
Hujan turun sangat deras ketika mobil Gerdy memasuki jalan kota satelit. Suasana sangat sunyi padahal baru jam tujuh malam.
Gerdy melambatkan lari mobil karena jarak pandang terbatas. Dia menjalankan mobil agak ke tengah, menjaga agar ban tidak terpeleset ke tanah dan pasti merepotkan. Jalan ini belum memiliki trotoar.
"Ketakutanmu terbukti tidak beralasan," kata Gerdy. "Siapa yang tertarik melihat perut buncit di hujan lebat begini? Kodok saja enggan keluar sarangnya."
"Aku tidak takut ketahuan perut buncit," bantah Nadine. "Aku takut akibatnya yang menimpa dirimu."
"Aku sendiri tidak takut akibatnya. Kenapa kamu mesti takut?"
Gerdy sudah nekat. Dia tidak peduli dengan pandangan warga. Kenal saja tidak. Sejak masuk SMP, dia sudah meninggalkan kota kelahiran. Dia pulang enam bulan sekali, dan itu tidak cukup untuk mengenal perkembangan warga.
Kepala Gerdy mumet karena memikirkan orang tua. Ayahnya tokoh terpandang dan disegani. Tasyakuran pergi haji selama tujuh hari yang dihadiri ribuan warga jadi bukti.
Untung tingkat kriminalitas di kotanya nihil. Jika tidak, banyak rumah kebobolan karena ditinggal penghuninya. Warga tumpah ruah datang mendoakan orang tuanya.
Kharisma Abi yang melambung tinggi di angkasa pasti jatuh ke dasar bumi kalau aib ini terbongkar. Dia sudah terlambat untuk menyelamatkan. Dia bingung bagaimana mengatasi masalah yang tidak memiliki jalan keluar terbaik ini.
Akhirnya timbul pikiran nekat, menyerahkan eksekusi persoalan pada keadaan, apa yang terjadi, terjadilah.
Gerdy menghentikan mobil di depan rumah megah berpagar tinggi. Dia menghubungi tuan rumah, kemudian muncul Emi dari dalam. Perempuan itu berlari melintasi pelataran untuk membuka pintu gerbang dengan mengenakan jas hujan.
"Asisten rumah yang baru," kata Gerdy. "Namanya Emi."
"Janda?" tanya Nadine tanpa tedeng aling-aling.
"Ada perempuan berpenampilan lebih berani dari kamu langsung saja berasumsi negatif. Tidak semua janda berperilaku jelek. Dia punya suami. Hanya suaminya lagi menjalani hukuman karena kasus kriminal."
"Lengkap sekali pengetahuan kamu tentang asisten rumah itu. Kapan Katrin cerita padamu?"
"Dia pernah dibawa Katrin ke apartemenku."
Nadine menatap penuh selidik. "Katrin sering ke apartemen?"
"Jadi kayak interogasi," sindir Gerdy. "Dia datang untuk keperluan keluarga, tidak ada keperluan lain. Tidak elok mencurigai kakak sendiri."
"Aku pantas curiga karena aku tahu persis apa yang terjadi di rumah ini."
"Kecurigaanmu beralasan," ujar Gerdy tenang. "Hanya satu hal yang perlu kamu ketahui, aku lelaki brengsek tapi bukan binatang, dan masa itu sudah lewat."
Nadine tersenyum berlumur madu. "Aku percaya dan akan selalu percaya pada suamiku."
Gerdy menjalankan mobil melewati pintu gerbang yang sudah terbuka lebar. Mobilnya langsung menuju ke garasi yang terbuka dan berhenti di dalam. Emi segera menutup pintu garasi.
Mereka turun dari dalam mobil dan berjalan ke pintu yang menghubungkan ke ruang tamu. Katrin sudah menunggu mereka di balik pintu. Dia memeluk Mami sambil menangis.
__ADS_1
"Aku kangen sama Mami," kata Katrin. "Maafkan aku kalau sudah berbuat salah. Mami jangan tinggalkan aku lagi."
Mami tersenyum sambil mengusap-usap punggung anaknya. "Setiap orang pernah berbuat salah. Sebesar apapun kesalahan itu, seorang ibu selalu memaafkan. Maka itu aku pulang."
Sehabis melepas rindu dengan Mami, Katrin memperhatikan adiknya yang berperut buncit dengan sinar mata berlumur penyesalan. "Maafkan aku. Kamu tidak seharusnya seperti ini kalau aku jadi seorang kakak yang baik."
Nadine tersenyum samar. "Aku ingin hamil. Jadi tidak ada hubungan dengan kamu jadi kakak yang baik atau jahat."
Nadine sudah tahu solusi yang dimiliki kakaknya. Aborsi. Dia pasti menolak dan timbul pertengkaran. Pergi dari rumah juga akhirnya.
"Ingin hamil?" pandang Katrin tak percaya. "Kamu korbankan masa depan cuma karena ingin hamil? Apa itu logika orang pintar? Aku saja orang bodoh tidak bisa menerima logika itu."
"Sudahlah," tukas Nadine tenang. "Aku pulang untuk mengantar Mami, bukan untuk bertengkar."
"Prilly mana?" tanya Katrin setelah sadar adik bungsunya tidak ada.
"Prilly memilih tinggal di rumah adikmu," sahut Mami. "Aku setuju karena Nadine butuh teman."
Katrin kelihatan tidak senang. "Ada suaminya."
"Suaminya tidak selalu berada di rumah. Dia kuliah juga kerja."
"Belum siap jadi suami harusnya jangan berani membuat bunting anak orang," dengus Katrin pedas. "Dia harus jadi suami siaga."
"Aku sudah katakan tadi," kata Nadine sabar. "Aku ingin bunting. Jadi ini bukan kesalahan suamiku."
Katrin memandang Nadine dengan tajam. "Katakan sama adikmu, dia boleh masuk universitas manapun di dunia kalau tinggal bersamaku."
"Aku sudah sampaikan itu," jawab Nadine tenang. "Dia tetap dengan pendiriannya. Aku tidak mau memaksa karena takut mengganggu konsentrasi belajarnya. Aku tanya lagi nanti sesudah lulus SMA."
"Aku sebenarnya ada hadiah untukmu, asal kamu menuruti keinginanku. Aku mau kamu melanjutkan kuliah setelah melahirkan. Jangan gara-gara ada bayi, masa depanmu berantakan."
"Aku kira masa depanku baik-baik saja."
"Rumah kita dulu sedang diperluas dan diperindah. Kamu boleh tempati kalau sudah selesai. Aku kira rumah itu jauh lebih layak dari rumah yang kamu tempati. Anggap saja hadiah perkawinan kalian."
Rumah itu dekat rumah Dodi, mantan tunangan kakaknya. Entah apa maksudnya direnovasi. Apa Katrin akan CLBK setelah kontrak rahim berakhir?
"Terima kasih," senyum Nadine kecut. "Aku sudah punya rumah. Sebuah rumah sederhana tapi memewahkan kehidupan di dalamnya. Masalah kuliah, aku pasti melanjutkan. Aku sudah bahas ini dengan suamiku."
"Kamu itu susah dikasihani."
"Aku tidak mau dikasihani."
Katrin mendengus sinis. "Jadinya begini. Kamu pikir sedang mengandung anak calon gubernur? Anak yang kamu kandung itu belum tentu lebih baik dari bapaknya."
__ADS_1
"Aku jadi menyesal datang ke rumah ini," keluh Nadine menahan kesal. "Kamu tidak puas-puasnya mem-bully suamiku, semoga saja bukan karena iri adikmu memiliki suami sangat tampan dan sangat perkasa, tanpa bantuan obat vitalitas."
"Aku iri kalau anak yang kamu kandung itu jadi orang nomor satu di negeri ini," pandang Katrin mencemooh. "Aku lebih baik tidak punya keponakan kalau anak itu jadi kayak bapaknya."
"Aku kepingin punya keponakan, tapi keponakan itu dijual," sindir Nadine pedas.
"Berani kau melawan kakakmu?" belalak Katrin sengit. "Apa perlu aku membeberkan sejarah sehingga matamu terbuka?"
"Sudah, sudah," lerai Mami. "Aku tahu kamu sangat berjasa bagi keluarga. Tapi tahan emosi, malu ada adik ipar."
Gerdy kelihatan tenang-tenang saja. Dia tidak terpancing oleh suasana. Dia tahu Katrin sakit hati karena pernah disuruh buka baju pada pertemuan terakhir itu. Dia balas dendam sekarang.
"Mana punya malu kakakku?" gerutu Nadine sinis. "Baru ketemu sudah menjelek-jelekkan suamiku. Apa salah Gerdy?"
"Kamu juga diam," sambar Mami. "Apa kalian mau berantem terus kalau Mami sudah tidak ada?"
Emi muncul di ruang tamu, dan berkata, "Nyonya, makan malam sudah siap."
"Kita makan dulu." Katrin mengajak mereka untuk bersantap malam. "Sekalian aku mau bahas soal Papi, soal anak di perutku juga."
Kali ini Gerdy angkat bicara, "Masalah Papi, istriku sudah menyerahkan keputusan sama Mami. Soal anak di perutmu juga aku kira istriku tidak ada kepentingan. Jadi mohon maaf aku dan istriku tidak bisa ikut makan malam bersama kalian. Kami sudah ditunggu oleh orang rumah. Kami akan menginap beberapa hari di sana. Jika kamu atau Mami butuh bantuan, call saja."
Nadine terkejut. "Kamu mau membawa aku ke rumahmu?"
Gerdy berbisik di telinganya, "Aku kehilangan mood untuk mengambil jatah lima kali di rumah ini. Kamu pasti tambah marah kalau tidak diambil."
"Ini tidak benar, Sayang," protes Nadine. "Kamu cari masalah."
Gerdy tidak peduli, ia pamit, "Permisi, Mami, Kak Katrin."
Gerdy pergi. Nadine terpaksa pamit. Suami tercinta itu kelihatannya marah. Dia tidak menerima direndahkan oleh kakak ipar. Maka itu dia memilih pergi, dinner di luar.
Nadine sebenarnya ingin menginap satu dua malam di rumah ini. Dia sudah lama tidak tidur di kamarnya, apalagi sekarang datang bersama suami tersayang. Suasana kamar yang romantis pasti membuat mereka betah berlama-lama di dalam kamar.
"Kamu serius mau membawa aku ke rumahmu?" desak Nadine penasaran sambil berjalan menuju ke garasi bersama suaminya. "Kamu marah di bully Katrin? Dia biasa begitu kalau lagi badmood."
"Aku tidak marah. Aku benar-benar ingin mengajak kamu ke rumah."
"Rumahmu dipasangi CCTV."
"Memangnya CCTV bisa melongok ke dalam mobil?"
"Security sama asisten rumah bagaimana?"
"Mereka pegawai aku."
__ADS_1
"Bagaimana kalau mereka lapor ke orang tuamu?"
"Kita lihat saja nanti."