Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Jemu


__ADS_3

Umi memarahi anaknya, "Kamu ke mana saja sepanjang siang? Dihubungi tidak diangkat. Umi ngebel berarti ada urusan penting!"


Gerdy baru tiba di rumah. Dia sengaja pulang malam ini karena malam Minggu ingin tinggal di Jakarta. Nadine sudah jadi istrinya. Jadi tidak ada waktu untuk mengantar dan menunggu Karlina menemui pacarnya.


"Aku ada ujian," kata Gerdy. "Handphone ketinggalan karena aku buru-buru."


Umi menatap tajam. "Kamu tidak sedang membohongi ibumu?"


"Handphone aku benar-benar ketinggalan. Lagi pula, aku tidak bisa menerima panggilan kalau lagi ujian. Aku sudah katakan itu berulang kali. Ada apa memangnya?"


"Ada kepentingan apa Katrin minta nomor kamu?"


Gerdy merasa ada kesempatan untuk berterus terang. Dia mulai memikirkan risiko yang diterima. Tapi segera mengurungkan niat saat memandang ibunya. Mata itu terlalu menusuk untuk mendengar sebuah pengakuan.


"Dia minta nomor aku ke Umi?" Akhirnya pertanyaan itu yang keluar.


"Calon istrimu."


Karlina pasti tidak tahu apa maksud Katrin minta nomor kontaknya. Dia kira perempuan itu tahu kisah cinta adiknya berlanjut. Dia harusnya tidak memberi tahu Umi sehingga tidak timbul masalah.


"Kamu menjalin hubungan dengan adiknya secara diam-diam?" selidik Umi.


Gerdy balas menatap dengan tenang. "Lalu Karlina diam saja kalau aku menjalin hubungan dengan Nadine? Dia calon istriku atau apa?"


"Dia bisa saja takut kepadamu dan memendam cemburunya. Maka itu aku minta penjelasan sama anakku."


"Aku sudah tidak pacaran sama adik Katrin. Umi sebaiknya tanya langsung apa maksudnya minta nomorku. Aku tidak ada kepentingan dengannya."


Gerdy bangkit dari duduknya dan berjalan menuju anak tangga ke lantai atas. Dia sudah memberi pengakuan jujur kepada ibunya. Dia sudah tidak pacaran dengan Nadine, tapi sudah menikah.


Gerdy bertemu dengan adiknya di koridor kamar lantai atas. Wisnu rupanya menguping pembicaraan mereka.


"Benar kalian sudah tidak pacaran lagi?" tanya Wisnu.


"Kepo!"


"Aku mau pedekate sama Prilly."


Gerdy terkejut. "Kalian pernah ketemu?"


"Sering."


"Minggu-minggu ini?"


"Dia biasanya sibuk bimbel menjelang ujian semester. Jadi aku belum pernah ketemu."


Gerdy bernafas lega. Dia kira Wisnu bermain sampai ke ujung barat kota metropolitan, jauh sekali. Jadi adiknya belum tahu kalau Prilly sudah pindah.


"Tumben cari pacar down grade," sindir Gerdy. "Biasanya cari mahasiswi tingkat akhir."


"Aku ilfeel dibilang anak kecil."


"Baru sadar kalau kamu anak kecil."

__ADS_1


"Dua bulan lagi aku kelas XII."


"Untuk gadis calon sarjana, kamu anak kecil."


"Bagaimana? Boleh aku mendekati Prilly?"


"Berani menentang Umi? Aku saja hampir-hampir!"


"Hampir-hampir? Jadi kakak masih...?"


"Silakan saja kalau mau pedekate sama Prilly."


Gerdy masuk ke dalam kamar. Wisnu pasti mampu mendapatkan Prilly kalau memiliki kekuatan cinta. Dia sudah cukup pengalaman untuk menaklukkan seorang gadis. Jadi seru hubungan kekeluargaan nantinya. Tapi apa mungkin?


Gerdy sebentar saja di kamar. Cuma ganti pakaian. Kemudian pergi ke rumah Karlina.


Gadis itu paling banyak menghubunginya siang tadi. Barangkali panik Katrin tiba-tiba saja minta nomor kontaknya.


Karlina sudah menunggu kedatangannya di beranda rumah. Gelisahnya mencair saat Gerdy muncul dengan penampilan yang tenang.


Gerdy banyak menghadapi masalah sehingga kepalanya harus tetap dingin agar memperoleh jalan keluar terbaik. Panik hanya membuat masalah makin rumit. Dia mengakui akhir-akhir ini pikiran sering kacau sehingga tak satu pun masalah terselesaikan.


"Aku takut kamu marah," kata Karlina. "Dia minta nomor kontak dan alamat di Bandung."


"Katrin tidak bilang keperluannya apa?" tanya Gerdy.


"Suaminya mau buka bisnis di Bandung. Dia ingin menemui kamu siapa tahu bisa membantu mencari lokasi strategis."


Katrin terlalu pengalaman untuk Karlina. Dia dapat memperdaya dengan mudah untuk memperoleh informasi. Suaminya bergerak di bidang properti, buka bisnis apa di kota yang sudah padat itu?


"Kamu jangan kasih informasi apapun kalau Katrin datang lain kali," kata Gerdy mengingatkan. "Jangan kasih tahu Umi juga."


"Katrin minta saat pengajian bulanan di kantor desa dan Umi ada di dekatku."


"Jadi kamu ngebel berkali-kali cuma untuk menyampaikan hal ini?"


"Aku takut Katrin langsung pergi ke Bandung dan kamu kaget melihat kedatangannya."


"Aku tidak pernah kaget kedatangan perempuan di apartemenku."


"Surya dua hari lagi menikah. Aku mau kasih tahu itu juga."


"Aku sudah tahu dari Nadine. Maka itu kita berangkat sekarang ke rumahnya, aku tidak bisa hadir saat resepsi."


"Kita?"


"Kamu lupa kalau kamu calon istriku?"


"Tapi resepsinya hari Minggu. Kamu ada kuliah?"


"Aku kerja."


Karlina terkejut. Jadi Gerdy sudah mulai mempersiapkan diri untuk pemberontakan? Dia sudah jemu dengan hubungan rumit ini. Apakah dia mau membatalkan perjodohan lebih cepat?

__ADS_1


Karlina merasa ada sesuatu yang mengecewakan dalam kebersamaan ini. Mereka bersatu bukan karena ikatan batin, karena sebuah drama. Sebuah jalinan sangat lemah jika terjadi guncangan, dan guncangan itu kiranya bukan sekedar rasa jemu.


"Aku dan Nadine sudah menikah," kata Gerdy dalam perjalanan menuju ke rumah Surya. "Aku ingin kamu memahami hal ini."


Gerdy merasa perlu menyampaikan lebih cepat untuk memantapkan keputusan Karlina. Gadis itu dilanda kebimbangan. Kebersamaan mereka menimbulkan riak-riak cinta di hatinya. 


Karlina tersenyum pahit. "Aku tidak kaget. Aku sudah curiga sejak malam terakhir itu. Perlakuanmu berbeda, sangat romantis menurut orang gila, membuat aku sadar bahwa malam itu adalah malam terakhir, tanpa peduli aku rela atau tidak."


"Makanya malam ini aku tidak lewat perkebunan, takut kamu minta berhenti."


"I will never ask to stop."


"Robby sudah mencukupinya?"


"Lagi dapet."


"Kalau begitu setiap kita ketemuan anggaplah lagi dapet."


"Istrimu mengizinkan kita ketemuan?"


"Tentu saja. Tapi dia tidak mengizinkan untuk menyentuhmu. Aku mulanya mau berhenti jadi sopir pribadi. Kupikir aku egois kalau begitu. Aku bersedia mengantarmu ke mana saja sampai kamu menikah sama Robby."


"Kamu tidak takut aku berkhianat?"


"Maksudnya?"


"Aku bisa saja melapor ke orang tuamu kalau kalian menikah diam-diam. Kamu sudah tahu risikonya apa, kamu bercerai dengan istrimu dan menikah denganku."


"Mereka tidak mungkin menerima kamu sebagai menantu."


"Bisa seyakin itu?"


"Aku punya rekaman kamu sama Robby lagi check in di sebuah hotel."


"Aku tidak percaya."


"Anak putih abu-abu lihai juga jadi joki."


"Bullshit."


"Aku kirim nanti rekaman itu setelah tiba di rumah Surya."


Karlina memandang Gerdy lamat-lamat dan sadar ucapannya tidak main-main.


Dia mengumpat, "Damn it! Pemerasan!"


"Aku tidak pernah memeras orang. Aku cuma mau memastikan kamu menjalankan skenario yang kita susun. Bukti itu bisa untuk memaksa Robby jika menolak untuk menikahi dirimu."


"Aku minta kamu hapus rekaman itu," geram Karlina marah.


"Setelah kamu menikah dengan Robby. Jadi tidak ada yang dirugikan."


Gerdy tahu kasus nomor kontak dan alamat apartemen ada unsur kesengajaan supaya terendus oleh ibunya, dan terbukti Karlina tidak gembira mendengar kabar pernikahannya, padahal seharusnya senang karena memuluskan jalan untuk duduk di pelaminan bersama Robby. Pilihannya sudah mulai bergeser.

__ADS_1


Karlina tidak tahu, Gerdy tidak pernah berbuat kasar secara fisik, tapi sangat kejam dengan cinta.


__ADS_2