
Kehilangan fasilitas mewah yang selama ini dinikmati tidak membuat Gerdy patah arang. Dia sudah memperkirakan hal itu pasti terjadi. Maka itu dia melakukan persiapan dengan menabung. Dia cukup uang untuk membeli mobil baru. Tapi dia harus menahan ambisi untuk memiliki mobil mewah. Dia perlu menyisihkan uang untuk biaya Prilly masuk perguruan tinggi.
Saat ini mobil bukan kebutuhan mendesak. Gerdy sementara bisa menggunakan mobil yang ada karena istrinya tidak masuk kerja cukup lama, cuti melahirkan. Setelah itu baru berpikir untuk ambil kreditan atau beli mobil bekas.
Nadine menyarankan agar sabar menunggu mobil dinas. Ibu Marliana bersedia merekrut Gerdy jadi pegawai tetap setelah lulus kuliah. Tinggal menunggu beberapa bulan lagi untuk menikmati fasilitas yang diberikan.
Garasi tidak cukup untuk menampung tiga mobil apabila Gerdy bersikukuh untuk memiliki mobil pribadi.
"Aku lebih setuju membuka usaha sembako di depan rumah," kata Nadine. "Di perumahan ini belum ada toko sembako."
"Warga belanja ke mall untuk memenuhi gengsi mereka."
"Aku optimis toko sembako menjanjikan kalau harganya kompetitif. Mereka tentu akan belanja ke toko terdekat."
"Tidak ada salahnya kita coba. Hanya lokasinya bukan di depan rumah, tidak cukup. Aku mau sewa garasi tetangga karena cuma diisi becak oleh Pak Marto, sekalian memperkerjakan istrinya untuk jaga toko."
"Kita serahkan pengelolaan toko sama Mami. Dia kurang kesibukan sehingga banyak duduk bengong kalau acara televisi tidak ada yang cocok dengannya."
"Mami duduk bengong bukan karena itu. Dia masih memikirkan Papi."
"Maka itu kita kasih kesibukan dengan mengurus toko. Aku sudah menyerah untuk meyakinkan Mami kalau Papi sudah tiada. Hanya mayatnya di mana dan mati karena apa, itu belum terjawab."
"Karena belum terjawab, maka Mami percaya Papi masih hidup. Jadi percuma kamu meyakinkannya. Informasi terakhir dari Surya tidak ada kemajuan."
"Aku sudah menganggap selesai kasus Papi."
"Tapi Mami belum menganggap selesai. Dia masih berharap Papi pulang. Apalagi rumah lama sudah selesai direnovasi. Mami makin berharap Papi pulang untuk tinggal berdua di rumah yang penuh kenangan itu."
Nadine memandang suaminya dengan selidik. "Katrin masih sering menghubungi kamu?"
"Aku tahu dari Surya."
"Urusan rumah pasti kakakku yang memberi tahu."
"Kau mau aku bagaimana?"
"Aku mau dirimu selalu ingat kalau Katrin ingin tidur denganmu!"
"Mendingan aku tidur denganmu, sama-sama baru lahiran kan?"
"Bedanya Katrin berani!"
"Tapi aku tidak."
"Kamu memberi tahu Mami kalau rumah lama sudah selesai direnovasi?"
"Dia mendengar obrolanku karena di load speaker biar dengar sendiri apa omongan Katrin."
__ADS_1
"Aku harap kamu tidak merasa terbebani dengan keberadaan Mami di rumah ini."
"Keberadaannya tidak membuat aku terbebani. Pemikirannya tentang Papi yang membuat aku terbebani. Mami seperti belum ikhlas suaminya pergi karena butuh bukti nyata. Aku harus cari ke mana lagi?"
"Kamu bisa minta bantuan Datuk Meninggi. Orang-orangnya banyak. Dia kan calon kakak ipar."
"Mereka kenal saja tidak. Bagaimana bisa bantu mencari? Foto Papi satu pun tidak ada. Apa dia tidak pernah difoto?"
"Difoto buat apa? Kecuali tertangkap polisi ada fotonya."
"Buat kenang-kenangan."
"Tidak ada yang perlu dikenang dari Papi."
"Dan begini akhirnya. Aku pusing sendiri."
"Jadi kamu masih sering berhubungan dengan Katrin?"
"Dia kakakmu. Aku tidak mungkin memblokir nomornya."
Pasti ngebelnya pas Gerdy lagi diluar, pikir Nadine keruh. Katrin tidak pernah menelpon kalau ada dirinya. Kakak macam apa ngebel adik ipar main kucing-kucingan?
"Apa Mami kita pulangkan saja ke rumah?" tatap Nadine minta pendapat suaminya.
"Kamu ini bagaimana? Katanya mau buka usaha sembako dan menyerahkan ke Mami untuk pengelolaannya."
"Kamu tega Mami tinggal sendiri di rumah lama?"
"Ada Mimin."
"Lalu siapa yang membantu kamu?"
"Prilly jago masak."
"Masak bukan tanggung jawabnya. Dia urusannya sekolah. Belajar yang benar. Biarkanlah Mami dan Mimin tinggal di rumah ini."
"Mami barangkali bisa mencari sendiri kalau tinggal di sana."
"Mencari ke mana? Papi hilang bak ditelan bumi. Sudahlah, Mami mengelola toko saja. Aku akan bicarakan dulu dengan pemilik rumah sebelah."
Pak Mirza ternyata tidak keberatan dan menolak menerima sewa. Dia minta Gerdy untuk memperhatikan keluarga Pak Marto yang menempati rumahnya.
Sangat langka menemukan orang sebaik Pak Mirza di ibukota. Dia berasal dari keluarga sederhana sebelum hidup enak seperti sekarang ini. Jadi dia sangat mengerti kesusahan orang kecil. Dia membantu keluarga Pak Marto dari beban sewa dengan tinggal di rumah itu secara cuma-cuma.
Pak Mirza tahu kalau keluarga tukang becak tinggal di perumahan ini pasti kesulitan berinteraksi dengan lingkungan. Dia berani mengambil keputusan itu karena keluarga Mami memiliki jiwa sosial seperti dirinya. Keluarga Pak Marto jadi ada teman sekaligus penolong jika ada kesulitan.
Pak Marto menyambut gembira rencana untuk buka usaha sembako ini. "Saya setuju sekali. Istri saya siap menjaga toko. Saya siap mengantar barang sampai di tempat."
__ADS_1
"Kita lihat dulu perkembangan. Pak Marto boleh bantu kalau kita dapat pelanggan. Mami nanti mengurus semuanya. Saya tidak menggaji Pak Marto dan istri, tapi sistem bagi hasil, bagaimana?"
"Urusan itu saya serahkan sama Tuan. Yang penting dapur ngebul, anak istri tidak kelaparan."
Orang kecil mimpinya juga kecil, pikir Gerdy kecut. Bagaimana bisa jadi orang besar kalau otaknya cuma sebatas dapur ngebul? Tapi sudahlah. Dia tidak butuh orang berpikiran besar untuk pekerjaan ini, yang penting jujur.
"Aku dengar dari istrimu akan membuka toko sembako, apa itu benar?" tanya Mami saat Gerdy pulang dari rumah sebelah. "Kamu sudah pikirkan prospek buka usaha sembako di perumahan ini? Mereka belanja bawang saja ke mall, padahal banyak warung di depan."
"Oh ya, aku belum bilang ke Mami soal usaha ini. Aku lihat tadi Mami belum pulang."
"Aku jalan-jalan sebentar sama si Mimin."
Gerdy tahu Mami bukan pergi jalan-jalan. Dia mencari Papi barangkali ada di kota ini. Pencarian sia-sia karena wilayah ini jauh dari kota satelit.
"Aku pikir prospeknya bagus," ujar Gerdy optimis. "Aku mau Mami mengelola toko kalau tidak keberatan. Aku sudah menghubungi beberapa grosir dan mereka siap kirim barang."
"Aku tidak keberatan. Hanya aku perlu belajar karena belum pernah buka usaha sembako."
"Tidak ada hal khusus yang perlu dipelajari. Urusan marketing anak Mami ahlinya."
"Dia marketing alat-alat kecantikan, tidak ada hubungannya."
"Belajar dari pengalaman nanti."
Gerdy pikir tidak sulit untuk mengelola toko sembako. Bisa pencet kalkulator sudah cukup. Yang sulit itu mencari pelanggan, bagaimana menarik minat mereka untuk datang ke toko.
"Buka toko sembako butuh modal lumayan besar," kata Mami. "Kamu ada uang nanti buat biaya Prilly masuk perguruan tinggi?"
"Aku sudah siapkan untuk itu. Mami tenang saja. Sukur-sukur Prilly bisa masuk lewat jalur prestasi, biayanya lebih murah."
"Aku tidak mau kamu terbebani. Aku bisa minta Katrin untuk membantu."
"Istriku pasti tidak setuju."
Meminta bantuan pada Katrin berarti kekalahan bagi Nadine. Prilly harus tinggal di kota satelit. Gerdy tidak mau hal itu terjadi. Bila perlu dia cari pinjaman di kantor.
Ketegangan adik kakak akibat skandal itu sebenarnya sudah reda karena biang keladinya sudah pergi dari rumah. Hubungan mereka kembali memanas karena ucapan Katrin yang seenak perutnya.
Keinginan Katrin untuk tidur bersama suaminya benar-benar membuatnya naik pitam. Padahal orang yang diributkan adem ayem. Menganggap angin lalu.
Gerdy menolak untuk memblokir nomor kakak ipar karena banyak kepentingan, terutama masalah Papi. Dia tidak cukup menerima informasi dari Surya. Dia perlu mencari informasi dari keluarga agar tidak ada gugatan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Mami masih menaruh perhatian besar pada kasus hilangnya Papi. Ketiga anaknya sudah tidak peduli. Mereka satu pandangan dengan warga; biarkanlah pergi untuk selama-lamanya.
Jauh di lubuk hatinya, Gerdy sebenarnya penasaran. Dia tahu Papi sampah masyarakat, tapi bukan berarti pantas mati. Setiap orang berhak hidup meski orang itu harus mati!
Yang membuatnya heran bagaimana Papi pergi tanpa seorang pun tahu?
__ADS_1