya kalau menunda-nunda pernikahan?"


Nadine tahu kenapa Umi memaksa Wisnu untuk segera menikah. Dia ingin membunuh rasa sepi dengan kehadiran seorang menantu, seorang cucu.


Dia tak punya kesibukan selain duduk berjam-jam di depan televisi. Pergi ke perkebunan tidak tiap hari. Lama-lama berada di rumah makan risih. Kebanyakan pengunjung laki-laki seusianya. Kadang ada juga yang berani kurang ajar. Tidak dilayani pelanggan kabur. Kalau dilayani, kesannya kayak perempuan murahan.


Tapi kehadiran menantu tidak banyak membantu untuk membunuh rasa sepinya. Karlina sibuk dengan pekerjaan seiring perjalanan karirnya yang meningkat. Idyla adalah satu-satunya pelarian berharga sekaligus penawar rindu pada anaknya yang hilang.


Bradley pun tak keberatan melihat perkembangan itu.


"Idyla toh cucunya," komentar Bradley ketika memergoki Umi mengambil anak tirinya. "Dia lebih berhak daripada aku."


"Terima kasih atas pengertiannya, Mas."


"Asal jangan ibunya saja yang diboyong," senyum Bradley lembut.

__ADS_1


Barangkali suaminya cuma bergurau, tak bermaksud apapun. Tapi ucapannya sudah cukup sebagai peringatan. Kalau Nadine terlalu dekat dengan mantan mertuanya, bukan mustahil suatu saat jika bertemu dengan Gerdy akan lupa menjaga jarak. Adakah kesetiaan yang dapat membendung pengkhianatannya saat itu?


"Teringat mantan suamimu?" tegur Bradley melihat Nadine diam saja, termangu mengawasi televisi yang telah lama dimatikan. "Belum bisa menghapus masa lalu?"


Tentu saja sampai kapanpun Nadine tidak dapat melupakan Gerdy. Laki-laki itu pernah menjadi bagian dari hidupnya. Mengukir janji dalam satu hati. Tapi apalah artinya sekarang? Bunga-bunga cinta telah berguguran. Dan dia tak berani berharap untuk bersemi kembali.


"Aku sudah jadi istrimu," ujar Nadine. "Pantaskah memikirkannya?"


"Hanya kamu yang tahu," senyum Bradley halus. "Dan aku percaya padamu."


Nadine pura-pura mengambil makanan ringan di meja, sekedar menghindari tatapan suaminya. Tatapan itu seolah menuntut sesuatu yang sampai detik ini belum bisa diberikan sepenuhnya. Cinta!


Bradley demikian tulus mencintainya. Segenap perhatian dicurahkan untuk membahagiakannya. Berusaha memberikan yang terbaik, kadang berlebihan, terlalu memanjakan.


Dia tidak menolak ketika Nadine ingin tinggal di kotanya. Dia rela bolak-balik ke Jakarta meski amat melelahkan. Padahal apa yang diberikannya?


Nadine tak pernah memperlakukan sebagaimana layaknya seorang suami. Menjadikan pembantu sebagai ratu rumah tangga. Mereka yang mengurus semua keperluannya.


Kadang Nadine merasa berdosa. Mengapa harus menelantarkan suami yang sebaik Bradley? Dia sudah berhutang budi padanya, mengapa masih berusaha mengingkari untuk membayarnya? Tak dapatkah dia memaafkan kesalahannya?


Bradley cuma memanfaatkan peluang. Dia tak pernah memasang perangkap untuk merebutnya dari Gerdy. Bahkan jika dia tidak turun tangan, Idyla mungkin tinggal tulang belulang!


Kalau Bradley tidak mampu menghangatkan pembaringan, itu bukan kesalahannya. Dia sudah berusaha melakukan terapi, tapi sudah bertahun-tahun belum mengalami perkembangan berarti.


Lagi pula, Nadine tidak pernah mempersoalkan hal itu, meski seorang istri tidak sekedar butuh materi berlimpah.


"Melamun lagi," keluh Bradley tanpa perasaan apa-apa. "Jadi dari tadi omonganku tidak didengarkan?"


Nadine menoleh dengan gelagapan. Dia bertanya, "Kau bicara apa?"


"Apa Gerdy begitu berarti bagimu?"


"Mas!" protes Nadine sengit. "Aku istrimu!"


"Lalu apa yang kau pikirkan?"


"Kenapa diizinkan?"


"Kita berdosa kalau coba memisahkan mereka. Kau sendiri yang bilang begitu."


"Tapi bukan untuk jadi pikiran."


"Anak pasti jadi pikiran orang tua," kata Nadine. "Mas tadi bicara apa?"


Bradley menoleh sekilas seakan ingin memastikan kalau istrinya siap mendengarkan, lalu berkata, "Mami menyerahkan perusahaannya padamu. Dia ingin istirahat dan tinggal bersama Papi di Yogya."


"Aku?" Nadine terbelalak. "Kenapa bukan kamu sendiri?"


"Aku sibuk di Jakarta. Mana ada waktu? Lagi pula, Mami ingin kamu yang mengelola."


"Adikmu?"


"Ogi sudah setengah Amerika. Dia lebih suka mengambil program doktoral daripada pulang ke tanah air."


"Sudah bilang aku ini lulusan apa?"


"Pendidikan tidak penting."


"Jelas penting! Aku buta soal bisnis!"


"Perusahaan punya banyak tenaga ahli. Kamu bisa mengandalkan mereka."


"Dan membiarkan mereka membodohi aku? Sebulan saja dipegang aku, perusahaan bisa bangkrut, Mas!"


"Mereka dapat dipercaya."

__ADS_1


"Kayak tidak tahu saja orang jaman sekarang! Mereka bisa dipercaya karena belum ada peluang untuk berkhianat!"


"Kamu bisa melanjutkan kuliah sambil memimpin perusahaan."


"Suruh buka praktek di perusahaan? Aku ini calon dokter kandungan yang gagal!"


"Banyak orang sukses bukan di bidangnya. Ada kemauan pasti ada jalan."


"Jalan bangkrut."


"Jangan pesimis."


"Angkat saja salah seorang dari mereka."


"Sampaikan sendiri ke Mami."


Tentu saja Nadine tidak berani. Mami pasti tersinggung. Keputusannya adalah undang-undang. Siapapun tak boleh melanggarnya.


Hari ini Nadine terpaksa pergi ke Bandung karena ada acara serah terima jabatan besok pagi. Maka itu dia sengaja menjemput Idyla lebih awal, sekalian mengurus kepindahan anaknya.


"Aduh, cantik sekali anak Mama," puji Nadine sambil meraih Idyla ke dalam gendongannya. "Siapa yang pasang topi ini? Ibu Guru?"


"Aku sendiri," sahut Idyla lincah.


"Pintarnya anak Mama!"


"Idyla ingin es krim ya, Ma?"


"Mana tukang es krimnya?"


"Bukan beli di sini, di mall apa tuh, Ma?"


"Tidak bisa, Sayang. Mama sudah bilang sama Ibu Guru hari ini Idyla mau pergi. Sekarang kita ke rumah Oma."


Nadine membuka pintu mobil dan mendudukkan Idyla di kursi depan, kemudian mereka meninggalkan pelataran gedung sekolah.


Sebetulnya Nadine tidak tega memisahkan Idyla dengan omanya. Di antara mereka telah terjalin hubungan yang sangat erat. Dan untuk suatu alasan yang dia sendiri tidak tahu, dia begitu ingin Idyla diakui sebagai cucunya.


Kalau boleh memilih, Nadine lebih senang tinggal di kota kecil ini. Dia tidak tergiur dengan segala macam kedudukan. Dia seorang ibu rumah tangga, bukan wanita karir.


"Aku pindah ke mana, Ma?" tanya Idyla. "Kenapa mesti pamit sama Oma?"


"Idyla sama Mama akan tinggal di kota yang minggu kemarin kita kunjungi sama Papa. Idyla mau?"


"Mau! Mau!" sorak Idyla senang. "Keripik tempenya enak!"


Sambil membelokkan mobil memasuki halaman rumah Umi, Nadine tersenyum tawar melihat Idyla bernyanyi gembira.


Ah, anak itu masih terlalu polos untuk memahami sebuah perpisahan. Dia tidak tahu kalau hari-hari berikutnya tak ada Oma yang menemani bermain. Yang membelikannya boneka, jajanan.


Dia tidak tahu kalau nanti akan kehilangan sebagian perhatian mamanya. Banyak menghabiskan hari-hari bersama pembantu. Waktu mamanya tersita untuk urusan kantor.


Dan gadis kecil itu hanya ikut-ikutan menangis ketika Umi merangkulnya sambil mengeluarkan air mata. Dia tidak mengerti mengapa omanya menangis.


"Sering-sering ke mari ya, Sayang," bisik Umi mengharukan sekali. "Oma akan selalu merindukanmu."


Wanita itu pantas bersedih. Dia sudah kehilangan putranya. Ketika mulai menerima kehadiran Idyla, mulai menyayanginya, dia harus kehilangan cucunya pula. Oh, masih tersisakah pelipur dari jarak yang membentang?


Nadine memalingkan wajah. Tak sampai hati melihatnya. Dia baru mengalihkan pandangannya kembali ketika Umi bertanya, "Kapan berangkatnya?"


"Sekarang juga."


Nadine melihat Umi hendak mengatakan sesuatu, tapi ragu. Dia tahu apa pesan yang terpendam itu.


"Saya akan coba mencarinya, Umi," senyum Nadine pahit. "Saya akan berusaha mengembalikan Gerdy ke pangkuan Umi sebagai penebus dosa saya."

__ADS_1


Kepergian Nadine ke Bandung bukan cuma untuk mencari mantan suaminya, dia juga ingin mencari Katrin yang kabarnya tinggal di kota itu.


Dia ingin menyatukan kembali keluarga mereka. Bagaimanapun besarnya dosa Katrin, dia adalah kakak kandungnya.


__ADS_2