
Hari itu Gerdy kurang enak badan. Sepanjang hari berbaring di tempat tidur. Dia sebenarnya tidak enak sama atasannya. Dua hari minta izin untuk keperluan kuliah, sekalinya mau masuk kerja jatuh sakit.
Sepanjang hari pula Nadine menemaninya. Dia mengira lelaki itu jatuh sakit karena fungsi ginjalnya terganggu. Terlalu keras bekerja sehingga berdampak buruk pada kesehatannya.
Karena Gerdy menolak pergi berobat, terpaksa Nadine memanggil dokter. Gerdy membiarkan saja. Percuma dilarang, perempuan itu pasti tak peduli.
Nadine sedikit lega ketika dokter menjelaskan penyebab sakitnya itu.
"Kelelahan," kata dokter selesai memeriksanya. "Mesti banyak istirahat."
"Dari pagi kerja saya cuma tiduran, Dok," senyum Gerdy kecut.
"Minum vitamin juga."
"Dia tidak suka minum obat," sela Nadine. "Dia merasa dirinya kuat."
"Berarti jangan sakit," tukas dokter. "Karena kalau sakit perlu minum obat untuk membantu proses penyembuhan."
"Kecapean saja kan, Dok?"
"Justru ini penting," tandas dokter. "Dia tidak boleh terlalu capek. Mesti menjaga stamina. Kalau hal itu diabaikan, suatu saat fungsi ginjalnya bisa berhenti. Dan anda tahu apa artinya itu."
Kematian, pikir Nadine terkesiap. Dan itu tidak boleh terjadi! Bagaimana tanggung jawabnya pada orang tua Gerdy? Dia berjanji mengembalikannya dalam keadaan hidup, bukan dalam keranda!
"Baiknya kurangi kegiatan yang menguras tenaga," pesan dokter ke Gerdy sebelum pergi. "Demi keselamatan jiwa anda."
"Makanya jangan bercinta setiap malam," sindir Nadine. "Karena bercinta sangat menguras tenaga."
"Bercinta tidak apa," senyum dokter samar. "Ibu bisa mengatur untuk beberapa kali istirahat."
"Dia tidak mau beristirahat karena ingin beberapa kali dalam satu malam," ujar Nadine pedas. "Baiknya dijadwal ya, Dok?"
"Ibu bisa membicarakannya berdua. Pokoknya jangan sampai melakukan aktivitas yang mendekatkan pada kematian."
Dokter tidak tahu, keluh Nadine hambar. Gerdy bukan orang yang takut mati. Di matanya kehidupan dan kematian hampir tak berdinding.
Lihat saja, dia bersikeras ingin keluar rumah mencari makanan. Padahal Nadine sudah membelikan banyak makanan dan minuman. Lobster dan salmon asap sampai dingin tidak disentuh sedikitpun. Harga dirinya terlalu tinggi untuk menerima perhatian dari mantan istrinya.
Katrin tidak bisa pulang jam istirahat karena jarak rumah ke tempat kerja cukup jauh. Pasti terlambat masuk jika mengantar hidangan untuk makan siang. Dia sudah memesan makanan online, tapi Gerdy tidak mau menyantap karena disangkanya pesanan Nadine.
Bangkit dari pembaringan saja sempoyongan, masih memaksakan diri berjalan ke pintu. Dan hampir terjatuh kalau Nadine tidak menyambar tangannya. Karena Gerdy menolak untuk dibantu, Nadine terbanting dan kepalanya hampir membentur dinding kalau laki-laki itu tidak segera meraih tubuhnya.
Sekejap Nadine terdiam dalam pelukannya. Tangan yang melingkar di pinggangnya pun tidak mengendur. Tapi kemudian Gerdy sudah melepaskan rangkulannya dan balik lagi ke tempat tidur.
"Turutilah nasehat dokter," kata Nadine menahan kesal. "Jangan semaumu sendiri."
"Aku tidak apa-apa," dengus Gerdy dingin.
"Kalau masih bilang tidak apa-apa, beberapa bulan lagi kamu betul-betul tidak merasakan apa-apa...mati."
"Bukan urusanmu."
"Tentu saja urusanku! Kamu boleh membuang nyawa di selokan mana saja. Tapi aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!"
"Kalau ingin memperoleh bintang jasa, carilah orang yang butuh pertolonganmu."
__ADS_1
"Aku harus membawa kamu pulang ke rumah orang tuamu."
"Kau tak pernah mengambilnya dari mereka. Aku sendiri yang pergi untuk membayar kebodohanku."
"Jadi cinta kita adalah kebodohan?"
"Aku sudah lupa apakah di antara kita pernah ada cinta. Yang jelas tidak ada kewajiban bagimu untuk memulangkan aku."
"Aku sudah berjanji pada orang tuamu."
"Kamu sendiri pernah berjanji padaku. Tapi apa artinya janji-janji itu sekarang?"
"Bukan aku yang mengingkari."
"Bukan pula aku. Tapi sudahlah. Lebih baik kamu pulang. Nanti suamimu marah."
"Dia tak pernah melarangku keluar rumah."
"Karena dia tidak tahu ke mana istrinya pergi."
"Aku tak peduli."
"Begini caramu menjaga kesetiaan?"
"Suamiku di Jakarta."
"Bukan berarti kamu bebas keluyuran."
"Aku menjengukmu! Bukan keluyuran!"
"Kau mantan suamiku."
"Tapi kamu sudah jadi milik orang lain. Tak ada kewajiban menghiraukan aku."
"Kau butuh seseorang untuk merawat dirimu."
"Tapi bukan istri orang lain."
"Aku akan minta cerai." Nadine menghela nafas panjang. Matanya menatap lurus ke luar jendela kamar. Mencoba menerobos udara yang temaram. "Aku tidak bisa terus-menerus membohongi perasaanku."
Sekarang Gerdy tahu untuk apa Nadine berlama-lama di kamar ini. Untuk apa berjam-jam setia menemaninya. Katrin sampai mengalah istirahat di kamar sebelah sehabis pulang kerja. Dia cuma menaruh makanan di meja kecil dan ganti pakaian, lalu keluar lagi.
Nadine ternyata ingin menuturkan keputusan yang mungkin sejak lama dipendamnya.
"Jangan bilang Katrin sudah menggantikan kedudukanku," desis Nadine lirih. Matanya memandang Gerdy dengan redup. "Aku rela hidup menderita bersamamu. Makan dari ampas kehidupan. Menikmati malam dari sisa mimpi orang lain."
"Kau tidak ingin mengatakan selama ini hidupmu tidak bahagia, bukan?" Untuk pertama kalinya suara Gerdy terdengar lembut, tapi tanpa menaburkan perasaan apa-apa.
"Bradley suami yang baik. Dia tak pernah mengecewakan aku. Tapi kalau aku bahagia, mungkin tidak berada di sini."
"Aku tahu hidupmu gersang. Kamu bukan tipe istri yang merasa cukup dengan harta berlimpah untuk mencari kehangatan pada laki-laki lain, karena suamimu tidak mampu memberikannya."
Nadine terkejut. Dia memandang mantan suaminya tanpa berkedip, dan bertanya, "Kamu tahu dari mana kalau suamiku impoten?"
"Katrin pernah bertanya pada orang pintar sebelum menerima lamaran Bradley. Maka itu dia menolak jadi istrinya karena kebutuhan batin sangat penting baginya."
__ADS_1
"Katrin juga menolak lamaranmu karena tahu aku pasti kembali padamu."
"Bradley pasti terluka kalau kamu minta cerai gara-gara itu. Aku ada alamat untuk membantunya. Jangan tinggalkan dirinya."
"Kamu ingin aku hidup bersama Bradley untuk selamanya?"
"Dia sangat mencintaimu."
"Kamu tidak?"
"Berdosa mencintai istri orang lain."
"Dia sendiri pernah berbuat dosa padamu."
"Cintaku hanya milik masa lalu."
"Kau pantas mendapatkannya kembali."
"Aku tidak mau."
"Kenapa?" tatap Nadine kecewa bercampur marah. "Karena sudah ada perempuan yang lebih lihai dari aku di atas ranjang?"
"Bradley bukan boneka. Kamu anggap apa perkawinan kalian?"
"Tapi Bradley sudah memperlakukan kamu seperti boneka. Merampas milikmu dengan semena-mena."
"Dia tak pernah merebutnya. Aku sendiri yang menyerahkan kamu. Dan aku rela kamu diperistri olehnya."
Tapi aku tidak, sambar Nadine muram. Dia tidak rela membiarkan Gerdy mengarungi hidup bersama kakaknya.
Rasanya tekad Nadine sudah bulat. Dia akan minta cerai pada suaminya, dan berterus terang bahwa Gerdy lebih membutuhkan dirinya.
Akan tetapi, ketika berhadapan langsung dengan suaminya, keberanian Nadine meleleh. Dia tak sampai hati mengutarakannya. Apalagi malam ini Bradley sedang bergembira memenangkan tender besar.
"Kita harus merayakannya, Darling," derum Bradley dengan kebahagiaan yang meluap-luap. "Aku akan mengajakmu jalan-jalan ke Hawaii."
"Buang-buang duit."
"Kalau sudah tiba di Hawaii, kamu pasti meralat ucapanmu itu."
Nadine kembali menekuni diktatnya. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah itu. Dia tidak tega menghempaskan kebahagiaan suaminya yang melambung tinggi di angkasa.
"Kau tidak menganggap buku itu lebih menarik dari kabar gembira ini kan, Darling?" tegur Bradley separuh bercanda. "Tidak bisa bacanya ditunda dulu?"
"Minggu depan ujian."
"Ada ujian susulan?"
"Kayak gempa saja ada susulan."
"Aku sudah pesan tiket."
"Tiket?" Nadine mengangkat wajahnya dengan kaget. "Jadi kau serius mau pergi ke Hawaii?"
"Kita belum pernah bulan madu kan? Nah, sekaranglah saatnya yang paling tepat!"
__ADS_1
Minggu depan? Bulan madu? Ah, sementara Nadine malah sempat berpikir minggu depan ingin pergi ke pengadilan agama! Mengurus perceraian! Bagaimana dia harus mengakhiri bahtera rumah tangga yang tak pernah sepi dari cintanya ini?